Tampilkan postingan dengan label William Faulkner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label William Faulkner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

Penulis Tak Berpensil




Membaca karya Hamsun, Sult, membuat saya teringat dengan kisah seorang gadis bernama Ma Yan. Hal ini terjadi barangkali juga karena beberapa hari lalu, saya menemukan novel Ma Yan di sebuah toko buku dengan tampilan baru, dengan ukuran yang lebih kecil dan sampul berwarna putih; versi yang pernah saya baca bersampul kuning.

Cerita yang ditulis oleh Sanie B. Kuncoro itu diangkat dari kisah nyata seorang anak perempuan yang berasal dari sebuah desa di pedalaman Cina. Ma Yan tergila-gila dengan apa yang disebutnya sebagai ‘belajar’, dan dia tidak mendapatkan apa yang ada di benaknya tentang belajar itu di rumah di mana dia hanya menjalankan tugas-tugas sebagai seorang perempuan pelanjut keturunan. Seorang perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup pandai memasak dan menyenangkan suami untuk kemudian menikah dan beranak-pinak. Demikian cara hidup manusia berjenis perempuan yang ada di desa Ma Yan.

Ma Yan jelas menolak itu. Dia ingin sekolah dan belajar lebih banyak. Sungguh sayang, keluarga kecil Ma Yan hanya mampu menyekolahkan dua orang anak, dan orang tua Ma Yan memilih dua adik lelaki Ma Yan untuk hal itu. Ma Yan kemudian mengirim surat kepada ibunya. Kalau tidak salah, di dalam suratnya, Ma Yan menyampaikan keinginan untuk sekolah dan berjanji tidak akan merepotkan kedua orang tuanya atas keinginannya itu. Ia hanya meminta untuk diizinkan bersekolah, tidak lebih.

Konsekuensinya, dia harus bekerja keras. Dan yang paling menyedihkan adalah saat dia ingin menulis menggunakan pensil, bukannya kapur, seperti apa yang selama ini digunakan di sekolah. Awalnya dia melihat temannya, yang adalah anak dari seorang bangsawan, membawa pensil ke sekolah, dan saat itulah dia begitu terpikat dengan alat tulis bernama pensil itu.

Ma Yan mulai menabung untuk bisa membeli pensil. Uang yang ditabung itu, tidak tepat juga untuk menyebutnya uang jajan, sebab seharusnya uang itu digunakan untuk membeli lauk. Maka, dalam beberapa pekan, Ma Yan rela makan tanpa lauk sama sekali demi membeli pensil. Dalam pekan-pekan tanpa lauk itu, dia sering muntah karena memakan makanan pokok yang sama setiap hari. Tanpa campuran apa pun di piringnya.

Sama dengan Ma Yan yang tidak punya pensil−padahal begitu ingin menulis, sosok ‘aku’ dalam novel Sult (Hunger), Hamsun, pun tidak punya pensil saat dia begitu ingin menulis pada suatu ketika. Hal ini terjadi karena ‘aku’ lupa mengambil pensil yang disimpan di dalam kantong jaket sebelum menyerahkannya kepada petugas pegadaian.

Sosok ‘aku’ adalah seseorang yang bercita-cita menjadi penulis, tapi hidupnya miskin. Begitu miskinnya, bahkan untuk makan pun dia harus menggadaikan jaket. Waktu itu sebenarnya bukan hanya karena kelaparan dia menggadaikan jaket, tapi dia bertemu dengan seorang nenek pengemis yang meminta uang padanya. Tidak ingin mengecewakan pengemis tua itu, dia berlari ke rumah gadai, dan itu tadi−dia menggadaikan jaketnya sendiri. Masih tersisa uang dari hasil gadai jaket setelah diberikan kepada pengemis, baru kemudian digunakannya untuk membeli makanan.

Sayang, saat menyerahkan jaket tadi, dia lupa mengambil pensil di dalam kantongnya. Padahal itu adalah pensil satu-satunya yang dipunyai si ‘aku’.

Kabarnya, novel ini mulai ditulis Hamsun saat berada di dek kapal Thingvalla. Kalau tidak salah, dari pembacaan saya di pengantar Hamsun, kisah di dalamnya adalah tentang dirinya sendiri: seorang pria miskin yang bercita-cita menjadi penulis, profesi yang tidak menjanjikannya uang untuk hidup lebih layak. Saking miskinnya Hamsun (dalam kehidupan nyata), sekali waktu saat hendak menyerahkan naskah kepada seorang redaktur koran Politiken, Edvard Brandes, si redaktur bahkan menerima naskah tersebut hanya karena tidak tega melihat wajah pucat dan pakaian lusuhnya. Dan yang kemudian terjadi adalah, setelah Edvard Brandes membaca naskah Hamsun, dia berkata “ini bukan bakat lagi, ini sederajat dengan Dostoyevsky!”. Penulis tak berpensil asal Norwegia itu, kita tahu, akhirnya disebut-sebut sebagai pembawa pengaruh sastra modern, dan memenangkan hadiah nobel kesusastraan 1920 pada kemudian hari.

***

Di dinding kamar kos, sengaja saya pasang nasihat William Faulkner begini, “Penulis hanya butuh sebatang pensil dan lembaran kertas”, untuk menyemangati diri sendiri. Namun setelah membaca Hamsun, tiba-tiba nasihat Faulkner tadi menjadi ganjil. Sebab jika yang dibutuhkan penulis hanya pensil dan kertas, saya seharusnya sudah menghasilkan lebih banyak karya yang baik dibanding Hamsun. Saya dan banyak anak muda yang berkeinginan untuk jadi penulis, sama sekali tidak kekurangan dua alat tulis itu. Apa yang diajarkan Hamsun lewat cerita ‘aku’ dalam novelnya adalah bahwa alat semata hanyalah alat. Pensil, kertas, dan untuk sekarang ini kita sebut saja laptop, tidak akan ada gunanya jika pemiliknya tidak juga mulai menulis dan terus meningkatkan kemampuannya untuk menjadi penulis yang baik.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 10 April 2015)

Minggu, 01 Maret 2015

Kamu: Cerita yang Main-main tapi Serius dan Serius tapi Main-main




“Emm... kalau kuberi tahu hal yang tidak kusukai dari dirimu, apa kau mau berubah?”
“Bisa ya, bisa juga nggak. Kalau kupikir perlu diubah, ya kuubah. Kalau kupikir nggak perlu, ya, buat apa?” (hlm. 213).

***

Jika zaman ini kita seharusnya menjadi acuh, suka melamun, tiduran, sesekali bolos sekolah dan segala kegiatan yang barangkali dirutuki oleh manusia kebanyakan, yang bercita-cita sukses di masa depan, saya membayangkan pasukan itu seharusnya dipimpin oleh Sabda Armandio. Saya rasa bos pasukan semacam itu−kalau memang harus ada dan sepertinya sih tak akan ada sampai Mario Teguh masih menyapa pemirsanya dengan salam supernya−memerlukan sejenis keberanian dan sekaligus sikap masa bodoh yang sedikit kelewatan. Dan bekal itu sudah dimiliki oleh Saya, Kamu, sekaligus penulis tokoh ini sendiri.

Dunia hari ini adalah dunia tentang mimpi-mimpi dan kesuksesan yang dibuat-buat standarnya. Kadangkala (atau selalu?) abstrak. Setidaknya begitu yang barangkali ingin Dio−begitu ia disapa−muntahkan lewat novel yang terbit Februari (2015), Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Lewat obrolan-obrolan tokoh Saya dan Kamu, Dio sedang meluapkan apa-apa saja yang tidak dia sepakati dengan hidup dan kehidupan ini. Bertutur renyah seperti wafer, Dio mengangkat masalah-masalah yang dilahirkan dunia modernitas lewat narasi yang agak konyol.

Saat setiap orang berlomba-lomba memenangkan popularitas, penghargaan, dan nama di jejeran terdepan, tokoh Saya menolak masuk di perlombaan itu. Ia memilih berada di belakang saja. Tidak ingin dikenal. Biar saja dilupakan. Tak mengapa tak diingat. Saya tak ingin jadi spesial, sebab sebenarnya menurutnya, keinginan untuk menjadi spesial ini lah penyebab kompetisi, persaingan, dan perang. Analogi sederhanya mungkin begini, sebab Belanda merasa spesial, dan Indonesia dianggap hanyalah remah-remah, negara yang dihuni oleh manusia-manusia yang layak jadi pengikut, pesuruh, dan pelayan, maka itu Belanda menjadi angkuh, merasa pantas menduduki Indonesia. Tapi kemudian Belanda tidak sendirian, Jepang juga merasa spesial, dan jadilah politik balas budi untuk merebut Indonesia dari Belanda. Benarlah Nurhady Sirimorok, pemujaan terhadap individualitas, dalam bentuk benda maupun citra, sesungguhnya dapat menjadi awal dari kehancuran kolektif.

Bersepakat dengan Nurhady Sirimorok, barangkali Dio ingin menanamkan bibit ide di kepala pembacanya: untuk apa kita perlu merasa spesial di mata dunia yang bahkan tidak ada harganya ini? Keinginan menjadi spesial, bahkan menyebabkan sisi kemanusiaan kita terdegradasi, mengacuhkan orang lain sebab selalu hanya diri kita yang lebih di antara yang lain.

Sependek pengetahuan saya, penulis yang banyak memasukkan ide bahkan menumpahkan perasaannya lewat tulisan, adalah penulis yang tidak banyak omong di dunianya yang nyata. Lebih tepatnya, tidak begitu senang terlibat dalam obrolan. Sejenis manusia yang kalau ikut rapat, hanya sekedar isi presensi. Kalau ikut komunitas, hanya terlihat dari kerja-kerjanya, bekas tempat duduk atau bekas ngopinya, bukan dari suara dan bualannya. Apakah Dio termasuk penulis seperti ini? Kalau melihat aktivitasnya sehari-hari di biodata penulis, besar kecurigaan saya, iya. Barangkali hanya laki-laki yang tidak banyak omong, yang betah bekerja di perusahaan periklanan digital−tempat bekerjanya saat ini. Saya [sok] tahu, karena pernah menggunakan jasa profesi ini. Suatu ketika, saya ditugasi dosen mengurus brosur kegiatan. Sejak memesan hingga kembali lagi mengambil pesanan brosur, laki-laki dan perempuan yang bertugas di tempat itu, memang penganut adigium diam lebih baik! Tapi, yah, kita tahu, diam mereka tidak benar-benar diam. Mereka melahirkan karya, kalau boleh brosur itu disebut karya. Dan karya mereka nyata, benar-benar ada, saya gunakan untuk publikasi acara.

Soal tidak banyak omong seperti itu, saya ingat wejangan Eka Kurniawan, sudah tiba saatnya para penulis, mundur ke belakang, tidak ikut dalam kebisingan, tapi diam dan melakukan aktivitas lain: membaca, berpikir secara matang, masuk ke ‘laboratorium’ dan sebagainya. Saat semua orang bisa berbicara, penulis harus menahan diri untuk tidak hanya sekedar ikut arus. Entah pernah membaca wejangan Eka itu atau tidak, sepertinya Dio telah dan tengah melakukannya. Lewat novel pertamanya ini, dia mengeluarkan hasil penelitian dari laboratoriumnya. Proses penelitian yang panjang, menulis dan menerjemahkan cerpen, dan membaca, tentu.

Sebagai saran, untuk keabsahan catatan ini. Sepertinya Dea Anugrah dan tim Moka Media, harus lebih bersabar dan tekun sebelum yakin untuk meloloskan karya ini kalau akan dicetak lagi. Saya menemukan beberapa kata yang salah ketik. Padahal, pemanasan untuk melahirkan novel ini cukup lama, dan saya menaruh harap lebih bahwa novel ini akan jauh dari kesalahan ketik dan semacamnya. Menurut penulisnya, pemanasan yang lama itu agar pembaca tidak kram. Ya tidak kram sih, hanya keseleo. Sayangnya, saya mengingat dan membawa rasa keseleo itu sepanjang membaca cerita di novel ini.

Saya tidak mencatat halamannya, tapi saya ingat betul kata “sebelah” yang malah tertulis “seblah”. Parahnya, karena kata “seblah” itu berdekatan (atau malah satu kalimat, saya lupa) dengan kalimat yang juga ada kata “sebelah” yang benar, jadi begitu mencolok kan? Atau penggunaan di- yang tertukar fungsi sebagai prefiks dan preposisi. Atau lagi, dua kata yang alpa diselipi spasi seperti pada kalimat pertama paragraf 3 halaman 130. Paling tidak, kalau novel ini cetak ulang (saya turut berharap), kesalahan teknis macam itu sudah tidak ditemukan lagi. Kecil tapi berdampak besar, apalagi untuk tipe pembaca yang menuntut banyak pada sebuah karya. Menyalin-tempel William Faulkner, tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah tulisan, kecuali belajar dari kesalahan.

Sallluuuuut!