Tampilkan postingan dengan label Haruki Murakami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Haruki Murakami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2016

Bertemu Eka Kurniawan di Bekas Gereja Belanda


Saya belum pernah ketemua Eka, bahkan jika dia sudah dua kali datang ke Makassar mengikuti Makassar International Writers Festival (MIWF). Kali pertama Eka berkunjung ke Makassar, saya sedang sekolah di Semarang. Kali kedua, saya sedang tergolek di kamar karena sakit. Tapi, mungkin juga kalau saya sehat, saya akan tetap memutuskan untuk tidak menemuinya. Maksud saya, kalau pun saya ke Fort Rotterdam, tempat MIWF digelar waktu itu, saya hanya akan melihatnya di kelas-kelas di mana dia jadi pembicara. Sungguh kikuk dan membingungkan buat saya menyapa orang lain yang saya yakin tidak mengenal saya, bahkan jika pun saya sendiri sudah mengikuti hampir semua tulisannya.

Tapi saya tidak kecewa juga melewatkan kelas Eka yang berharga itu di Makassar. Justru di negeri Belanda, saya berjumpa dengan Eka dengan cara yang bagi saya sebagai pembaca : menyenangkan.


Akhir pekan lalu, saya dan suami berkunjung ke Zwolle, kota yang tepat bersebelahan dengan tempat tinggal kami, Groningen. Hanya ada satu titik yang ingin kami kunjungi, Waanders In de Broeren. Itu adalah sebuah bangunan gereja tua yang sudah dialihfungsikan jadi toko buku.

Pintu Masuk Waanders in de Broeren (Kredit M.A.Bahar)

Awalnya, kami mengiranya sebagai perpustakaan. Menurut suami saya, barangkali perpustakaan itu dikonsep sebagai ruang untuk menyerap ilmu di tempat ibadah. Kan ilmu itu suci, jadi diambil dari tempat suci juga. Kesannya jadi kental buat ibadah kalau pengunjung sedang membaca. Baru membayangkan begitu saja, hati saya sudah buncah bahagia akan berkunjung ke sana.

Nanti sehari sebelum berangkat, setelah mencari-cari informasi lewat Google mengenai tempat itu, saya akhirnya tahu kalau itu bukan perpustakaan tapi toko buku. Tapi ini tidak begitu mengecewakan karena mengingat bahwa rupanya tempat itu adalah salah satu toko buku terunik di dunia. Bikin cemburunya, Zwolle malah dikenal sebagai kota industri yang aktif di negara ini. Salah seorang teman Indonesia yang sudah menetap di sana bercerita kalau pemerintah menyediakan toko buku sebagai salah satu fasilitas untuk para pekerja. Pengetahuan dianggap sebagai salah satu kebutuhan publik, yang tidak hanya milik pelajar saja.

Tampak Bagian Depan (Kredit M.A. Bahar)

Tampak Bagian Belakang (Kredit M.A. Bahar)

Tangga Menuju Lantai 4 (Kredit M.A. Bahar)

Di sanalah saya bertemu Eka Kurniawan. Pertama kali masuk, setelah mengambil beberapa foto, kami menuju rak buku khusus berbahasa Inggris. Adanya di sebelah kanan lantai 1.
 


Rak Khusus English Literature (Kredit M.A. Bahar)

Toko buku ini ada empat lantai, di sisi kiri, dan dua lantai di sisi kanan. Semuanya dijejali rak-rak buku. Selain toko buku, ada sedikit ruang untuk nongki-nongki cantik disertai penjual makanan kecil. Jadi setelah membeli buku, pengunjung bisa langsung membacanya di kantin tersebut.

Penampakan Rak Lantai 1 dan 2 Sebelah Kanan (Kredit M.A. Bahar)

Di jejeran buku berhasa Inggris bagian sastra, saya menemukan nama-nama raksasa sastra dunia dari zaman nenek moyang hingga zaman kekinian. Dari genre sastra kiri ke sastra kanan (kalau itu ada). Saya menemukan Ernest Hemingway dan Haruki Murakami, juga Marxim Gorky dan Paulo Coelho. Sayangnya saya tidak menemukan nama yang saya cari, Eka Kurniawan.

Setelah mencari di rak-rak yang ada di lantai dua, nama Eka masih tidak saya temukan. Waktu itu karena kebelet pipis, saya tidak menjajaki lantai tiga dan empat di bagian kiri gedung. Lagi pula di sana hanya ada buku dengan bahasa Belanda.

Tampak Lantai I-4 Kanan Bangunan; Semua Dipenuhi Rak Buku (Kredit M.A. Bahar)

Akhirnya saya memutuskan mencari di katalog elektornik yang tersedia. Nah kan! Ada Eka di gereja ini. Atau setidaknya, pernah ada nama Eka di sana. Saya selanjutnya masih ngotot mencari Eka di jejeran rak buku sastra, mana tahu terlewat sebelumnya, tetap saja tidak menemukannya.

Karya-karya Eka Kurniawan (Kredit M.A. Bahar)

Puas dengan hanya menemukan nama Eka di katalog, saya pindah ke nama lain yang juga tidak kurang familiarnya. Adalah Pramoedya Ananta Toer, yang jumlah bukunya tentu saja sudah jauh lebih banyak yang pernah mampir di toko buku tersebut.

***

Bahkan jika Eka tidak mengenal saya, pun mungkin tidak pernah tahu ada pembaca seperti saya yang hidup di belahan dunia ini, saya tetap bangga melihat namanya dan Pram ada di sana. Bukan hanya karena daya tarik toko buku tersebut, tapi karena negara tempat toko buku tersebut adalah negara yang tidak kurang tiga ratus tahun pernah mengangkangi Indonesia. Ketika negara yang pernah terjajah justru darinya berasal karya kebanggaan yang di pajang di negara yang pernah menjajahnya. Bolehlah saya, sebagai salah satu masyarakat Indonesia untuk sedikit mengangkat kepala, bahwa ada dua penulis kami yang tidak dapat diremehkan—meski keduanya lahir di negara yang tidak pernah mendukung atau bahkan pernah menyembunyikan (kita tidak pernah lupa pemusnahan karya-karya Pram) karya-karya keduanya.

Tentu saja, dengan kebanggaan tersebut saya sangat naïf. Saya bersembunyi di balik karya-karya penulis besar di negara saya, sementara saya sendiri belum melakukan apa-apa. Uh! Untuk sementara, mumpung masih Agustus, selamat ulang tahun kemerdekaan aja lah.

Kamis, 21 April 2016

Dari Barista Ke Pendidik


Di sela-sela aktivitas kampus yang agak monoton, kerap kali saya dihinggapi keletihan dan kebosanan. Untung saja, kedua hal itu bisa sedikit diminimalisir dengan menyeduh kopi yang dijual di kantin kampus. Namun ada yang berbeda di sana. Para barista, sebutan untuk mereka yang bekerja di kedai kopi, senantiasa mengedukasi pelanggan mereka sembari menyiapkan kopi yang dipesan pelanggan tersebut. Mereka, para barista itu, mengaku menempuh pendidikan non formal selama kurang lebih setahun untuk belajar tentang seluk-beluk kopi. Hasilnya, para pelanggan akan benar-benar dilayani saat membeli kopi.

Saya misalnya, lebih disarankan untuk membeli kopi Arabica dibanding Espresso. Kandungan kafein Arabica, katanya, lebih rendah 50% dibanding Espresso. Si barista bisa menjelaskan mulai dari sejarah munculnya kopi hingga berbagai jenis kopi di belahan bumi ini. Mendapatkan edukasi semacam itu, mengingatkan saya pada cerita yang mirip di cerita pendek Dee, Filosofi Kopi.

Sebagai konsumen, ada kepuasan tersendiri dilayani sepenuh hati oleh orang-orang yang bergelut dalam profesi yang mereka sebut sebagai barista itu. Dua tiga kedai kopi pernah saya kunjungi, dan mereka hampir tidak pernah melihat diri mereka sebagaimana pembuat kopi di kampus tadi. Ada kesungguhan dan kebanggaan dengan menjalani profesinya sebagai barista, dan dengan itu ada kebahagiaan melayani para pelanggan yang butuh energi lewat kopi yang mereka racik di kantin kampus. Dari hasil kerja meraciknya, saya bisa masuk ke kelas belajar bersama mahasiswa kembali dengan sedikit terbebas dari kantuk di sore hari.

***

Suami saya, seorang apoteker, lewat tulisan dan oborolan ringan yang kami bangun, kerap kali mengedukasi saya untuk menjadi konsumen obat yang cerdas. Dari pengetahuan yang secuil itu, saya jadinya bisa sangat cerewet saat ke apotek membeli atau menukar resep obat. Apatah lagi kalau apotekernya pelit menyampaikan informasi tentang obat yang saya beli, saya bisa sampai ngedumel dalam hati. Sebagai konsumen obat, kita punya hak mendapatkan informasi yang kita butuhkan terkait obat yang akan kita konsumsi.

Pada dasarnya, dalam tugas keprofesian mereka, para apoteker memang telah ditugaskan untuk mengedukasi konsumen tentang bagaimana cara penggunaan obat yang baik dan benar. Begitu kata suami saya. Namun nyatanya, beberapa, atau banyak malah, apoteker yang kita temui di apotek hanya menyerahkan obat begitu saja. Tanpa embel-embel apa pun. Tanpa menjelaskan kapan waktunya obat tersebut dikonsumsi (apakah setelah makan atau sesudah), apakah di antara obat-obat tersebut ada yang antibiotik sehingga konsumen harus menghabiskan semua obat meskipun penyakit yang diderita sudah tidak tampak, makanan apa saja yang tidak dapat dikonsumsi bersamaan dengan penggunaan obat, dan pengetahuan lain tentang obat tersebut. Pengetahuan tentang obat-obatan yang dapat membantu para konsumen obat berganti jadi ‘kesadaran’ sebatas tugas menjual obat saja.

***

Hampir dua tahun lamanya, saya hidup dengan seorang calon pustakawan. Dia adalah tetangga kamar saya. Seorang gadis belia yang mengambil kuliah di jurusan perpustakaan. Di waktu senggangnya, dia bolak-balik ke perpustakaan umum daerah untuk membaca apa saja. Kepadanya saya bisa berdiskusi tentang buku-buku terbaru dan penulis-penulis yang kami kagumi.

Sekali waktu, saya pernah iseng meminjam buku kuliahnya. Membaca beberapa halaman membuat saya baru paham perihal banyak hal teknis yang mesti diketahui seorang pustakawan untuk mengatur buku-buku di perpustakaan. Namun lebih dari urusan teknis, rasa-rasanya, hal paling penting bagi seorang pustakawan, dia haruslah cinta membaca.

Betapa garingnya mengunjungi perpustakaan yang pustakawannya hanya duduk di depan komputer dan sesekali bergosip dengan pustakawan lainnya. Sebaliknya, betapa menyenangkannya menemukan pustakawan yang bisa memandu kita memilih buku yang paling baik saat kita meminta saran dengan menawarkan tema bacaan yang kita inginkan. Atau bahkan mampu menceritakan kelebihan dan kekurangan buku yang akan kita baca menurut pengalaman membacanya. Jika tidak salah ingat, pustakawan seperti itu saya temukan di cerita Haruki Murakami, Kafka on the Shore. Perpustakaan yang diceritakan Murakami, tidak saja memiliki pustakawan sekeren itu, bahkan ada kegiatan khusus mengelilingi perpustakaan untuk para pengunjung yang dipandu oleh pemimpin perpustakaan.

Semoga saja adik kos saya itu bisa, atau minimal, meniru model pustakawan yang digambarkan Murakami dalam ceritanya. Saya percaya, dari kegiatan dan buku-buku yang ada di dalam kamar adik kos tersebut, dia bangga dengan profesi yang akan diembannya di masa depan. Rasa-rasanya, dia pernah bilang ke saya, “Mbak, kenapa ya pustakawan di perpus-perpus pada nda asyik?”.

***

Dari barista ke pustakawan, masing-masing profesi mengemban tugas-tugas khusus untuk pelayanan. Sebagaimana setiap profesi yang baik, dia bisa jadi jalan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Namun profesi yang diemban bisa juga hanya untuk memenuhi kebutuhan individu, hanya dipandang sebagai jalan untuk memungut pundi-pundi rupiah yang dinikmati diri sendiri atau keluarga. Kita sudah sering menemukan hal semacam itu. Bahkan profesi seorang pendidik sekali pun, sebagaimana dalam tulisan Bjork (2005), ‘Indonesian Education: Teachers, Schools, and Central Bereucracy’, bahwa para tenaga pendidik di Indonesia cenderung lebih mengutamakan peran mereka sebagai pegawai ketimbang sebagai pendidik. Nah kan!

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 20 April 2016)

Jumat, 08 Mei 2015

Menduga-duga “Semusim, dan Semusim Lagi”





Dalam penempatan tokoh-tokohnya, dan belajar dari karakter-karakter yang dibentuknya, saya bisa secara semena-mena menyatakan bahwa penulis “Semusim, dan Semusim Lagi” sedikit banyak dipengaruhi oleh penulis Jepang yang dua tahun ini masuk dalam nominasi Nobel Sastra. Kalau mau lebih tepatnya lagi, novel besutan pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini mengingatkan saya pada karya Haruki Murakami, “Kafka on the Shore”.

Kita bisa meraba-raba kemungkinan itu dengan menyama-nyamakan penokohan yang muncul pada kedua novel tersebut. Seorang anak sulung yang hidup dengan orang tua tunggal, namun terasa seperti orang asing. Anak remaja itu kemudian meninggalkan rumah tanpa izin. Tujuan kaburnya untuk mencari orang tua tunggalnya yang lain, yang telah meninggalkannya sejak dia bahkan belum mampu melakukan proses mengingat dengan baik−untuk menyimpan kenangan dengan orang tuanya tersebut. Dalam proses pencarian anak itu, permainan konflik muncul dengan intens. Dan ya, jangan lupa, baik novel Haruki, pun novel ini, kucing muncul dalam cerita. Meski Andina lebih memilih ikan emas koki dibanding kucing sebagai “tokoh” yang menemani “aku” pada sebagian besar kisahnya.

Dugaan saya perihal pengaruh karya Haruki terhadap karya Andina Dwifatma menjadi lebih kuat setelah membaca pengumuman UWRF 2015 (saya membuka HP dan secara acak menemukan pengumuman ini saat jeda membaca novel Andina). Potongan isi surat Pertanggungjawaban Kuratorial UWRF yang disusun oleh Eka Kurniawan, M. Aan Mansyur, dan Ketut Yuliarsa itu berbunyi : “... kita bisa melihat beberapa di antara mereka [16 penulis terpilih UWRF 2015] dengan cekatan menulis cerita ala Haruki Murakami... ”. Dan, ‘beberapa’ yang dimaksud kemudian diperjelas dengan penjelasan, “[h]al ini terlihat misalnya dalam karya-karya ... [salah satunya] Andina Dwifatma ... ”.

Hal yang menarik dari penjelasan para kurator UWRF, bahwa meski dipengaruhi oleh penulis Jepang, mereka tetap mampu menceritakan hal yang berbeda dengan penulis Jepang tersebut. Untuk karya Andina, “Semusim, dan Semusim Lagi”, ‘hal berbeda’ yang dimaksud dengan sangat gamblang terjelaskan lewat judulnya. Pemilihan judul “Semusim, dan Semusim Lagi” dicomot dari puisi Sitor Situmorang, “Surat Kertas Hijau” (1953).

Andina memetik idenya dari puisi sastrawan Indonesia, dengan meminjam berbagai teknik menulis, salah satunya dari Haruki Murakami. Eka Kurniawan mengangkat cerita tentang kehidupan pada akhir masa kolonial pada novel “Cantik Itu Luka”-nya, dipengaruhi Gabriel García Márquez. Dan beberapa penulis keren, juga menempuh cara yang sama.

Mereka, para penulis yang baik itu, membaca karya-karya penulis yang dianggapnya keren, dan belajar dari sana. Dan ini lah pola yang saya pelajari dari membaca karya-karya mereka.


Kalau kita mau terus belajar, selalu ada hal-hal menyenangkan yang bisa dipelajari dari karya-karya yang baik. Pertanyaannya, bersediakah kita terus belajar ?

Jumat, 20 Maret 2015

Menulis Minimal Sebelum Tidur


Saya berhenti di halaman 44 saat membaca karya salah satu pemenang Nobel Sastra, Yasunari Kawabata, Snow Country. Tepat satu halaman sebelumnya pada novel terjemahan A.S. Laksana tersebut, Komako bercerita kepada Shimamura bahwa malam itu adalah malam ke-199 setelah terakhir keduanya bertemu. Shimamura terheran-heran. Kau menghitungnya? Tanya Shimamura kepada perempuan geisha itu. Ya, jawabnya. Tepatnya, dia menulis catatan harian setiap malam. Jadi dia tahu, sudah lembar ke berapa dia menulis sejak perjumpaan terakhir mereka bertemu.

Hal yang membuat saya berhenti pada halaman itu adalah ingatan yang tertaut dengan novel yang juga ditulis oleh penulis dari negeri yang sama, negeri Sakura. Adalah Haruki Murakami, yang juga dua tahun ini (2013 dan 2014) menjadi salah satu nominator pemenang Nobel Sastra. Novel terakhir yang saya baca dari Murakami adalah tentang seorang anak remaja muda yang mengaku bernama Kafka Tamura. Itu bukan nama aslinya. Ia kabur dari rumah, dan karena tidak ingin ditangkap polisi, ia membuat nama samaran. Saat kabur, dia memilih ke hotel untuk menginap. Selama menginap di hotel itu, setiap malam, Kafka menulis aktivitas hariannya. Mulai dari mengunjungi perpustakaan, hingga berolahraga di tempat gym.

Ada kebiasaan yang sama yang dilakukan tokoh utama Murakami ini, si Kafka, dengan tokoh perempuan geisha dalam novel Kawabata tadi. Iya, kedua-duanya menulis sebelum tidur.


Adakah yang penting dari kebiasaan ini? Tidak ada. Ini hanya semacam hobi yang dua tokoh ini lakukan. Semata karena mereka ingin menulis, ingin mengingat-ingat kejadian-kejadian yang dialami dalam rentang waktu sehari itu. Nah, kalau dua tokoh ini saja, yang tidak pernah punya minat tulisannya untuk dibaca orang lain (termasuk dipublikasikan di koran, disebarkan lewat dunia maya, dibagikan lewat situs jurnal dan artikel ilmiah atau bahkan hanya di blog pribadi, dikoreksi oleh pembimbing, diuji oleh penguji, dan atau diterima oleh penerbit) dengan rajinnya menulis setiap malam. Lalu bagaimana dengan kita yang menaruh harap orang lain mengerti jalan pikiran kita, menerima ide-ide kita, atau bahkan hanya sekedar menginformasikan kejadian-kejadian tertentu di sekitar kita, lewat tulisan?

Sabtu, 07 Maret 2015

Pemuda yang Memilih Mengasingkan Diri




Apa yang ada di dalam benak pemuda cerdas & sarjana cum laude ketika dia meninggalkan kehidupannya; keluarga yang mencintainya, lantas memilih mengasingkan diri ke alam liar? Mengapa dia meninggalkan kenyamanan peradaban dan semua atribut duniawi, dengan menyumbangkan semua tabungannya, membakar sisa uang tunai yang dia miliki, serta meninggalkan mobil kesayangannya di tengah hutan begitu saja?

Demikian potongan sinopsis di sampul belakang karya Jon Krakauer, ‘Into the Wild’, diangkat dari kisah nyata seorang pemuda bernama Christopher McCandless−juga telah diproduksi ke layar lebar dengan judul yang sama. Pemuda itu, tidak seperti sosok Kafka Tamura yang hanya ada dalam imajinasi Haruki Murakami saat menulis “Kafka on the Shore”. Meski kisahnya mirip: pemuda yang lari dari rumah pada usia muda. Namun pemuda dalam karya Krakauer itu benar-benar meninggal sendirian. Di dalam hutan. Tanpa sesiapa di sampingnya.

***

Sebelum menulis tulisan ini, saya membaca beberapa kisah orang tua di panti jompo yang ada di beberapa titik Pulau Jawa pada laman daring pindai.org. Artikel itu ditulis oleh Rusdi Mathari−seorang wartawan dan penulis lepas. Dibuka dengan beberapa kalimat yang duh-ngilunya. “Masa tua seperti apa yang Anda harapkan kelak: hidup bersama anak cucu dan tinggal bersama kehangatan keluarga atau menjalaninya di sebuah panti jompo?”

Pemuda di novel Krakauer tentu saja tidak membaca artikel tentang kisah oma-opa di panti yang saya baca itu. Tapi mari kita coba bayangkan kejadian lain. Jika pemuda itu sempat mengunjungi salah satu panti jompo di kotanya sebelum memutuskan untuk lari ke hutan, misalnya. Mungkinkah ia akan tetap dengan pemikiran yang sama, pergi ke hutan untuk hidup dan kemudian meninggal sendirian?

Konon, dia meninggalkan dunianya karena menganggap bahwa kebahagiaan dapat diraih hanya dengan hidup seorang diri. Dipikirnya, manusia dapat menyatu dengan alam liar, hidup tanpa bantuan−dan gangguan−dari manusia lain. Sebuah alasan yang di akhir hidupnya, disesalinya pula. Pemuda yang mati di tengah hutan itu, akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan yang dinikmati sendirian, sesungguhnya bukan lah kebahagiaan. Persis seperti maksud yang barangkali ingin disampaikannya−yang oleh sutradara diletakkan dalam narasi pembuka film yang mengabadikan kisahnya−kebahagiaan hanya nyata bila dibagi; kebahagiaan yang selaras dengan orang-orang terdekat kita. Kalimat tersebut ditulis pada buku catatan menjelang kematiannya. Tidak kurang dan tidak lebih, dia menulis “kebahagiaan hanya nyata bila dibagi”.

Pula, barangkali kebahagiaan itu lah yang sebenarnya lenyap di masa tua beberapa orang yang diasingkan di panti jompo. Sebagaimana dalam artikel Rusdi, sebagian besar mereka dipaksa menerima keputusan sanak keluarganya untuk dirawat di panti. Dan kita tahu, siapa pula yang mau menghabiskan masa tuanya di panti jompo?

Iya, mereka kesepian. Di masa-masa usia yang semakin mendekati kematian, para orang tua itu hidup dalam pengasingan. Dalam hal ini, kita tak hanya tak menyediakan mereka segala kebahagiaan sebagai bentuk pengkhidmatan untuk membalas jasa-jasa keduanya, tapi bahkan jika mereka hanya ingin ruang untuk menikmati masa-masa tua di lingkungan yang menyenangkan bersama anak-anak yang telah mereka besarkan dengan susah payah, kadang tanpa rasa bersalah, kita memupuskan keinginan-keinginan itu.

Memang benar apa yang dikatakan Gringo, seorang tokoh utama dalam cerita Carlos Fuentes, Old Gringo, 'Harper and Row’ bahwa adalah hak semua orang untuk mati. Persoalannya adalah, apakah juga hak semua orang untuk memilih mati dengan sendirian atau dengan orang-orang yang dikasihinya di sampingnya?

Saya tidak bermaksud menyimpulkan bahwa kematian bisa ditunda, sehingga seorang pekerja kantoran misalnya, dapat memilih untuk tutup usia di rumah saja, ditemani sanak-keluarga tinimbang mengakhiri usia di kantor atau di jalanan yang macet saat pulang dari kantor. Tapi maksud saya, apakah para orang tua selalu punya pilihan yang sama untuk melewati masa-masa tua mereka? (ini dengan asumsi golongan orang tua yang lebih rentan berpelukan dengan kematian, sebab tentu saja yang muda tidak bisa menghindarinya jika ajal telah membuka lengannya untuk memeluk tubuh kita).

Bukankah ada banyak kisah di depan mata, setelah kedua orang tua merenta, sang anak lah yang kemudian seolah kuasa menentukan di mana orang-tuanya layak menghabiskan masa tua mereka? Bukankah tidak sedikit anak yang memilih menyerahkan kedua orang tuanya untuk dirawat di panti, seperti kisah oma-opa yang dituliskan Rusdi?

***

Sekali waktu, kakak lelaki saya berkata, “kelak, jangan tinggalkan anakmu ketika dia bertumbuh, saat dia mulai bisa memanggilmu mama”. Kini, saya jadi berpikir, mungkin sebelum itu, sebelum saya memiliki anak, dia seharusnya terlebih dahulu mengingatkan saya untuk tidak meninggalkan orang tua kami di masa-masa tuanya kelak, sendirian.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 07 Maret 2015)

Jumat, 30 Januari 2015

Perihal Bahasa dan Kebiasaan




Satu kali waktu, kakak laki-laki saya langsung berkomentar: sambala’! setelah saya mengatakan dia sudah masuk golongan agak tua untuk usianya. Mendengar kata-kata itu, saya diam. Entah, sepertinya kata itu agak kasar terdengar.

Di waktu yang lain, seorang kawan yang adalah keturunan asli Solo, yang kita kenal dengan tuturan Jawa yang paling halus berkata: se’ ya Andis, aku ta’ umbah-umbah dulu. Mendengar ‘umbah-umbah’ diucapkannya, saya tertawa. Sampai sekarang saya masih tertawa, jika mengingat dia melafalkannya.

***

Tidak ada yang salah dengan kata sambala’ dalam penggunaan kesehariannya di Makassar. Dalam bahasa Makassar, ia berarti lombok yang telah diulek. Seringkali diucapkan kepada teman sekarib. Saya pun sering mendengar teman mengucapkan kata sambala’ kepada teman yang lain.

Pernah, saya bertanya kepada teman yang asli Makassar, kenapa kata itu harus diucapkan? Memangnya apa hubungannya dengan lombok dalam percakapan kalian? Jawabnya, kata itu adalah pelesetan dari kata yang lebih kasar, sebenarnya. Karena merasa akrab atau dekat dengan seseorang, kata itu kadang diucapkan hanya sebagai ungkapan kejengkelan dalam konteks yang tidak serius. Orang yang mengatakannya tidak benar-benar marah. Pertanyaan saya (yang tidak saya utarakan, tentu) kenapa dalam masyarakat Makassar, pun Bugis, keakraban ditandai dengan kasarnya ungkapan kata dalam berbincang? Maksud saya, kenapa untuk membangun keakraban, salah satunya ditandai dengan kata-kata yang kasar saat berbicang? (ini tentu tidak berlaku untuk semua, tapi rata-rata begitu).

Sama dengan kata ‘umbah-umbah’. Dalam bahasa Jawa, tentu kata ini tidak lah lucu. Umbah berarti mencuci. Kalau yang mendengar kata itu adalah teman yang sesama Jawa, kata ini akan biasa-biasa saja terdengar. Tapi, di telinga saya, kata itu lucu. Lucu saja. Mungkin karena saya teringat kata-kata yang biasa diucapkan untuk mengagetkan anak-anak kecil. Ummmmba’!

Dalam dua persoalan di atas, ada benang merah yang menghubungkan keduanya. Bahwa perihal bahasa adalah perihal kebiasaan. Karena tidak terbiasa mendengar sambala’! dilontarkan kepada saya, maka itu saya kaget. Saya merasa dikasari, padahal kakak saya tidak bermaksud seperti itu, tentu. Pun dengan teman saya, dia juga tak bermaksud melucu dengan kata umbah-umbah-nya.

Entah orang bijak siapa yang pernah mengatakan, berbahasalah sesuai dengan bahasa pendengarmu, bahasa kaummu. Saya pikir, hal itu yang sekarang-sekarang ini menjadi luput kita ingat. Orang-orang dengan kata-kata yang tidak ‘dijaga’, bertemu dengan orang-orang yang ketat ‘menjaga’ cara bertuturnya, dalam suatu perbincangan, hanya karena berbeda cara memaknai kata-kata, bisa menjadi masalah runyam kemudian.

Adalah Nakata, seorang laki-laki tua dalam novel Haruki Murakami, ‘Kafka on the Shore’, suatu waktu berbicara dengan Kawamura, kucing putih bergaris cokelat di pinggir jalan (kucing sejenis ini disebutnya sebagai kucing liar). Nakata dianugerahi kemampuan berbicara dengan kucing, tapi untuk jenis kucing satu ini, Nakata kesulitan memahami apa yang dikatakannya. Sampai kemudian datang kucing Siam bernama Mimi menjadi penengah di antara Nakata dan Kawamura.

Mimi adalah kucing terpelajar, dia terbiasa dengan ucapan-ucapan manusia sebab hidup di rumah manusia sepanjang harinya. Tapi dia tidak meninggalkan kemampuannya memahami bahasa-bahasa kucing, termasuk bahasa kucing liar. Ia kemudian berbicara kepada Nakata, bahwa ia akan menolongnya, menyampaikan pertanyaannya kepada Kawamura.

Mimi berbicara dengan Kawamura dalam bahasa yang hanya mereka yang memahami. Meski pun Nakata mampu berbicara dengan kucing, tapi tetap saja kali ini ia tidak paham percakapan yang dibuat Mimi dan Kawamura.

Sesekali Mimi memukul si kucing liar, sesekali berbicara dengan nada yang sepertinya kasar bagi Nakata. Tapi, dengan bahasa seperti itu, Mimi akhirnya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan Nakata. Mimi menyampaikan jawaban tersebut kepada Nakata dengan bahasa yang bagi Nakata mudah dimengerti. Mimi berbahasa dari yang tadinya kasar kepada Kawamura, menjadi terdidik saat berbicara dengan Nakata.

Cara Mimi memainkan perannya berbahasa kepada Kawamura berbeda dengan cara dia berbicara dengan Nakata. Tapi Kawamura, ia tidak mampu berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti bagi Nakata. Kawamura memang ditulis Murakami sebagai kucing yang bodoh dibanding kucing-kucing lainnya, sebab pernah mengalami insiden kecelakaan yang menyebabkan susunan otak di kepalanya bermasalah. Dan di sini lah hebatnya Mimi, tetap bisa memahami bahasa yang sulit dimengerti Kawamura−si bapak tua, dan pada saat yang sama berbicara dengan cara-cara yang mudah dimengerti ketika berbicara dengan Nakata−si kucing liar.

Saya berpikir, mungkinkah Murakami−penulis yang dua tahun ini masuk dalam nominasi penerima Nobel di bidang sastra−sedang mengolok-olok kita? Beberapa kucing seperti Kawamura, tidak mampu berbicara menyesuaikan dengan bahasa pendengarnya. Beberapa yang lain, seperti Mimi, mampu menyesuaikan diri untuk berbicara sesuai dengan lawan bicaranya. Dan seperti kata Mimi kepada Nakata sebelum berpisah, “hal ini tidak hanya terjadi pada kucing, tapi juga manusia”.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 30 Januari 2015)