Tampilkan postingan dengan label Yasunari Kawabata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yasunari Kawabata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2015

Sekelas dengan Eka Kurniawan


Dia duduk paling pojok, belakang bagian kiri, seperti saban hari sebelumnya. Saya duduk paling depan, tepat di depan nampan proyektor. Selalu begitu.

Dosen perempuan kami, sedikit judes, masuk. Kelas yang tadinya riuh tiba-tiba hening. Saya merapikan diri, duduk tegap menghadap ke depan. Teman-teman yang lain juga. Keliaran kami tiba-tiba takluk.

Kecuali satu orang. Dia yang duduk di pojok belakang itu. Masih dengan wajah tak acuh, tidak terpengaruh dengan kedatangan dosen. Namanya Eka Kurniawan.

Dia memang terbiasa demikian. Masuk ke dalam kelas seperti kehilangan semangat. Saya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diharapkannya dengan memasuki kelas kami. Semua tahu, dia sudah mengkhatamkan bahan-bahan bacaan, bahkan yang belum dijamah dosen sekali pun.

Saat sesi diskusi, jangan tanya lagi, dia bisa menjejalkan kami nama-nama penulis berserta judulnya, kalau perlu lengkap dengan tahun terbitnya, beserta penjelasan siapa-siapa saja penulis yang turut mewarnai penulis tersebut. Dia menyebutnya seperti menyebutkan nama-nama keluarganya saja.

Dalam beberapa kali diskusi, sebagaimana selalu menjadi masalah, kutemukan diriku terbagi antara dua peran yang saling bersaing. Tidak tahu apakah mesti menanggapi pernyataan dan pertanyaannya sebagai teman sekelas ataukah sebagai penulis yang kusukai.

Sejujurnya saya lebih tertarik dengan isi jurnal-jurnalnya termasuk esai-esainya di koran, tinimbang novel-novelnya. Padahal, dia dikenal lebih sebagai seorang novelis atau sastrawan, bukan esais. Bahkan, seperti yang sering dia katakan, dia menulis jurnal dan esai tentang bacaan-bacaannya dan perihal lain tentang novel kelas dunia, tidak lain adalah bagian dari dirinya sebagai seorang penulis novel. Dia mengikuti petuah Gabriel García Márquez, “para novelis membaca novel karya orang lain hanya untuk memahami bagaimana mereka menulis.”

Seseorang, yang saya lupa siapa, pernah menulis: membaca karya Eka Kurniawan seperti membaca karya-karya penulis dunia dalam satu cerita. Hah? Maka didorong rasa penasaran, akhirnya saya harus menelusur jauh ke belakang, mencari novel-novel klasik dari luar yang dibaca oleh Eka.

Saat ini, saya sudah mengumpulkan beberapa. Di antaranya ada Ernest Hermingway, George Orwell, Albert Camus, Rabindranath Tagore, hingga Yasunari Kawabata. Saya mendapatkan mereka dari ‘berburu’, baik di pesta buku, loakan, sampai toko buku daring. Ada juga lainnya beberapa saya nikmati dengan numpang baca di perpustakaan daerah.

Dengan rasa penasaran yang mungkin sedikit impulsif, saya bahkan pernah meminta tolong tetangga kos dengan menitip novel-novel Abdullah Harahap saat ia ke toko buku. Waktu itu saya sudah ke toko buku yang sama. Tapi tidak membelinya. Sewaktu membaca nama Abdullah Harahap di rak buku, saya merasa tidak asing dengan namanya. Tapi di mana saya menemukan namanya, saya meraba: mungkin di jurnal Eka.

Akhirnya, sepulang dari toko buku, saya membuka jurnal Eka. Dan benar! Di Jurnalnya. Eka menyukai karya-karya Abdullah Harahap, dan bukan semata karena cerita horor di dalamnya, tapi lebih karena Abdullah Harahap mampu memenuhi ekspektasi Eka tentang bagaimana sebaiknya tulisan fiksi itu disajikan: enak dibaca. Lalu percayalah saya dengan penilaian Eka (ada beberapa dasar yang saya gunakan ketika memilih buku yang akan saya miliki, ‘rekomendasi’ dari orang yang saya percaya bacaannya bagus, salah satunya). Maka dua novel Abdullah Harahap yang diterbitkan ulang, sudah saya miliki.

Ah, Anda tahu, sebenarnya, sesekali saya tidak menyukai tulisan Eka di novel-novelnya. Saya kadang berpikir, apakah orang ini bisa menulis novel tanpa ada adegan seks di dalamnya? Kenapa sih penulis keren seperti dia harus punya kebiasaan seperti itu? Sialnya, gaya menulisnya benar-benar menyenangkan.

Ingin rasanya, sekali waktu selepas kuliah selesai, saya menghampirinya dan bertanya : “hei, bisa tidak menulis novel yang adegannya tidak terlalu vulgar?” Saya mungkin tidak akan pernah bertanya padanya di luar kelas. Kami tidak akrab, bahkan tak pernah bertegur sapa. Dan lagi, jika pertanyaan itu benar-benar saya tanyakan, akan tampak basa-basi. Jenis pertanyaan apa lagi namanya jika kau sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu sendiri kalau bukan pertanyaan basa-basi?

Suatu kali dalam sebuah wawancara, dia katakan, “saya tidak pernah menulis dengan harapan semua orang menyukai karya saya. Saya memang tidak pernah mengespektasikan semua jenis pembaca suka dengan tulisan saya.” Nah, ini tamparan keras bagi penulis amatir seperti saya yang bermimpi tulisannya disukai oleh segala jenis pembaca.

***


Kejadian di atas sungguh tak pernah ada. Saya lulusan Akuntansi, dan Eka lulusan Filsafat. Dia juga lulusan jurusan yang berhubungan dengan desain (saya lupa nama jurusannya yang tepat, apa.). Jadi kelewat mustahil untuk kami bisa satu kelas. Kami pun terpaut usia yang cukup berjarak. Enam belas tahun. Namun, percayalah, apa yang saya katakan tentang Eka−pendapat saya dan juga tentangnya−adalah benar hasil dari penelusuran saya terhadap tulisan-tulisannya. Tabik.

Jumat, 12 Juni 2015

Akan Mengenang Kota Semarang dengan Cara Ini


Tiga hari dengan awal pagi yang sama, saya bergegas meninggalkan kosan. Di deretan lorong berikutnya, setelah beberapa puluh meter dari kosan, saya singgah di tempat Pak Dadang. Sarapan. Pagi ini, perpustakaan buka jam 8. Hari Senin-Jumat buka jam 7. Hari ini Sabtu, tutupnya pun lebih awal dari biasanyajam 6 sore.

Saya melewati dua orang lelaki paruh baya yang sedang mengobrol ringan di samping rumah Pak Dadang. Seorang di antaranya memegang rokok setengah batang yang belum terhisap. Seorang lagi, luput dari perhatian saya. Saya mengenali yang memegang rokok sebab beberapa hari sebelumnya, dia membantu saya mengukur badan. Dia sepertinya seorang penjahit, meski saya tidak begitu yakin karena tempat di mana dia mengukur badan saya lebih layak disebut ruang tamu. Tapi jelasnya, atas instruksi ibu-ibu yang saat itu sedang duduk di tempat yang sama kedua lelaki tadi mengobrol, saya bisa ke rumah lelaki tadi. Memintanya untuk menolong saya mendapatkan ukuran pakaian yang harus dikirim ke Makassar untuk suatu keperluan. Dia tidak memberi jawaban angka, saat saya tanyakan padanya berapa yang harus saya bayar atas jasanya mengukur ukuran pakaian saya. Tidak, jawabnya. Tidak usah.

Di sela-sela sendokan sarapan nasi rames, Pak Dadang membungkus beberapa gorengan dan bubur di samping saya. Agak berbisik, dia katakan, “untuk bapak tukang sampah”. Saya mengintip ke depan. Penglihatan saya menangkap sebuah gerobak sampah yang disampingnya berdiri sepasang kaki seorang lelaki. Pak Dadang menyerahkan bungkusannya. Tanpa menerima imbalan uang seharga makanan yang sudah dibungkus. Istrinya, sembari menggendong cucunya, terlihat biasa saja. Mungkin mereka terbiasa memberi dengan cara seperti itu, batin saya.
Gerobak Bubur Pak Dadang

Pada seruputan terakhir teh saya, datang dua lelaki muda. Hendak sarapan nasi juga, tapi nasi sudah habis terjual pagi itu. Pak Dadang masuk ke dalam rumah, setelah mengatakan kepada kedua pemuda itu, “tunggu sebentar, nasinya di piring saja ya. Ayo masuk!”. Dia tidak ingin mengecewakan pembelinya, barangkali. Nasi di dalam rumah, yang disiapkan untuk keluarga, dibawanya keluar. Dihidangkan kepada dua pembeli tadi. Saya juga pernah beberapa kali mendapatkan nasi di piring saat datang agak siangan. Kata Pak Dadang, nanti saya kelaparan di kampus. Saya harus sarapan dulu.
Teh Gratis dari Pak Dadang

Setelah membayar satu bungkus nasi rames dan sebuah gorengan−teh disediakan gratis−sejumlah tiga ribu rupiah, saya meninggalkan Pak Dadang yang masih sibuk menata gerobaknya untuk bersiap-siap keliling Pleburan. Saya kembali melewati dua lelaki tua yang sedang mengobrol tadi. Masih dengan cara yang sama, tersenyum dan sedikit membungkuk. Dibalasnya lelaki penjahit itu dengan cara yang sama pula dan mengatakan “monggo”, yang sedikit lebih keras dari yang saya ucapkan.

Saya tiba di perpustakaan didahului satu orang pengunjung yang sedang duduk di depan loker. Dia belum mengisi buku daftar pengunjung. Nama saya menempati urutan pertama lagi, setelah dua hari berturut-turut juga menempati kolom yang sama pada daftar pengunjung di ruang referensi. Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini, terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama terdapat beberapa bagian: ruang bermain dan belajar anak, tempat pengurusan kartu perpustakaan, beberapa bangku besi untuk duduk mengantri mengurus kartu, dua toilet, mushallah, ruang loker, tempat absen digital pengunjung, tempat pegawai dan administrasi umum, dan sebuah ruang referensi−yang menempati lokasi paling besar di lantai satu. Di dalam ruang referensi terdapat lantai mini untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kursi dan mejanya di susun membentuk format segi empat, yang kursinya saling berhadapan. Tiga hari ini saya menghabiskan waktu mengerjakan tesis, sejak perpus buka sampai tutup, di lantai mini itu. Pada hari-hari biasa, saya berada di lantai II. Di ruangan buku-buku fiksi, tempat di mana saya bisa menemukan buku Kawabata, Shakespeare, Sylvia Plath, dan penulis-penulis novel asing lain yang karyanya susah untuk saya dapatkan jika ingin membacanya. Kadang jika mengantuk di sana, saya beralih ke ruang berkala yang berada di tengah lantai II, tempat koran-koran dan majalah disuguhkan secara berkala. Atau jika tidak, saya ke ujung kanan lantai II, melewati ruang baca untuk anak-anak yang berisi buku bergambar dan cerita anak. Di sana, ruang bagi yang ingin membaca buku pengetahuan umum. Beribu-ribu buku berjejer rapi, dipisahkan sesuai disiplin keilmuan. Mulai dari sejarah hingga kesehatan.

Hari ini, saya harus meninggalkan perpustakaan lebih awal lagi. Seperti Sabtu biasanya, pukul 3 sore. Beberapa pekan ke depan, setelah melakukan ujian tutup studi saya (aamiin), saya akan meninggalkan tempat ini. Juga meninggalkan kebiasaan saya makan di tempat Pak Dadang sebelum ke surga kecil yang ada di Semarang ini.



Minggu, 22 Maret 2015

Hamlet dan Ketidakpastian Masa Depan


Baru saja membaca karya klasik Shakespeare yang diterjemahkan Anton Kurnia, setelah melalui gubahan Charles Lamb dan Mary Ann Lamb yang kemudian disederhanakan oleh S.E. Paces. Kabarnya, tidak mudah memang memahami langsung karya Shakespeare, apalagi masih dalam bentuk naskah drama.

Membaca dua dari tiga naskah drama yang tersaji dalam bentuk cerpen (Hamlet dan Raja Lear), membuat saya memasuki kembali cerita yang sendu. Sebelumnya memang, membaca karya-karya Kawabata juga menawarkan hal yang sama, tapi cara Shakespeare lebih kental nuansa kesedihannya. Dunia di mana cerita berakhir dengan kesedihan, kesendirian dan air mata. Hamlet misalnya, yang ayahnya di bunuh oleh adik sang ayah sendiri, dan dia ditugasi oleh arwah ayahnya untuk membalasakan dendam ayahnya. Dan yang terjadi pada akhir cerita, tidak hanya sang paman yang terbunuh, pun ibu, bahkan Hamlet sendiri meninggal. Hamlet menutup kisahnya dengan “yang tersisa hanyalah kesunyian”. Pada cerita ketiga tidak berbeda jauh. Raja Lear terbunuh setelah didurhakai oleh kedua putrinya, dan kedua putri durhaka itu pun pada akhirnya meninggal akibat ketidaksetiaan keduanya.

Setidak-tidaknya, membaca cerita seperti ini menyadarkan kita, bahwa “hallo! Kehidupan ini ya begini ini.” Tidak selalu happy ending, di mana si miskin berubah jadi kaya, atau si malang menjadi sukses, atau tuan putri menikah dengan sang pangeran. Bahwa selalu ada hal-hal yang terjadi di luar harapan yang indah-indah.

Seperti apa yang dinyatakan Anton Kurnia pada kata pengantarnya, bisa jadi yang terjadi di dalam dunia khayal Shakespeare sebenarnya juga terjadi di sekeliling kita. Meski terpisah jarak waktu dan tempat yang seribu tahun cahaya dengan penulis, bukankah sesungguhnya kita adalah satu dalam semesta kemanusiaan? Ya, kesedihan dan air mata, siapa pula yang bisa lolos dari dua hal ini semasa hidupnya?

Meski berakhir dengan memilukan, setidak-tidaknya hal yang paling mudah untuk kita pahami dari sini adalah, bahwa hidup ini tidak selalu lurus. Hari ini kita berbunga-bunga, besok kita tersayat-sayat. Hari ini kita berbahagia, siapa yang menjamin pada esok hari kita tak bersedih? Tapi justru, karena ketidakpastian itu, kita jadi memperjuangkan hal-hal yang kita yakini akan membuat kita bahagia atau setidaknya menjadi nyaman di esok hari. Mengikut apa yang pernah dikatakan oleh seorang ilmuwan (yang saya lupa namanya), kalau esok hari, kita sudah tahu apa yang akan terjadi, maka tidak akan ada lagi yang mau berjuang pada hari ini. Ketidaktahuan kita tentang masa depan membuat kita mau berupaya untuk memperbaiki diri, semampu kita. Dengan itu, dengan perjuangan atau apalah namanya, kita setidaknya telah mencukupkan keyakinan pada diri sendiri, bahwa usaha terbaik telah kita lakukan.


Sedangkan hari ini saja kita belajar, bekerja & berjuang, belum tentu besok kita menuai hasilnya, apatah lagi hanya berleha-leha dan bermalas-malasan? Sedangkan hari ini saja kita menanam benih di sawah, bisa jadi yang tumbuh malah rumput liar, apatah lagi tak menanam apa-apa? Jangan sekali-kali berharap memanen gabah deh.

Jumat, 20 Maret 2015

Menulis Minimal Sebelum Tidur


Saya berhenti di halaman 44 saat membaca karya salah satu pemenang Nobel Sastra, Yasunari Kawabata, Snow Country. Tepat satu halaman sebelumnya pada novel terjemahan A.S. Laksana tersebut, Komako bercerita kepada Shimamura bahwa malam itu adalah malam ke-199 setelah terakhir keduanya bertemu. Shimamura terheran-heran. Kau menghitungnya? Tanya Shimamura kepada perempuan geisha itu. Ya, jawabnya. Tepatnya, dia menulis catatan harian setiap malam. Jadi dia tahu, sudah lembar ke berapa dia menulis sejak perjumpaan terakhir mereka bertemu.

Hal yang membuat saya berhenti pada halaman itu adalah ingatan yang tertaut dengan novel yang juga ditulis oleh penulis dari negeri yang sama, negeri Sakura. Adalah Haruki Murakami, yang juga dua tahun ini (2013 dan 2014) menjadi salah satu nominator pemenang Nobel Sastra. Novel terakhir yang saya baca dari Murakami adalah tentang seorang anak remaja muda yang mengaku bernama Kafka Tamura. Itu bukan nama aslinya. Ia kabur dari rumah, dan karena tidak ingin ditangkap polisi, ia membuat nama samaran. Saat kabur, dia memilih ke hotel untuk menginap. Selama menginap di hotel itu, setiap malam, Kafka menulis aktivitas hariannya. Mulai dari mengunjungi perpustakaan, hingga berolahraga di tempat gym.

Ada kebiasaan yang sama yang dilakukan tokoh utama Murakami ini, si Kafka, dengan tokoh perempuan geisha dalam novel Kawabata tadi. Iya, kedua-duanya menulis sebelum tidur.


Adakah yang penting dari kebiasaan ini? Tidak ada. Ini hanya semacam hobi yang dua tokoh ini lakukan. Semata karena mereka ingin menulis, ingin mengingat-ingat kejadian-kejadian yang dialami dalam rentang waktu sehari itu. Nah, kalau dua tokoh ini saja, yang tidak pernah punya minat tulisannya untuk dibaca orang lain (termasuk dipublikasikan di koran, disebarkan lewat dunia maya, dibagikan lewat situs jurnal dan artikel ilmiah atau bahkan hanya di blog pribadi, dikoreksi oleh pembimbing, diuji oleh penguji, dan atau diterima oleh penerbit) dengan rajinnya menulis setiap malam. Lalu bagaimana dengan kita yang menaruh harap orang lain mengerti jalan pikiran kita, menerima ide-ide kita, atau bahkan hanya sekedar menginformasikan kejadian-kejadian tertentu di sekitar kita, lewat tulisan?

Jumat, 14 November 2014

Tentang Dunia pada Siang Hari


Dua anak gadis, kira-kira duduk di tahun kedua SMP. Masih dengan seragam sekolah, berbaur di antara para pembaca perpustakaan umum daerah.

Satu di antaranya sedang membaca novel terjemahan, An Other Heart. Saya mencuri-curi pandang, mengamatinya, tapi dia serius sekali membaca. Curi pandangku tidak digubrisnya. Berharap, dalam satu temu pandang, saya bisa melempar senyum padanya. Sayang, tak sekali pun matanya berpindah dari deretan-deretan huruf yang tersusun rapi di depannya.

***

Dunia remaja, dunia realitas yang−kata tetangga kos saya−sedang berada pada siang hari. Pada saat itu, bumi sedang panas-panasnya. Sekaligus terang-terangnya.

Para remaja baru saja meninggalkan masa dini hari. Dari babak kehidupan mereka menuju dunia yang panas dan bergejolak.

Dalam buku Saya Shiraishi, Pahlawan-pahlawan Belia, dunia remaja adalah dunia mereka yang haus akan pengakuan. Untuk dianggap penting dalam keluarga, mereka kadang melakukan hal-hal yang mengejutkan. Tidak jarang nakal dan brutal.

Stereotip nakal tentu bukan tanpa alasan. Biasanya, 'anak nakal' berada di rumah pasangan orang tua yang sibuk. Punya urusan sendiri-sendiri. Tidak punya banyak waktu untuk sekedar mencari tahu kehidupan anak remaja mereka. Bahkan hanya untuk mendengar cerita-cerita si anak remaja yang labil. Meski pun tidak lantas juga, ‘anak nakal’ otomatis berorang-tua sibuk. Tapi, harus kita akui, perhatian dari kedua orang tua tak ubahnya pupuk yang menentukan pertumbuhan anak-anak mereka.

Ketika suatu hari, kasus atau masalah tiba-tiba muncul, saat itulah si anak dicap nakal. Padahal, sebuah kasus tidak terjadi begitu saja, namun didahului oleh gejala-gejala, yang lebih sering tidak dikenali oleh orang tua yang abai pada anak remaja mereka.

Tidak begitu asalan jika saya nyatakan, sebenarnya anak remaja seperti ini seumpama fenomena gunung es. Punya banyak hal yang tidak diungkapnya.

Saya jadi ingat, sebuah tabloid yang mengangkat isu gender. Dituliskan tentang seorang anak perempuan yang berasal dari Jawa Timur terkait pengalamannya dilecehkan oleh teman laki-laki sepupu yang menumpang di rumahnya. Ironis, ia ketakutan tidak saja karena kebejatan teman lelaki sepupunya, tapi ketakutan untuk bercerita, mengungkapkan apa yang dialami kepada kedua orang tuanya.

Pendek cerita, si remaja perempuan ini tidak dapat bergaul lagi di sekolah. Sering tidak masuk kelas. Akhirnya tinggal kelas.

Hingga kisah tersebut ditulis, ia masih mengalami trauma mendalam. Namun, kedua orang tuanya−si ibu adalah pemilik butik dan ayahnya seorang pelaut−tidak pernah tahu apa penyebab 'nakal'-nya si anak remaja perempuan mereka yang bermasalah di sekolah & susah diajak ngobrol. Komunikasi yang jarang, serta pengetahuan kedua orang tua yang tidak mampu menyentuh dunia anak remaja, menjadi sumber masalah yang bertumpuk-tumpuk bagi si remaja.

Kisah yang mirip, jauh sebelumnya, pernah ditulis oleh novelis Jepang, Yasunari Kawabata dalam Utsukushisa To Kanashimi To, yang telah dialihbahasakan dalam edisi berbahasa Inggris, Beauty and Sadness. Otoko seorang gadis remaja Jepang dihamili oleh Oki, laki-laki beristri dan punya anak. Kesedihan dikisahkan Kawabata tidak hanya dirasakan oleh Otoko, namun terlebih oleh ibunya yang mengetahui anaknya diperkosa.

Kawabata menuliskan kesedihan sekaligus penyesalan seorang ibu yang melihat putrinya terluka. Untuk membunuh rasa bersalah si Ibu yang tidak menjaga putrinya dengan baik, ia mengalami kesedihan yang lebih dalam lagi. Si ibu memilih untuk mendampingi Otoko selama tiga hari tanpa tidur setelah kematian bayi yang baru saja dilahirkan Otoko.

Oh ya, selain novel ini, karya pertama Kawabata, juga berkisah tentang masa remaja. Judulnya Penari Izu.

Kawabata, peraih Nobel Sastra 1968, yang menurut suatu penerbit berskala nasional adalah 'perwujudan sastra Jepang modern yang paling menonjol', adalah seorang yatim piatu sejak usia muda. Kehidupannya ini kemudian banyak mewarnai karya-karyanya.

Pada April 1972 ia tewas ditemukan bunuh diri. Karya-karya awalnya yang mengangkat intrik dunia remaja, penuh kesedihan dan misteri sama halnya dengan kematiannya yang tanpa pesan terakhir. Tak pernah ada penjelasan memuaskan mengenai penyebab tindakan di akhir usianya itu.

***

Ada persamaan antara dua perempuan di dalam perpus tersebut, dengan dua perempuan yang mengalami tragedi seks dalam cerita di atas: mereka sama-sama remaja. Perbedaan mereka adalah lingkungan di mana mereka bertumbuh. Sulit untuk tidak menebak, bahwa dua remaja di perpustakaan tadi tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan aktivitas membaca.

***

Suatu hari saat bertamu ke rumah seorang kawan dekat, kawan saya yang lain juga datang bersama istri dan anaknya. Saya tahu betul, sepasang suami istri ini adalah sama-sama pembaca. Di rumah mereka berjejer beberapa lemari dan rak yang dipenuhi buku.

Selang beberapa menit kedatangan mereka, tiba-tiba anak lelaki mereka merengek, 'Bubu (begitu ia memanggil ibunya), buku mana? Mau buku!' Ia ketagihan membaca buku. Begitulah anak kecil ini bertumbuh, dan saya membayangkan bagaimana kerennya ia di masa remaja kelak, dengan dampingan sepasang orang tua yang juga keren, tentu.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 14 Nopember 2014)

Jumat, 31 Oktober 2014

Meminjam Kacamata Penerjemah



Membaca terjemahan, seperti meminjam kacamata penerjemah. Seorang penerjemah punya latar belakang pengetahuan, kemampuan memahami kalimat, serta keluasan kosa kata yang berbeda-beda.

Selain itu, motivasi melakukan penerjemahan dari seorang penerjemah pun berbeda-beda. Motif ekonomi dan motif kesenanganan, atau penggabungan keduanya, akan memberikan dampak pada 'rasa' buku yang diterjemahkan. Karenanya, kualitas hasil kerja mereka sangat bergantung dari kapabilitas, juga motif mereka.

Kualitas terjemahan yang buruk secara otomatis membuat citra buruk pula dari karya yang meski dalam bahasa aslinya adalah gemilang. Seperti yang dikatakan Ben Anderson kepada Eka Kurniawan: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu.

Novel klasik karya Kawabata cukup menarik untuk dijadikan contoh kasus. Novel dengan judul asli 'Utsukushisa To Kanashimi To' ini diterjemahkan dalam edisi Bahasa Inggris sebelum akhirnya diterjemahkan dalam edisi Bahasa Indonesia. Jadi, sebelum meminjam kacamata penerjemah Indonesia, lebih dahulu kita dipaksa menggunakan--mau tidak mau--memakai kacamata Howart Hibbert, yang terbit dengan judul 'Beauty and Sadness'. Novel yang terbit semacam ini, seumpama memakai kacamata berlapis-lapis. Itu adalah risiko bagi pembaca seperti saya yang tidak menguasai bahasa lain selain bahasa Ibu (bahasa Bugis) dan Bahasa Indonesia, tentu.

Setelah melalui penerjemahan yang panjang, di Indonesia, novel ini selanjutnya diterbitkan dan diterjemahkan oleh dua penerbit dan penerjemah yang berbeda pula. Meminjam istilah Umberto Eco, teks adalah sebuah karya yang terbuka, oleh karenanya pemaknaan atas teks menjadi terbuka pula. Maka, semakin panjang garis distribusi terjemahan sebuah karya, semakin lebar pula makna yang dihasilkannya. Atau boleh dibilang, maknanya kian menganga.

Belum lagi, latar budaya yang kemungkinan besar berbeda antara tiga pelaku utama: penulis, penerjemah dan pembaca. Kompleksitas pemaknaan sebuah teks menjadi lebih tinggi kadarnya saat teks itu harus dipahami oleh pembaca yang berasal dari kebudayaan lain. Pernyataan Benny H. Hoed−peneliti karya terjemahan Indonesia−tersebut mengukuhkan pernyataan Nord, seorang pakar di bidang penerjemahan, bahwa proses penerjemahan adalah 'a process of intercultural communication.'

Kembali tentang novel Kawabata, pertama kali, saya mendapatkan terjemahan tersebut digarap oleh Asrul Sani, dengan judul Keindahan dan Kepiluan. Berselang satu hari, di perpustakaan yang sama, saya menemukan novel itu lagi dengan frase judul yang berbeda, Keindahan dan Kesedihan. Kali ini diterjemahkan lebih segar oleh Sobar Hartini.

Dari penampakan sampulnya, dengan mudah dapat dibedakan terjemahan mana yang lebih dahulu terbit. Terlebih jika membaca isinya, karya terjemahan Asrul Sani, sentuhan sastra lama berseliweran di mana-mana. Dalam beberapa frase, masih dapat ditemukan ejaan lama, seperti 'tilpon' dan 'daripadanya'. Jadi, jika hanya berkepentingan menikmati cerita Kawabata, saya merekomendasikan terjemahan Sobar Hartini untuk Anda baca. Bahasanya lebih mudah dicerna.

Berbeda halnya jika Anda punya kepentingan lain, meneliti jejak karya sastra dan atau terjemahan misalnya. Atau misalnya lagi Anda penggemar karya Asrul Sani, maka mau seberat apapun kata-katanya dicerna, Anda jelas akan lebih memilih terjemahan karya Asrul Sani.

Singkatnya, seorang pembaca karya terjemahan juga punya motif dan kepentingan yang berbeda-beda pula. Persis seperti saat saya meminjam kacamata teman sekelas. Waktu itu penglihatan saya agak bermasalah akibat kebiasaan buruk membaca tidur. Selepas menggunakan kacamatanya, kepala saya justru sakit. Kesimpulan: saya tidak cocok dengan kacamata itu.

Karya terjemahan dari kacamata penerjemah akan mempengaruhi selera Anda untuk kemudian menghukumi suatu tulisan bagus atau tidak. Secara tidak langsung, Anda sedang menghukumi tukang penerjemahnya, cocok atau tidak dengan selera Anda.

Maka demi untuk tidak menggunakan kacamata, saya memutuskan mengobati mata saya dengan bantuan penjual jus depan kampus. Sesering mungkin saya membeli jus wortelnya. Mata saya agak lebih baik. Saya bisa membaca tanpa harus repot-repot ke optik demi untuk menguji seberapa tinggi tingkat minus-plus yang saya butuhkan dari sebuah kacamata.

Mungkin sama seperti kalau tak ingin menggunakan kacamata penerjemah, maka tidak ada cara lain kecuali menguasai bahasa asli karya tersebut. Tapi tentu saja, Anda harus lebih giat dan usaha yang diperlukan mungkin lebih lama dari sekedar usaha saya meminum jus wortel!

***

Ngomong-ngomong tentang penerjemahan. Tanggal 1 Nopember ini, selain adalah tanggal kelahiran Masehi saya, salah satu penulis Komunitas Literasi Makassar hendak meluncurkan buku puisinya, yang sependek pengetahuan saya adalah karya pertamanya yang diterjemahkan dalam bahasa luar. Kelahiran buku tersebut, kabarnya, dirayakan di Malaysia. Tahniah Kak Aan!

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 31 Oktober 2014)