Tampilkan postingan dengan label Paulo Freire. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paulo Freire. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2016

Belajar Menghitung Menggunakan Sampah Plastik


“… kita harus mentransendenkan semua model pendidikan sehingga diperoleh model pendidikan di mana mengetahui (to know) dan merubah (to transform) realitas merupakan syarat yang timbal balik.” (Paulo Freire)

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Pinggir Utara Danau Unhas

Kebahagiaan, pikir saya yang tengah berada di antara dua gadis yang sedang menghitung sampah-sampah plastik yang berhasil kami kumpulkan. Jika keadaan ini adalah awal sebuah puisi, saya ingin menyebut perasaan ini sebagai “kebahagiaan”.

Seandainya orang-orang yang tengah berkoar-koar tentang keselamatan lingkungan melihat semangat Fitri dan Dila memungut plastik-plastik yang bertebaran di pinggir Utara Danau Unhas sore itu, mereka mungkin bisa sedikit lebih lega menyaksikan adegan tersebut. Fitri dan Dila sebenarnya tidak sedang dalam rangka sengaja menjaga lingkungan dengan turun tangan memungut sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh para penghuni kampus yang katanya berpendidikan itu. Mereka berdua hanya sedang belajar menghitung bilangan dari 1 sampai 30-an dengan menggunakan perangkat belajar yang mudah didapatkan: sampah.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Fitri (Baju Hijau) & Dila (Baju Kuning)

Mereka sudah lancar menyebutkan angka satu sampai sepuluh, meski masih tertatih-tatih mengingat nama bilangan di atas angka sepuluh. Akhirnya, keduanya cukup keras menyebut ekor bilangan yang berulang seperti “belas”. Misalnya, saya menyebut “dua”, mereka menyambung “belas”. Saya menyebut “tiga”, mereka menyambung lagi dengan “belas”. Begitu seterusnya.
 
Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Menghitung Sampah


Selama lima menit sebelumnya, kami bertiga bersepakat mengumpulkan plastik-plastik di sekitar kami. Sebanyak-banyaknya. Plastik-plastik itu lalu dikumpulkan dan dihitung sembari dimasukkan ke kantongan hitam besar untuk jadi “oleh-oleh” bagi orang-orang rumah. Lumayan ‘kan untuk ditimbang?

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Sampah yang Dikumpulkan

Kami berhasil mengumpulkan 73 botol-botol plastik, dengan rincian : Dila 34 buah, Fitri 14 buah, dan saya sendiri 25 buah. Dila berhasil mengumpulkan yang paling banyak. Di antara kami, memang Dila yang saban hari menemani kakek dan neneknya ke kampus mencari plastik sehingga dia lebih lincah dan mahir mencari. Dila bahkan sudah mampu mengenali jenis plastik yang bisa dia bawa pulang. Beberapa jenis plastik tidak dapat ditimbang dan ditukar dengan uang untuk makan. Maka kepada Dila, saya bertanya, “plastik ini bisa diambil ya, Dila?” Dari Dila saya belajar tentang plastik yang nantinya bisa didaur ulang. Maka benarlah sebuah kutipan tak bernama, “setiap ruang adalah kelas, dan setiap orang adalah guru.”

Berbeda dengan Fitri, kebanyakan waktunya dihabiskan di rumah. Ibu Fitri bekerja sebagai tukang bersih-bersih di lima kosan yang berjejer di dekat kampung pemulung. Dengan bekerja setiap hari, tanpa libur meski hari Minggu, ibu Fitri menerima upah sebesar 1,2 juta per bulan. Ayah Fitri sendiri, awalnya bekerja sebagai cleaning service di kampus. Sekarang sudah diangkat sebagai pengawas cleaning service. Memang, di antara beberapa keluarga yang tinggal di kampung pemulung, keluarga Fitri sudah hidup secara lebih manusiawi dibanding keluarga lainnya yang masih menggantungkan kehidupan mereka dari hasil memulung semata.


Menjelang penghujung sore hari, segera setelah plastik-plastik itu kami kumpulkan, kami bertiga meninggalkan danau Unhas. Di bagian depan wilayah kampung pemulung, ada lahan khusus tempat warga mengumpulkan barang-barangnya sehabis mencari, dan di sanalah kami singgah. Biasanya, plastik-plastik dikumpulkan terlebih dahulu di sana, setelah sepekan dikumpulkan lalu ditimbang dan dijual kepada pengumpul. Di tempat itu, sedang ada dua perempuan yang sedang membersihkan plastik-plastik hasil mencarinya. Salah seorang di antara keduanya adalah nenek Dila, dan kepadanyalah kami menyerahkan hasil memungut sampah─sekaligus alat belajar─kami hari itu.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Menyerahkan 'Oleh-oleh'

Minggu, 24 Januari 2016

Langkah-langkah Kecil Perlawanan


Edmund Dene Morel adalah seorang pekerja di perusahaan Elder Dempster milik Raja Leopald II Belgia yang menguasai luas wilayah Kongo. Luas negeri ini sama dengan semua negara di daratan Eropa Barat, dan atas semua kekayaan alam yang dihasilkan dari negeri ini, Raja Leopald lah yang menerima keuntungan luar biasa tersebut. Morel kemudian melihat ada yang salah dengan sistem kerja yang dilakukan Raja Leopald. Di tempatnya bekerja, Morel melihat pelecehan, pemukulan, hingga pembunuhan. “Cukup hanya dengan melihat bagaimana para buruh melakukan kerja paksa, dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan nyaris tanpa istirahat, sudah menjelaskan jenis keuntungan macam apa yang diperoleh dari sana…” Demikian pengakuannya melihat kelakuan sang majikan atas pekerja warga Kongo.

Bukan hal yang mudah untuk melawan majikan, apatahlagi seorang raja penguasa. Tapi Morel menolak untuk tetap diam. Morel tidak tergoda dengan segala macam suap yang dilancarkan oleh sang Raja.

Sekali lagi bukan hal yang mudah melawan Raja Leopald bersama para pengikut butanya. Apatahlagi bagi seorang Morel yang hanya seorang pekerja di perusahaan raksasa milik Sang Raja. Berbagai tipu daya dilakukan oleh pengikut raja untuk melawan pengungkapan yang dilakukan Morel, hingga khalayak dibuat bingung dan akhirnya meragukan pengakuan Morel. Tapi Morel tidak berhenti bekerja keras, begitu tulis Steve Crawshaw & John Jackson dalam ‘Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan’.

Tidak kehabisan akal, Morel mengambil sebuah Kodak. Secara sembunyi-sembunyi Morel memotret pembunuhan berkedok kerja yang dilakukan Raja Leopold. Sebuah benda yang menghasilkan gambar yang tidak dapat mengatakan satu kata pun, tapi menghantam habis Raja beserta pengikutnya. Terbeberkanlah tindak penindasan Raja Leopold.

Tahun 1924, Morel akhirnya meninggal. Kongo yang kini bernama Republik Demokratik Kongo tersebut masih dalam konflik yang belum juga usai. Sumber daya alamnya yang melimpah seperti gading gajah, karet dan hasil-hasil hutan lainnya, masih juga diperebutkan. Keserakahan itu masih ada, tapi tindakan teguh Morel untuk melawan bukan berarti tidak punya arti. Tidak serta merta upaya Morel di masa lalu menjadi sia-sia. Justru, tindakannya jadi mercusuar bagi orang-orang Kongo untuk melawan kedzaliman. Hingga Bertrand Russell menyebut Morel dengan kata-kata, ‘Tidak ada orang lain seperti dia yang saya tahu yang memiliki kepahlawanan sederhana dalam memahami dan menyatakan suatu kebenaran politik”.

***

Salah seorang warga pemulung yang saya dampingi, sedang terkena kasus pinjam-meminjam dengan seorang rentenir. Dana 10 juta rupiah dipinjam dalam masa dua bulan, dengan bunga tiap bulan 1,5 juta rupiah. Bunga 3 juta telah dibayarkan, namun pokok sama sekali belum tersentuh. Akhirnya, masa dua bulan berakhir dan si peminjam harus membayar denda 100 ribu setiap harinya.

Di kampung pemulung, adalah hal yang lumrah bagi warga untuk meminjam dana dalam keadaan terdesak. Apatahlagi sejak plastik-plastik yang dikumpulkan hanya dihargai seribu rupiah per kilonya saja. Bukan sekali dua kali, warga meminjam dengan nominal besar dan beberapa teman pegiat juga sudah pernah berupaya menawarkan solusi berupa bank sampah. Namun apa boleh dikata, sistem koperasi bank sampah tidak berjalan baik. Salah seorang pegiat malah harus kehilangan dana tidak kurang 3 juta rupiah untuk menutupi kekurangan dana.

Tapi kegagalan masa lalu tidak boleh membenarkan terjadinya kedzaliman terus menerus. Hutang-piutang warga yang sedang terkena kasus harus segera diselesaikan. Jika tidak, setiap hari, keluarga warga yang sedang mengutang ini, dengan terpaksa harus mengencangkan ikat pinggangnya untuk mencari plastik-plastik bekas setiap hari demi menghasilkan uang 100 ribu rupiah guna membayar denda kepada sang rentenir.

Mahasiswa-mahasiswa saya di dua kelas akuntansi yang saya asuh, tergerak lalu ikut terlibat. Membuat origami lalu menjualnya; mengumpulkan pakaian bekas, kertas bekas, dan botol bekas lalu menimbangnya; membuat kue lalu menjualnya; dan berbagai aksi pencarian dana lainnya dilakukan. Setelah itu, mereka beramai-ramai menjenguk si keluarga warga yang terkena kasus, menyerahkan bantuan dana untuk membayar hutang yang mendesak. Sembari itu mereka belajar apa definisi liabilitas dari mereka yang dijerat kasus utang dan dalam keadaan tercekik untuk mengumpulkan dana melunasinya. Belajar dengan sistem “hadap masalah” ala Freire.

Bantuan yang mereka lakukan tidak banyak jika dibandingkan dengan total yang harus dilunasi. Hanya menutupi kekurangan dari beberapa donatur yang saya dan teman pegiat lain kumpulkan. Tapi tindakan-tindakan kecil mereka, membuat saya belajar banyak. Bahwa semangat melawan kedzaliman oleh pengusaha yang mendapat keuntungan dari orang-orang papa, tidak boleh surut. Benarlah, ketika mengajar, ada kesadaran bahwa diri sendiri harus terus belajar.

Apa yang sudah saya, teman saya yang ikut mendampingi kasus ini, mahasiswa-mahasiswa saya, dan juga para donatur lakukan untuk membantu keluarga tersebut, yang akhirnya dapat terlepas dari cekikan rentenir, barangkali hanya menutup satu kasus. Di kemudian hari, si rentenir bisa saja menjerat leher-leher yang lain. Tapi, tidak lantas menjadi sia-sia segala upaya itu. Justru, tindakan-tindakan kecil perlawanan ini menjadi sumbu bagi api untuk terus menyalakan bara dan semangat perlawanan atas keserakahan. Sebagaimana Morel tidak pernah menyesal atas sikapnya yang keras kepala melawan Raja Leopald, bahkan jika pun di negara yang sama, warisan keserakahan Raja Leopald masih ada hingga kini.

Mengutip kata kawan saya di suatu waktu di masa lalu, kita akan melakukan perubahan, sekecil apa pun perubahan itu. Dan kita akan melakukan apa pun yang bisa kita lakukan untuk perubahan itu.


RubrikLiterasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 22 Januari 2016)

Selasa, 19 Januari 2016

Belajar Akuntansi dari Liabilitas Kaum Miskin [2]


Sumber : Kompasiana

“Pernahkah kalian melihat sisi lain dari keindahan kota ini?
Ada begitu banyak bangunan-bangunan yang mewah dan gedung yang tinggi berdiri tegak di kota ini,
tapi apakah kalian tahu di antara bangunan mewah dan gedung-gedung yang tinggi itu, ada sebuah tempat terpencil yang ditinggali oleh kaum miskin?
Tempat yang jauh dari kata mewah, jauh dari kata layak, dan sama sekali tidak ada kenyamanan.
Yang ada hanya botol-botol bekas, kaleng-kaleng bekas, dan karung-karung.
Tidak seperti kehidupan kita, anak-anak bisa menikmati segarnya air bersih,
sementara mereka yang tinggal di pinggiran kota ini hanya memiliki satu sumur yang mereka pakai bersama untuk mandi dan minum.
Apakah ada yang bisa menjamin kalau air itu bersih dan layak dikonsumsi?
Apa yang kalian rasakan ketika melihat ada saudara kita yang hanya bisa makan nasi dan mangga saja bahkan sampai berpuasa karena tidak memiliki apa-apa?
Sadarkah kalian di antara kita yang diberi kehidupan berkecukupan tapi selalu merasa tidak cukup?
Masih pantaskah kalian untuk selalu mengeluh meskipun hidup kalian sudah berkecekupan?
Kalian bisa menyantap makanan setiap hari, kalian bisa langsung makan setiap kali lapar, kalian bisa tidur dengan nyenyak di kasur yang empuk.
Lalu bagaimana dengan kehidupan mereka yang tinggal di pinggiran kota ini?
Jauh dari kata layak, tapi mereka masih bisa tersenyum.
Tidak malukah kalian untuk terus mengeluh?
Pernahkah kalian berbagi dengan mereka yang membutuhkan?
Pernahkah kalian menyempatkan waktu walau sedikit hanya untuk mendengar keluh kesah mereka?
Bagaimana perasaan kalian saat mengalami apa yang kulihat dan kurasakan ini?
Seorang ibu yang menanggung tiga orang anak dan suami yang sudah tidak bisa bekerja karena sakit.
Saat aku menatap mata wanita tua itu, aku bisa melihat betapa berat penderitaan yang ia bawa sendiri.
Aku bisa melihat ketakutan-ketakutannya.
Saat itu hatiku perih melihat air matanya.
Kawan, mari melihat lebih dekat kehidupan orang pinggiran!
Karena mereka adalah saudara kita juga, mereka juga bagian dari keluarga kita.
(Safirli, mahasiswa Akuntansi Madya II)

Tulisan di atas, dengan sedikit editan dari saya, adalah potongan tulisan milik mahasiswa yang mengumpulkan tugasnya selepas mengunjungi rumah warga di kampung pemulung. Jauh lebih banyak dari apa yang saya bayangkan tentang apa-apa yang bisa mereka pelajari. Tugas memahami liabilitas dari perspektif kaum miskin membuat mereka belajar bahwa definisi yang disajikan buku teks selama ini, hanya berasal dari definisi pengusaha-pengusaha besar. Kaum miskin punya definisi sendiri, dan tentu saja itu juga adalah ilmu akuntansi. Kami menolak dikotomi yang ditawarkan sistem pendidikan dengan memisahkan kehidupan orang-orang marginal dari bangku kuliah. Kami memasukkan derita kaum miskin sebagai masalah kami bersama. Masalah kami sebagai bagian dari masyarakat.

“One cannot expect positive results from an educational action program which the particular view of the world held by the people.” (Paulo Freire)

Ada banyak tulisan yang saya terima, dengan berbagai cerita dan perspektif berbeda. Dunia mereka yang berbeda, pada awalnya membuat mereka kaget dengan kondisi yang harus mereka lihat di kampung pemulung. Jauh dari layak, kata mereka. Tapi dari sana, mereka belajar membuka hati dan pikiran untuk mulai mengenal derita orang-orang tertindas. Tertindas ketidakadilan di negeri ini.

Sumber : Safirli Sahastripa

Mereka melihat sendiri, seorang ibu yang renta, yang sedang sakit tumor, tidak mendapatkan jaminan kesehatan karena tidak memiliki kelengkapan berkas administrasi. Mereka mulai mengutuk mimpi kota ini untuk menjadi kota dunia, namun apa yang mereka temukan di sana jauh dari keindahan kota dunia.

Kesemua hal yang mereka pelajari, membuat saya bahagia. Mereka menghebatkan saya. Saya merasa semakin banyak tangan kini. Saat saya bertanya, “maukah kalian bersungguh-sungguh belajar untuk kelak menebarkan manfaat bagi orang-orang miskin, papa dan tertindas?”. Anggukan mereka melambungkan harapan di masa depan. Mahasiswa-mahasiswa yang siap belajar untuk bermanfaat dan berarti.

“Terima kasih Ibu Andis, sudah mengajak kami peduli.”
“Terima kasih sudah membuat kami belajar di luar tembok kelas yang nyaman ini.”
“Terima kasih sudah membuat kami belajar tidak hanya dari buku teks akuntansi.”


Tiga ungkapan itu membuat segala lelah sehabis mengajar jadi hilang. Ungkapan-ungkapan yang lebih berharga dari selembar sertifikat atau piagam. Efeknya jangka panjang. Sekali lagi kata seorang kawan, aktivitas mengajar itu aktivitas penyadaran dan subversif, memang.

Rabu, 25 November 2015

Setiap Manusia Adalah Guru, Setiap Ruang Adalah Sekolah


Guru adalah seorang pembelajar juga.

Menjadi seorang tenaga pendidik, kata suami saya dalam bukunya ‘Universitas Kehidupan’ (2015), adalah memilih jalan pedang. Dosen misalnya, dituntut untuk terus berusaha memantaskan diri. Tidak pernah berhenti belajar, termasuk dari para anak didiknya sendiri. Karena kata Paulo Freire, jika seorang pendidik menguasai kelas dan merasa selalu benar, maka dia telah menjadi penindas baru di dalam kelasnya.

Berada di dua kelas yang saya asuh saat ini, membuat saya belajar jauh lebih banyak dari apa yang saya bayangkan. Mereka, para mahasiswa saya, adalah anak-anak muda yang bagi sebagian orang adalah mahasiswa yang dipertanyakan kesungguhannya dalam belajar. Mungkin ya, kadang kita tebersit “apa sebenarnya niat mereka kuliah sih?”. Hanya karena mereka kuliah di universitas swasta, maka kita menjadi berhak memandang mereka marginal. Mereka hanya kumpulan mahasiswa sisa yang tidak diterima di universitas negeri. Memangnya, sepintar apa sih kita ini?

Tapi kenapa kita tidak melihat dari perspektif lain? Jika sebagai seorang pengajar atau pendidik, kita hanya bersedia mengajar mahasiswa ‘pintar’, lalu siapa yang ingin mengajar mahasiswa yang kita anggap ‘bodoh’ itu? Tapi benarkah ada mahasiswa bodoh? Kenapa tidak kita kembalikan ke diri kita, bahwa barangkali justru kita yang gagal dalam mengajar, sehingga para siswa tidak bersemangat belajar dan akhirnya terlihat bodoh.

Ketimbang menyesali ‘kebodohan’ yang kita maksud itu, bagaimana kalau kita menggandeng tangan mereka untuk sama-sama belajar? Tapi hey, bukankah memang itu tugas kita sebagai pendidik?

Sumber : Dokumen Pribadi (Edit)

Sumber : Dokumen Pribadi (Edit)


Kurang lebih tujuh pekan berproses bersama lebih dari 50 mahasiswa di dua kelas yang saya asuh, membuat saya menikmati proses yang kami jalani bersama. Saya belajar kesungguhan belajar dari mereka, belajar tidak putus asa seberapa tertinggal pun kami. Saya menikmati perubahan mereka yang tadinya tidak mau menyentuh buku menjadi mahasiswa yang bisa menceritakan buku apa yang dibacanya terakhir di dalam kelas. Saya bahagia menemukan seorang mahasiswa yang tampak ogah masuk kelas, berubah menjadi mahasiswa yang saat presentasi bisa berkata, “silakan bertanya teman-teman, tidak apa kalau tidak mengerti. Kita sama-sama belajar.”

Mohon doanya, semoga saya selalu mau belajar dari siapa saja, dan mau terus memperbaiki diri untuk menjadi pantas. Masih jauh dari pantas, tapi semoga dari sanalah saya terpacu untuk selalu mau belajar. 


Setiap hari adalah hari guru, sebab setiap hari kita harus selalu belajar.

Jumat, 08 Mei 2015

Dosen Juga Rocker


Judul tulisan ini berasal dari ucapan seorang dosen di tempat saya menempuh pendidikan tinggi. Apa yang disampaikannya itu, di kemudian hari, selalu saya ingat hingga hari ini. Tiap kali bertemu tenaga pendidik, baik guru, dosen atau bahkan seorang guru besar, yang merasa dirinya selalu benar, dalam hal ini tidak berupaya memahami dan menghargai pendapat orang lain, saya jadi terkenang ucapan dosen tadi.


Barangkali dosen dengan tipe merasa-selalu-benar lupa bahwa mereka adalah rocker, di mana rocker juga manusia. Bisa salah. Bebas untuk dikritik−dengan cara-cara yang baik dan benar, tentu saja.

***

Adalah Amir Khan, pemeran utama film Bollywood yang naik daun sekitar tiga tahun silam, 3 Idiots, pernah mengingatkan, bahwa tugas seorang dosen tidak berhenti pada tahap memberi, tapi juga bersedia menerima. Menerima ilmu dan pengetahuan baru yang berbeda dari orang lain, termasuk yang berasal dari para mahasiswanya sendiri. Juga memiliki keluasan hati untuk bersedia dikritik. Film ini, saya kira, layak direkomendasikan bagi setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan secara umum.

Dosen yang ada dalam film tersebut membanggakan aturan-aturan yang tidak membebaskan. Bagi sang dosen (yang merangkap sebagai rektor), pengalaman menjadikan kampus yang dipimpinnya sebagai salah satu universitas terbaik di India, menjadi bukti bahwa pola-pola yang ditempuh selama ini sudah berada pada jalur yang benar. Membangun habitus untuk hidup disiplin tanpa kenal toleran sama sekali, mengagungkan kompetisi (bukannya menularkan semangat belajar dengan cara mencintai belajar itu sendiri) dan menghilangkan unsur “hati” dalam proses interaksi dengan para mahasiswa.

Sekali waktu, dia menolak mentah-mentah karya seorang mahasiswa tingkat akhir, sebuah miniatur pesawat terbang yang dapat berfungsi sebagai kamera pengintai. Lebih memilukan lagi, dia menganggap remeh karya tersebut. Dia membuangnya ke tong sampah.

Tidak ada usaha untuk menghargai proses yang sudah dilakukan si mahasiswa. Karya yang tidak sesuai dengan ekspektasi sang dosen, layaknya remah-remah yang lebih pantas diperlakukan seperti sampah. Apa yang kemudian terjadi adalah, mahasiswa tadi stres, lantas memilih gantung diri di apartemennya.

Beginilah sistem yang telah dibanggakan oleh sang dosen, secara tidak langsung membunuh manusia yang terperangkap dalam sistem tersebut. Tidakkah ini mengingatkan kita dengan kasus beberapa siswa yang bunuh diri karena gagal melewati ujian nasional pada tahun-tahun silam di negeri ini?

Hal-hal demikian, bagi Amir Khan, adalah suatu bentuk penindasan dalam dunia pendidikan. Dia mengkritik habis-habisan pola-pola yang dilakukan oleh dosen tersebut. Baginya, kampus semacam itu hanya memproduksi mahasiswa layaknya mesin. Setelah lulus, menjadi siap pakai di pasar tenaga kerja.

Bagi Amir Khan, siswa harusnya lebih banyak memahami daripada menghafal. Siswa tidak boleh hidup dalam menara gading, yang berjarak dengan masyarakatnya. Siswa belajar karena mencintai pelajarannya, bukan karena ketakutan dihukum. Dan pendidik adalah seorang pembelajar, bukan subjek yang merupakan sumber kebenaran semata.

Saya jadi ingat dengan salah satu teman bergiat di Sekolah Rakyat KAMI (Komunitas Anak Miskin). Namanya Kadrina Rauf. Setiap kali ditanya tentang apa yang dilakukannya di sekolah bersama anak-anak, dijawabnya: “kami belajar dan bermain bersama. Kami semua adalah teman”.

Bagi Kak Gina−begitu kami memanggilnya, dia bukanlah subjek, bukan seorang guru yang datang mengajar di sekolah. Dia adalah seorang teman yang datang untuk belajar bersama adik-adik KAMI.

Saya menyadari, pelajaran yang saya dan teman-teman dapatkan justru lebih banyak dari apa yang coba kami bagi kepada anak-anak di sekolah KAMI. Lebih dari sekedar kesenangan saat belajar membaca, perkalian, mengaji, dan bermain bola hingga membuat layang-layang bersama.

Pada cerita yang lain, sekali waktu saat menjelang musim libur, dosen saya di Unhas memanggil saya secara pribadi. Usut punya usut, beliau sedang mengevaluasi proses belajar yang dilakukannya di kelas. Saya diminta berkomentar tentang proses belajar selama satu semester itu, apa-apa yang patut dipertahankan, apa saja yang dianggap tidak menambah kualitas pembelajaran, dan tidak lupa meminta ide untuk perbaikan di kelas berikutnya.

Tidak hanya saya (sebagai mahasiswa yang mengikuti kelasnya), ditanyai perihal seperti itu. Beliau melakukan hal yang sama kepada para mahasiswa yang diwalikannya.

Apa yang dilakukan sang dosen adalah sebuah upaya untuk mau mendengar, mau memperbaiki diri. Pengalaman mengenyam bangku sekolah, membuat saya cukup yakin, bahwa tidak banyak tenaga pendidik di negeri ini yang bersedia melakukan hal yang sama. Mau mengetahui isi kepala peserta kelas dan memberi ruang kepada [maha]siswa untuk bersama-sama menjalankan proses belajar yang dianggap baik. Membebaskan dan memanusiakan bukan?

Paulo Freire, lewat ide 'Pendidikan Kaum Tertindas'-nya, telah jauh-jauh hari mengingatkan, bahwa seorang pendidik sama sekali tidak boleh memainkan peran penindas di dalam kelasnya. Kalau nasehat Freire tersebut terlalu jauh untuk konteks negeri kita, coba yang dekat-dekat saja. Multatuli−salah seorang penggagas pendidikan di Indonesia, toh juga pernah mengingatkan, bahwa tugas manusia [sebagai seorang pembelajar] adalah menjadi sebenar-benarnya manusia.

Akhirnya, kepada para dosen yang selalu menyadari keterbatasannya sebagai manusia, dan karena itu jauh dari ucapan “pokoknya begini dan begitu”, saya ingin mengucap terima kasih. Tidakkah kita bersepakat bahwa laku menghargai cara pandang dan senantiasa mau belajar, adalah laku sebenar-benarnya pendidik?

***

Oh ya, dosen yang mengeluarkan pernyataan yang menjadi judul tulisan ini, tidak lain adalah dosen pembimbing penelitian tugas akhir saya saat ini. Saya memanggilnya “Pak Anis”, seorang pembimbing yang tidak pernah menganggap apa yang saya tulis sebagai remah-remah, dan senantiasa berbesar hati membuka ruang bagi ide-ide saya untuk bertumbuh. Negeri ini, saya kira, butuh lebih banyak tenaga pendidik sepertinya.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 09 Mei 2015)

Kamis, 27 November 2014

Pesan Seperempat Lusin Laki-laki Jika Kamu Merasa Bodoh



Jika Anda merasa bodoh, bacalah buku. Tapi jika Anda merasa sudah pintar, Anda butuh membaca buku lebih banyak lagi!


Siapa pun pengikut lini kala M. Aan Mansyur (@hurufkecil), kemungkinan besar sudah familiar dengan pesan di atas. Saya sengaja mengatakan pengikut, bukan pembaca. Sependek bacaan saya, Aan belum pernah menarasikan secara tersurat pesan tersebut di tulisan-tulisannya, baik fiksi mau pun non-fiksi. Jadi jika Anda pernah menemukannya, maka bacaan Anda mungkin lebih banyak dari saya.

Sederhana saja sebenarnya yang ingin disampaikan Aan, teruslah membaca. Tapi cara mengungkapkannya, cukup efektif sebagai upaya menghantam kepala orang yang selama ini sok pintar, merasa telah membaca banyak buku. Sepertinya saya cukup sepakat dengan pernyataan yang entah siapa, yang mengatakan bahwa Aan adalah tipe penulis yang menerbangkan ide besar dengan menggunakan pesawat kecil.

Jika Anda punya waktu yang cukup, ada baiknya baca juga jurnal-jurnal Eka Kurniawan. Eka adalah sastrawan yang diakui Aan di salah satu Kolom Literasi Koran Tempo Makassar sebagai penulis Indonesia yang paling disukainya. Saya tidak menuliskan alamat lengkap jejaring Eka di sini, sebab jika Anda benar-benar serius ingin membaca tulisannya, dengan pintar Google akan menginformasikan alamat tersebut.

Di kumpulan tulisan daring milik Eka itu, hampir setiap tulisan yang ada, tidak berlebihan jika dikatakan mampu menggedor kesadaran pembaca untuk lebih rakus membaca. Paling tidak, begitu yang saya rasakan setelah menelusuri tulisan-tulisan Eka hingga beberapa tahun belakangan.

Tentu saya tak bermaksud menyampaikan bahwa saya kini lebih rakus. Sebab nyatanya, saya justru merasa mundur jauh ke belakang setelah membaca jurnal-jurnal Eka. Pasalnya, saya coba bandingkan kebiasaan membaca saya untuk satu buku, paling cepat, saya mampu menghabiskan dalam waktu satu hari untuk buku tipis sementara Eka hanya butuh empat jam saja. Duh!

Saya mampu membaca tidak kurang delapan buku dalam sebulan, sesibuk apa pun. Tegas Eka di jurnalnya.

Membandingkan diri saya yang amatiran ini dengan dua penulis sekaliber Aan dan Eka, sebenarnya tak lebih dari sekedar upaya untuk tidak terlihat lebih pemalas. Sebab ada penulis-penulis hebat, yang nyatanya bisa lebih mengenaskan kebiasaan membacanya.

Kita sebut saja Jorge Luis Borges. Ia hampir menghabiskan masa tuanya dengan mata yang nyaris buta karena kegilaannya membaca hampir semua buku di perpustakaan tempat ia bekerja. Saya tidak tahu, ini benar-benar benar atau tidak. Ini hanya kecurigaan Eka, yang ditulis di jurnalnya. Dalam salah satu tulisan Eka, ia bandingkan dirinya dengan sosok Borges yang dikaguminya.

Benarlah Paulo Freire, yang mensyaratkan kerendahan hati sebagai salah satu syarat untuk belajar. Belajar untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Untuk merawat semangat membaca, membandingkan diri dengan salah satu penulis favorit adalah jalan yang ditempuh Eka.

Jika Anda tidak mau meniru kebiasaan Borges yang mengundang bahaya itu, coba yang dekat-dekat saja. Sapardi Djoko Damono misalnya. Penulis yang dikagumi Aan ini, sulit untuk tidak meyakini bahwa ia bukan seorang pembaca akut.

Pada awalnya, Aan juga membandingkan dirinya dengan mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia tersebut. Selanjutnya Aan menelusuri bacaan-bacaannya, berusaha membaca semua buku-buku yang dicurigainya pernah dibaca Sapardi.

Cukup mudah untuk menarik kesimpulan, baik Aan maupun Eka, menjaga dirinya dari kemalasan dengan melirik kebiasaan membaca penulis yang mereka kagumi. Mengetahui seseorang telah membaca lebih banyak dari diri sendiri, cukup efektif untuk membuat diri merasa atau paling tidak sadar bahwa diri sendiri tidak ada apa-apanya. Setidaknya bagi saya begitu. Dan saya curiga, sebenarnya saya memang butuh untuk senantiasa merasa seperti itu. Atau jika dengan cara itu, saya bisa sedikit lebih malu untuk tidak bisa tidak belajar. Dalam hal ini, tidak bisa tidak membaca.

Pada titik ini, nasehat lama anak sulung dari perempuan yang saya panggil ‘ibu’ tiba-tiba saja menjadi bertuah: kita butuh orang-orang yang pintar merasa, bukan merasa pintar. Merasa jauh dari kepantasan adalah jalan untuk tidak merasa pintar, setidaknya itu juga bisa jadi cara yang baik untuk menjaga kita dari keangkuhan pengetahuan.

Dan izinkan saya menarik benang merah dari pesan tiga laki-laki yang tulisan-tulisannya saya sukai itu: Aan, Eka dan kakak saya. Kira-kira bagaimana kalau saya tuliskan, sebenarnya mereka hendak berpesan begini: kita boleh [dan sepatutnya untuk] merasa bodoh, tertinggal jauh di belakang. Namun satu hal, kita tidak boleh berhenti untuk terus belajar. Anda sepakat?

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 28 Nopember 2014)