Tampilkan postingan dengan label Saya Sasaki Shiraishi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saya Sasaki Shiraishi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 September 2015

Karena Buku Ajar Saja Tidak 'Cukup'


Untuk mencari asal-usul penggambaran keluarga nasional, selain membaca buku-buku pelajaran, saya juga menelusuri kembali sejarah nasional Indonesia.” Mengapa Saya Sasaki Shiraishi, seperti dalam kutipan tersebut, memilih menggunakan buku-buku pelajaran sekolah untuk melihat kondisi suatu bangsa?

Meminjam penafsiran Antonio Gramsci, buku-buku pelajaran yang terlembagakan dalam institusi pendidikan adalah salah satu dari berbagai alat hegemoni untuk menyebarkan suatu ideologi dan atau kekuasaan di suatu negara. Dengan demikian, sebagaimana di negara-negara lain, buku teks pelajaran sekolah dan buku yang diperuntukkan untuk anak-anak adalah sarana yang cocok, untuk tidak dibilang tepat, saat mempelajari landasan ideologi suatu rezim.

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang tidak terlalu mengontrol apa yang dibacanya, baik karena pengetahuan awal mereka yang masih minim saat memilih buku atau pun karena hampir semua dari mereka, kalau pun membeli buku-buku pilihannya, bukan dengan uang saku sendiri, yang berarti bahwa mereka kemungkinan akan membeli buku sesuai persetujuan si pemberi uang saku. Anak-anak dalam hal ini, tidak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan bacaannya. Sementara apa yang dibacanya semasa kanak, berpotensi membentuk cara berpikirnya hingga dewasa kelak.

Perihal ketidakbebasan memilih bacaan, ini tidak berbeda jauh kondisinya dengan buku-buku yang disuguhkan di sekolah. Buku-buku telah disunting dari hal-hal yang dianggap mengganggu bentukan sejarah negara yang ingin dibangun penguasa. Nama-nama pahlawan yang banyak dikenalkan lewat buku teks pelajaran sejarah, misalnya.

Betapa saya masih ingat, di dalam buku pelajaran sekolah tingkat dasar, terjabarkan panjang lebar riwayat R. A. Kartini dan Cut Nyak Dien (yang keduanya adalah keturunan ningrat), dan sedikit sekali, atau bahkan tidak pernah menceritakan sosok Keumalahayati. Dan mari bayangkan apa yang akan terjadi dengan pikiran anak-anak SD kelas VI ketika mempelajari bab G/30S/PKI dengan sedikit diselipkan materi dari hasil penelitian John Rossa, “Dalih Pembunuhan Massal”, atau dari Ita Fatia Nadia dengan “Suara Perempuan Korban Tragedi ’65”-nya?

Untuk hal penghilangan beberapa sejarah dari bacaan anak-anak, saya bersepakat dengan apa yang pernah dikatakan seorang penerima Pulitzer (2007). Adalah Ray Douglas Bradbury, pernah menulis begini: Anda tidak perlu harus membakar buku untuk memusnahkan budaya suatu bangsa. Hanya dengan membuat mereka berhenti membaca tentang sejarah bangsanya saja.” Atau dengan sengaja menghilangkan sejarah yang ‘mengganggu’ mungkin?

***

Menelusuri bagaimana pembentukan sejarah bangsa dari buku pelajaran anak, kita bisa mundur beberapa puluh tahun ke belakang. Pelajaran sekolah sebagai suatu konsep, telah ada dan berkembang sejak lama dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kolonial yang diperkenalkan Belanda kepada masyarakat Hindia. Pelajaran sekolah beserta buku-buku sebagai penyokong pembelajaran adalah alat yang dibawa oleh Belanda pada awal abad ke-20 untuk menjinakkan kaum pibumi. Bacaan lebih lanjut tentang ini dapat ditemui secara utuh pada bab ‘Kanak-kanak Dalam Kelas’ di antara bab-bab yang terselip dalam buku Shiraisi, “Pahlawan-pahlawan Belia; Keluarga Indonesia dalam Politik”.

***

Buku-buku yang kita baca, seumpama orang tua, melakoni peran merawat dan mendidik pikiran. Menjadi pemantik & pendamping bertumbuhnya ide dan gagasan. Juga menjadi rumah pulang guna melakukan refleksi dan kontemplasi. Bukankah demikian?

Eka Kurniawan pernah menulis kurang lebih seperti ini: kita jelas tak mungkin memilih orang tua biologis, tapi kita bisa memilih orang tua bagi perjalanan intelektual kita. Nah, semisal kita bukan seorang penulis yang memiliki karya yang dapat diwariskan bagi anak-anak guna menjadi orang tua yang baik bagi pikiran-pikiran mereka, menawarkan mereka buku-buku terbaik adalah alternatif yang mungkin bisa ditempuh untuk itu. Dalam hal ini, kita telah percaya pada kapabilitas penulis dari buku-buku yang kita pilih itu, tentu. Dan dengan cara demikian lah, setidaknya kita bisa menjadi orang tua yang mampu memadukan dua peran sekaligus: menjadi orang tua biologis dan juga orang tua intelektual bagi anak-anak kita.

Seperti yang dipercaya Shiraishi, buku pelajaran adalah alat paling cocok untuk mengontrol pikiran masyarakat suatu bangsa, jadi kita tidak ingin menyerahkan anak-anak kita semata dikontrol oleh buku-buku pelajaran sekolah mereka kan? Atau kalau kita sudah percaya sepenuhnya pada buku-buku teks pelajaran sekolah untuk menjadi orang tua intelektual mereka, pendamping bagi pikiran anak-anak kita, itu mungkin soal beda lagi.

Tapi omong-omong, kalau pun kita ingin menawarkan anak-anak kita bacaan bagus, bagaimana caranya jika ternyata sebagai [calon] orang tua, kita sendiri malah malas membaca? Mungkin itu kontradiksi yang perlu dibereskan juga. Atau justru itu lah yang perlu dibereskan terlebih dahulu ya?


Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 26 September 2015)

Jumat, 14 November 2014

Tentang Dunia pada Siang Hari


Dua anak gadis, kira-kira duduk di tahun kedua SMP. Masih dengan seragam sekolah, berbaur di antara para pembaca perpustakaan umum daerah.

Satu di antaranya sedang membaca novel terjemahan, An Other Heart. Saya mencuri-curi pandang, mengamatinya, tapi dia serius sekali membaca. Curi pandangku tidak digubrisnya. Berharap, dalam satu temu pandang, saya bisa melempar senyum padanya. Sayang, tak sekali pun matanya berpindah dari deretan-deretan huruf yang tersusun rapi di depannya.

***

Dunia remaja, dunia realitas yang−kata tetangga kos saya−sedang berada pada siang hari. Pada saat itu, bumi sedang panas-panasnya. Sekaligus terang-terangnya.

Para remaja baru saja meninggalkan masa dini hari. Dari babak kehidupan mereka menuju dunia yang panas dan bergejolak.

Dalam buku Saya Shiraishi, Pahlawan-pahlawan Belia, dunia remaja adalah dunia mereka yang haus akan pengakuan. Untuk dianggap penting dalam keluarga, mereka kadang melakukan hal-hal yang mengejutkan. Tidak jarang nakal dan brutal.

Stereotip nakal tentu bukan tanpa alasan. Biasanya, 'anak nakal' berada di rumah pasangan orang tua yang sibuk. Punya urusan sendiri-sendiri. Tidak punya banyak waktu untuk sekedar mencari tahu kehidupan anak remaja mereka. Bahkan hanya untuk mendengar cerita-cerita si anak remaja yang labil. Meski pun tidak lantas juga, ‘anak nakal’ otomatis berorang-tua sibuk. Tapi, harus kita akui, perhatian dari kedua orang tua tak ubahnya pupuk yang menentukan pertumbuhan anak-anak mereka.

Ketika suatu hari, kasus atau masalah tiba-tiba muncul, saat itulah si anak dicap nakal. Padahal, sebuah kasus tidak terjadi begitu saja, namun didahului oleh gejala-gejala, yang lebih sering tidak dikenali oleh orang tua yang abai pada anak remaja mereka.

Tidak begitu asalan jika saya nyatakan, sebenarnya anak remaja seperti ini seumpama fenomena gunung es. Punya banyak hal yang tidak diungkapnya.

Saya jadi ingat, sebuah tabloid yang mengangkat isu gender. Dituliskan tentang seorang anak perempuan yang berasal dari Jawa Timur terkait pengalamannya dilecehkan oleh teman laki-laki sepupu yang menumpang di rumahnya. Ironis, ia ketakutan tidak saja karena kebejatan teman lelaki sepupunya, tapi ketakutan untuk bercerita, mengungkapkan apa yang dialami kepada kedua orang tuanya.

Pendek cerita, si remaja perempuan ini tidak dapat bergaul lagi di sekolah. Sering tidak masuk kelas. Akhirnya tinggal kelas.

Hingga kisah tersebut ditulis, ia masih mengalami trauma mendalam. Namun, kedua orang tuanya−si ibu adalah pemilik butik dan ayahnya seorang pelaut−tidak pernah tahu apa penyebab 'nakal'-nya si anak remaja perempuan mereka yang bermasalah di sekolah & susah diajak ngobrol. Komunikasi yang jarang, serta pengetahuan kedua orang tua yang tidak mampu menyentuh dunia anak remaja, menjadi sumber masalah yang bertumpuk-tumpuk bagi si remaja.

Kisah yang mirip, jauh sebelumnya, pernah ditulis oleh novelis Jepang, Yasunari Kawabata dalam Utsukushisa To Kanashimi To, yang telah dialihbahasakan dalam edisi berbahasa Inggris, Beauty and Sadness. Otoko seorang gadis remaja Jepang dihamili oleh Oki, laki-laki beristri dan punya anak. Kesedihan dikisahkan Kawabata tidak hanya dirasakan oleh Otoko, namun terlebih oleh ibunya yang mengetahui anaknya diperkosa.

Kawabata menuliskan kesedihan sekaligus penyesalan seorang ibu yang melihat putrinya terluka. Untuk membunuh rasa bersalah si Ibu yang tidak menjaga putrinya dengan baik, ia mengalami kesedihan yang lebih dalam lagi. Si ibu memilih untuk mendampingi Otoko selama tiga hari tanpa tidur setelah kematian bayi yang baru saja dilahirkan Otoko.

Oh ya, selain novel ini, karya pertama Kawabata, juga berkisah tentang masa remaja. Judulnya Penari Izu.

Kawabata, peraih Nobel Sastra 1968, yang menurut suatu penerbit berskala nasional adalah 'perwujudan sastra Jepang modern yang paling menonjol', adalah seorang yatim piatu sejak usia muda. Kehidupannya ini kemudian banyak mewarnai karya-karyanya.

Pada April 1972 ia tewas ditemukan bunuh diri. Karya-karya awalnya yang mengangkat intrik dunia remaja, penuh kesedihan dan misteri sama halnya dengan kematiannya yang tanpa pesan terakhir. Tak pernah ada penjelasan memuaskan mengenai penyebab tindakan di akhir usianya itu.

***

Ada persamaan antara dua perempuan di dalam perpus tersebut, dengan dua perempuan yang mengalami tragedi seks dalam cerita di atas: mereka sama-sama remaja. Perbedaan mereka adalah lingkungan di mana mereka bertumbuh. Sulit untuk tidak menebak, bahwa dua remaja di perpustakaan tadi tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan aktivitas membaca.

***

Suatu hari saat bertamu ke rumah seorang kawan dekat, kawan saya yang lain juga datang bersama istri dan anaknya. Saya tahu betul, sepasang suami istri ini adalah sama-sama pembaca. Di rumah mereka berjejer beberapa lemari dan rak yang dipenuhi buku.

Selang beberapa menit kedatangan mereka, tiba-tiba anak lelaki mereka merengek, 'Bubu (begitu ia memanggil ibunya), buku mana? Mau buku!' Ia ketagihan membaca buku. Begitulah anak kecil ini bertumbuh, dan saya membayangkan bagaimana kerennya ia di masa remaja kelak, dengan dampingan sepasang orang tua yang juga keren, tentu.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 14 Nopember 2014)