Tampilkan postingan dengan label Ari Kamayanti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ari Kamayanti. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2015

Beberapa Jurnal Akuntansi [Kualitatif] yang Saya Baca Berulang Kali


Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca jurnal-jurnal kanon akuntansi, khususnya yang menggunakan pendekatan kualitatif, adalah berapa banyak bacaan yang dilahap oleh para penulis jurnal itu? Hasil-hasil penelitian Hines, Morgan, dan Tinker, misalnya. Saya selalu terperangah dengan kualitas tulisan mereka. Referensi-referensi yang mereka gunakan dalam artikel bisa dipastikan adalah referensi-referensi yang tidak semua peneliti akuntansi mau dan mampu membacanya. Di waktu luang, kadang-kadang saya menelusuri daftar pustaka artikel mereka, dan mencarinya dengan fasilitas akses gratis unduh jurnal yang disediakan di kampus. Untuk keperluan menulis yang baik, saya pikir penting untuk mencatat hal-hal baik yang dilakukan oleh penulis-penulis besar itu. Salah satunya adalah menelusuri bacaan-bacaan mereka.

Selain melakukan hal itu, karena kemampuan bahasa Inggris saya yang minim, maka saya memaksimalkan latihan menulis dengan membaca jurnal-jurnal berbahasa Indonesia. Untuk kepentingan penulisan tesis, tidak kurang dari delapan bulan lamanya saya menulis, 48 jurnal berbahasa Indonesia saya baca dan analisis teknik penulisannya. Ini tidak termasuk jurnal berbahasa Inggris, jurnal yang saya baca secara cepat, atau beberapa yang lain yang terbaca sepotong-sepotong karena saya hanya butuh beberapa bagian dari isi jurnal tersebut. Kadang saya membacanya sepotong-sepotong kalau ada penjelasan khusus yang saya butuhkan, dan kebetulan ada pembahasannya di jurnal tersebut. Atau jika saya hanya butuh hasil penelitiannya, maka saya cukup membaca abstraknya saja.

Beberapa dari 48 jurnal yang saya baca secara utuh untuk keperluan latihan, dengan senang hati saya baca lebih dari sekali. Ada yang sampai empat kali demi untuk mendalaminya. Beberapa jurnal yang saya tuliskan di sini bisa Anda anggap sebagai jurnal-jurnal yang saya rekomendasikan.

Pertama. Sebenarnya ini bukan jurnal, hanya artikel lepas yang ditulis oleh dosen pembimbing saya, Anis Chariri. Tulisan ini dibuat untuk keperluan latihan menulis jurnal ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Saya membacanya berulang kali sampai lupa berapa kali tepatnya saya baca. Saat saya menulis catatan ini, artikel tersebut masih berada di dalam tas saya. Pada waktu senggang, bahkan beberapa hari setelah saya diwisuda, saya masih membawanya ke mana-mana. Artikel ini sudah dimiliki oleh banyak mahasiswa Maksi Undip. Siapa pun yang ingin mulai belajar menulis penelitian kualitatif, artikel ini cukup sebagai dasar untuk menelusuri tema-tema apa yang perlu dipelajari lebih dalam lagi nantinya. Artikel ini berisi tentang bagaimana dan seperti apa penelitian kualitatif, juga beberapa penjelasan tentang metode-metode yang memungkinkan untuk digunakan. Jika ada yang berminat, artikel ini bisa dengan mudah di dapat lewat Google dengan judul “Landasan Filsafat & Metode Penelitian Kualitatif”.

Kedua. Jurnal yang ditulis oleh Akhmad Riduwan dengan judul “Etika dan Perilaku Koruptif dalam Praktik Manajemen Laba: Studi Hermeneutika-Kritis”. Pertama kali saya menemukan jurnal tersebut dari Pak Anis, dosen yang saya maksud sebelumnya di atas, di kelas Metodologi Penelitian. Dia memberikan dua jurnal, satunya contoh jurnal baik dan satunya contoh jurnal buruk. Saya penasaran dengan perbedaan kedua jurnal itu. Lalu saya membaca keduanya, dan pahamlah saya mengapa Pak Anis menyebut yang satunya baik dan satunya buruk. Contoh jurnal baik yang ditulis Akhmad Riduwan, sungguh keren. Sejauh pembacaan saya, belum ada penulis yang bisa menandingi ‘ketabahan’ tulisannya. Tidak meletup-letup, tapi berisi. Semua kalimatnya tersusun rapi, dan tidak ada satu pun kesalahan pengetikan yang saya temukan di jurnalnya─kesalahan yang menurut saya sulit dihindari oleh seorang penulis jurnal. Selain itu, data yang digunakan dan ditampilkan dalam badan teks begitu kuat dan terasa ‘pas’ penempatannya. Jawaban penelitian pun matching dengan pertanyaan penelitian─sesuatu yang krusial tapi kadang dilupakan oleh seorang peneliti. Sampai saat ini, saya baru berhasil membaca tiga jurnal dari Akhmad Riduwan, dan saya selalu menunggu hasil penelitian berikutnya dari penulis ini.

Ketiga. Hasil penelitian dari Sujoko Efferin & Felizia Arni Rudiawarni yang berjudul ‘Memaknai Perilaku Stakeholders dalam Adopsi IFRS di Indonesia: Tinjauan terhadap Aspek Kepentingan, Bahasa, dan Budaya’. Saya mencari jurnal ini karena penasaran dengan penulis pertamanya, Sujoko Efferin. Penasaran ini bermula saat bertemu dengannya di suatu forum di Bali. Dia datang sebagai seorang fasilitator. Cara menyampaikan materinya membuat saya tidak mau beranjak dari tempat duduk bahkan merasa enggan meninggalkan ruangan untuk keluar buang air kecil. Kualitas bicara dan kualitas tulisannya tidak jauh berbeda. Membaca jurnalnya membuat saya merasa kalau pada dasarnya jurnal akuntansi dengan pendekatan kualitatif tidak ada bedanya dengan pendekatan kuantitatif dari segi penemuan dan penyajian data. Selama ini, banyak pihak meragukan jurnal kualitatif karena menurut mereka penelitian ini terkesan subjektif [kata Denzin dan Lincoln (2009), memangnya adakah yang benar-benar objektif dalam penelitian sosial?]. Tapi di tangan kedua penulis jurnal ini (Efferin dan Rudiawarni), data yang disajikan terasa begitu ilmiah.

Keempat. ‘Integrasi Pancasila dalam Pendidikan Akuntansi Melalui Pendekatan Dialogis’ yang ditulis oleh Ari Kamayanti. Jurnal ini baru terbit pada September tahun lalu. Tapi saya telah membacanya sejak tahun 2012, kalau tidak salah ingat. Jurnal ini pernah membawa penulisnya sebagai penulis artikel best paper di Simposium Nasional Akuntansi. Versi yang terbit di jurnal (2014) terasa lebih matang. Ari Kamayanti, banyak menulis jurnal-jurnal kualitatif. Tapi di antara banyak tulisan dari hasil penelitiannya, jurnal inilah yang paling saya suka. Barangkali karena kecerdasannya membangun dialog di kelas─yang dijadikannya sebagai data untuk penelitian di tulisannya ini.


Kelima. “Predatory Pricing : Persaingan Harga Minimarket dan Gadde-gadde dalam Metofora Cerpen”. Tidak ada alasan lain saya memasukkan judul tersebut di daftar kelima ini, selain karena saya adalah penulisnya. Saya berharap Anda mencari dan membacanya. Terima kasih.

Selasa, 30 September 2014

Dari Perusahaan Twitter Hingga Tambang




Menurut The Wall Street Journal, para analis mengakui Indonesia adalah satu di antara pasar terbesar perusahaan media sosial Twitter. Media sosial yang berpusat di San Fransisco ini, kian hari semakin diminati oleh masyarakat Indonesia. Demikian berita yang dituliskan dalam sebuah jejaring milik stasiun televisi swasta nasional.

Meski pun tidak ada data statistik yang ditunjukkan terkait berapa persen dari 75% pengguna yang ada di luar negara asal Amerika−di sana hanya 25% pengguna Twitter, sisanya berada di luar Amerika−berita dari internal Twitter menyatakan bahwa hampir 95juta tweet pada tahun 2014 ini membahas tentang Pemilihan Presiden Indonesia. Maka tidak mengherankan kemudian jika pada akhir Agustus tahun ini, Global President of Revenue and Partnership Twitter, Adam Bain, mengumumkan bahwa Twitter akan segera membuka kantor di Indonesia.

Saya hampir yakin bahwa saat membuat akun, hampir tidak ada pengguna Twitter yang membaca menu Kebijakan Privasinya yang menyatakan bahwa Twitter mengumpulkan informasi pengguna selama mengaksesnya dan dapat membaginya dengan pihak ketiga. Bahkan, Twitter berhak untuk menjual informasi−termasuk data pengguna−untuk menjual informasi tersebut jika perusahaan Twitter berpindah tangan, atau dibeli perusahaan lain. Jadi, menjadi aneh jika dalam bermedia-sosial sebangsa twitter, masih ada juga yang merasa privasinya terganggu. Kok bisa? Memilih menggunakan twitter berarti memilih menginformasikan informasi diri kepada publik. Sepertinya itu logika sederhana yang cukup mudah dimengerti, bahkan anak SD yang membuat akun Twitter sekali pun sepertinya bisa paham akan hal ini.

Semua orang bersuara dengan bebas di media sosial, nyaris tanpa batasan. Termasuk heboh masalah apakah 4 x 6 sama atau tidak sama dengan 6 x 4. Hallo? Apakah masalah seperti ini tidak cukup diselesaikan di sekolah oleh si murid bersama gurunya?

Peran-peran ganda bermunculan, semua orang boleh menjadi analis apa saja atas masalah apa saja yang sedang heboh. Seolah tidak afdal jika tidak ikut membahas fenomena yang sedang ramai orang diperbincangkan. Seseorang menjadi ada ketika ia sudah muncul, dan berkomentar.

Fenomena inilah yang kemudian dikenal dengan istilah simulakra. Seseorang menjadi lebih nyata dalam media sosial tinimbang orang itu sendiri di dunia nyata. Seseorang lebih dirasakan kehadirannya saat berkomunikasi di media sosial tinimbang saat bertemu langsung.

Saya bisa mencontohkan seperti ini: antara laporan pertanggung jawaban sosial perusahaan dengan kinerja sosialnya. Begini, laporan pertanggung jawaban sosial perusahaan tentu melaporkan hal-hal yang ideal dan baik-baik atas kondisi perusahaan sebagai alat legitimasinya. Tapi berbagai penelitian kritis di bidang akuntansi menunjukkan bahwa apa yang dilaporkan pada kenyataannya tidak terjadi di lapangan. Penelitian semiotika yang dilakukan oleh Ari Kamayanti dan dua rekannya tentang CSR yang berjudul Mengeksplorasi Kepedulian Lingkungan dan Sosial PT. AKR Corporindo Tbk. Melalui Laporan CSR, menyatakan bahwa aktivitas sosial perusahaan kebanyakan hanya sebagai upaya pencitraan belaka.

Saya semakin yakin, setelah seorang kawan saya yang meneliti laporan pertanggungjawaban sosial sebuah perusahaan tambang besar di negara ini mengungkapkan bahwa apa yang dinarasikan di laporan perusahaan jauh panggang dari api. Sayangnya, pihak pemerintah sebagai pengawas nyatanya lebih percaya pada kertas-kertas laporan perusahaan daripada suara-suara keluh masyarakat di sekitar lokasi pertambangan. Masyarakat ini memang menjadi bagian tidak penting kala urusan pembagian proyek dan pajak yang diterima negara dari perusahaan besar ini menjadi tandingannya.

Dari hulu ke hilir dalam struktur masyarakat negara ini sedang diciptakan dunia perwakilan yang lebih nyata dari aslinya. Saat dunia ini semakin menjadi-jadi, saat itu pula kita lebih peduli kulit ketimbang inti. Atau justru sedang atau sudah terjadi ya?

Rubrik Opini, Koran Fajar (Senin, 29 September 2014)