Tampilkan postingan dengan label Nurhady Sirimorok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurhady Sirimorok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2015

Menelusuri Trotoar dari Rotterdam ke Rotterdam*


Gambar 1.  Benteng Rotterdam yang ada di Makassar (Sumber Gambar: Koleksi Pribadi)

Gambar 2. Bangunan di Rotterdam, Belanda (Sumber Gambar: nvo.or.id)


*Kata “Rotterdam” pertama pada judul tulisan ini merujuk pada Fort Rotterdam (Benteng Rotterdam) yang ada di Makassar, yang merupakan peninggalan Bangsa Belanda. Benteng tersebut sampai saat ini masih berdiri kokoh, berada di pusat keramaian kota, menantang angin dari Pantai Losari. Sementara kata “Rotterdam” yang kedua, merupakan nama sebuah wilayah yang ada di Negeri Belanda sendiri. Kota ini dikenal sebagai jantung ekonomi Belanda. Lebih lanjut, lihat artikel “Mencicipi Secuil Dunia Internasional di Rotterdam” di laman nvo.or.id (diakses tanggal 27 April 2015). Dua kata “Rotterdam” pada judul tulisan ini, sekedar untuk memetaforakan hubungan yang pernah terjalin antara Belanda dengan Kota Makassar.


***

Menelusuri literatur sejarah arsitektur dan tata ruang kota Makassar, beberapa fakta menarik mencuak. Bangunan-bangunan bersejarah yang masih tetap tegak berdiri melawan arus cita-cita pembangunan dan globalisasi, kemudian menjadi bukti tidak terbantahkan atas rekam jejak Bangsa Belanda yang pernah berdiam di sana. Berpuluh-puluh tahun silam.

Salah satu jejak yang masih tertinggal adalah ruang bagi para pejalan kaki. Dari ulasan Nurhady Sirimorok di salah satu situs jurnalisme warga[1], kita tahu, trotoar-trotoar yang ada sekarang, dibangun pada masa kedatangan Bangsa Belanda[2]. Sementara ruas jalanan baru−baik yang baru dibuka maupun yang diperlebar oleh pemerintah saat ini, nyaris tanpa trotoar.

Masih dari ulasan Nurhady, kita kembali dipahamkan, bahwa Makassar dengan gedung-gedungnya yang kian hari kian melebar nan menjulang, rupanya tak menyediakan ruang yang nyaman bagi para pejalan kaki. Manusia-manusia dipaksa secara tidak sadar untuk hidup dengan mesing-mesin yang tumpah ruah di jalanan. Menghasilkan kepenatan, kemacetan, dan polusi yang menyesakkan rongga-rongga napas.

Pengalaman sekitar empat tahun hidup di Makassar, tiap kali berkendara roda dua, mau tidak mau saya harus menggunakan masker atau semacamnya, terutama di daerah jalan raya antar-kota. Selain persiapan masker dan tak ketinggalan sarung tangan, hal lain yang perlu saya miliki adalah keterampilan menyelip di antara kendaraan roda empat, dan atau menggunakan trotoar jalan untuk lolos dari kemacetan. Itu pun jika trotoarnya ada, jika tidak, pilihannya adalah melewati ruas jalan yang seringkali rusak.

Lantas apa yang terjadi dengan pejalan kaki? Akibat tidak tersedianya trotoar yang memadai, dan ulah pengendara motor yang menggunakan ruas jalan karena terjepit kemacetan, para pejalan kaki menanggung kemungkinan risiko terdampar debu atau asap knalpot hingga terkaget-kaget oleh bunyi klakson. Paling parah, pejalan kaki bahkan bisa tertabrak karena tidak adanya ruang khusus bagi mereka di jalanan. Di Makassar, sangat jarang, untuk tidak mengatakan tidak ada, orang yang mau berjalan di pinggir jalan raya antar-kota karena berhadapan dengan risiko-risiko yang bahkan berujung maut.

Seorang kawan, yang adalah warga asli Makassar, pernah menuliskan kisahnya dalam blog pribadinya ihwal kejadian dia diserempet mobil. Waktu itu, dia dalam keadaan terpaksa harus berjalan kaki di pinggir jalan raya. Namun apa daya, jalan raya seolah milik pengendara mesin, sementara pejalan kaki seolah tidak punya tempat.

***

Mari sejenak beralih dari kepenatan kota Makassar. Berjarak ratusan ribu kilometer dari Kota Daeng sana, di salah satu sudut kota lain Belanda, sebuah tampakan trotoar yang membentang di sepanjang jalan kota berkisah lain.

Tepatnya di Kota Hengalo, trotoar dibangun tidak hanya untuk memanjakan pejalan kaki dengan ruasnya yang lapang. Trotoar ini, pada lapisan bawahnya yang bersentuhan langsung dengan tanah, telah disemprotkan titanium oksida. Bahan yang kemudian mampu menyerap Nitro Oksidar−gas beracun yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor di jalanan−hingga mengurangi polusi udara sampai sebesar 45%. Penemuan trotoar oleh ilmuwan dari University of Technology Belanda ini kemudian terbit di Journal Hazardous Material, dan dikenal sebagai sebuah terobosan baru untuk mengurangi polusi di jalan raya.

Jauh sebelum penemuan trotoar ramah lingkungan tersebut, kita tahu, kota-kota yang ada di Belanda memang punya cerita yang indah-indah tentang kehidupan masyarakatnya saat menggunakan ruang publik di jalan raya. Membaca novel Negeri Van Oranje yang ditulis oleh empat sekawan yang pernah bersekolah di negeri kincir angin tersebut, cukup membuat saya yakin bahwa trotoar dan segala akses di jalan raya yang ada di sana tidak perlu membuat penggunanya ketakutan untuk berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan moda transportasi darat lainnya. Bagaimana mungkin kita bisa khawatir, jika angkutan umum seperti taksi bahkan tidak diperbolehkan singgah di sembarang pemberhentian? Demikian salah satu pengetahuan yang dipaparkan Lintang dalam salah satu sekuel di novel tersebut.

Dan di Makassar, oh, jangankan taksi, segala macam kendaraan bisa dihentikan di pinggir jalan. Rem mendadak dari angkutan umum, itu soal biasa.

Pertama kali diterbitkan di laman nvo.or.id (Rabu, 29 April 2015)



[1] Baca “Makassar Bukan untuk Manusia?” di laman makassarnolkm.com (diakses tanggal 23 April 2015).
[2] Pada masa itu, kota Makassar hanya memanjang dari Paotere di utara hingga ujung selatan Jalan Cenderawasih dan Jalan Veteran; dan dari pantai hingga pasar Terong. Sementara Marosweg dan Gowaweg adalah ruas jalan antar-kota, yang karena nyaris tidak berpenduduk, tidak membutuhkan trotoar (Dalam bahasa Belanda ‘weg’ kira-kira berarti ruas jalan antar-kota, beda dengan ‘straat’ (street, Inggris) ruas jalan di tengah kota atau ‘laan’ yang lebih mirip avenue atau boulevard jalan lebar dengan lebih dari satu jalur di tengah kota−atau kerap disebut Jalan Raya). Nurhady, Loc. Cit.

Minggu, 01 Maret 2015

Kamu: Cerita yang Main-main tapi Serius dan Serius tapi Main-main




“Emm... kalau kuberi tahu hal yang tidak kusukai dari dirimu, apa kau mau berubah?”
“Bisa ya, bisa juga nggak. Kalau kupikir perlu diubah, ya kuubah. Kalau kupikir nggak perlu, ya, buat apa?” (hlm. 213).

***

Jika zaman ini kita seharusnya menjadi acuh, suka melamun, tiduran, sesekali bolos sekolah dan segala kegiatan yang barangkali dirutuki oleh manusia kebanyakan, yang bercita-cita sukses di masa depan, saya membayangkan pasukan itu seharusnya dipimpin oleh Sabda Armandio. Saya rasa bos pasukan semacam itu−kalau memang harus ada dan sepertinya sih tak akan ada sampai Mario Teguh masih menyapa pemirsanya dengan salam supernya−memerlukan sejenis keberanian dan sekaligus sikap masa bodoh yang sedikit kelewatan. Dan bekal itu sudah dimiliki oleh Saya, Kamu, sekaligus penulis tokoh ini sendiri.

Dunia hari ini adalah dunia tentang mimpi-mimpi dan kesuksesan yang dibuat-buat standarnya. Kadangkala (atau selalu?) abstrak. Setidaknya begitu yang barangkali ingin Dio−begitu ia disapa−muntahkan lewat novel yang terbit Februari (2015), Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Lewat obrolan-obrolan tokoh Saya dan Kamu, Dio sedang meluapkan apa-apa saja yang tidak dia sepakati dengan hidup dan kehidupan ini. Bertutur renyah seperti wafer, Dio mengangkat masalah-masalah yang dilahirkan dunia modernitas lewat narasi yang agak konyol.

Saat setiap orang berlomba-lomba memenangkan popularitas, penghargaan, dan nama di jejeran terdepan, tokoh Saya menolak masuk di perlombaan itu. Ia memilih berada di belakang saja. Tidak ingin dikenal. Biar saja dilupakan. Tak mengapa tak diingat. Saya tak ingin jadi spesial, sebab sebenarnya menurutnya, keinginan untuk menjadi spesial ini lah penyebab kompetisi, persaingan, dan perang. Analogi sederhanya mungkin begini, sebab Belanda merasa spesial, dan Indonesia dianggap hanyalah remah-remah, negara yang dihuni oleh manusia-manusia yang layak jadi pengikut, pesuruh, dan pelayan, maka itu Belanda menjadi angkuh, merasa pantas menduduki Indonesia. Tapi kemudian Belanda tidak sendirian, Jepang juga merasa spesial, dan jadilah politik balas budi untuk merebut Indonesia dari Belanda. Benarlah Nurhady Sirimorok, pemujaan terhadap individualitas, dalam bentuk benda maupun citra, sesungguhnya dapat menjadi awal dari kehancuran kolektif.

Bersepakat dengan Nurhady Sirimorok, barangkali Dio ingin menanamkan bibit ide di kepala pembacanya: untuk apa kita perlu merasa spesial di mata dunia yang bahkan tidak ada harganya ini? Keinginan menjadi spesial, bahkan menyebabkan sisi kemanusiaan kita terdegradasi, mengacuhkan orang lain sebab selalu hanya diri kita yang lebih di antara yang lain.

Sependek pengetahuan saya, penulis yang banyak memasukkan ide bahkan menumpahkan perasaannya lewat tulisan, adalah penulis yang tidak banyak omong di dunianya yang nyata. Lebih tepatnya, tidak begitu senang terlibat dalam obrolan. Sejenis manusia yang kalau ikut rapat, hanya sekedar isi presensi. Kalau ikut komunitas, hanya terlihat dari kerja-kerjanya, bekas tempat duduk atau bekas ngopinya, bukan dari suara dan bualannya. Apakah Dio termasuk penulis seperti ini? Kalau melihat aktivitasnya sehari-hari di biodata penulis, besar kecurigaan saya, iya. Barangkali hanya laki-laki yang tidak banyak omong, yang betah bekerja di perusahaan periklanan digital−tempat bekerjanya saat ini. Saya [sok] tahu, karena pernah menggunakan jasa profesi ini. Suatu ketika, saya ditugasi dosen mengurus brosur kegiatan. Sejak memesan hingga kembali lagi mengambil pesanan brosur, laki-laki dan perempuan yang bertugas di tempat itu, memang penganut adigium diam lebih baik! Tapi, yah, kita tahu, diam mereka tidak benar-benar diam. Mereka melahirkan karya, kalau boleh brosur itu disebut karya. Dan karya mereka nyata, benar-benar ada, saya gunakan untuk publikasi acara.

Soal tidak banyak omong seperti itu, saya ingat wejangan Eka Kurniawan, sudah tiba saatnya para penulis, mundur ke belakang, tidak ikut dalam kebisingan, tapi diam dan melakukan aktivitas lain: membaca, berpikir secara matang, masuk ke ‘laboratorium’ dan sebagainya. Saat semua orang bisa berbicara, penulis harus menahan diri untuk tidak hanya sekedar ikut arus. Entah pernah membaca wejangan Eka itu atau tidak, sepertinya Dio telah dan tengah melakukannya. Lewat novel pertamanya ini, dia mengeluarkan hasil penelitian dari laboratoriumnya. Proses penelitian yang panjang, menulis dan menerjemahkan cerpen, dan membaca, tentu.

Sebagai saran, untuk keabsahan catatan ini. Sepertinya Dea Anugrah dan tim Moka Media, harus lebih bersabar dan tekun sebelum yakin untuk meloloskan karya ini kalau akan dicetak lagi. Saya menemukan beberapa kata yang salah ketik. Padahal, pemanasan untuk melahirkan novel ini cukup lama, dan saya menaruh harap lebih bahwa novel ini akan jauh dari kesalahan ketik dan semacamnya. Menurut penulisnya, pemanasan yang lama itu agar pembaca tidak kram. Ya tidak kram sih, hanya keseleo. Sayangnya, saya mengingat dan membawa rasa keseleo itu sepanjang membaca cerita di novel ini.

Saya tidak mencatat halamannya, tapi saya ingat betul kata “sebelah” yang malah tertulis “seblah”. Parahnya, karena kata “seblah” itu berdekatan (atau malah satu kalimat, saya lupa) dengan kalimat yang juga ada kata “sebelah” yang benar, jadi begitu mencolok kan? Atau penggunaan di- yang tertukar fungsi sebagai prefiks dan preposisi. Atau lagi, dua kata yang alpa diselipi spasi seperti pada kalimat pertama paragraf 3 halaman 130. Paling tidak, kalau novel ini cetak ulang (saya turut berharap), kesalahan teknis macam itu sudah tidak ditemukan lagi. Kecil tapi berdampak besar, apalagi untuk tipe pembaca yang menuntut banyak pada sebuah karya. Menyalin-tempel William Faulkner, tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah tulisan, kecuali belajar dari kesalahan.

Sallluuuuut!


Jumat, 14 November 2014

Tentang Dunia pada Siang Hari


Dua anak gadis, kira-kira duduk di tahun kedua SMP. Masih dengan seragam sekolah, berbaur di antara para pembaca perpustakaan umum daerah.

Satu di antaranya sedang membaca novel terjemahan, An Other Heart. Saya mencuri-curi pandang, mengamatinya, tapi dia serius sekali membaca. Curi pandangku tidak digubrisnya. Berharap, dalam satu temu pandang, saya bisa melempar senyum padanya. Sayang, tak sekali pun matanya berpindah dari deretan-deretan huruf yang tersusun rapi di depannya.

***

Dunia remaja, dunia realitas yang−kata tetangga kos saya−sedang berada pada siang hari. Pada saat itu, bumi sedang panas-panasnya. Sekaligus terang-terangnya.

Para remaja baru saja meninggalkan masa dini hari. Dari babak kehidupan mereka menuju dunia yang panas dan bergejolak.

Dalam buku Saya Shiraishi, Pahlawan-pahlawan Belia, dunia remaja adalah dunia mereka yang haus akan pengakuan. Untuk dianggap penting dalam keluarga, mereka kadang melakukan hal-hal yang mengejutkan. Tidak jarang nakal dan brutal.

Stereotip nakal tentu bukan tanpa alasan. Biasanya, 'anak nakal' berada di rumah pasangan orang tua yang sibuk. Punya urusan sendiri-sendiri. Tidak punya banyak waktu untuk sekedar mencari tahu kehidupan anak remaja mereka. Bahkan hanya untuk mendengar cerita-cerita si anak remaja yang labil. Meski pun tidak lantas juga, ‘anak nakal’ otomatis berorang-tua sibuk. Tapi, harus kita akui, perhatian dari kedua orang tua tak ubahnya pupuk yang menentukan pertumbuhan anak-anak mereka.

Ketika suatu hari, kasus atau masalah tiba-tiba muncul, saat itulah si anak dicap nakal. Padahal, sebuah kasus tidak terjadi begitu saja, namun didahului oleh gejala-gejala, yang lebih sering tidak dikenali oleh orang tua yang abai pada anak remaja mereka.

Tidak begitu asalan jika saya nyatakan, sebenarnya anak remaja seperti ini seumpama fenomena gunung es. Punya banyak hal yang tidak diungkapnya.

Saya jadi ingat, sebuah tabloid yang mengangkat isu gender. Dituliskan tentang seorang anak perempuan yang berasal dari Jawa Timur terkait pengalamannya dilecehkan oleh teman laki-laki sepupu yang menumpang di rumahnya. Ironis, ia ketakutan tidak saja karena kebejatan teman lelaki sepupunya, tapi ketakutan untuk bercerita, mengungkapkan apa yang dialami kepada kedua orang tuanya.

Pendek cerita, si remaja perempuan ini tidak dapat bergaul lagi di sekolah. Sering tidak masuk kelas. Akhirnya tinggal kelas.

Hingga kisah tersebut ditulis, ia masih mengalami trauma mendalam. Namun, kedua orang tuanya−si ibu adalah pemilik butik dan ayahnya seorang pelaut−tidak pernah tahu apa penyebab 'nakal'-nya si anak remaja perempuan mereka yang bermasalah di sekolah & susah diajak ngobrol. Komunikasi yang jarang, serta pengetahuan kedua orang tua yang tidak mampu menyentuh dunia anak remaja, menjadi sumber masalah yang bertumpuk-tumpuk bagi si remaja.

Kisah yang mirip, jauh sebelumnya, pernah ditulis oleh novelis Jepang, Yasunari Kawabata dalam Utsukushisa To Kanashimi To, yang telah dialihbahasakan dalam edisi berbahasa Inggris, Beauty and Sadness. Otoko seorang gadis remaja Jepang dihamili oleh Oki, laki-laki beristri dan punya anak. Kesedihan dikisahkan Kawabata tidak hanya dirasakan oleh Otoko, namun terlebih oleh ibunya yang mengetahui anaknya diperkosa.

Kawabata menuliskan kesedihan sekaligus penyesalan seorang ibu yang melihat putrinya terluka. Untuk membunuh rasa bersalah si Ibu yang tidak menjaga putrinya dengan baik, ia mengalami kesedihan yang lebih dalam lagi. Si ibu memilih untuk mendampingi Otoko selama tiga hari tanpa tidur setelah kematian bayi yang baru saja dilahirkan Otoko.

Oh ya, selain novel ini, karya pertama Kawabata, juga berkisah tentang masa remaja. Judulnya Penari Izu.

Kawabata, peraih Nobel Sastra 1968, yang menurut suatu penerbit berskala nasional adalah 'perwujudan sastra Jepang modern yang paling menonjol', adalah seorang yatim piatu sejak usia muda. Kehidupannya ini kemudian banyak mewarnai karya-karyanya.

Pada April 1972 ia tewas ditemukan bunuh diri. Karya-karya awalnya yang mengangkat intrik dunia remaja, penuh kesedihan dan misteri sama halnya dengan kematiannya yang tanpa pesan terakhir. Tak pernah ada penjelasan memuaskan mengenai penyebab tindakan di akhir usianya itu.

***

Ada persamaan antara dua perempuan di dalam perpus tersebut, dengan dua perempuan yang mengalami tragedi seks dalam cerita di atas: mereka sama-sama remaja. Perbedaan mereka adalah lingkungan di mana mereka bertumbuh. Sulit untuk tidak menebak, bahwa dua remaja di perpustakaan tadi tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan aktivitas membaca.

***

Suatu hari saat bertamu ke rumah seorang kawan dekat, kawan saya yang lain juga datang bersama istri dan anaknya. Saya tahu betul, sepasang suami istri ini adalah sama-sama pembaca. Di rumah mereka berjejer beberapa lemari dan rak yang dipenuhi buku.

Selang beberapa menit kedatangan mereka, tiba-tiba anak lelaki mereka merengek, 'Bubu (begitu ia memanggil ibunya), buku mana? Mau buku!' Ia ketagihan membaca buku. Begitulah anak kecil ini bertumbuh, dan saya membayangkan bagaimana kerennya ia di masa remaja kelak, dengan dampingan sepasang orang tua yang juga keren, tentu.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 14 Nopember 2014)

Senin, 27 Oktober 2014

Membunyikan Kata yang Tersembunyi



 
Penulis itu bernama Nurhady Sirimorok. Di Jakarta, awal 2008, ia menjadi salah satu pembicara dalam diskusi dan peluncuran dua buku penulis Makassar, salah satunya kumpulan cerpen Lily Yulianti Farid, Makkunrai. Di kemudian hari, Nurhady, dengan gaya tulisnya yang khas: kritis, dalam dan ‘butuh panadol untuk mencerna tulisannya’ (demikian istilah kawan-kawan di komunitasnya), mengomentari karya Lily tersebut seperti ini: membaca kumpulan cerpen Lily seperti menjawab beberapa kritik atas cerpen Indonesia.

Membaca kumpulan cerpen Lily, berikutnya tidak sekedar menjawab kritik seperti yang dinyatakan Nurhady itu. Ya, Lily membuat saya merasa sentimentil, dengan buku kumpulan cerpen terakhirnya yang diterbitkan hingga tahun ini, Ayahmu Bulan Engkau Matahari.

Dari tujuh belas cerpen yang ada di dalam buku pendiri sekaligus Direktur Makassar International Writer Festival ini, tiga di antaranya telah memiliki sejarah penerbitan di koran nasional. Ketiganya adalah Rie dan Rei (Media Indonesia), Kue Lapis (Koran Tempo) dan Gurita (Koran Tempo).

Judul buku yang menjadi judul salah satu cerpen−sekaligus sebagai cerpen pembuka−membawakan cerita-cerita yang kebanyakan ditokohi oleh perempuan. Dari ruang dapur hingga wilayah konflik.

Lily menampilkan suara-suara perempuan yang gelisah, marah dan melawan terhadap ketidakadilan. Latar pendidikannya sebagai kandidat doktor bidang Gender di Universitas Melbourne, tampak mempengaruhi karya-karyanya. Tapi, hubungan sebab-akibat tersebut bisa saja terbalik, ketertarikannya pada isu genderlah yang justru membimbingnya memilih bidang studi tersebut. Ini melihat sejarah penerbitan buku pertamanya, Makkunrai (Bahasa Bugis yang berarti perempuan), terbit di tahun 2008, kemungkinan sebelum berangkat ke negeri Kangguru.

Dalam cerpen pertama, adalah Jannah, seorang bayi yang terlahir ketika ‘malam seperti meledak. Engkau [Jannah] bayi merah yang berlabuh tenang di dada ibu, lahir bersama letusan senjata di langit malam, di tengah suasana kampung yang ricuh. Tangisan pertamamu tenggelam oleh suara tangis yang lebih kencang di luar sana.’ Tampak persentuhan antara tokoh dengan konflik dan kerusuhan mewarnai cerita ini. Seorang anak perempuan, lahir ketika ayahnya keluar melawan gerombolan pemberontak. Mirip dengan cara Markus Suzak menokohkan Liesel dalam ‘The Book Thief’-nya. Gadis perempuan yang lahir ditengah konflik, tanpa seorang ayah, dan di kemudian hari kehilangan ibu akibat konflik yang belum reda. Atau serupa cerita terkenal Tetsuko Kuroyanagi yang mengisahkan masa kecilnya sebagai Totto-Chan dalam buku dengan judul asli ‘Madogiwa no Totto-Chan’. Secara samar-samar (saya membacanya lebih dari tiga tahun silam) saya ingat, pada akhir kisah, Totto-Chan harus kehilangan sekolahnya, teman-temannya, guru-gurunya, akibat perang yang meletus di negaranya, Jepang.

Demikian Lily dengan cerdas memilih menempatkan tokoh perempuan yang masih kanak, menghadapi kondisi negaranya yang amburadul, diikuti keluarga yang tak utuh. Hal ini cukup menguras emosi pembaca, terlebih untuk pembaca dengan tipe melankolis dan ‘cengeng’. Isi cerita ini, tidak bisa tidak memancing ingatan saya tertuju pada seorang gadis perempuan yang menjadi korban kekerasan tragedi ’65. Yanti, di usianya yang masih 14 tahun, ia ditangkap, dituduh sebagai bagian dari PKI.

Lily seperti mengejek pembaca yang lupa akan sebuah tragedi yang pernah terjadi, yang menyimpan luka bagi segenap perempuan yang dituduh komunis. Melampaui kesedihan seorang perempuan belia, Lily juga mengungkit kesakitan perempuan berstatus ibu dengan mencantumkan sajak Farid M Ibrahim dalam cerpennya, ‘ibumu yang tengah mengarungi samudra kesakitan yang tak mungkin pernah dibayangkan para lelaki.’

Ini kembali membuat saya merefleksikan luka yang dikandung ibu-ibu yang diperkosa tanpa ampun oleh lelaki berseragam. Dihamili luka tidak saja fisik, tapi melahirkan siksaan psikis yang luar biasa hebat. Disetrum, melayani 12 laki-laki dalam sehari, ditelanjangi dengan kemaluan berdarah-darah, lubang vagina ditusuk senapan, puting payu dara dimainkan dengan ujung pensil juga digigit dengan biadab, ditanam berdiri setinggi leher di dalam hutan, dikencingi, dan duh! Sungguh mengerikan. Seteleh penyiksaan itu, mereka dipaksa menjawab ‘ya’ dihadapan para wartawan saat ditanya apakah mereka terlibat dalam kasus pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya. Pengakuan Anggota Gerwani ini cukup gamblang ditulis oleh aktivitis yang bergerak menangani isu-isu perempuan, Ita Fatia Nadia dalam buku: Suara Perempuan Korban Tragedi ’65.

Mereka pelaku kekerasan itu, berjenis kelamin laki-laki. Mereka dituliskan sebagai simbol pembawa ketidakadilan bagi perempuan yang tidak berdaya. Mereka berada di bawah pimpinan seorang Bapak, Bapak yang tidak bisa dilawan.

Perempuan-perempuan ini kebanyakan berakhir dalam kondisi mengenaskan, ada pun yang masih hidup, mereka tidak benar-benar bebas. Tak diterima masyarakat. Terusir di tanah kelahiran. Diasingkan. Hukuman sosial atas tuduhan yang tidak mereka lakukan.

Perempuan-perempuan ini, tak pernah menemui keadilan, pun tak lagi berharap keadilan datang, kecuali sedikit keinganan untuk hidup damai tanpa siksaan. Silih bergantinya presiden, keadilan bagi mereka tak pernah  dibunyikan. Tersembunyi. Persis seperti matahari yang tak pernah menemui bulan yang dituliskan Lily.

Lily lalu menggambarkan kontrasnya kepolosan nenek Jannah yang mengira bulan tak akan pernah bertemu matahari, sebab di belahan bumi Utara, yang didatangi Jannah puluhan tahun kemudian, langit musim dingin memberikan pemandangan yang membantah pernyataan nenek: bulan bisa bertemu matahari. Barangkali, harapan nenek itu, adalah harapan seluruh warga yang lahir dari tragedi dan konflik bersejarah di negeri ini, yang hingga kini tak jua mampu melihat keadilan bersinar selepas gulita.