Tampilkan postingan dengan label Gabriel García Márquez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gabriel García Márquez. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2015

Sekelas dengan Eka Kurniawan


Dia duduk paling pojok, belakang bagian kiri, seperti saban hari sebelumnya. Saya duduk paling depan, tepat di depan nampan proyektor. Selalu begitu.

Dosen perempuan kami, sedikit judes, masuk. Kelas yang tadinya riuh tiba-tiba hening. Saya merapikan diri, duduk tegap menghadap ke depan. Teman-teman yang lain juga. Keliaran kami tiba-tiba takluk.

Kecuali satu orang. Dia yang duduk di pojok belakang itu. Masih dengan wajah tak acuh, tidak terpengaruh dengan kedatangan dosen. Namanya Eka Kurniawan.

Dia memang terbiasa demikian. Masuk ke dalam kelas seperti kehilangan semangat. Saya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diharapkannya dengan memasuki kelas kami. Semua tahu, dia sudah mengkhatamkan bahan-bahan bacaan, bahkan yang belum dijamah dosen sekali pun.

Saat sesi diskusi, jangan tanya lagi, dia bisa menjejalkan kami nama-nama penulis berserta judulnya, kalau perlu lengkap dengan tahun terbitnya, beserta penjelasan siapa-siapa saja penulis yang turut mewarnai penulis tersebut. Dia menyebutnya seperti menyebutkan nama-nama keluarganya saja.

Dalam beberapa kali diskusi, sebagaimana selalu menjadi masalah, kutemukan diriku terbagi antara dua peran yang saling bersaing. Tidak tahu apakah mesti menanggapi pernyataan dan pertanyaannya sebagai teman sekelas ataukah sebagai penulis yang kusukai.

Sejujurnya saya lebih tertarik dengan isi jurnal-jurnalnya termasuk esai-esainya di koran, tinimbang novel-novelnya. Padahal, dia dikenal lebih sebagai seorang novelis atau sastrawan, bukan esais. Bahkan, seperti yang sering dia katakan, dia menulis jurnal dan esai tentang bacaan-bacaannya dan perihal lain tentang novel kelas dunia, tidak lain adalah bagian dari dirinya sebagai seorang penulis novel. Dia mengikuti petuah Gabriel García Márquez, “para novelis membaca novel karya orang lain hanya untuk memahami bagaimana mereka menulis.”

Seseorang, yang saya lupa siapa, pernah menulis: membaca karya Eka Kurniawan seperti membaca karya-karya penulis dunia dalam satu cerita. Hah? Maka didorong rasa penasaran, akhirnya saya harus menelusur jauh ke belakang, mencari novel-novel klasik dari luar yang dibaca oleh Eka.

Saat ini, saya sudah mengumpulkan beberapa. Di antaranya ada Ernest Hermingway, George Orwell, Albert Camus, Rabindranath Tagore, hingga Yasunari Kawabata. Saya mendapatkan mereka dari ‘berburu’, baik di pesta buku, loakan, sampai toko buku daring. Ada juga lainnya beberapa saya nikmati dengan numpang baca di perpustakaan daerah.

Dengan rasa penasaran yang mungkin sedikit impulsif, saya bahkan pernah meminta tolong tetangga kos dengan menitip novel-novel Abdullah Harahap saat ia ke toko buku. Waktu itu saya sudah ke toko buku yang sama. Tapi tidak membelinya. Sewaktu membaca nama Abdullah Harahap di rak buku, saya merasa tidak asing dengan namanya. Tapi di mana saya menemukan namanya, saya meraba: mungkin di jurnal Eka.

Akhirnya, sepulang dari toko buku, saya membuka jurnal Eka. Dan benar! Di Jurnalnya. Eka menyukai karya-karya Abdullah Harahap, dan bukan semata karena cerita horor di dalamnya, tapi lebih karena Abdullah Harahap mampu memenuhi ekspektasi Eka tentang bagaimana sebaiknya tulisan fiksi itu disajikan: enak dibaca. Lalu percayalah saya dengan penilaian Eka (ada beberapa dasar yang saya gunakan ketika memilih buku yang akan saya miliki, ‘rekomendasi’ dari orang yang saya percaya bacaannya bagus, salah satunya). Maka dua novel Abdullah Harahap yang diterbitkan ulang, sudah saya miliki.

Ah, Anda tahu, sebenarnya, sesekali saya tidak menyukai tulisan Eka di novel-novelnya. Saya kadang berpikir, apakah orang ini bisa menulis novel tanpa ada adegan seks di dalamnya? Kenapa sih penulis keren seperti dia harus punya kebiasaan seperti itu? Sialnya, gaya menulisnya benar-benar menyenangkan.

Ingin rasanya, sekali waktu selepas kuliah selesai, saya menghampirinya dan bertanya : “hei, bisa tidak menulis novel yang adegannya tidak terlalu vulgar?” Saya mungkin tidak akan pernah bertanya padanya di luar kelas. Kami tidak akrab, bahkan tak pernah bertegur sapa. Dan lagi, jika pertanyaan itu benar-benar saya tanyakan, akan tampak basa-basi. Jenis pertanyaan apa lagi namanya jika kau sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu sendiri kalau bukan pertanyaan basa-basi?

Suatu kali dalam sebuah wawancara, dia katakan, “saya tidak pernah menulis dengan harapan semua orang menyukai karya saya. Saya memang tidak pernah mengespektasikan semua jenis pembaca suka dengan tulisan saya.” Nah, ini tamparan keras bagi penulis amatir seperti saya yang bermimpi tulisannya disukai oleh segala jenis pembaca.

***


Kejadian di atas sungguh tak pernah ada. Saya lulusan Akuntansi, dan Eka lulusan Filsafat. Dia juga lulusan jurusan yang berhubungan dengan desain (saya lupa nama jurusannya yang tepat, apa.). Jadi kelewat mustahil untuk kami bisa satu kelas. Kami pun terpaut usia yang cukup berjarak. Enam belas tahun. Namun, percayalah, apa yang saya katakan tentang Eka−pendapat saya dan juga tentangnya−adalah benar hasil dari penelusuran saya terhadap tulisan-tulisannya. Tabik.

Jumat, 08 Mei 2015

Menduga-duga “Semusim, dan Semusim Lagi”





Dalam penempatan tokoh-tokohnya, dan belajar dari karakter-karakter yang dibentuknya, saya bisa secara semena-mena menyatakan bahwa penulis “Semusim, dan Semusim Lagi” sedikit banyak dipengaruhi oleh penulis Jepang yang dua tahun ini masuk dalam nominasi Nobel Sastra. Kalau mau lebih tepatnya lagi, novel besutan pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini mengingatkan saya pada karya Haruki Murakami, “Kafka on the Shore”.

Kita bisa meraba-raba kemungkinan itu dengan menyama-nyamakan penokohan yang muncul pada kedua novel tersebut. Seorang anak sulung yang hidup dengan orang tua tunggal, namun terasa seperti orang asing. Anak remaja itu kemudian meninggalkan rumah tanpa izin. Tujuan kaburnya untuk mencari orang tua tunggalnya yang lain, yang telah meninggalkannya sejak dia bahkan belum mampu melakukan proses mengingat dengan baik−untuk menyimpan kenangan dengan orang tuanya tersebut. Dalam proses pencarian anak itu, permainan konflik muncul dengan intens. Dan ya, jangan lupa, baik novel Haruki, pun novel ini, kucing muncul dalam cerita. Meski Andina lebih memilih ikan emas koki dibanding kucing sebagai “tokoh” yang menemani “aku” pada sebagian besar kisahnya.

Dugaan saya perihal pengaruh karya Haruki terhadap karya Andina Dwifatma menjadi lebih kuat setelah membaca pengumuman UWRF 2015 (saya membuka HP dan secara acak menemukan pengumuman ini saat jeda membaca novel Andina). Potongan isi surat Pertanggungjawaban Kuratorial UWRF yang disusun oleh Eka Kurniawan, M. Aan Mansyur, dan Ketut Yuliarsa itu berbunyi : “... kita bisa melihat beberapa di antara mereka [16 penulis terpilih UWRF 2015] dengan cekatan menulis cerita ala Haruki Murakami... ”. Dan, ‘beberapa’ yang dimaksud kemudian diperjelas dengan penjelasan, “[h]al ini terlihat misalnya dalam karya-karya ... [salah satunya] Andina Dwifatma ... ”.

Hal yang menarik dari penjelasan para kurator UWRF, bahwa meski dipengaruhi oleh penulis Jepang, mereka tetap mampu menceritakan hal yang berbeda dengan penulis Jepang tersebut. Untuk karya Andina, “Semusim, dan Semusim Lagi”, ‘hal berbeda’ yang dimaksud dengan sangat gamblang terjelaskan lewat judulnya. Pemilihan judul “Semusim, dan Semusim Lagi” dicomot dari puisi Sitor Situmorang, “Surat Kertas Hijau” (1953).

Andina memetik idenya dari puisi sastrawan Indonesia, dengan meminjam berbagai teknik menulis, salah satunya dari Haruki Murakami. Eka Kurniawan mengangkat cerita tentang kehidupan pada akhir masa kolonial pada novel “Cantik Itu Luka”-nya, dipengaruhi Gabriel García Márquez. Dan beberapa penulis keren, juga menempuh cara yang sama.

Mereka, para penulis yang baik itu, membaca karya-karya penulis yang dianggapnya keren, dan belajar dari sana. Dan ini lah pola yang saya pelajari dari membaca karya-karya mereka.


Kalau kita mau terus belajar, selalu ada hal-hal menyenangkan yang bisa dipelajari dari karya-karya yang baik. Pertanyaannya, bersediakah kita terus belajar ?

Rabu, 21 Januari 2015

Kafka dan Cerita Adik Kecoa



“Di suatu pagi Gregor Samsa terbangun dari mimpinya, dia menemukan dirinya telah berubah menjadi kecoa.”


Itu adalah kalimat pembuka dari karya penting Franz Kafka, ‘Metamorphosis’. Buku ini tidak hanya menjadi semacam pengubah haluan penerima nobel sastra, Gabriel García Márquez, dari penulis puisi ke prosa, tapi merupakan salah satu karya yang paling banyak dibaca dan berpengaruh pada karya-karya fiksi pada abad ke-20. Setelah membaca kisah Samsa dan keluarga kecilnya, dengan dibuka kalimat seperti di atas, Gabo menjadi penasaran dan tertarik untuk menulis karya sejenis itu. Hasilnya, kita bisa menikmati “One Hundred Years of Solitude” dan “Love at the Time of Cholera”, dua di antara karya Gabo yang sering menjadi rujukan penting kesusastraan Amerika Latin.

Bukan karena alasan-alasan prestisius seperti itu sehingga saya menyukai karya Kafka ini. Kenyataannya, karya Murakami yang juga dipuji dan memenangkan berbagai award, Dengarlah Nyanyian Angin (2013)−dari terjemahan asli “Kaze No Uta O Kike” (1979)−saya baca pada bulan yang sama, tidak juga memberi kepuasan serupa. Memang masing-masing karya akan memberi kepuasan yang berbeda, tapi maksud saya, ukuran kepuasan yang saya dapatkan setelah membaca karya pertama Murakami tidak mencapai ekspektasi yang saya buat, setinggi karya Murakami tersebut dinaikkan dengan pujian. Atau mungkin saya yang tidak mampu menemukan keindahannya? Bisa jadi.

Tapi ini tidak terjadi dengan karya Kafka (yang pertama kali saya baca) ini. Meski pun pada beberapa kalimat ada yang tidak saya pahami dengan jelas (ini mungkin karena efek spoiler dari terjemahan yang saya baca), tapi itu tidak mengurangi kekuatan dari cerita Samsa sekeluarga.

Baiklah, beberapa penulis yang sudah membacanya mungkin tertarik menjabarkan nilai-nilai atau hal-hal menarik yang mereka dapatkan atau bahkan ideologi yang ditawarkan Kafka di karyanya ini. Kita akan menemukan Kafka dengan sangat hati-hati menggambarkan bagaimana seorang penindas bisa saja masuk secara tiba-tiba dalam suatu kelompok. Saat tiga orang tamu, dipersilakan Samsa menyewa satu kamar di apartemen mereka, dan mengizinkan tamu tersebut untuk memerintah mereka seenak udelnya (karena tamu ini punya alat kuasa, yakni uang sewa, dan jika satu keluarga ini tidak memuaskan ketiganya, maka uang sewa bisa saja dicabut). Tidakkah ini meningatkan kita pada Indonesia pasca penandatangan Letter of Intent antara Soeharto dan IMF (1997)?

Saya lebih tertarik dengan hubungan sepasang saudara, adik-kakak, di kisah tersebut. Gregor dan Grete.

Grete adalah satu-satunya penghuni rumah yang berani masuk ke kamar Gregor setelah berubah jadi kecoa. Grete ‘merawat’ Gregor dengan cara-cara yang unik: memasukkan berbagai makanan di dalam kamar Gregor, dan memperhatikan makanan mana yang berkurang, dan setelah itu ia paham yang mana yang disukai kakaknya. Juga, mengeluarkan berbagai perkakas lama di kamar yang mungkin menghalangi Gregor untuk berjalan. Setiap hari, Grate membersihkan kamar Gregor yang dipenuhi bekas kaki kecoa yang busuk dan mengotori dinding, tanpa mengeluh sama sekali.

Suatu kali, Dea Anugrah (editor Penerbit Moka dan cerpenis di beberapa koran nasional), menulis di artikelnya bahwa tidak sepantasnya sebuah novel mengabaikan aspek asmara. Pembaca mungkin tidak akan betah dengan karya yang tebal yang tidak ada kisah cintanya? Kafka, sebelum Dea menulis itu, telah menulis sesuatu yang jauh dari kisah Romeo-Juliet atau Laila-Majnun. Kenyataannya, karya Kafka dapat membuat saya betah menghabiskannya dan menunda mandi sore beberapa jam sebelum saya tamatkan. Kafka menuliskan sesuatu yang dekat, hampir semua orang mengalaminya dan itu jelas bukan kisah sepasang asmara.

Di saat Gregor berubah jadi kecoa, tiba-tiba ia menjadi asing di dalam keluarganya sendiri. Grate, yang awalnya dianggap masih kanak di dalam keluarganya, bocah ingusan, justru yang paling sabar dan berbesar hati menerima perubahan Gregor. Penerimaan Grate melampaui kedua orang tua mereka yang terkesan tidak bisa menerima perubahan anak mereka sendiri.

Secara timbal balik, Gregor juga menyayangi adiknya, terlampau malah. Gregor diam-diam, sebelum peristiwa besar terjadi pada tubuhnya, mengumpulkan mimpi yang diikuti persiapan dana bagi sekolah musik Grate. Gregor tahu, Grate berbakat. Ia ingin melihat adiknya masuk di sekolah musik, mengembangkan bakatnya bermain biola.

Setelah berubah jadi kecoa pun, Gregor masih menyayangi Grate. Itu terlihat pada saat dia mendekati Grate setelah bermain biola dan ketiga tamu yang meminta dilayani dengan permainan biola Grate justru mengejek cara Grate memainkan biola itu. Gregor merasa harus menghibur Grate, ia naik di punggungnya, dan menyentuhkan kepalanya di leher Grate. Mungkin semacam membelai adik yang sedang bersedih?

Gregor akhirnya meninggal dengan bangkai kecoa yang masih bersemayam di tubuhnya. Grate tentu sangat terpukul, tapi kemudian dia pula yang mengajak kedua orang tuanya untuk mulai ‘hidup’ kembali.

Membaca kisah ini, membuat saya mengingat adik saya yang hanya satu-satunya. Terakhir mengobrol dengannya lewat telepon, dia bercerita ingin membeli sepatu takraw (dia tidak suka membaca tapi menghabiskan setiap harinya di sore hari untuk berlatih takraw). Sepertinya dia benar-benar membutuhkan sepatu itu. 



Jumat, 26 Desember 2014

Ibu dan Anak


Membaca terjemahan cerpen ‘Love at the Time of Cholera’ milik Gabriel García Márquez, yang menyelipkan kisah perhatian seorang ibu kepada anak lelakinya, tidak bisa tidak membuat saya teringat pada ibu saya. Cerita pendek sastrawan peraih Nobel Sastra 1982 yang dikenal sebagai pengibar aliran realisme magis tersebut, sebenarnya bukan hendak berkisah tentang ibu dan anak. Lebih tentang perjalanan pemuda bernama Florentino Ariza di atas kapal. Di sepanjang cerita, Gabo mengisahkan bagaimana dampak perang terjadi di semua daerah yang disinggahi kapal tersebut.

Tapi toh kadang saat membaca cerita, entah nyata atau fiksi, saat kejadian-kejadian dalam cerita pernah atau bahkan hanya mirip dengan kisah yang kita alami, seringkali cerita tersebut tiba-tiba terasa begitu intim. Bahkan jika cerita yang dimaksud hanya menjadi awalan, akhiran, sisipan, atau kejadian yang tidak begitu penting bagi keseluruhan cerita. Begitulah yang saya rasakan saat membaca cerita yang diterjemahkan Anton Kurnia tersebut. Meski cerita antara ibu dan anak, bukan inti cerita.

Saya sering mengalami apa yang dialami Florentino pada awal cerita itu. Saat ia disuruh ibunya membawa petate−sebuah tempat tidur gantung lipat dengan bantal, selimut dan kelambu yang terkemas rapi. Ia ogah membawanya, sebab merasa tak membutuhkannya. Tetapi ternyata ia kemudian bersyukur atas firasat ibunya, sebab sejak malam pertama di kapal, seseorang dengan setelan rapi, yang ternyata adalah rombongan dari gubernur, menyalip haknya dengan menempati kamar yang sudah dia pesan lebih dulu−bukankah sering begitu, rakyat biasa harus meminggirkan dirinya setiap berhadapan dengan kepentingan kaum borjuasi dan atau penguasa?

Seringkali, setiap hendak berangkat bepergian, atau meninggalkan rumah kembali ketika mudik, ibu saya juga melakukan hal yang sama dengan ibu Florentino. Menyediakan ini-itu, yang menurut saya sungguh merepotkan untuk dibawa, tapi di akhir atau tengah perjalanan, saya kemudian sadar, entah bagaimana, saya benar-benar membutuhkan barang-barang yang saya anggap remeh nan tidak penting itu. Akhirnya, bagaimana firasat atau naluri keibuan, Tuhan titipkan dalam hati perempuan yang kita panggil ibu, sungguh sesuatu yang tak pernah luntur untuk saya kagumi.

Tentang firasat atau naluri tersebut, ingatan saya terpanggil menuju kisah seorang wanita agung bernama Aminah binti Wahab. Wanita yang berasal dari keturunan Bani Zuhrah di Mekah ini, pernah mengandalkan naluri keibuannya saat melepas putra satu-satunya untuk kembali ke ibu persusuan anaknya.

Halimah as-Sa’diyah, meminta kembali Muhammad yang baru berumur dua tahun. Aminah, meski untuk kedua kalinya, akhirnya melepaskan anaknya dengan berat. Dan kita tahu, atas kerelaan Aminah ini, pada masa pengasuhan kedua kali itulah Muhammad dibawa orang tak dikenal, dibaringkan lalu dibelah perutnya.

Meski beberapa kalangan mempertentangkan peristiwa apa sejatinya yang terjadi saat itu, tapi jamak diketahui bahwa peristiwa itu adalah proses penyucian diri seseorang yang dipersiapkan untuk menjadi penyuluh dan pemimpin besar suatu umat. Pemimpin yang oleh seorang ahli antropologi dan sejarawan, Michael Hart, ditempatkan pada urutan pertama dalam 100 daftar manusia yang paling berpengaruh di dunia. Dan firasat Aminah melepaskan Muhammadlah kala itu, yang menjadi pintu bagi terjadinya peristiwa kedatangan manusia berbaju putih tersebut.

Sebagaimana kita ketahui ‘surga berada ditelapak kaki ibu’, konon, suatu hari Muhammad pernah didatangi seorang sahabat. Ia berniat mewaqafkan dirinya untuk berjihad seumur hidup. Kemudian diketahui bahwa sahabat tadi ternyata meninggalkan ibunya untuk datang kepada Muhammad. Apa yang dikatakan Muhammad? “Celaka engkau! Beradalah di kakinya [ibu] selama-lamanya, di sanalah surgamu!”

Pada dewasa ini, simbol pemuliaan di kaki perempuan yang kita panggil ‘ibu’, memiliki hari khusus di salah satu tanggal dalam bulan akhir tahun. Kita menyaksikan, ucapan-ucapan berceceran, tak kurang diiringi doa-doa selamat.

Bagaimana hari tersebut kemudian bermetamorfosis untuk dirayakan seperti sekarang, mungkin bisa ditelusuri kembali. Sebab 22 Desember sebenarnya adalah Hari Kongres Perempuan Pertama (1928) di Yogyakarta, yang dijadikan sebagai momentum bagi perempuan untuk memperjuangkan nasib mereka mengaktualisasikan diri di masyarakat. Hari tersebut bersandar pada hari di mana para ibu menyuarakan diri untuk berserikat, berkumpul secara kolektif, setara dalam pendidikan, juga perjuangan bagi janda dan anak-anak perempuan yang kehilangan haknya. Jika ditelusuri lebih lanjut, hasil kongres ini kemudian mengantarkan kita pada nama sebuah gerakan perempuan. Ialah Gerwani, gerakan yang diintai para aparatur negara di tahun ’65.

Jadi peringatan hari ibu hari ini, sudahkah sesuai dengan sejarahnya?

Lepas dari itu, pun bagi sebagian anak, setiap hari adalah hari pemuliaan bagi ibu. Barangkali memang, atas setiap hal remeh-temeh yang dipedulikan ibu, seperti kisah Florentino Ariza dan ibunya dalam cerita Gabo. Juga atas firasat dan kerelaannya, seperti Aminah kepada Muhammad. Atas setiap doa-doanya untuk kebaikan anak-anak yang mungkin bahkan lalai menunaikan baktinya. Atas itu semua, maka setiap hari memang sepantasnya adalah harinya. Setidak-tidaknya, setiap hari, doa-doa kebaikan dipanjatkan baginya.

Semoga Tuhan senantiasa menjaga ibu kita, membalas setiap kebaikannya dengan setimpal...

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 26 Desember 2014)