Tampilkan postingan dengan label Abdullah Muhammad Akbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdullah Muhammad Akbar. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Desember 2020

Menjadi Ibu Itu…

 

Hari ini, saya bangun pagi dengan keadaan loyo. Beberapa hari ke depan, insya Allah, saya akan melewati satu lagi fase paling penting dalam hidup saya sebagai seorang ibu. Harusnya dan idealnya, saya sudah ada di jalan di depan rumah, seperti kemarin pagi, berjalan-jalan bersama Abdullah. Tapi badan dan semangat saya, terasa lowbat.

 

Tadi malam, saya tidur lebih awal karena badan sudah tidak bisa diajak kompromi. Abdullah? Main sama ayahnya. Dia juga tidur dalam ayunan dengan bantuan tangan sang ayah. Sesuatu yang jarang terjadi, karena biasanya dia maunya tidur sama ibunya.

 

Akibat main dan dijaga ayahnya semalam, well, bisa ditebak, rumah berantakan. Sepasang bantal guling Abdullah bagai habis dihempas gelombang bersama dengan segambreng mainan legonya. Saya yang terbangun pagi ini, mendapati kehancuran itu, semakin loyo.

 

Setelah shalat Subuh, saya kembali melekatkan punggung saya di tempat tidur. Tapi yah, dasar kehidupan mamak-mamak, belum sempat terpejam, anak sudah bangun. Dengan segala macam remah-remah keinginan, mau dibikinin perahulah pagi-pagi, mata saya mustahil terpejam lagi. Mo nangis rasanya…

 

Padahal, sedikit saja, sedikit saja loh Nak, Ibu mau tiduran biar badannya enakan. Hiks.

 

Akhirnya, dengan merasa terpaksa, saya bangun. Setelah Abdullah anteng bersama legonya, saya mulai bekerja dengan membereskan perintilan yang tidak pada tempatnya, termasuk alat shalat saya sehabis Subuhan juga belum saya rapikan tadi. Ketika tangan saya tiba di meja kerja saya dan suami, merapikan pulpen dan kertas-kertas bekas prakarya Abdullah, saya mendapati buku tulis lusuh saya.

 

Sebuah buku lama, yang pernah saya sayang-sayang ketika kuliah di Semarang dulu. Beberapa pekan lalu, ketika saya men-declutter buku-buku dan kertas-kertas bekas di lemari buku, saya hendak membuangnya juga. Tapi, entah bagaimana, saya tergoda juga mengambilnya lagi dari tumpukan buku yang sudah hendak ditimbang dan dijual, lalu menyimpannya di atas meja kerja saya.

 


Di depan buku itu, sebuah sticky note berwarna hijau lusuh di antara kumpulan sticky notes yang lain, berhasil mengubah mood saya yang loyo-loyo. Kalimat di dalamnya bertuliskan:

            

“menjadi manusia, berkonsekuensi untuk tidak pernah berhenti belajar dan berjuang.”

 

Jleb! Kalimat itu adalah kalimat yang saya tulis sendiri, dari batok kepala saya sendiri, beberapa tahun silam. Kalimat tanpa nama di ujungnya, yang artinya saya tidak mengutipnya dari siapa-siapa. Mungkin, di masa itu, saya sedang sadar sesadar-sadarnya diri, tugas kehambaan saya. Mungkin saat itu, saya sedang berada pada sebuah momen kontemplasi dan berhasil menuliskan sebuah kalimat sebijak itu.

 

Kalimat, yang di masa lalu menjadi pegangan saya untuk tidak boleh loyo dalam belajar di perantauan. Kini, kalimat itu, masih juga maknyus, meskipun saat ini saya tidak lagi seorang gadis yang merantau untuk sekolah.

 

Sekarang, saya seorang ibu, yang mendapati kekacauan di pagi hari akibat ulah anak dan suaminya yang habis main semalam. Pada detik ini, ketika saya mendapati tulisan lama itu, saya masih harus tetap belajar dan berjuang. Ya, saya masih harus melakukannya.

 

Belajar bukan semata dari buku-buku dan ucapan para dosen, tapi belajar bisa juga dari masalah-masalah sehari-hari yang saya hadapi sebagai istri dan ibu. Belajar bersabar ketika rumah tidak rapi. Belajar legowo ketika suami kecapekan habis begadang menidurkan anak plus kerja tengah malam. Belajar dan belajar… perjalanan belajar dan berjuang saya tidak berhenti hanya karena saya telah memakai toga di Semarang.

 

Pelajaran yang saya cecap pada hari ini adalah, well, saya kini seorang ibu. Seorang perempuan dalam rumah yang ketika saya loyo, benar tidak ada hubungannya dengan nilai di rapor, tapi amat memengaruhi kondisi seisi rumah saya. Saya tahu, dampak perjuangan saya pagi ini tidak bisa mengguncang dunia atau membawa saya pada sebuah panggung pencapaian sebagai seorang manusia. Tapi saya juga tahu, kalau saya menuruti hawa nafsu saya untuk rebahan, memilih menyudutkan suami agar dia yang bangun menemani anak saya bermain, mungkin saya akan mendapati rumah dan perasaan saya kacau seharian ini. Setelah berjuang melawan loyo-loyo ini, saya sudah cukup bahagia bisa melewatinya dan bahkan sampai berhasil duduk beberapa puluh menit di meja kerja untuk sekadar menulis di blog ini, tentang ini.

 

Terima kasih, Andis. Pagi ini, kamu sudah berjuang dan belajar menjadi ibu dan istri.

Terima kasih, Andis. Pagi ini, kamu tidak cengeng dengan mengutuk keadaan dan memilih membereskan rumahmu.

Kamu hebat, Andis. Kamu hebat!




Kamis, 27 Desember 2018

Yang Tidak Ayah Wariskan pada Anaknya


Ini bukan iman, sebagaimana dendangan nasyid Rayhan, bahwa ia tidak dapat diwariskan dari seorang ayah kepada anaknya yang meskipun dia adalah seorang anak yang berbakti. Iman adalah pilihan dan tanggung jawab masing-masing individu kepada penciptanya.

Ini soal lain. Ini perihal sulitnya sang buah hati makan. Ini juga bukan warisan orang tua kepada anaknya. Akan tetapi, yang kedua ini adalah tanggung jawab orang tua sepenuhnya kepada si anak untuk mengasupinya makanan halal dan baik.


Sumber : Kredit Pribadi (Seminar dr. Apin)
Hari Ahad, 23 Desember 2018, dr Apin, seorang dokter spesialis anak menjawab keraguan saya soal apakah pola makan anak saya yang saya anggap susah adalah warisan dari ayahnya. Menurut ibu mertua, ayahnya semasa kecil lebih susah lagi makannya dan saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah memang itu adalah bagian dari interaksi genetika? Tapi tidak, tegas dokter Apin. Tidak ada satu pun penelitian yang membuktikannya. Yang ada, kalau ayahnya yang sekarang sudah jadi bapak, ogah-ogahan makan di depan anaknya, nah bisa jadi itu jadi contoh bagi si anak sehingga si anak pun juga jadi ogah makan.

Itu berarti, segala yang terjadi pada anak bayi kita, baik buruknya asupannya, adalah lebih banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya dalam pemberian makan. Maka keluhan saya tentang sulitnya bayi kami makan, sempurna adalah keluhan yang datang dan untuk diri saya sendiri sebagai orang tuanya. Lempar batu untuk diri sendiri.

Hal menarik dari paparan dokter Apin, menanggapi pertanyaan saya soal anak yang susah makan adalah pertanyaan baliknya kepada saya, apakah benar anaknya susah makan atau hanya tidak mau makan nasi? Jangan sampai, lanjutnya, anak kita sebenarnya doyan kentang tapi kita paksa makan nasi sehingga kita cap dia susah makan.

Jleb, jleb, jleb!

Tiga bulan ini, makanan bayi kami memang lebih banyak disuguhkan dengan menu nasi sebagai sumber karbohidratnya, dan faktanya dia memang bosanan anaknya. Kalau hari ini makan nasi, tiga hari lagi harus diganti dengan kentang, dan selanjutnya ganti lagi dengan makaroni dan seterusnya. Tapi seringnya saya malah malas keluar mencari sumber karbohidrat lain untuknya. Akhirnya, saya menawarkan seadanya, apa saja yang tersedia di meja makan kami.

Waktu di Belanda, makanan bayi kami lebih variatif dan hanya ada saya dan ayahnya sebagai penjaga gawang asupan gizi anak kami. Meskipun memang tidak selahap sebayanya, tapi bayi kami tetap makan. Kondisi tubuhnya pun sehat dan berdasarkan pemeriksaan dokter, pertumbuhannya baik-baik saja, alhamdulillah.

Tiga bulan tinggal di Indonesia, kepala saya pusing juga dinyanyikan hampir setiap hari oleh keluarga besar kami bahwa anak saya susah makan. Padahal saya tahu, anak yang kelihatannya susah makan pun, tidak boleh diucapkan kepadanya bahwa dia susah makan. Harusnya tetap diucapkan kalimat-kalimat positif agar si anak mau makan. Lah gimana, semua bilang “dia susah makan”. Haruskah kuganti paspor jadi warga negara Belanda?

Hidup di Indonesia, kata dokter Apin, memang harus banyak sabar dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Sabar pada dua hal: sabar terhadap anak dan sabar terhadap orang-orang sekitar. Misalnya, si mama sudah tahu MSG itu tidak baik, tapi sama tante/om/kakek/nenek/tetangga malah ditawari krupuk ber-MSG tanpa sepengetahuan mama. Saat ditegur, malah mama dimarahi, “untung anakmu mau makan ini, kalau tidak, dia mau makan apalagi”. Haduh pyusing pala mama. Ini kisah nyata loh. Curhat seorang mama di seminar dokter Apin yang duduk tepat di sebelah saya.

Nah, kembali lagi, karena anak sepenuhnya tanggung jawab kedua orang tuanya, maka upaya maksimal seharusnya dikerahkan untuk proses tumbuh kembangnya. Dan yang saya suka dari penjelasan dokter Apin soal proses memberi makan anak adalah kebijaksanaannya untuk tidak memaksakan ‘yang ideal’. Misalnya, kita tahu kalau anak harusnya duduk di kursi makannya bersama orang tua ketika jam makan tiba, tapi realitanya, anak malah lari keliling rumah sambil ibunya keringatan demi menyuapinya satu dua suap nasi. Tidak apa-apa, kata si dokter. Sepanjang si ibu masih kuat berlari, silakan saja disuap sambil lari-lari. Jika kita belum mampu melakukan ‘yang ideal’, tidak apa-apa kita melakukan semampu kita sepanjang anak dapat terjamin bahwa asupannya terpenuhi. Pelan-pelan, nanti anak akan belajar untuk makan di kursi. Mungkin bukan sekarang. Mungkin nanti ketika dia sudah lebih besar.

Alhamdulillah, saya kala itu langsung merasa dapat tim hore. Setiap kali menyuapi bayi kami makan sambil kejar-kejaran, saya selalu dihantui perasaan bersalah, apakah saya gagal mendampingi anak saya dalam proses makannya? Mengingat, di Belanda, orang-orang sangat patuh pada budaya makan di meja bersama. Saya ingat sekali, dokter di sana mewanti-wanti saya agar anak tidak makan sambil lari-lari. Anak harus makan dengan rapi bersama orang tuanya.

Well, tapi bukan berarti semua jadi dilonggarkan. Contohnya nih, memberi makan anak dengan hadiah, itu amat tidak boleh. Kenapa? Kata dokter Apin, anak tidak akan belajar mengenali rasa laparnya jika dia makan karena paksaan atau ada sesuatu yang diinginkannya setelah makan. Ini bisa jadi masalah untuk pertumbuhannya.

Setelah mengikuti seminar ini, tiga hari setelahnya saya langsung ke puskesmas dekat rumah, meminta Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk bayi kami. Sebenarnya ada aplikasi PrimaKU yang bisa dipasang di HP pintar, sebagai pengganti buku KIA, tapi untuk sementara, saya lebih memilih yang buku KIA sekalian bisa ke puskesmas mengecek rutin pertumbuhan bayi kami. Saya pun lega setelah menimbang dan mengukur tinggi dan lingkar kepala anak kami, bahwa dia, alhamdulillah, tumbuh normal dan sehat.

Sumber : Kredit Pribadi (Isi KIA)
Mengikuti seminar dokter Apin membuka mata saya akan banyaknya barisan ibu-ibu yang sudah melek literasi kesehatan bagi anaknya. Hebatnya lagi, bapak-bapak juga banyak yang ikutan. Sungguh menjadi ibu dan ayah adalah proses belajar yang panjang.

Saya juga merasa surprise, panitia menyediakan ruang khusus untuk anak lengkap dengan penjaganya sehingga para orang tua dapat mengikuti seminar dengan nyaman tanpa gelisah meninggalkan anaknya di rumah. Saya jadi ingat, di Belanda, kalau mengikuti kursus santai bahasa Inggris, saya diperbolehkan membawa anak, dan kami berkumpul di tempat yang selalu ada pojok bermain untuk anak-anak. Maka saya beri lima bintang untuk para panitia yang sudah bekerja keras demi terlaksananya seminar ini. Barakallahu fiykum.

Sabtu, 22 Desember 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Memahami dan Menghargai Keinginannya


“Dia sudah banyak maunya. Sudah bisa pilih-pilih mainan sendiri. Dia juga sudah bisa menolak hal yang tidak disukainya dan mengerti bahwa kata no! yang kerap diucapkanya adalah kata untuk sebuah penolakan.” Demikianlah kira-kira balasan pesan singkat melalui media WA ketika seorang teman di Groningen bertanya tentang kabar anak saya, bayi A.

“Oh bagus, itu artinya dia tambah pintar. Dengan adanya keinginan, itu menandakan bahwa dia sudah jadi manusia seutuhnya”, jawab si teman. Lalu saya pun luluh dan terharu.

Kenapa ya, saya tidak berpikir positif begitu? Saya malah cenderung merasa ribet ketika anak saya telah bertumbuh diiringi dengan keinginan dan hajat yang kian meningkat. Sudah terbayang kerempongan di sana-sini untuk meladeni keinginannya. Padahal benar kata si teman tadi, yang adalah lulusan sarjana psikologi, bahwa munculnya kemauan-kemauan sang anak adalah proses dari tumbuh kembangnya. Seharusnya disyukuri dan didukung ke arah-arah yang positif. Iya kan?

Pendidikan di dalam rumah, bukankah harusnya menempatkan sang anak juga sebagai subjek? Yang dengan itu, kita sebagai orang tua menghargai keinginan-keinginannya dan bukannya malah memaksakan keinginan-keinginan kita saja kepadanya. Pendidikan yang berakar dari lingkugan keluarga, bukankah harusnya menanamkan nilai egaliter sejak dini? Yang dengan itu, menghitung dan menganggap keinginan sang anak, bukannya malah menyepelekannya dengan dalih “kan dia masih kecil”.

Rasulullah sendiri, amat menghargai anak-anak. Suatu ketika beliau sedang shalat mengimami para jamaah. Ketika sujud, para sahabat merasa heran karena beliau tidak juga memberi aba-aba untuk duduk di antara dua sujud. Lalu, seorang sahabat bernama Ubay memutuskan bangkit dari sujudnya, kemudian mendapati seorang bocah di pundak Rasulullah dan akhirnya sang sahabat sujud kembali. Setelah rampung shalat jamaah itu, ditanyalah Rasulullah, “Engkau telah memanjangkan sujudmu, ya Rasul Allah. Kami mengira telah terjadi sesuatu padamu ataukah telah turun wahyu kepadamu saat itu.”

“Tidak benar semua itu. Cucuku (Hasan dan Husain) naik di atas punggungku. Karenanya, aku tidak ingin segera (menurunkannya) sampai dia menyelesaikan hajatnya”, jawab Rasul agung itu.

Nah kan. See? Hiks… Rasulullah saja, seorang yang hidupnya amat sibuk dengan perjuangan menyebarkan kebaikan, tidak keberatan memanjangkan sujudnya ketika ada anak kecil yang ingin bermain-main di punggungnya, bahkan ketika saat itu dia tengah shalat. Lalu kenapa sih saya ini, mamak yang nongkrong di rumah, suka ribet sendiri meladeni anak semata wayangnya. Hiksss…

Malam ini, ketika saya menulis tulisan ini, bayi A sedang tidur lelap. Sebelum tidur, sempat terjadi drama yang membuat bayi A menangis sedih. Pasalnya, si mamak mengambil paksa sikat gigi bayi A ketika dia masih ingin menyikat giginya dan si mamak merasa benar sendiri dengan berdalih sudah waktunya tidur dan waktu sikat gigi sudah habis. Padahal tidak ada susahnya memberi waktu bayi A sedikit lagi dan membiarkan dia menyelesaikan hajatnya. Padahal apa salahnya bersabar menunggu sebentar si bayi A yang sedang bahagia menyikat giginya. #MamakMenyesal

Karena kepikiran sama kejadian itu dan merasa bersalah, sehabis menidurkan bayi A, langsung ambil buku “Cara Nabi Menyiapkan Generasi” karya Syaikh Jamal Abdurrahman (terima kasih pak suami sudah belikan buku ini). Langsung tertohok-tohok baca isinya, terutama ketika baca kisah nabi yang pas sujud lama tadi, demi menunaikan hajat sang cucu. Ada juga kisah ketika beliau memimpin shalat jamaah, lalu mempercepat shalatnya ketika mendengar ada bayi yang menangis.

Sumber : Kredit Pribadi

Teringat peristiwa dua hari lalu, ketika bayi A menangis ingin menyusu dan saya buru-buru mau shalat lalu ditegur sama mama dan tante di rumah. “Susui dulu anakmu, baru shalat. Tidak sah shalatmu jika kamu membiarkan anakmu menangis begitu.” Ternyata memang benar, bahkan nabi pun menyegerakan untuk menyelesaikan shalatnya ketika ada bayi menangis karena khawatir di antara jamaahnya ada ibu sang bayi yang sedang menangis. Masya Allah, allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Sungguh engkau mulia dan paling pantas menjadi panutan kami dalam setiap tindak-tanduk, ya Rasul kami, Muhammad bin Abdullah.


Well, saya mungkin belum mampu dikenang sebagai ibu penyabar yang mampu mengerti dan memahami keinginan anak bayinya sebagaimana akhlak Rasul pada cucu-cucunya. Setidak-tidaknya, ketika suatu waktu bayi A membaca tulisan ini, dia tahu bahwa saya selalu berusaha untuk memantaskan diri menjadi ibu terbaik baginya, dengan terus berusaha dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan. Ibu sayang kamu, Nak! Maaf ya...

Sabtu, 15 September 2018

Sirah Nabawiyah: Alarm Sepanjang Hayat

Kredit Pribadi

Ini bukan buku biografi Rasulullah pertama yang saya baca. Waktu masih kuliah di Semarang, saya paksa-paksa diri saya untuk mulai membaca sirah nabawiyah karya Syafiyurrahman Al Mubarakfuri. Buku berisikan kisah lengkap hidup Rasulullah itu saya pilih untuk saya baca, tidak lain karena rekomendasi guru ngaji saya di tempat liqo’ sewaktu masih kuliah di Makassar. Baru sempat saya baca setelah lulus kuliah di Makassar dan pindah ke Semarang untuk kuliah lagi, dan di Semarang waktu itu, saya memang sedang lumayan lowong ditambah minat baca yang sedang menggelora.

Buku itu adalah buku yang benar-benar baik. Saya mengingat sempat membuat resensinya, dan setelahnya, saya selalu ingin lagi membaca sirah-sirah nabawiyah berikutnya. Saya membacanya pelan saja. Jika tidak salah ingat, sekali sehari beberapa lembar. Akan tetapi, saya meresapi betul lembar demi lembar kisah dalam buku itu. Sekali waktu saya menangis, di lain waktu saya malu ketika sedang membacanya.

Ada beberapa buku-buku kecil yang saya baca setelahnya, yang berkisah tentang hidup Rasulullah dan orang-orang di sekitar beliau. Sewaktu akhirnya selesai kuliah di Semarang dan kembali hidup di Makassar, saya bahkan memutuskan membaca buku sirah yang tebalnya beribu-ribu halaman, berkali-kali lipat dari yang pernah saya baca pertama kali itu. Sayangnya, belum sempat saya tamatkan karena akhirnya harus pindah hidup lagi di tempat sekarang, Groningen, dan membawa buku dengan ketebalan bagai kasur itu untuk ikut serta ke negara ini juga rasa-rasanya costly deh.

Saya bersyukur, di Groningen sini, saya dipertemukan dengan muslim-muslimah yang banyak memberi warna positif dalam hidup saya. Meskipun kebanyakan sibuk dengan kuliah yang tidak kalah mendesaknya menuntut untuk membaca jurnal-jurnal ilmiah, mereka tetap menyediakan dan menyempatkan diri membaca buku-buku lain. Buku sirah nabawiyah akhirnya saya temukan lagi saat iseng bertanya ke seorang teman yang punya lumayan banyak koleksi buku di rumahnya.

Sebenarnya, dorongan membaca buku ini lebih besar karena bulan lalu saya, suami, dan bayi kami berangkat ke tanah suci untuk menyempurnakan rukun Islam kami (Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah). Sebagai bekal, saya ingin membaca ulang kisah Rasulullah sebelum bertandang ke tanah kelahirannya, tanah yang paling Allah cintai dan juga dicintai Rasulullah. Sebelum menginjakkan kaki di dua kota suci nan agung, saya dahului dengan membaca kisah-kisah kehidupan seorang teladan yang pernah hidup di sana.

Tidak kurang dari sebulan, saya berhasil menuntaskan buku setebal 600 halaman ini, jauh lebih cepat dibanding buku Al Mubarakfuri. Buku ini memang lebih tipis jika dibanding buku Al Mubarakfuri  yang berjumlah 864 halaman, tapi tetap saja saya termasuk cepat membacanya jika mengingat saya membaca Al Mubarakfuri dalam waktu kurang lebih setahun. Selain faktor mendesak karena harus saya selesaikan sebelum berangkat ke tanah suci, faktor lain yang menyebabkan saya lebih cepat membacanya adalah karena buku ini menggunakan kalimat yang lebih ringan dan datanya tidak sekompleks milik Al Mubarakfuri. Hanya saja, kalau boleh memilih, saya tentu masih menjatuhkan pilihan pada karya Al Mubarakfuri yang lebih runut, teliti, dan meskipun kompleks, masih tergolong mudah dipahami.

Rasa haru dan syukur masih terselip ketika membaca buku sejenis ini, perasaan yang selalu hadir ketika membaca buku biografi Rasulullah. Perasaan campur aduk yang rasanya teramat jauh berbeda ketika membaca buku-buku lain. Entahlah!

Michael Hart memang benar ketika memutuskan menempatkan Muhammad sebagai nama pertama tokoh berpengaruh di dunia hingga saat ini. Berkunjung ke tanah suci, makin menambah keyakinan saya akan kuatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah. Saya membayangkan betapa sedikit pengikutnya kala pertama beliau mengenalkan Islam. Tidak hanya sembunyi-sembunyi untuk menyebarkannya, beliau bahkan diusir dari tanah kelahirannya karena keyakinan baru yang dibawa kala itu. Lalu sekarang, masya Allah, di tempat yang sama, kota itu telah dibanjiri berjuta-juta manusia dari penjuru negeri-negeri dengan membawa misi yang sama untuk menyempurkan rukun Islam mereka. Ya Allah, ketika menulis ini pun saya haru dan menangis mengenang lautan manusia di tanah haram. Betapa dahsyatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dari Allah, padahal jarak waktu antara kehidupannya membawa risalah dengan kehidupan sekarang amatlah jauh. Jauh sekali. Apalagi kalau mengingat orang-orang tua yang sudah bungkuk berjalan masih penuh semangat mengitari baitullah, tidak bisa saya bayangkan seberapa besar rasa cinta para orang tua itu pada agama Muhammad ini. Masya Allah, memangnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh cinta?

Kembali lagi ke buku ini, setelah membacanya, terutama di bagian detik-detik penguburan jenazah Rasulullah, saya menyetop membaca sebentar. Saya bergumam :
Laki-laki itu telah pergi, laki-laki yang menghabiskan seluruh sisa umurnya sejak dia diutus sebagai nabi-Nya, untuk berjuang menegakkan risalah Islam. Tidak ada waktunya terbuang selain perjuangan jua isinya.
Lalu saya loyo mengingat diri sendiri. Ya Allah, aku mah apa? Banyak bobo paginya pas nyusuin baby A, banyak menghabiskan waktu main pesbuk, banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak jelas manfaatnya, dan kadang sibuk dengan perbuatan sia-sia atau yang tidak mendatangkan kebaikan. Astagfirullah...

Belum lagi kadang masih khilaf dan bertanduk ala nenek-nenek sihir di hadapan baby A dan ayahnya, padahal impian pingin jadi istri shalihah dan ibu terbaik buat anak telah dikumandangkan waktu masih gadis. Bakti pada kedua orang tua belum ada apa-apanya yang bisa diandalkan, malah lebih banyak berdosa kepada kedua orang tua. Kadang juga suka malas belajar kalau lagi suntuk. Shalat tahajud susah ditegakkan. Sedekah kadang masih hitung-hitungan. Hafalan Quran maju-mundur. Hiks…

Akhirnya, teramat bersyukur bisa baca lagi catatan hidup nabi ini, bisa mengulang-ulang lagi hari-hari manusia agung itu. Satu kesyukuran juga, Allah masih beri ghirah untuk membaca kisah hidup manusia yang amat dicintai-Nya. Setidaknya, dengan membaca lembar demi lembar kisahnya, jadi alarm bagi diri sendiri untuk menilai dan menyadari fluktuasi kualitas iman dan akhlak saya saat ini, sudah sejauh apa saya melenceng dari akhlak yang diteladankan Rasulullah.


Eh satu lagi, poin tambahan dari buku ini adalah ada gambarnya loh! Mulai dari baju Fathimah hingga denah masjid nabawi ada di sana, lengkap dengan keteragan di mana barang-barang peninggalan nabi dan keluarga serta sahabatnya kini dimuseumkan.  Jadi pengin berkunjung ke museum yang dimaksud suatu waktu, entah kapan ya? Mohon doanya ya!
Kredit Pribadi

Kamis, 02 Agustus 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Mengenalkan Buku



Salah satu hal yang justru membuat saya dihinggapi perasaan bahagia jika mengingat bahwa saya sudah terhitung lambat melanjutkan sekolah lagi adalah anak saya sendiri. “Nggapapa deh, belum sekolah sekarang, mungkin memang ini justru yang Allah pilihkan sebagai jalan paling baik buat saya sebagai ibu”, begitu pikir saya. Mungkin justru kalau saya sekolah dengan kondisi suami juga sekolah, apalagi jika di luar negeri dengan pressure yang jauh lebih berat, saya akan lalai menunaikan tugas sebagai ibu. Meksipun sekarang juga, saya belum menjadi tipikal ibu yang ideal sih, tapi paling tidak, dua hal baik yang bisa saya berikan untuk anak saya adalah: waktu dan keberadaan. Dua hal yang mungkin akan sangat sulit saya bagi kepadanya jika saya sibuk dengan kewajiban-kewajiban sebagai mahasiswa.

Well, mungkin banyak ibu-ibu di luar sana yang bisa sembari sekolah dan tetap bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka, atau mungkin justru lebih baik daripada yang bisa saya lakukan untuk anak saya. Sayangnya, saya bukan ibu yang bisa melakukan itu. Maksud saya, setelah belajar dari sekian pengalaman kursus singkat yang saya jalani di kampus, saya sadar tidak mampu menjalani dua peran yang meminta waktu yang tidak bisa disambi dalam rentang waktu bersamaan. Intinya, meskipun di awal-awal saya cukup bersedih hati karena belum bisa lanjut sekolah lagi sebagaimana orang-orang di sekeliling saya saat ini, sekarang perasaan sudah jauh lebih baik. Waktu memang adalah obat terbaik ya?

Bahkan, tidak jarang saya mengucap syukur justru karena Allah beri waktu untuk bisa mendampingi tumbuh kembang anak saya sepenuhnya. Hal yang mungkin jadi mahal bagi ibu-ibu lain di luar sana, dan justru luang bagi saya dan anak saya. Alhamdulillah, selalu ada hikmah dan hal baik yang dapat dipetik dari setiap kejadian, bahkan jika pun itu tidak sebagaimana yang kita inginkan kan?

Nah, salah satu hal positif yang langsung terasa dampaknya sejak saya mendampingi tumbuh kembang anak saya dari dia lahir hingga sekarang adalah melihatnya suka sekali dengan buku. Sekarang ini, kalau dia melihat buku-bukunya, dia akan mengambilnya lalu minta dibacakan. Karena masih satu tahun dan belum bisa bicara, dia meminta dengan cara menaruh buku di tangan salah satu dari kami, orang tuanya, lalu menunjuk-nunjuk buku dan berkata “uuuh uhhh…!”. Maksudnya barangkali, “bacakan itu, please!”. Hehe… Melihat tingkah polanya seperti itu, membuat kami tertawa bahagia, tentu saja.

Dulu, sebelum dia berusia setahun, saat bangun tidur, sering sekali terjadi dia bangun-bangun langsung tunjuk rak lemari buku yang berada tepat di samping tempat tidur kami. Maksud dia barangkali, “Itu Ibu, buku adek, tolong ambil dan bacakan!”. Lucunya, pas saja yang ditunjuk jemari mungilnya adalah jejeran buku-buku di mana saya sering meletakkan bukunya di sana. Dia baru berhenti menunjuk-nunjuk ketika kami mengambilkan dan membacakannya.

Saat saya menulis tulisan ini, usianya sudah menginjak 14 bulan kurang 3 hari. Sehari sebelumnya, dia menunjukkan kemampuan baru, yakni meminta dibacakan oleh orang lain selain orang tuanya. Kejadiannya kira-kira pada sore hari, ketika saya dapati dia masuk di kamar Bu Rini lalu menunjuk buku Mas Riffat (anak Bu Rini yang berusia 5 tahun). Bu Rini adalah ibu kos kami, dan beliau memang dekat dengan anak kami. Seisi rumah mengajarinya memanggil Bu Rini dengan sebutan “bude”. Karena itu, mungkin masih wajar jika setelah orang tuanya, beliaulah yang kemudian menjadi alternatif untuk jadi orang yang bisa diaminta agar dibacakan buku. Meskipun dekat dengan Bu Rini, bagi saya, kemampuan anak kami untuk secara otomatis meminta dibacakan buku selain dari dua orang tuanya, yang memang secara sengaja mendekatkannya dengan buku, adalah satu hal yang teramat membahagiakan. Kecil tapi membekas di ingatan saya sebagai ibu, insya Allah. Ini artinya dia sudah bisa berhubungan dengan orang lain untuk belajar bersama buku. Pengalamannya dibacakan buku-buku sudah mulai meluas, di luar lingakaran keluarga utama. Alhamdulillah.

Sejak usia satu tahunnya pula, saya sudah dua kali membawanya ke perpustakaan umum di dekat rumah, semata untuk mengenalkannya pada perpustakaan. Di lain waktu, saya ingin menulis tentang perpustakaan yang ada di negara Belanda ini (doakan ya semoga bisa benar-benar ditulis).

Sebenarnya, sebelum usia satu tahun pun, beberapa kali saya sudah membawanya ke perpustakaan secara tidak sengaja. Misalkan, saat saya mengikuti library tour dan ketika saya dan ayahnya mendaftarkan dia sebagai anggota perpustakaan. Di negara ini, sejak bayi sudah keluar dari perut ibunya, dia sudah boleh jadi anggota perpustakaan umum dengan fasilitas peminjaman 25 buku nyata dan 10 buku digital sekali pinjam yang durasinya selama empat pekan sekali peminjaman. Itu semua gratis sampai usia si anak 18 tahun.

Kredit Pribadi : salah satu sudut perpustakaan umum untuk anak-anak


Dua kali kunjungan ke perpustakaan, dua kali dia menikmati suasana yang penuh dengan buku-buku dengan aneka ragam bentuk dan tekstur yang disediakan untuk anak-anak. Dia senang dan sumringah. Gigi-gigi putihnya kelihatan melulu gara-gara bahagia sekali bisa ke sana. Hehe…

Kredit Pribadi : Bayi A pegang buku di perpustakaan


Alhamdulillah, bayi A juga sekarang sudah bisa mengenal benda-benda lewat buku-buku bergambarnya. Dia bisa menunjuk-nunjuk benda-benda yang saya atau ayahnya sebutkan. “Mana matahari, Nak? Mana singa, Nak? Kalau Knuffie si kelinci yang mana?”. Lalu dia akan menunjuk sambil bilang “Uuuuh, uuhhh”. “Oooooh, itu! Pintar anak ibu”, puji saya, membesarkan hatinya.

Kredit pribadi : Buku Bayi A yang berada di atas buku ibunya


Alhamdulillah, percakapan-percakapan seperti itu menjadi warna yang cerah di hari-hari saya. Mungkin bayi A tidak akan mengingat masa-masa ini, sebab masih terlalu kecil untuk dapat merekam pengalaman-pengalaman di memorinya. Jadi, apa yang saya lakukan sebenarnya untuk kebahagiaan diri saya sendiri sebagai seorang ibu, mencipta kenangan-kenangan manis bersama bayi A, anak saya.

Soal membaca, saya punya sedikit tips untuk dapat meningkatkan kemampuan verbal anak ketika orang tua membacakannya buku. Saya dapat dari artikel yang ditulis Anne C. Hargrave dan Monique Sénéchal (2000) yang dipublikasikan di jurnal, ‘Early Childhood Research Quarterly’. Menurut penelitian tersebut, anak-anak akan lebih cepat merekam kata-kata dan kemampuan verbalnya pun meningkat ketika dibacakan dengan cara membaca dialogis (dialogic reading) dibanding membaca seperti biasa (regular reading). Apa sih membaca dialogis itu?

Program membaca dialogis ini, pertama-tama dikembangkan oleh seorang peneliti bernama Whitehurst bersama para koleganya. Programnya punya tiga prinsip utama. Apa saja?

Pertama, mendorong anak untuk berpartisipasi. Orang tua harus kreatif mendorong anaknya untuk turut serta sebagai peserta belajar, bukan cuma penerima materi. Menjadi peserta artinya si anak juga turut aktif berperan ketika orang tuanya membacakan buku, bukannya jadi pasif. Hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mendorong anaknya adalah memberi pertanyaan sederhana seperti “mana buku, Nak?”. Untuk usia setahun, anak-anak sudah bisa menunjuk, dengan orang tua mencontohkan terlebih dahulu. Jangan langsung berharap anak tahu setelah sekali mencontohkan ya! Anak suka dengan pengulangan. Beriring kemampuan anak menerima dan mencerna bahan bacaan, orang tua sudah bisa meningkatkan pertanyaan dengan, “apa nama binatang ini, Nak?”, misalnya. Sampai nanti sudah bisa ditanya dengan pertanyaan yang butuh jawaban yang lebih panjang seperti: “kenapa ini kucingnya nangis, Nak?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lebih baik dibanding pertanyaan yang hanya butuh jawaban “yes-no” saja. Pertanyaan-pertanyaan aktif seperti itu juga akan meningkatkan kemampuan berbahasa anak, sebab dapat melatihnya berbicara lebih banyak ketika menjawab pertanyaan yang diajukan orang tuanya.

Kedua, berikan tanggapan (feedback). Tanggapan ini sebagai tanda bahwa kita, orang tua, memperhatikan dengan baik si anak. Tanggapannya bisa berupa memuji ketika dia bisa menjawab dengan benar, menambahkan informasi-informasi tambahan ketika dia menjawab secara singkat, atau mengoreksi kesalahannya.

Ketiga, menyesuaikan kemampuan anak membaca dari waktu ke waktu. Anak yang sudah mahir menunjuk-nunjuk benda, bisa diajarkan untuk menyebutkan sendiri benda-benda yang ditunjuk. Dengan ini, kemampuan anak akan bertambah seiring waktu.

Saya juga masih mempraktikkannya. Kadang juga, dalam sehari kelupaan membacakan anak kami buku. Tapi sepanjang kami mampu, kami mengusahakan anak kami dekat dengan buku. Sekarang, ketika kami keluar kota dengan perjalanan jauh, kami membekali bayi A dengan buku untuk dibaca di kereta atau saat sedang ikut pengajian.

Sebenarnya, usaha mendakatkan anak kami dengan buku sudah kami lakukan sejak awal-awal bulan kelahirannya. Dimulai dengan buku-buku yang bisa digigit dan diremas untuk merangsang motorik halusnya. Bahkan, sejak dalam kandungan, meski saya bukan mahasiswa yang wajib memegang buku, saya biasakan membaca sambil memegang perut atau mengeraskan suara agar dia mendengarnya di dalam janin. Usaha-usaha semacam ini terus kami lakukan sebagai orang tua, untuk memenuhi haknya sebagai seorang anak. Semoga kami bertiga bisa tumbuh bersama. Aamiin.

Senin, 02 Juli 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Bermain Bersama Teman


Pada tahun 2018 bulan Juni kemarin, Abdullah, anak kami, sudah memasuki usia satu tahunnya. Pada usia ini, sudah terlihat tanda-tanda terhadap keinginan bersosialisai dengan teman-temannya, baik yang sebaya maupun yang lebih tua. Jika sebelumnya dia hanya bisa melihat dan mengamati anak-anak yang lebih tua bermain, pada usia ini dia sudah ikut bermain. Ketika anak-anak teman kami datang ke rumah bermain di dalam kamar, misalnya, dia akan menarik tangan saya atau tangan orang yang lebih tua untuk menemaninya masuk ke kamar untuk turut serta bermain dengan teman yang lebih besar.

Apa sih yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mendampingi perkembangan anak dengan keinginan sosialisasi yang mulai meningkat pada usia satu tahunnya?

Well, bermain bersama teman-temannya akan membuat anak belajar bersosialisai dengan orang lain. Secara langsung, si anak akan mulai belajar meminta dan memberi dengan orang lain. Dia juga akan mulai belajar tentang kepemilikan : ini punyaku, dan ini punyamu. Namun demikian, bermain dengan orang lain mungkin akan jadi sedikit ‘masalah’ bagi si anak pada usianya ini. Berbagi mainan adalah contoh kongkritnya. Kemauan untuk berbagi akan mulai bekerja ketika si anak memasuki usia dua tahun, tapi bukan jadi alasan untuk menghentikan kegiatan bermainnya dengan teman-temannya sebelum usia dua tahun. Meski masih dalam rentang usia satu tahunan, anak akan tetap menikmati bermain di sekitar teman-temannya, dan pada saat itulah dia mulai belajar bermain bersama.

Nah, saat bersosialisasi, kerap kali terjadi konflik dengan temannya. Karena anak belum bisa berekspresi dengan kata-kata ketika dia kecewa atau marah, maka biasanya anak akan mengekspresikannya dengan menendang, memukul, atau menangis. Tidak ada satu pun orang tua yang bahagia ketika anak melakukan hal-hal tersebut, baik dia dipukul atau pun yang memukul. Akan tetapi, bukan tindakan bijak ketika dia dipukul dan kita membiarkan atau bahkan menyuruhnya membalas dengan memukul kembali, meskipun tujuannya untuk memberi efek jera agar anak yang memukul merasakan bagaimana sakitnya dipukul. Karena dengan cara itu, anak akan mengambil kesimpulan bahwa tindakan-tindakan membalas seperti itu (memukul, menendang, menggigit, mencakar dan sebagainya) akan diperbolehkan jika dia sudah besar atau lebih kuat nanti.

Solusinya adalah lebih baik memberi pemahaman ke anak, bahkan jika dia masih satu tahun, bahwa melakukan tindakan kekerasan kepada teman atau keluarga, itu tidak boleh karena akan membuat sakit. Kalau saya sendiri, ketika anak saya dipukul oleh temannya yang lebih besar, saya lebih memilih untuk membawanya menyingkir sementara waktu dengan teman-temannya, lalu bermain bersama saya berdua saja. Setelah dia sudah tidak sedih lagi, saya akan membawanya kembali bermain bersama, dengan lebih hati-hati mendampinginya. Ini agar anak saya tidak merasa trauma bermain bersama teman-temannya.

Nah, ada juga kondisi ketika anak saya memukul temannya. Sebenarnya, maksudnya mungkin mau menyapa, tapi karena belum bisa berekspresi dengan baik, maka kadang dia mencakar temannya. Pada saat itu terjadi, saya juga akan memberi jarak pada anak saya dengan temannya. Dengan menjauhkannya sementara, saya bermaksud mengajarkan bahwa tindakan itu tidak dibolehkan.

Kemudian, sebagai orang tua, ketika anak sudah bermain dengan baik bersama teman-temannya, jangan lupa mengapresiasi usahanya. Memberikan pujian bahwa dia sudah pandai bermain, akan membuatnya bahagia dan menikmati permainannya di kali berikutnya.

Senin, 28 Mei 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Mendampingi Proses Makannya


Belum lagi setahun menjadi ibu, saya harus jujur bahwa begitu banyak kesalahan yang saya sengaja maupun tidak sengaja, telah mewarnai hari-hari saya bersama Abdullah, buah hati semata wayang saya. Belakangan, karena tingkahnya yang kian aktif, hampir-hampir sehari tidak terlewatkan dengan kecelakaan-kecelakaan kecil. Entah jatuh duduk saat mencoba berdiri, entah terbentur kepalanya di kursi atau tembok, entah jidatnya dipukul sendiri pakai gelas beling, dan kejadian-kejadian mendebarkan lainnya yang buat sang mamak dag-dig-dug. Sehari yang lalu malah, setelah dia bersujud dengan sengaja di lantai, dikiranya lantai itu lembut seperti kasur sehingga dihentakkannya kepala menuju lantai dengan kuat, maka keluarlah darah bercucuran mengiringi bunyi ‘dum!’ dari gesekan kepalanya dan karpet di lantai. Belum ditambah suara tangisnya yang melengking dan buat mamak-nya panik dan pengin nangis.

Selain drama-drama kecelakaan yang terjadi karena rasa awas saya padanya yang mungkin masih kurang, dalam soal makanan pun, saya juga masih banyak kurangnya. Sewaktu usia Abdullah menginjak masa pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI), saya juga sempat merasa gagal dalam masa beberapa bulan. Abdullah susah sekali untuk makan. Didorongnya makanan di mangkuk dengan tangannya, dilepehkannya sari-sari buah dari mulut, atau malah menangis minta turun dari kursi makannya saat tiba waktunya makan. Waktu itu, saya kekeh memberikannya makanan yang saya racik sendiri dengan tangan saya, pula dengan campuran bahan makanan kaya nutrisi yang saya beli sendiri di pasar ikan di pusat kota Groningen. Apalah dapat dikata, Abdullah tidak menyukai hasil karya ibunya itu. Saya jadi tidak bersemangat untuk membuatkannya makanan. Jika saya berhasil memasukkan beberapa cubit roti ke mulutnya dan ditelan, itu saja sudah buat saya kadang bahagia, saking susahnya dia makan. Maka saat itu, saya pun tidak lagi memaksa diri. Toh Abdullah juga sehat-sehat saja kelihatannya dan merasa cukup dengan ASI yang dia dapatkan dari tubuh saya.

Sampai suatu ketika, saya membaca tulisan seorang dokter anak di Surabaya tentang pentingnya memberi makanan bernutrisi seimbang pada bayi. Memang, tulisnya, anak bisa saja terlihat ‘baik-baik’ saja, tapi orang tua tidak boleh lepas tangan untuk tetap memberinya makanan seimbang, karena dampaknya baru dapat terlihat setelah anak besar. Indonesia menempati salah satu negara dengan angka indeks tertinggi yang anak-anaknya menderita stunting. Stunting dapat dilihat dari ukuran tubuh yang pendek dari rata-rata anak pada umumnya dan si penderita akan mengalami masalah pada bagian sistem otaknya seperti lambat berpikir dan susah mencerna proses pembelajaran. Penyakit ini susah sekali disembuhkan, dan hanya dapat dicegah sejak anak-anak masih balita. Cara mencegahnya adalah memberikan makanan seimbang. Dalam website si dokter, disediakan hitung-hitungan seberapa banyak kandungan nutrisi yang minimal harus dikonsumsi oleh balita.

Jleb, jleb, jleb!!!

Hancurlah hati mamak membaca semua itu, mengingat Abdullah hanya mengandalkan ASI dari tubuh saya hingga usianya menginjak delapan bulan. Tidak menunggu waktu lama, saya carikan Abdullah salmon, sayur-mayur dan buah-buah ke supermarket lagi di hari yang sama. Atas saran Bude Nunung, seorang bude yang membantu kami di Groningen, saya pilihkan sumber makanan organik untuk Abdullah. Memang harganya lebih mahal sedikit dibanding makanan non-organik yang banyak dijual di toko-toko dan pasar, tapi memastikan semua yang masuk ke dalam perut Abdullah adalah makanan dan minuman yang bebas dari zat kimiawi adalah jauh lebih penting dari selisih harga tersebut.

Namun, meski sudah saya buatkan lagi makanan dengan semangat empat lima, Abdullah belum juga mau makan. Lalu saya ke supermarket lagi dan lagi, dan mulai berdamai dengan hati untuk tidak ngotot dengan makanan hand-made. Saya akhirnya membeli bubur olahan gandum dan beras organik, siapa tahu Abdullah mau memakannya. Membeli bubur bayi sebenarnya sudah sejak lama disarankan mama saya dan mertua saya di Indonesia. Akan tetapi, saya terus saja berkeras hati untuk tidak membelikan Abdullah makanan olahan.

Lantas yang terjadi adalah, setelah saya cobakan bubur tadi ke Abdullah, ternyata ludes sampai sendok terakhir! Ya Allah, ternyata anakku maunya yang olahan dan mamak-nya malah bertahan pada makanan alami buatan sendiri selama tiga bulan ini.

Melihat Abdullah makan lahap, betapa buncahnya hati saya. Gembira tiada terkira. Apa yang saya impikan bagi buah hati saya telah jadi nyata dan saya saksikan di depan mata saya sendiri. Tidak peduli ini lebay, tapi saya sungguh merasa bahagia dengan itu. Saya sampai meminta kepada orang-orang di sekitar kami untuk tidak menegur Abdullah saat makan, saking takutnya saya jika dia tiba-tiba kembali pada kebiasaan lamanya : malas makan.

Seminggu berselang, Abdullah mulai ogah-ogahan makan lagi. Mamak pun bingung lagi. Akan tetapi, waktu itu saya sudah jauh lebih kuat dan menyadari kalau makan atau tidaknya Abdullah adalah tanggung jawab orang tuanya sepenuhnya. Jika dia menolak makan, maka orang tuanyalah yang kurang kreatif dan kurang mau belajar mencari cara agar dia mau makan. Abdullah masih bayi dan belum tahu betapa pentingnya aktivitas makan untuk hidupnya.

Sampai sekarang, saat usia bayi Abdullah sudah menginjak usia yang ke-11 bulan, ritme makannya masih berubah-ubah. Kadang dia lahap, kadang antara lapar tapi malas makan. Tapi beriring hari, saya pun mulai belajar banyak untuk mendampingi bayi Abduulah makan dengan cara-cara yang lebih variatif.

Jika pagi hari, saya tidak memberi bayi Abdullah sarapan berat seperti bubur dicampur sayur dan lauk sebelum jam 9. Kenapa? Karena setiap dia bangun di sekitar pukul 6-an, dia sudah dalam keadaan kenyang dengan ASI. Dia selalu bangun dengan kondisi menyusui, atau baru saja menyusui. Butuh waktu satu hingga dua jam untuk menyerap ASI tersebut bagi tubuhnya, dan membuatnya lapar kembali. Pada rentang waktu tidak boleh diberi makanan berat itu, dia masih boleh jika mau makan yang ringan-ringan seperti buah-buah dan gorengan (ups!).

Jika siang hari, saya beri Abdullah makanan yang lebih banyak dari porsi waktu sarapan. Kenapa? Karena siang hari dia akan bangun dari tidur siangnya dalam keadaan lapar, dan dia pun butuh lebih banyak energi untuk merangkak ke sana kemari. Menu makan siangnya sering saya tambahkan yogurt dan buah-buahan sebelum atau sesudah menu utama.

Jika menjelang malam hari, waktu ini yang kadang agak tricky. Pada satu waktu dia bisa lahap sekali karena kecapaian main, di waktu lain dia menolak entah mengapa. Akan tetapi, saya tentu tidak boleh menyerah. Saya tetap harus menyuapinya sebelum ayahnya pulang ke kampus, dan dengan itu, ayahnya bisa bermain bersama Abdullah tanpa terbebani pekerjaan suap-menyuap sembari ibunya bisa mengerjakan yang lain.

Kadang kala, saat Abdullah ogah-ogahan makan, saya menyelingi dengan mengganti-ganti jenis mainan di atas meja makannya. Dia tipe bosanan pada mainan. Maka setiap kali ada mainan baru di depannya, ini akan ampuh membuatnya tidak merengek untuk menyudahi proses makannya dan akhirnya mau membuka mulutnya lagi. Namun jika itu pun tidak ampuh lagi, maka saya akhirnya mengambil telepon pintar dan memutarkan lagu-lagu anak di depannya. Yang terakhir ini paling membuatnya senang.

Saat bayi Abdullah makan, tidak boleh ada gangguan dari orang lain seperti sapaan dan colekan. Sebab jika dia melihat ada orang lain mendekatinya, dia langsung merengek minta gendong, dan itu membuat mamak bernapas lesu. Maka cara saya adalah, karena kami tinggal bersama keluarga lain, saya memasukkan bayi Abdullah ke dalam kamar kami dan kami berdua melewati proses suap-menyuap dengan romantis di dalam kamar.

Setiap kali sendokan terakhir selesai, mangkuk pun kosong, saya selalu terharu sendiri. Satu bagian dalam tahap menemani tumbuh-kembang Abdullah telah selesai di waktu itu. Ini semacam menyelesaikan satu list assignment di jurnal pribadi saya sendiri. Sebaliknya, jika saya harus menyudahi proses makan dengan terpaksa karena Abdullah bosan atau ngantuk, saya pun langsung loyo. Akan tetapi, mamak harus tetap semangat. Saat menyimpan sisa makanan itu, saya bisikkan dalam hati, “Ok Andis, nggapapa ini bersisa, nanti siang dicoba lagi, ditambah aja porsinya. Boboin aja dulu anaknya”.