Tampilkan postingan dengan label James P. Spradley. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label James P. Spradley. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2016

Untuk Apa Etnografi?


Membaca ‘Metode Etnografi’ milik James P. Spradley membuat saya gamang bertanya pada diri sendiri, “lantas untuk apa penelitian selama ini?”. Untuk alasan apa kita perlu bersusah payah mengumpulkan informasi kebudayaan tertentu? Untuk apa etnografi itu? Apakah kita ingin mempelajari kebudayaan orang miskin untuk membangun teori tentang kemiskinan? Tidak dapatkah kita melihat bahwa anak-anak mereka, pada waktu yang sama, tengah kelaparan?

Mengutip definisi Spradley,  salah satu cara untuk mensinkronkan kebutuhan mendesak masyarakat dengan tujuan etnografi adalah melakukan konsultasi dengan partisipan untuk menentukan topik penelitian yang penting. Jika demikian, kita harus berinteraksi terlebih dahulu dengan masyarakat untuk dapat mengetahui masalah apa yang ingin dan dapat dipecahkan. Jika mengikut syarat tersebut, seorang etnografer, tidak selayaknya membawa masalah penelitiannya, dan kemudian ke masyarakat untuk mencari komunitas yang mampu menyelesaikan masalah penelitiannya. Penelitian ada untuk kebutuhan masyarakat, bukan malah dibalik : masyarakat dicari untuk kepentingan penelitian kita.

Awalnya, Spradley pernah mencoba meneliti tentang kaum gelandangan. Spradley memulainya dari lokasi pusat penyembuhan alkoholisme. Salah satu partisipannya, seorang peminum kawakan yang menjalani kehidupan sebagai narapidana di penjara Kota Seattle, bertanya pada Spradley “Mengapa Anda tidak mempelajari hal-hal yang terjadi dalam penjara ini?”. Dari sana, Spradley ‘memutar’ arah penelitiannya. Lebih mendesak baginya untuk mempelajari budaya penjara, struktur sosial penghuni penjara, dan bagaimana para peminum yang ada di sana ditekan oleh sistem penjara.

Omong-omong soal budaya gelandangan, saya jadi ingat novel Orwell yang lebih mirip otobiografi, ‘Down and Out in Paris and London’. Kita tidak pernah tahu tentang hidup para gelandangan serta apa yang ada di dalam pikiran mereka sebelum kita menjadi atau setidaknya hidup bersama mereka, begitu menurut Orwell. Mengenal para gelandangan dan hidup dengan mereka, paling tidak, dapat membuat Orwell “merasa telah melihat kemiskinan lebih dari sekadar kulit luar”.

Yah, untuk kesekian kali, saya justru banyak memahami metode penelitian kualitatif dari cerita fiksi. Bukan dalam arti bahwa Orwell mendikte saya begini dan begitu cara meneliti etnografi yang benar. Tapi dari cerita yang dibangun Orwell, saya dipahamkan ontologi apa yang harus dimiliki oleh seorang etnografer.

Membaca novel, paling tidak bagi saya, selain  manfaat-manfaat lainnya yang banyak, juga meluaskan jangkauan pengetahuan saya tentang penelitian kualitatif. Sewaktu masih jadi mahasiswa, saya pernah meminjam cerpen Eka Kurniawan untuk menjadi pisau bagi penelitian saya.


Melalui kisah si ‘Aku’ dalam novel Orwell tadi, kita jadi paham penyebab seseorang menjadi gelandangan dan mengapa orang yang sama hampir tidak bisa terbebas dari lingkungan gelandangan tersebut. Melalui ‘Aku’ pula, pembaca akhirnya tahu siapa dan tindakan apa yang dapat membantu gelandangan tersebut keluar dari lingkaran setan kehidupannya. Seperti kata Spradley, etnografi dapat digunakan untuk menekan orang atau untuk membebaskan manusia. Pilih mana?

Senin, 22 Februari 2016

Dila dan Pakaian Intelektual


Siang setelah saya makan di kantin bersama sahabat, saya melewati lorong-lorong fakultas dan menemukan dua orang yang akrab di mata saya. Mencoba memastikan, saya mendekatinya. “Dila…!”, teriak saya. Tadi malam, kami baru saja bertemu. Malam saat adzan Isya berkumandang, saya meninggalkan kampung pemulung dengan teriakan dari Dila, “daaaadah Kakak Andiiiiis”, yang saya yakin satu kampung pemulung mendengar teriakannya. Selalu ada bahagia yang saya bawa pulang setelah menjenguk mereka, sebab mereka senantiasa mencintai saya dan saya pun mencintai mereka dengan cara sederhana yang merek ajarkan kepada saya.

Sumber : Kolekasi Pribadi/Dila Dalam Pelukan

Kembali ke siang tadi, setelah pertemuan yang belum cukup 24 jam, Dila agak malu-malu berbicara dengan saya, padahal semalam dia masih merajuk manja kepada saya. Spradley, seorang etnografer, pernah menulis bahwa kondisi antara partisipan dengan seorang etnografer menentukan sejauh mana kedekatan yang dapat terjadi antara keduanya. Lingkungan kampus tempat kami bertemu saat itu dengan lingkungan rumah Dila di mana biasa kami bertemu, adalah dua lingkungan yang kontras, mungkin begitu yang dimaksud Spradley. Saya tengah berada di kampus sebagai bagian dari penghuni kampus, meskipun sudah berstatus alumni, tapi saya tetap menenteng buku-buku dengan pakaian yang meskipun tidak rapi-rapi amat, tetap saja kontras dengan pakaian Dila. Itu semua mempertebal perbedaan di antara kami, dan membuat Dila sungkan berbicara dengan saya. Lagi-lagi, setelah bertemu dengan Dila, saya kembali merenung. Sejauh inikah pendidikan telah memisahkan saya dengan orang-orang papa dan tertindas, yang untuk merekalah seharusnya pengetahuan itu diusahakan? Untuk orang-orang yang tidak sempat dan tidak berkesempatan menikmati fasilitas pengetahuan yang saya nikmati hingga saat ini?

Saya melihat Dila tengah menenteng kantongan plastik kecil, yang di dalamnya ada beberapa bungkus gorengan. Saya bertanya, “tawwa Dila ada gorengannya, beli di mana?”. Dila tertunduk sambil berbisik, “kudapat tadi Kak”. Haduh, ya Allah. Dapat di mana? Di tong sampah kah Dek? Saya tidak melanjutkan pertanyaan itu sebab takut Dila semakin merasa berbeda dengan saya. Haduh ya Allah, saya baru saja minum jus buah di kantin, dan beberapa saat sebelumnya saya menarik uang di atm dengan perasaan yang saya-mesti-lebih-hemat-lagi-nih melihat nominal tabungan yang kian menepis. Di tengah-tengah perasaan yang sempat merasa kurang padahal masih bisa makan dengan uang sendiri, saya menemukan Dila yang mendapatkan makanan dari sisa-sisa mahasiswa. Duh ya Allah, apalah saya ini!