Tampilkan postingan dengan label Muhammad s.a.w.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammad s.a.w.. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Desember 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Memahami dan Menghargai Keinginannya


“Dia sudah banyak maunya. Sudah bisa pilih-pilih mainan sendiri. Dia juga sudah bisa menolak hal yang tidak disukainya dan mengerti bahwa kata no! yang kerap diucapkanya adalah kata untuk sebuah penolakan.” Demikianlah kira-kira balasan pesan singkat melalui media WA ketika seorang teman di Groningen bertanya tentang kabar anak saya, bayi A.

“Oh bagus, itu artinya dia tambah pintar. Dengan adanya keinginan, itu menandakan bahwa dia sudah jadi manusia seutuhnya”, jawab si teman. Lalu saya pun luluh dan terharu.

Kenapa ya, saya tidak berpikir positif begitu? Saya malah cenderung merasa ribet ketika anak saya telah bertumbuh diiringi dengan keinginan dan hajat yang kian meningkat. Sudah terbayang kerempongan di sana-sini untuk meladeni keinginannya. Padahal benar kata si teman tadi, yang adalah lulusan sarjana psikologi, bahwa munculnya kemauan-kemauan sang anak adalah proses dari tumbuh kembangnya. Seharusnya disyukuri dan didukung ke arah-arah yang positif. Iya kan?

Pendidikan di dalam rumah, bukankah harusnya menempatkan sang anak juga sebagai subjek? Yang dengan itu, kita sebagai orang tua menghargai keinginan-keinginannya dan bukannya malah memaksakan keinginan-keinginan kita saja kepadanya. Pendidikan yang berakar dari lingkugan keluarga, bukankah harusnya menanamkan nilai egaliter sejak dini? Yang dengan itu, menghitung dan menganggap keinginan sang anak, bukannya malah menyepelekannya dengan dalih “kan dia masih kecil”.

Rasulullah sendiri, amat menghargai anak-anak. Suatu ketika beliau sedang shalat mengimami para jamaah. Ketika sujud, para sahabat merasa heran karena beliau tidak juga memberi aba-aba untuk duduk di antara dua sujud. Lalu, seorang sahabat bernama Ubay memutuskan bangkit dari sujudnya, kemudian mendapati seorang bocah di pundak Rasulullah dan akhirnya sang sahabat sujud kembali. Setelah rampung shalat jamaah itu, ditanyalah Rasulullah, “Engkau telah memanjangkan sujudmu, ya Rasul Allah. Kami mengira telah terjadi sesuatu padamu ataukah telah turun wahyu kepadamu saat itu.”

“Tidak benar semua itu. Cucuku (Hasan dan Husain) naik di atas punggungku. Karenanya, aku tidak ingin segera (menurunkannya) sampai dia menyelesaikan hajatnya”, jawab Rasul agung itu.

Nah kan. See? Hiks… Rasulullah saja, seorang yang hidupnya amat sibuk dengan perjuangan menyebarkan kebaikan, tidak keberatan memanjangkan sujudnya ketika ada anak kecil yang ingin bermain-main di punggungnya, bahkan ketika saat itu dia tengah shalat. Lalu kenapa sih saya ini, mamak yang nongkrong di rumah, suka ribet sendiri meladeni anak semata wayangnya. Hiksss…

Malam ini, ketika saya menulis tulisan ini, bayi A sedang tidur lelap. Sebelum tidur, sempat terjadi drama yang membuat bayi A menangis sedih. Pasalnya, si mamak mengambil paksa sikat gigi bayi A ketika dia masih ingin menyikat giginya dan si mamak merasa benar sendiri dengan berdalih sudah waktunya tidur dan waktu sikat gigi sudah habis. Padahal tidak ada susahnya memberi waktu bayi A sedikit lagi dan membiarkan dia menyelesaikan hajatnya. Padahal apa salahnya bersabar menunggu sebentar si bayi A yang sedang bahagia menyikat giginya. #MamakMenyesal

Karena kepikiran sama kejadian itu dan merasa bersalah, sehabis menidurkan bayi A, langsung ambil buku “Cara Nabi Menyiapkan Generasi” karya Syaikh Jamal Abdurrahman (terima kasih pak suami sudah belikan buku ini). Langsung tertohok-tohok baca isinya, terutama ketika baca kisah nabi yang pas sujud lama tadi, demi menunaikan hajat sang cucu. Ada juga kisah ketika beliau memimpin shalat jamaah, lalu mempercepat shalatnya ketika mendengar ada bayi yang menangis.

Sumber : Kredit Pribadi

Teringat peristiwa dua hari lalu, ketika bayi A menangis ingin menyusu dan saya buru-buru mau shalat lalu ditegur sama mama dan tante di rumah. “Susui dulu anakmu, baru shalat. Tidak sah shalatmu jika kamu membiarkan anakmu menangis begitu.” Ternyata memang benar, bahkan nabi pun menyegerakan untuk menyelesaikan shalatnya ketika ada bayi menangis karena khawatir di antara jamaahnya ada ibu sang bayi yang sedang menangis. Masya Allah, allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Sungguh engkau mulia dan paling pantas menjadi panutan kami dalam setiap tindak-tanduk, ya Rasul kami, Muhammad bin Abdullah.


Well, saya mungkin belum mampu dikenang sebagai ibu penyabar yang mampu mengerti dan memahami keinginan anak bayinya sebagaimana akhlak Rasul pada cucu-cucunya. Setidak-tidaknya, ketika suatu waktu bayi A membaca tulisan ini, dia tahu bahwa saya selalu berusaha untuk memantaskan diri menjadi ibu terbaik baginya, dengan terus berusaha dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan. Ibu sayang kamu, Nak! Maaf ya...

Minggu, 10 Januari 2016

Pendampingan Kasus yang Mencekik


 Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia  yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan  kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan  kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk  menolong orang yang sedang kesusahan, itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan ”

Jumat, 08 Januari 2016
Ba’da shalat Maghrib, telepon saya berdering. Nama kontak yang muncul di layar HP adalah ‘KAMI Mama’. Tidak sempat saya mengangkatnya. Beberapa menit setelah itu, sms masuk dari nomor yang sama. Isinya meminta saya untuk menelepon balik. Langsung saya meneleponnya. Orang di ujung telepon sana mengabarkan kalau kemungkinan si tentara itu mau bertemu besok. Mama bertanya, “apa saya bisa teleponki’ Nak kalau mau ketemu besok?”. “Iye, tentu saja. Kalau mauki’ ketemu, telepon meka’ di’ Ma’”, jawab saya kepada mama yang berada di ujung telepon sana.

Namanya Daeng ‘T’, saya menulis namanya di kontak HP dengan ‘KAMI mama’. Saya memanggilnya “mamak”. Di kampung pemulung, saya memanggil beberapa orang di sana sesuai dengan panggilannya dari keluarganya. Tujuannya agar kami lebih dekat dan tidak berjarak. Karena adik-adik damping saya memanggilnya mamak, maka saya juga memanggilnya demikian. Beberapa adik yang masih memiliki nenek dan memanggil nenek mereka dengan “nenek” saya juga memanggilnya demikian.

Sabtu, 09 Januari 2016
Tepat pukul 10.36, telepon dari “KAMI Mama” kembali bertandang di HP saya. Namun luput saya angkat. Tiga kali panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Saya tengah mengikuti pengajian akbar di Mesji Al-Markaz Al-Islami yang dibawakan oleh Ustad Dr. Syafiq Basalamah. Saat sesi tanya jawab sudah dibuka, suasana lebih santai, saya membuka kembali HP. Satu sms baru masuk dari ‘KAMI Mama’. Ada yang penting, ketiknya lewat sms.

Setelah pengajian usai, lepas shalat dzuhur di tempat yang sama, saya singgah bersama tiga teman lain di sebuah rumah makan untuk makan siang. Sembari makan siang, saya coba menebak-nebak, barangkali si tentara itu sudah minta bertemu. Lepas makan, saya berpisah dengan tiga teman lain di Jalan Gunung Bawakaraeng. Saya pamit ke Unhas. Belakang Unhas tepatnya.

Di jalan, saya memikirkan apa yang harus disiapkan untuk bertemu tentara itu. Saya putuskan singgah di kosan Jusma, dekat kampus Unhas, sebelum menuju lokasi kampung pemulung. Di kosan Jusma, saya menghubungi beberapa orang.

Orang pertama adalah “KAMI Mama”. Saat itu, di HP saya, waktu sudah menunjukkan pukul 15.49. Di saat yang sama, orang di ujung telepon sana masih berada di kampus untuk mencari plastik-plastik sisa minum mahasiswa. Pada hari libur, biasanya hasil memulung lebih sedikit karena yang meninggalkan sisa-sisa plastik minum tidak banyak. Karena itu mamak akan lebih lama mencari di kampus. Mahasiswa yang datang ke kampus biasanya berada di sekitar himpunan. Di sanalah biasanya mamak mencari. Seringnya di Fakultas MIPA. Sesekali di fakultas-fakultas lain.

Saya bertanya ada apa tadi menelepon saya, dan menjelaskan bahwa di saat itu saya tidak bisa menerima telepon karena sedang pengajian. Mamak memahaminya dengan “oh iye,”Mamak mengabarkan kalau hari ini si tentara dapat ditemui di rumahnya. Saya setujui untuk bertemu. Saya bertanya beberapa hal, yang harus saya masukkan di surat perjanjian. Lalu telepon saya tutup saat mamak mengatakan akan segera pulang dan kami janjian bertemu sesaat kemudian.

Orang kedua yang saya hubungi adalah seorang teman yang bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar. Setidaknya saya harus ditemani teman yang paham soal hukum, pikir saya. Tapi dia baru saja tiba di Makassar, katanya di ujung telepon. Saya menceritakan kasus warga yang saya dampingi. Dia katakan kalau saya harus melapor di kantor LBH terlebih dahulu. Kantor buka pada hari Senin-Jumat, sementara hari itu kantor libur. Dia memberi nomor temannya yang lain. Saya coba hubungi, tapi tidak aktif.

Keadaan mendesak, dan bantuan dari LBH tidak dapat saya harapkan saat itu. Akhirnya saya memutuskan mengajak Jusma. Syukurlah Jusma mengiyakan. Dia salah satu teman saya yang keren dalam mengerjakan hal-hal yang keren.

Orang ketiga yang saya hubungi adalah suami saya sendiri. Saya mengirimkan isi surat perjanjian yang sudah saya ketik. Mantap beliau menyatakan “good!”. Saya siap berangkat. Bismillah.

Bersama Jusma, kami menyusuri jalan becek menuju lokasi kampung pemulung. Di depan lokasi, di rumah pertama, mamak dan beberapa warga lain sedang duduk-duduk mengobrol. Saya menyapa mereka. Lalu mamak menyuruh saya dan Jusma ke rumahnya. Di rumah mamak, kami menghubungi si tentara. Setelah mengkonfirmasi, kami berlima berangkat dengan dua sepeda motor. Saya bersama Jusma, dan mamak bersama Kak ‘R’ dan Sita. Keduanya adalah anak mamak. Kak ‘R’ inilah yang pernah bertemu si tentara guna melakukan perjanjian utang. Tanggal 10 Oktober 2015, Kak ‘R’ menerima dana 10 juta dari si tentara, tanpa kontrak apa-apa, hanya dengan menyerahkan ijazah.

Tiba di lokasi, saya memarkir motor. Tentara itu keluar. Dari jauh saya cukup kaget melihat postur tubuhnya. Saya dan Jusma saling memandang, tersenyum tipis. Dalam bayangan kami, tentara ini adalah seorang bapak yang kekar, besar, tinggi, kumis tebal dan perut agak membuncit. Nyatanya jauh dari apa yang kami bayangkan. Dia jauh lebih muda. Tinggi standar untuk ukuran tentara, dan pembawaan yang jauh dari karakter bapak-bapak tentara yang menyeramkan. Tapi tampilan bisa saja menipu. Apa yang ada jauh di dalam hati tidak selalu berjalan beriringan dengan tampilan.

Kami berlima dipersilakan masuk. Dia menjelaskan apa yang sudah mamak ceritakan. Tentang uang yang dipinjam 10 juta, dengan pengembalian 1,5 juta tiap bulan dan masa peminjaman dua bulan. Setelah lewat dari masa itu, denda 100 ribu (1% dari pokoknya) dikenakan setiap hari. Jika sebulan, dendanya berjumlah 3juta. Cukup tiga bulan saja didenda, jumlah dendanya bisa lebih banyak dari pokoknya. Total yang sudah dibayar mamak sampai hari itu adalah 4,8 juta. Ini hanya bunga dan denda-dendanya.
Bunga bulan I              Rp 1.500.000,-
Bunga bulan II             Rp 1.500.000,-
Denda 18 hari              Rp 1.800.00,-

Memiriskannya, si tentara ini ternyata lulusan pesantren, dan menurutnya, pinjam-meminjam ini tidak termasuk dalam riba’. Duh! Apa dia tidak malu mengakui dirinya lulusan Pesantren Gontor?

Informasi tambahan dari si tentara ini adalah, dia mengaku bahwa pinjam meminjam itu sebenarnya merupakan usaha dari kenalannya di Surabaya. Dia hanya menghubungkan antara si peminjam dan kenalannya itu. Oleh karena itu, dia dalam hal ini hanya membantu orang yang sedang butuh dana. Dia kasihan pada Kak ‘R’ yang waktu itu datang menangis meminta bantuan dana. Maka dipinjamkanlah dana itu, dengan perjanjian pengembalian bunga yang sudah disepakati. Apa boleh buat, dana belum dikembalikan dalam masa dua bulan. Terpaksa dia harus menagih denda, yang dia sebut dengan biaya ‘charge’, 100 ribu setiap hari. Dia juga kasihan melihat kondisi keluarga Kak ‘R’ dan ibunya. Tapi apa boleh buat, itu ketentuan dari kenalannya yang dari Surabaya itu. Dia juga menjaga hubungannya dengan si teman yang berada di Surabaya agar tetap harmonis, katanya.

Tapi benarkah ‘si kenalan dari Surabaya’ itu benar-benar ada? Jusma mencoba mengonfirmasi dengan meminta nomor kontak si kenalan itu dengan alasan Jusma ingin meminta agar uang denda yang tersisa sebesar 1,2 juta─yang masih harus dibayar selain pokok 10 juta, dihapuskan saja. Kami ingin bicara langsung. Dia menolak. Dia sudah berjanji pada si kenalan untuk tidak mengenalkannya pada pihak yang berutang, katanya. Wah, sungguh sangat privasi!

Akhirnya, setelah saya berdiskusi berdua dengan Jusma, dengan pertimbangan denda yang harus dibayarkan setiap harinya jika menunda membayar sampai dana 10 juta terkumpul, kami memutuskan membayar 5 juta kepada si tentara. Lima juta ini didapatkan dari beberapa donatur (yang semoga Allah merahmati kalian), yang saya kumpulkan selama tiga hari. Jika 5 juta ini dibayarkan, maka denda berikutnya ‘hanya’ 50 ribu setiap hari.

Karena mendesak, saya tidak lagi mengeprint surat perjanjian yang sudah saya ketik sebelumnya. Saat itu, dengan sigap saya memindahkan isi surat perjanjian yang saya ketik ke kertas polio dengan menulis tangan. Sembari menulis, di ujung dekat pintu, saya menangkap di ujung pandangan saya, mamak duduk dengan tertunduk dalam.

Usai menandatanganinya dan menyerahkan uang 5 juta, kami berlima pamit. Kesepakatannya, kami akan kembali pekan depan, 16 Januari 2016, melunasi sisa 5 juta pokonya, ditambah denda 12 hari sebelumnya sebanyak 1,2 juta, serta denda 7 hari ke depan 50 ribu setiap harinya. Totalnya Rp 6. 550. 000.

Menjelang Maghrib, kami berlima sudah tiba di rumah Daeng ‘J’ kembali. Baru saja duduk, mamak menangis di pintu. “Saya enda’ tahumi mau bilang apa, Nak. Dua keluarga yang saya hubungi tidak ada kodong yang bisa bantu. Na kita bukan siapa-siapaku. Saya enda’ tahu bagaimana…” Suaranya terputus oleh tangisan. Saya memeluknya. Air mata saya juga tumpah. Di samping saya, suaminya tertunduk menghapus air mata. Di belakang saya, Jusma terdengar sesenggukan. Kami hanyut dalam keharuan. Duh Ilahi, pada keluarga yang rapuh ini, masih ada juga orang yang tega mengambil kesempatan menawarkan bantuan sembari mencekik lehar mereka satu .

Kepada para donatur yang sebelumnya ingin membantu, namun belum sempat mengirimkan donasinya, saya masih setia menunggu untuk melunasi sisa yang harus dibayarkan pada Sabtu depan di rekening saya 0348794123 (BNI) atas nama Andi Sri Wahyuni sebelum tanggal 16 Januari 2016.

Kata Ibu mertua saya, “hati nurani saya tidak bisa membuat saya diam melihat orang-orang yang kesulitan sementara saya bisa membantu, tapi tidak melakukannya”. Saya percaya masih banyak orang yang memiliki hati nurani seperti ibu saya itu.

Selanjutnya, tanpa mengurangi pemuliaan saya, dan insya Allah tidak mengurangi ketulusan para donatur─semata untuk akuntabilitas, berikut saya lampirkan rincian donasi yang sudah masuk :
Dr. Abdul Hamid Habbe                                 Rp 3.500.000,-
Harman, S.IP                                                   Rp 1.000.000,-
Mahasiswa Unifa kelas B 2014 kelompok I    Rp   135.000,-
Mahasiswa Unifa kelas B 2014 kelompok II   Rp   390.000,-
Total donasi per 09 Januari 2015                    Rp 5.025.000,-

Kemudian, izinkan saya mengutip apa yang tertulis dalam buku ‘Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan’. Buku yang mengisahkan 80 cuplikan keberanian dan ketegaran orang-orang yang melawan berbagai penguasa dan pengusaha yang dzalim. Dalam buku itu tertulis di pengantarnya, “Apa yang kita lakukan adalah apa yang memang sudah seharusnya kita lakukan”. Kalimat ini, mengajak kita untuk istiqomah pada kerendahan hati dalam berbuat baik.

Akhirnya, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”. (Muhammad Sallallahu ‘Alayhi Wasallam)Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan senantiasa, menguatkan hati kita untuk bergerak dalam kebaikan. Mari sama-sama berdoa untuk selalu bermanfaat. Insya Allah laporan berikutnya akan saya sampaikan kembali.




Salam,

Andi Sri Wahyuni

Pendamping Warga Kampung Pemulung Belakang PNUP, Tamalanrea

Jumat, 08 Januari 2016

Dia Bukan yang Pertama, tapi Dialah yang Menggenapkannya


Siapa pun yang pernah mengenyam pelajaran pendidikan agama Islam sewaktu sekolah dasar, kemungkinan besar tahu, bahwa manusia pertama yang percaya kepada agama baru yang dibawa oleh lelaki bernama Muhammad, adalah Khadijah. Kita tahu bahwa Khadijah adalah istri pertama Muhammad, dan disebut-sebut sebagai cinta sejatinya. Dia adalah perempuan yang tidak pernah diduakan Muhammad dalam mahligai pernikahannya. Muhammad baru melakukan praktik poligami setelah Khadijah meninggal, dan itu pun dilakukan Muhammad untuk kepentingan politik penyebaran dakwahnya. Selain keistimewaan itu, Khadijah juga adalah satu-satunya perempuan di sisi Muhammad yang mampu memberikan keturunan. Dari rahimnyalah kita mengenal pula syahidah tangguh bernama Fathimah az-Zahra, di samping Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum.

Beberapa hari di kampung halaman menjenguk keluarga sekaligus mengurusi surat keperluan pindah domisili untuk membuat kartu keluarga baru bersama suami, saya menggunakan sela-sela waktu senggang untuk membaca buku ‘Khadijah : Teladan Agung Wanita Mukminah’. Ini adalah buku kedua yang saya baca, yang isinya tentang hidup Khadijah. Buku pertama yang pernah saya baca ditulis oleh Sibel Eraslan, dikemas dalam bentuk novel. Kali ini, saya membaca karya Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal yang dikemas dalam bentuk non-fiksi.

Sebenarnya, sudah ada beberapa buku lain yang saya baca tentang Khadijah. Namun biasanya, kisah yang ada disandingkan dengan kisah suaminya, atau putri-putrinya, atau kisah Khadijah bersama istri-istri Muhammad yang lain sebagai Ummahatul Mukminin. Keunggulan membaca satu buku yang khusus membahas sisi hidup wanita mulia ini adalah penuturan kehidupan dan pribadi Khadijah yang lebih komprehensif, sehingga ada saja teladan dan inspirasi baru yang bisa dipetik.

Dari buku Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal ini, saya baru tahu kalau ternyata Khadijah bukan perempuan pertama yang dipinang Muhammad. Sebelumnya, Muhammad pernah memberanikan diri meminang anak pamannya, Abu Thalib, yang berarti saudara perempuan Ali bin Abu Thalib, dan berarti lagi sepupunya sendiri. Namanya Fakhitah. Usianya sedikit lebih muda dari Muhammad.

Abu Thalib hanya bisa diam mendengar keinginan Muhammad untuk meminang putrinya. Tidak lama setelah lamaran Muhammad, datang pemuda lain bernama Hubairah bin Abi Wahab bin Umar melamar Fakhitah. Lantas Abu Thalib menyetujuinya. Lalu bertanyalah Muhammad padanya, “pamanku, Anda nikahkan ia dengan Hubairah dan tidak mempedulikanku?”. Dengan bijak pamannya menjawab, “wahai anak saudaraku, kami telah menjalin perbesanan dengan keluarganya. Dan orang mulia sepertimu hanya pantas untuk orang mulia juga”.

Sekali lagi kata Abu Thalib, “... orang mulia sepertimu [Muhammad] hanya pantas untuk orang mulia juga”.  Karena itulah barangkali, Sibel Eraslan menulis syair indah ini : “Kehidupan diturunkan ke dunia dengan dititipkan kekasih-Nya kepada Khadijah, terus mengalir dari bumi ke langit”.

Abu Thalib tahu bahwa keponakannya tengah dan akan mengemban satu amanah besar, dan tugas itu hanya bisa dilaksanakan dengan didampingi oleh perempuan paling mulia saat itu di jazirah Arab. Dia tidak mengizinkan siapa pun, bahkan putrinya sendiri, untuk menggantikan posisi yang akan diisi oleh wanita mulia itu.

Allah memilihkan Khadijah bagi Muhammad, dan Muhammad bagi Khadijah. Dia bukan perempuan pertama yang dipinang pemimpin agung itu, tapi semua tahu, bahwa dialah satu-satunya yang menggenapkan. Dialah kekuatan sekaligus pelipur lara. Teman berjuang dalam dakwah berat dan panjangnya, teman hidup dalam rumahnya yang sederhana, dan penyejuk bagi hatinya sebagai seorang kekasih.

Sungguh, membaca kisah dan laku Khadijah dalam buku Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal, adalah membaca kisah-kisah yang sarat dengan keteladanan akan perjuangan. Diakah yang beruntung mendapatkan laki-laki terbaik itu, ataukah lelaki itu yang beruntung mendapatkan perempuan sepertinya, ataukah keduanya sama-sama beruntung saling memiliki satu sama lain?


Salam bagimu ya Ibunda, teladan sebaik-baik perempuan. Salam pula bagimu ya Muhammad, sebaik-baik jiwa yang menyambung kekerabatan, menolong yang lemah, dan ikut merasakan penderitaan rakyat yang dipimpinnya. Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad, wa ‘Ala aali Muhammad.

Senin, 30 November 2015

Kebahagiaan Didapat dari Memberi, Bukan Mengambil


Kata Jalaluddin Rakhmat, penulis buku Tafsir Kebahagiaaan, ada sekelompok manusia yang meletakkan kebahagiaan pada apa yang dimiliki. Sesuatu menjadi menyenangkan ketika sesuatu itu miliknya, bukan karena sesuatu itu bermanfaat baginya.

Seseorang membangun rumah besar lebih dari yang diperlukan. Seseorang membangun kolam renang di tengah-tengah rumah, meski lebih praktis dan lebih murah menyewa kolam renang umum. Atau seseorang mengeluarkan sejumlah uang untuk membuat taman, meski ia bisa berjalan-jalan di taman kompleks perumahannya tanpa harus mengeluarkan uang. Kesenangan hidup orang ini, bukan karena tidur nyenyak menempati rumah yang sudah dimiliki, tapi dari pernyataan “rumah ini milikku”.

Menurut Sigmund Freud, gaya hidup “mempunyai” sejenis itu merupakan kepribadian yang patologis. Kepribadian jenis ini terjadi karena orang tidak berhasil mencapai kedewasaan penuh. Mengira bahwa harta atau apa saja yang dimiliki dapat memuaskannya secara abadi.

Bagaimana seseorang kemudian, bergantung pada apa yang dimilikinya. Jati diri, kehormatan, kebahagiaan, hingga seluruh hidup, ditentukan dari apa yang dipunyai. Akhirnya, ketika seseorang ini kehilangan apa yang dimilikinya, maka hilang pula sebagian dari hidupnya. Ketika jabatan hilang, gairah hidup juga lenyap. Ketika mobil tergores, yang terluka malah hati. Meletakkan kebendaan dan hal-hal material jauh di dalam hatinya.

Modus hidup demikian, menurut Erich Fromm, disebut sebagai modus “mempunyai” (having mode). Namun demikian, menurut Fromm, modus ini memiliki sisi kontras, yakni modus “menjadi” (being mode). Modus “menjadi” adalah modus hidup yang sehat. Dengan hidup bermoduskan “menjadi” bukan “memiliki”, kebahagiaan akan diperoleh dari “memberi” bukannya “mengambil”. Lanjut Fromm, jika hendak hidup sehat, kita harus menghentikan upaya mencari ketenteraman dan jati diri dengan bersandar dari apa yang dimiliki.

Untuk “menjadi”, masih menurut Fromm, kita harus mengeluarkan segala ego, segala sikap “kepunyaanku”. Orang-orang bijak menyebut hal ini sebagai sebuah sikap “fakir”. Kefakiran di sini bukan tidak mempunyai apa pun, melainkan tidak dalam kepunyaan apa pun. Kefakiran diukur dari sikap, bukan dari jumlah harta.

Kefakiran, kata Ibrahim Ibn Fatik─seorang pemikir dari Baghdad, ditandai dengan ketenangan ketika tidak ada, dan pemberian dan pengorbanan ketika ada. Fakir berasal dari modus “menjadi” yang ditandai dengan ketulusan memberi, berbagi, dan berkorban. Bahkan kepada pihak yang tidak dikenal sekali pun.

Ya, perasaan tidak memiliki apa-apa bukankah memang akan menjadikan manusia menjadi legowo jika pada akhirnya akan kehilangan? Dan bukankah memang, bagi kita yang bertuhan, kita sejatinya tidak memiliki apa-apa?

Pernah Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam bercerita tentang kisah keteladanan si Fulan yang amat dekat dengan Tuhan. Beberapa sahabat bertanya, apa gerangan yang dilakukan si Fulan hingga mendapat kedudukan demikian. Jawab Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam, derajat tinggi itu diperoleh dari dua hal, salah satunya adalah karena kedermawanannya, yang lainnya karena ketulusannya.

***

Dalam dua hari pada tengah Nopember kemarin, tepat di lantai 18 Hotel Aston Makassar, orang-orang dari Timur yang tengah menjalani proses ‘menjadi’-nya berkumpul. Mereka orang-orang kampung yang lebih senang bekerja daripada tinggal mengeluh, tulis Daeng Gassing di blog pribadinya perihal kegiatan ini. Mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan ketulusan untuk banyak orang.

Beberapa di antara mereka, ada yang menggarap ide untuk menetapkan wilayah bank ikan yang bebas dari pengeboman di Wakatobi, ada juga pasangan suami istri yang berinisiatif mempersiapkan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat desa yang hidup di sekitar Rinjani yang rawan bencana, ada juga seorang laki-laki paruh baya dari Bulukumba yang menginisiasi gerakan bertani tanpa bahan kimiawi, dan jauh dari Sorong sana, ada sekelompok anak-anak yang tanpa pamrih mendorong perahu ke lautan mengunjungi anak-anak di Raja Ampat untuk mengajarkan mereka ekosistem pantai dan laut.


Kepada merekalah kita patut belajar tentang keteladanan, sebagaimana Andy F Noya menyebut mereka sebagai pahlawan dalam senyap, pahlawan yang tak tersorot lampu.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 27 Nopember 2015)

Sabtu, 29 Agustus 2015

Kitab yang Berjalan


Tak kurang dari setahun, buku setebal 583 halaman ini akhirnya keluar dari jadwal bacaan saya. Memasukkannya sebagai buku-yang-harus-dibaca-ulang dalam daftar bacaan adalah harapan yang entah kapan bisa terealisasi, mengingat beberapa bacaan prioritas yang masih menumpuk. Tapi buku ini layak dan pantas untuk dibaca ulang. Ulasan yang detail terkait nama-nama orang, tempat dan waktu cukup membuat pembaca mesti menajamkan ingatan saat menemukan nama yang sama, dalam jeda halaman yang panjang.

Adalah Muhammad, nama yang ditempatkan Michael Hart sebagai urutan pertama dalam bukunya yang memuat 100 daftar manusia yang paling berpengaruh dalam panggung sejarah dunia. Bahkan setelah buku tersebut direvisi berkali-kali sebab dianggap kontroversial, nama tersebut masih di tempat yang sama. Michael Hart, seorang ahli antropologi dan sejarah, tidak sungkan-sungkan mengakui kekagumannya terhadap kehidupan Muhammad.

Membaca Sirah Nabawiah adalah meretas kehidupannya, yang oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dimulai dengan mengenali kehidupan Muhammad, bahkan jauh hari sebelum ia dilahirkan. Di mulai dari posisi bangsa Arab dan kaumnya, lalu diikuti dengan penjabaran pembagian kelas oleh Kaum Quraisy sebelum kelahiran Muhammad.

Saya teringat salah satu sekuel film yang diedit oleh Joe Campana, Muhammad the Last Prophet. Film ini diawali dengan cerita kesenangan berbalut kepongahan Abu Al Hakam saat menjadi pemimpin di dataran Mekah. Bersama dengan pemimpin-pemimpin lainnya, ia menyambut para penduduk Mekah maupun dari luar Mekah untuk datang menyembah patung-patung yang dibuatnya dengan melemparkan koin-koin harta mereka di sekitar patung. Koin-koin itu kemudian akan dimiliki Al Hakam dan kawan-kawannya. Al Hakam dalam pelajaran agama semasa sekolah, kita kenal dengan nama Abu Jahal (dari bahasa Arab “jahil” yang berarti bodoh).

Guna mendatangkan para peziarah, para pemimpin ini menyuruh para budak membersihkan patung-patung, tanpa bayaran. Masih dalam film yang sama, para pemimpin dapat memiliki seorang budak dengan permainan-permainan yang sangat mengolok-olok kemanusiaan. Misalnya dengan cara melempar batang besi yang harus tepat sasaran. Jika tidak, seketika itu dia akan jadi budak. Atau dengan cara lain yang lebih ekonomis, membelinya dari pemilik sebelumnya. Nyawa dan harkat kemanusiaan diperjualbelikan tidak ubahnya barang.

Pada masa inilah, Muhammad datang. Menolak semua hal tersebut dengan membawa ajaran baru, yang kemudian tergambar dari kebahagiaan seorang budak bernama Bilal−dimerdekakan Abu Bakar As Shiddiq. “Tidak ada yang namanya kaya atau budak di mata Allah. Semua orang sama. Dan orang miskin tidak boleh direndahkan dan dibenci, melainkan diperhatikan.” Kalimat inilah yang disampaikan Muhammad pada awal penyebaran keyakinan yang dibawanya. Dan seperti yang kita tahu, mereka para pengikut awal, sebagian besar adalah mereka yang tertindas. Ini menjadi semacam peringatan keras, kepada kaum agamawan saat ini, betapa ajaran yang dibawa Muhammad sangat memperhatikan orang-orang miskin nan papa, tertindas dan tergilas oleh kuasa. Bukankah saat ini, kita rindu pada mereka yang menggunakan simbol-simbol agama dalam dirinya, baik berupa pakaian pun ucapan, turut dan terjun menyuarakan kemanusiaan? Melakukan perlawanan pada penguasa yang dzalim dan menolak segala bentuk kebijakan yang mengucilkan mereka yang tidak berdaya.

Aku berlindung kepada Tuhan dari kemiskinan dan kekufuran”, doa Muhammad. Doa ini sering dipelintir oleh sebagian kalangan yang mengokohkan kelas-kelas baru dalam masyarakat dengan asumsi :
-Muhammad membenci kemiskinan, karena itu kita tidak boleh miskin.
-Kita harus kaya dan itu hanya dengan kerja keras sendiri.
-Sementara mereka yang miskin, itu karena kemalasan mereka sendiri.
Aduh!

Padahal, seseorang pernah bertanya pada Aisyah, bagaimana dia dan Muhammad bisa bertahan hidup sebab selama ini tidak pernah dilihatnya adonan roti dan hidangan daging domba hingga Muhammad wafat. Hanya ada “dua hal, korma dan air”, kata Aisyah.

Muhammad membenci kemiskinan akibat penindasan, tapi ia menyayangi orang-orang miskin. Bahkan cara hidupnya sendiri sama seperti cara hidup kebanyakan umatnya yang ‘kecil’. Muhammad juga membenci perbudakan, tapi bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan pembebasan para budak. Maka segala arogansi kekuasaan, diskriminasi kulit, penumpukan kekayaan yang kesemuanya mengarah pada struktur ekonomi yang menindas, dilawannya dengan konsisten. Bahkan jika dengan itu, dia harus berhadap-hadapan dengan paman-pamannya sendiri, para pemimpin Quraisy.

Kita tahu, perbudakan adalah hal yang mengakar pada masa sebelum kelahiran Muhammad. Maka, menghilangkannya tidak bisa seketika saat Muhammad mengumumkan kerasulannya. Selama hidup, Muhammad pun masih memelihara budak, yang dalam penjelasan buku shirah pemenang lomba penulisan sejarah Islam ini, beberapa didapatkan melalui tawanan perang. Namun, Muhammad perlahan-lahan−tetapi konsisten−membuka jalan pembebasan atas manusia dari perbudakan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat itu. Kita bisa meraba hal ini dengan mengetahui bahwa sehari sebelum wafat, Muhammad memerdekakan seluruh pembantu laki-lakinya (hlm 557). Nama budak yang cukup dikenal, Zaid bin Haritsah, tidak hanya dimerdekakan, tapi bahkan dijadikan anak angkat semasa hidupnya. Sementara dua nama perempuan ini : Juwairiyah binti Al-Harits dan Shafiyah binti Huyai bin Akhthab, adalah dua tawanan perang yang tidak hanya dibebaskan, tapi diangkat derajatnya dengan menjadikan keduanya sebagai istrinya sendiri. Menganalisis lebih jauh, keduanya pun adalah anak perempuan kepala suku yang cukup berpengaruh pada masanya. Maka pernikahan itu, selain pembebasan, juga sebagai upaya politik taktis Muhammad memenangkan hati kepala suku yang memiliki pengikut dengan jumlah yang tidak sedikit. Di zaman Muhammad menyebarkan Islam, masyarakat sangat menjunjung tinggi sikap saling memuliakan sesama besan atau menantu. Maka dengan pernikahan itu, Muhammad membuka jalan menyebarkan Islam dengan cara yang lebih kekeluargaan. Pada kondisi ini, lagi-lagi, siapa pun lelaki yang mengaku hendak berpoligami dengan alasan sunnah tanpa memahami konteks Muhammad berpoligami, ada baiknya membuka kembali lembaran sejarah kehidupan Muhammad.

Dalam shirah ini, penulis cukup lengkap mengurut nama-nama istri nabi beserta beberapa penjelasan kehidupan Ummahatul Mukminin. Tentang topik ini, dapat dibuka di sepanjang bab yang berjudul ‘Rumah Tangga Nabawi’ (hlm 563-570).

Masih begitu banyak−dan tidak akan pernah ada habisnya kisah keteladanan itu hingga umat manusia masih melanjutkan keturunannya−untuk dikisahkan. Beberapa kisah itu, ada di dalam buku Al-Mubarakfuri. Membacanya adalah membaca perjalanan seorang manusia yang berakhlak kitab suci. Membacanya adalah usaha membuka pintu-pintu cahaya, sebab dia tiada lain adalah manusia yang terlahir dengan cahaya dari tubuh perempuan bernama Aminah, yang diturunkan oleh Yang Maha Cahaya.


Salam dan salawat semoga senantiasa tercurah kepada kekasih-Nya, Muhammad. Allahumma salli ‘ala Muhammad, wa ‘ala aaliy Muhammad.

Senin, 10 Agustus 2015

Perempuan Penyelimut Cahaya


“Ya Ilahi, begitu sedikit pengetahuanku untuk meniti jalan-Mu. Bahkan, dalam pengetahuan yang sedikit itu pun seringkali kuragu. Karena itu, semoga Engkau berkenan menunjuki jalan yang benar, dalam perjalanan menuju-Mu.”

Doa di atas adalah doa Khadijah al-Qubra binti Khuwalid saat mengunjungi Bait al-Atik−saat ini kita kenal dengan nama Ka’bah atau Baitullah. Khadijah datang ke sana setelah malam sebelumnya ia didatangi mimpi berupa cahaya yang melingkupi seluruh tubuhnya. Mimpi itu membawa perasaan berbeda dari mimpi-mimpi yang lain. Khadijah tak tahu mesti bercerita kepada siapa perihal mimpi yang membuatnya gusar itu. Tak mungkin diceritakannya pada masyarakat kala itu, sebab ia takut menerima cemooh sebagai janda muda yang aneh. Khadijah telah dua kali menikah dan keduanya tidak berumur panjang, suami pertama meninggal dan suami kedua dzalim, karena itu Khadijah meninggalkannya. Selain itu, keanehan yang dilakukan Khadijah pada masa itu sudah begitu sering, beberapa di antaranya adalah kebiasaan memerdekakan budak secara sukarela dan membagi-bagikan koin emas kepada para janda dan orang tua yang lemah. Hanya sedikit, untuk tidak menyatakan tidak ada, orang kaya dan merdeka yang senang melakukan hal-hal demikian di masa itu.

Esok paginya, setelah malam didatangi cahaya dalam mimpi, Khadijah berlari melewati al-Hayat menuju Bait al-Atik. Di sana ia memohon kepada Tuhan, agar kelak dipertemukan dengan seseorang yang mampu menenangkan hatinya, memahami perasaannya, dan menghapus kegusarannya.

Saat kejadian ini terjadi, seperti yang dituliskan Sibel Eraslan dalam novel biografi, ‘Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap’, dari terjemahan ‘Çöl ve Deniz’, Mekah tengah dikepung oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abyad al-Kabir. Bersamaan dengan kedatangan pasukan gajah yang datang dari Yaman itu, kita tahu, terlahirlah seorang bayi di tengah-tengah keluarga terbaik yang ada di Mekah. Nama keluarga ini adalah Bani Hasyim. Berdasarkan catatan penelitian Sirah Nabawiyah Al Mubarakfuri (1997), bayi tersebut lahir tepat pada Senin pagi, 9 Rabi’ul-Awwal. Proses kelahirannya membawa kekaguman bagi sang Kakek, Abdul Muththalib, yang mendampingi ibunya pada saat melahirkan−ayahnya wafat sejak dalam kandungan. Pintu rumahnya dilingkupi cahaya, runtuh sepuluh balkon istana Kisra, padam api yang biasa disembah orang-orang Majusi, dan beberapa kejadian lain yang diyakini sebagai tanda kerasulan saat kelahirannya. Dipeluknya cucu yang bercahaya, lalu dibawanya ke dalam Bait al-Atik−tempat yang sama di mana Khadijah datang memohon kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan seseorang yang cahaya seperti dalam mimpinya.

Duhai, inikah cinta dari mereka yang bercahaya? Sebelum bertemu dalam proses mu’amalah mudharabah−Khadijah sebagai pemilik barang dagang dan Muhammad sebagai pedagangnya, jauh hari sebelumnya, keduanya telah dituntun dalam cahaya Ilahiah. Bertemu dalam doa dan harapan yang bertaut di Bait al-Atik. Di kemudian hari, saat bayi itu telah berumur 25 tahun, sementara Khadijah telah menua pada umur yang ke-40, keduanya saling menautkan hati. Beberapa buku sejarah menyatakan bahwa Khadijah adalah cinta sejati bagi lelaki cahaya tadi. Khadijah adalah perempuan yang dipinangnya dengan mahar tak tanggung-tanggung tingginya dari segi materi, terlebih dari segi cinta dan kesetiaan. Kita tahu, seumur hidup membersamai Khadijah, tak ada perempuan lain yang dinikahi lelaki itu. Khadijah adalah penyingkap rahasia mim−huruf awal dari seseorang bernama Muhammad.

Pada umurnya yang mencapai 40 tahun, sudah waktunya diturunkan wahyu Tuhan kepada Muhammad. Peristiwa tak terjangkau indera tersebut terjadi di Gua Hira. Setelah ditemui oleh malaikat yang diutus Tuhan, dengan tergopoh-gopoh Muhammad pulang ke rumah dari tempat persembunyiannya itu. Peristiwa ini kita sebut sebagai hari diturunkannya al-Quran, yang diyakini oleh banyak penulis sejarah nabi, terjadi pada malam-malam akhir di bulan Ramadhan. Al-Mubarakfuri salah satunya yang menulis secara jelas bahwa peristiwa tersebut terjadi di bulan Ramadhan pada tahun ketiga pengasingan Muhammad di Gua Hira. Beberapa pendapat lain menyatakan hari persisnya terjadi, yakni pada hari ke-17 Ramadhan.

Peristiwa itu membuat Muhammad merasa kedinginan dan berkeringat sekaligus. Khadijah menyelimutinya, memeluknya, menenangkan hatinya. “Jangan kau gusar kekasihku, tenangkan hatimu.”

Inilah yang terjadi. Setelah doa yang dipanjatkan Khadijah berpuluh-puluh tahun sebelumnya di Bait al-Atik, bukan Khadijah yang ditenangkan, tapi dialah yang menenangkan seseorang yang pernah dimintanya itu.

***

Suatu hari, kakak lelaki saya mengatakan, “jadilah seperti Aisyah, dia adalah perempuan yang cerdas”. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, kepadanya kukatakan, “jika ada perempuan yang kucita-citakan untuk menjadi seperti dirinya, itu adalah Khadijah.”

Jalan hidup yang dipilih perempuan bergelar Sayyidatu nisâ’il ‘âlamîn (pemuka wanita seluruh dunia) itu, kasih sayangnya kepada kaum yang lemah, perjuangannya merelakan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan suaminya, dan cintanya yang tidak ada sandingannya di mata Muhammad, adalah mata air inspirasi yang senantiasa mengalir dalam hidup banyak perempuan.


Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 10 Juli 2015)

Jumat, 19 Juni 2015

Sekelumit Cerita tentang Gabah


Syahdan, adalah Joko Tarub, pemuda desa dari tanah Jawa, beristrikan gadis dari kahyangan. Keluarga ini tak pernah kekurangan beras. Meski sang istri selalu memasak setiap hari, namun gabah-gabah tak kunjung habis hingga bertahun-tahun.

Hingga tragedi terjadi, sang istri tak patuh pada aturan memasak yang menjadi rahasia mengapa hanya butuh sebulir beras untuk bisa menghasilkan sepanci nasi. Akhirnya gabah semakin berkurang, dan tersingkaplah sudah tempat di mana selendangnya di sembunyikan. Selendang itu berada di dasar peti beras. Selendang yang merupakan tiket baginya untuk kembali ke kahyangan.

Cerita rakyat tersebut, tertanam dan tumbuh turun-temurun di kepala anak-anak kita. Saya sendiri mendapati cerita tersebut pada saat berada di bangku sekolah dasar. Sebenarnya, bukan tentang Joko Tarub-nya saya menggunakan cerita tersebut untuk memulai tulisan ini. Tapi cerita perihal kebiasaan masyarakat kebanyakan di Indonesia saat menyimpan persediaan makanan pokoknya di dalam rumah.

Sama seperti Joko Tarub yang menyimpan berasnya di dalam peti, di beberapa daerah lain juga punya cerita yang sama, dengan nama yang berbeda. Orang-orang Sunda punya ruang khusus untuk menyimpan beras di rumah mereka, bernama padaringan. Ruang ini berada di belakang rumah, berdampingan dengan dapur. Suku Minangkabau memiliki bangunan sendiri yang disebut sibayau-bayau, bangunan berkaki enam untuk menyimpan beras guna memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara untuk penyimpanan beras yang akan digunakan untuk kegiatan sosial, mereka memiliki sitinjau lauik yang hanya berkaki empat. Wadah untuk menyimpan beras itu sendiri disebut rangkiang.

Jika orang Minangkabau menyebut rangkiang, maka orang Bugis pada umumnya menyebut rakkeang (dalam kamus Bahasa Bugis berarti tingkap dalam). Orang-orang Bugis dulunya menyimpan persediaan gabah di atas rumah. Rakkeang adalah ruang tertinggi di dalam rumah. Karenanya, benda-benda pusaka, gabah, dan persediaan makanan lain yang berasal dari hasil bumi bisa ditempatkan di sana. Penempatan gabah di bagian tertinggi ruang rumah secara simbolik dimaknai sebagai penghargaan atas padi sebagai sumber kehidupan.

Setiap kali selesai panen, sebagai bagian dari kerja-kerja komunal di sawah, para petani Bugis dahulu melakukan pesta panen yang disebut mappadendang (berdendang; bersuka cita). Pesta ini sebagai lambang kesyukuran dan kebahagiaan atas keberhasilan memanen pada musim tersebut. Saat gabah telah disimpan di dalam rumah, setiap keluarga melakukan ritual mabbaca doang. Berdoa kepada Tuhan karena diberi kelimpahan rezeki berupa padi sebagai sumber makanan untuk bertahan hidup.

Ibu saya suatu waktu datang berkunjung ke kos saya. Ditegurnya saya saat membuang sisa nasi yang sudah basi di kloset (karena tidak ada tempat khusus untuk cuci piring, saya mencuci alat-alat makan di kamar mandi, dan jika ada sisa makanan, saya langsung membuangnya ke kloset). Kata saya, pada akhirnya saat buang hajat, makanan itu akan lari juga ke sana, jadi tidak apa. Tapi kata ibu saya, “ettamu (ayahmu) adalah seorang petani. Kau tak boleh memperlakukan nasi seperti itu. Mabusung ki’ matu’ (nanti kita berdosa)”.

Menurut Ibnu Arabi, alam tidak lain adalah saudara manusia. Alam kadang disebut sebagai al-insan al-kabir (manusia dalam skala besar). Manusia sesungguhnya sangat dekat dengan alam semesta, dan karena itu, mencintai alam adalah mencintai kehidupan manusia itu sendiri. Termasuk apa-apa yang dihasilkan oleh alam itu, sebagai sebuah pemberian dari Tuhan.

Selain sebagai sumber makanan, padi juga adalah salah satu mata pencaharian keluarga kami. Ibu saya percaya, ada hubungan intim antara kami dengan padi. Pengetahuan ibu saya ini, dalam kajian dasar pengetahuan, tentu ditolak oleh penganut materialis dan platonik. Ibu saya mengakui adanya pengetahuan metafisis, sebuah landasan pengetahuan yang lebih dekat dengan landasan pengetahuan Islam. Hubungan yang tidak tampak secara materi, namun ada pada hubungan yang sifatnya jauh melampaui materi antara tubuh manusia dan padi itu sendiri.

Perihal menghargai makanan, saya jadi ingat pesan Muhammad sallallahu alayhi wasallam. Tidak boleh seseorang mencela makanan yang ada di depannya, seburuk apa pun makanan itu. Jika tidak enak, lebih baik diam, atau tinggalkan. Makanan, kata nabi, tidak boleh dicela.

Nabi memesankan secara simbolik akan pentingnya manusia berlaku mulia kepada semesta, termasuk di hadapan makanan. Ibu saya, bahkan terhadap sisa padi, tak boleh di buang langsung ke tempat hajat. Gabah-gabah hasil panen, dalam tradisi banyak suku di Indonesia, Suku Bugis salah satunya; menyimpan gabah di “atas langit” yang merupakan bagian tertinggi di dalam rumah. Demikian cara-cara mereka menghargai makanan sebagai bagian dari diri mereka sendiri, bagian dari ciptaan.

Namun beriring bergantinya sawah-sawah menjadi rumah-rumah makan, juga rumah kayu menjadi rumah-rumah yang dibangun dengan beton. Ruang khusus berupa rakkeang semakin berkurang (hanya rumah panggung yang bahannya dari kayu yang punya rakkeang). Menemukan pesta mappadendang selepas panen hampir tidak mungkin. Tak ada lagi gabah di kedudukan rumah tertinggi. Gabah selepas panen hanya dimasukkan ke dalam karung dan dibiarkan begitu saja di pinggir jalan, menunggu pembeli atau pihak tengkulak datang mengangkutnya ke dalam mobil ‘pick-up’ atau truk-truk.


Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 19 Juni 2015)

Senin, 26 Januari 2015

Seekor Gagak Hitam yang Dilanda Cinta


 
Ia adalah burung gagak hitam, yang bagi bangsanya, adalah warna hina. Ia adalah burung gagak yang terlahir sebagai budak.

Tidak ada suara baginya. Budak tidak punya hak, juga tidak punya keinginan. Kebebasannya adalah kerinduan yang sebatas panggang yang jauh dari apinya. Ia terkurung di dalam sangkar tuannya. Ia, burung gagak hitam yang malang.

Tapi ia ber-Tuhan, sementara tuannya tidak. Sebab itu, keduanya berbeda, beda yang jauh sejauh timur dan barat. Tapi sebab itu pula, gagak hitam merasa merdeka dalam posisinya sebagai budak bagi tuannya.

Suatu kali, ia berdoa diam-diam kepada Tuhannya. Sialnya (atau untungnya?), dia kedapatan oleh tuannya. Tuan si gagak hitam marah besar. Gagak hitam tidak boleh berdoa kepada tuannya. Gagak hitam tidak boleh ber-Tuhan.

Gagak hitam dicambuk, dipertontonkan di depan seluruh gagak yang lain. Ditimpakan di atas sayapnya batu gunung, diinjak-injak badannya oleh sang tuan. “Ini hukuman bagi gagak yang berani melawan tuannya. Tidak boleh ada yang ber-Tuhan bagi budak seperti gagak hitam. Budak hanya tunduk kepada tuannya, bukan kepada Tuhan”, kata tuan gagak hitam.

Gagak hitam dirantai, ditarik mengelilingi kampung, diolok-olok. Tapi gagak hitam melihat semua olokan itu sebagai kebebasan. Gagak hitam bahagia dengan kekuatannya bertahan melawan intimidasi tuannya. Semua yang melihat tahu, gagak hitam lah yang akan menang.

Meski kematian yang telah diambang pintu, tapi ia tetap bertahan untuk menang melawan tuannya. Bertahan dengan cinta yang dicecap dari Tuhan gagak hitam. Ia benar-benar dilanda cinta kepada Tuhan yang disebut-sebutnya dalam doa yang diam-diam.

Di hari-hari berikutnya, gagak hitam ditidurkan di atas kerikil, lalu dicambuk. “Hai gagak hitam, siapa yang kau sembah?”

“Ahadu, Ahadu (Dia yang satu, Dia yang satu)”, jawab gagak hitam dengan suara yang nyaris putus dari kerongkongan.

Gagak hitam kehausan, juga kelaparan. Tapi tidak ada penderitaan bagi gagak hitam selama ia bersetia dengan cinta yang satu kepada Tuhannya. Dahaga dan lapar seolah hilang ditelan cinta yang meluap-luap kepada Tuhannya. “Ahadu, Ahadu...”, demikian selalu jawaban dari gagak hitam, hingga menjelang putus urat nadinya.

Tiba-tiba, datang bangsawan membeli gagak hitam. Ia dibeli seharga 40 karung emas dari tuannya. Maka, terbebaslah gagak hitam dari tuannya yang jahat, yang tak kurang jahat dari Fir’aun. Sang dermawan mengumumkan kebebasan gagak hitam. Kini ia bisa terbang bebas, mencari Tuhannya.

***

Cerita di atas, benar-benar pernah terjadi. Ialah Bilal, budak hitam yang dipanggil “Gagak Hitam” oleh tuannya. Setelah terbebas dari sangkarnya, Bilal kemudian harum namanya sebagai pemuda bersuara-merdu-tanpa-tandingan saat memanggil setiap jiwa menemui Tuhannya.

Cerita tentang Bilal, adalah cerita tentang manusia yang tak bernilai, yang kemudian dimuliakan dengan iman. Tak habis-habis cintanya kepada Tuhan. Tuhan yang dipeluk si gagak hitam bersama lengan-lengan orang-orang yang bersaudara tanpa memandang kabilah, suku, hingga warna kulit. Mereka pun dipimpin oleh seorang pemuda yang begitu egaliter.

Tentang Bilal, buku-buku shirah punya banyak cerita yang akan dibaginya jika Anda ingin tahu lebih banyak. Salah satu yang pernah saya baca adalah karangan Al-Mubarakfuri. Jika Anda punya referensi lain, sila berbagi di sini!