Tampilkan postingan dengan label A.S. Laksana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A.S. Laksana. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2015

Membaca dan Kejayaan yang Sesungguhnya


Saya mulai mengerjakan tulisan ini setelah membaca artikel yang ditulis A.S. Laksana di salah satu harian lokal, perihal kebiasaan membaca kita dalam bentuk negasi. Artikel dengan judul ‘Kejayaan Orang-Orang yang Tidak Membaca’ tersebut, membahas laku presiden kita yang kekurangan kosa kata tiap kali berpidato atau diwawancarai oleh pihak media. Hal ini terjadi, menurut A.S. Laksana, karena presiden kita kurang memiliki minat baca. Seperti kita tahu, salah satu dari sekian banyak keuntungan yang diperoleh pembaca adalah menjadi manusia yang lebih kaya kosa kata.

Masih menurut A.S. Laksana, dalam artikel lainnya yang terbit kira-kira awal tahun 2015, pendidikan kita memang telah gagal menanamkan minat dan kebiasaan baca pada masyarakat, khususnya pada anak-anak didik. Lagipula, orang-orang yang tidak membaca buku pun, nyatanya, bisa sukses dalam menjalani kehidupan−tergantung apa perspektif mereka tentang kehidupan. Orang-orang bisa menjadi ‘sukses’ sebagai apa saja tanpa hidup dengan dunia literasi.

Pengusaha yang kaya raya, politikus yang terpilih dua kali periode sebagai wakil rakyat, pegawai negeri sipil dengan gaji tetap, dan artis yang terkenal dengan harta berlimpah, bahkan seorang presiden, toh bisa hidup tanpa kegemaran membaca. Sadar atau tidak, kita sebenarnya tengah merayakan keberhasilan orang-orang yang kebanyakan tidak gemar atau bahkan tidak membaca buku sama sekali. Akhirnya, kita makin kehilangan daya dorong agar gemar membaca.

Kalau tidak salah, Plato−filsuf yang berguru dari Socrates sekaligus menjadi guru dari Aristoteles, mengatakan bahwa konsep negara ideal hanya dapat terealisasi jika golongan tertinggi dalam sebuah negara dipegang oleh para pemikir dan pecinta kebijaksanaan. Tentu saja, menjadi manusia pemikir dan bijaksana meniscayakan pengetahuan yang luas, yang salah satu jalannya adalah gemar membaca. Saya tidak yakin, untuk konteks saat ini, kita bisa menemukan manusia yang pemikir dan bijak, tanpa hidup dengan kebiasaan membaca.

Memang, bersepakat dengan A.S. Laksana, tidak sedikit orang-orang berjaya di Indonesia kini, tidak terlahir dari tradisi membaca. Belum lagi untuk sampai pada tahap ‘pembaca yang baik’. Tapi kita juga tidak bisa melupakan beberapa nama besar yang terlahir dari tradisi literasi, yang sangat layak menjadi panutan. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia; Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang menjadi calon kuat penerima penghargaan sastra kelas dunia sejak 1981; dan Buya Hamka, ulama dan sastrawan penerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Al-Azhar (Mesir) dan Universitas Kebangsaan (Malaysia) sekaligus, adalah tokoh yang hidup dengan tradisi membaca (dan juga menulis) yang terjaga hingga akhir hayat.

Mengagumkannya, bahkan di dalam penjara, ketiganya tetap menghabiskan nyaris seluruh waktu mereka dengan buku-buku. Di dalam penjara, kebebasan tetap diteguk lewat percikan pengetahuan dari buku-buku.

Sayangnya, mereka hanyalah sebagian kecil, untuk tidak mengatakan minoritas, dari orang-orang berjaya yang terlahir dengan ketekunan membaca. Jika demikian, barangkali masalahnya adalah, di negeri ini, orang-orang berjaya kerap kali dihargai dan dimuliakan karena perkara meterialistis dan pragmatis semata. Kekuasaan, jabatan, dan harta berlimpah berbanding lurus dengan seberapa tinggi seseorang dihargai dalam suatu masyarakat.

Menjadi pembaca yang baik, kalau boleh sedikit melankolis, barangkali memang menjadi seseorang yang siap melawan arus. Bisa jadi dianggap tidak kekinian. Bertahan dengan bertumpuk-tumpuk buku yang kadang kala menjenuhkan. Tapi bukankah memang, pembaca yang baik, mengutip Franz Magnis-Suseno, berarti “membiarkan diri ditarik keluar dari penjara perhatian berlebihan pada diri sendiri”.

Sebelas tahun silam, sebuah buku bertajuk ‘Bukuku Kakiku’ ditulis oleh orang-orang ‘besar’ yang barangkali masuk dalam kriteria “pembaca yang baik” ala A.S. Laksana. Beberapa nama dari mereka adalah Budi Darma, Mochtar Pabottingi, Remy Sylado, dan Yohanes Surya. Ada 24 manusia penggila buku yang menulis kisah mereka di kumpulan tulisan itu. Dari beberapa pembacaan saya, pada dasarnya mereka bukanlah orang-orang yang namanya tersohor dan dibicarakan oleh masyarakat umum dengan gegap gempita.

Karena membaca, meminjam kembali istilah Franz Magnis-Suseno, sebenarnya hanyalah “cara untuk membuatmu bisa melihat dunia [dan] manusia”, bukan untuk menjadi manusia yang dilihat, lantas terjebak pada definisi ‘kejayaan’ yang artifisial.


Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Rabu, 09 September 2015)

Jumat, 20 Maret 2015

Menulis Minimal Sebelum Tidur


Saya berhenti di halaman 44 saat membaca karya salah satu pemenang Nobel Sastra, Yasunari Kawabata, Snow Country. Tepat satu halaman sebelumnya pada novel terjemahan A.S. Laksana tersebut, Komako bercerita kepada Shimamura bahwa malam itu adalah malam ke-199 setelah terakhir keduanya bertemu. Shimamura terheran-heran. Kau menghitungnya? Tanya Shimamura kepada perempuan geisha itu. Ya, jawabnya. Tepatnya, dia menulis catatan harian setiap malam. Jadi dia tahu, sudah lembar ke berapa dia menulis sejak perjumpaan terakhir mereka bertemu.

Hal yang membuat saya berhenti pada halaman itu adalah ingatan yang tertaut dengan novel yang juga ditulis oleh penulis dari negeri yang sama, negeri Sakura. Adalah Haruki Murakami, yang juga dua tahun ini (2013 dan 2014) menjadi salah satu nominator pemenang Nobel Sastra. Novel terakhir yang saya baca dari Murakami adalah tentang seorang anak remaja muda yang mengaku bernama Kafka Tamura. Itu bukan nama aslinya. Ia kabur dari rumah, dan karena tidak ingin ditangkap polisi, ia membuat nama samaran. Saat kabur, dia memilih ke hotel untuk menginap. Selama menginap di hotel itu, setiap malam, Kafka menulis aktivitas hariannya. Mulai dari mengunjungi perpustakaan, hingga berolahraga di tempat gym.

Ada kebiasaan yang sama yang dilakukan tokoh utama Murakami ini, si Kafka, dengan tokoh perempuan geisha dalam novel Kawabata tadi. Iya, kedua-duanya menulis sebelum tidur.


Adakah yang penting dari kebiasaan ini? Tidak ada. Ini hanya semacam hobi yang dua tokoh ini lakukan. Semata karena mereka ingin menulis, ingin mengingat-ingat kejadian-kejadian yang dialami dalam rentang waktu sehari itu. Nah, kalau dua tokoh ini saja, yang tidak pernah punya minat tulisannya untuk dibaca orang lain (termasuk dipublikasikan di koran, disebarkan lewat dunia maya, dibagikan lewat situs jurnal dan artikel ilmiah atau bahkan hanya di blog pribadi, dikoreksi oleh pembimbing, diuji oleh penguji, dan atau diterima oleh penerbit) dengan rajinnya menulis setiap malam. Lalu bagaimana dengan kita yang menaruh harap orang lain mengerti jalan pikiran kita, menerima ide-ide kita, atau bahkan hanya sekedar menginformasikan kejadian-kejadian tertentu di sekitar kita, lewat tulisan?

Kamis, 28 November 2013

Sindrom 'Speakaholic'



Kita memiliki dua telinga dan satu mulut, maka banyaklah mendengar ketimbang buncah bicara. Kalimat tersebut adalah sebuah pesan bijak yang sudah sering diulangi. Namun, karena kebanyakan kita “tidak mendengar”. Pesan tersebut hanya sekedar melintas tanpa terefleksi dengan baik.

Kita lebih suka berbicara. Di mana-mana orang-orang sibuk berbicara. Di ruang kelas. bahkan di tempat ibadah, orang-orang senang mengobrol.

Lidah katanya, memang tak punya tulang. Konsekuensinya, orang-orang gampang mengeluarkan kata-kata yang tidak jarang hanya spontanisasi. Tidak memikirkannya terlebih dahulu, apakah perlu angkat bicara atau lebih baik diam saja.

Kondisi ini membenarkan sebuah tulisan dari Islah Gusmian, seorang penulis buku non fiksi yang mengkritik tatanan sosial dan birokrasi, yang berjudul Pantat Bangsaku. Menurutnya, masyarakat kita sedang mengidap satu sindrom yang ia beri nama “speakaholic”. Pengistilahan “homo sepakaholic” diartikan sebagai manusia gila bicara.

Dimulai dari kebanyakan pemimpin kita yang memang speakaholic, gemar berbicara di atas panggung. Bahkan, ada yang perlu mengikuti kursus untuk berpidato.

Pidato-pidato barangkali hanya sebuah formalitas yang berujung sandiiwara belaka. Naskah disiapkan sedemikian rupa oleh asisten pribadi menunjukkan betapa pentingnya kata-kata yang akan disuarakan.

Sindrom speakaholic juga menyebar di sekolah-sekolah. Para siswa berbisik-bisik saat pelajaran dan ribut-ribut pada jam istirahat. Guru-guru pun tak luput terjangkit sindrom ini. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, saat pelajaran menulis, guru-guru mengajarkannya dengan bercuap-cuap di depan para siswa. Para siswa diajar menulis dengan berbicara.

Lalu di tempat-tempat umum, hampir semua orang senang berbicara. Bahkan di dalam perpustakaan, kebisingan seharusnya tak ditemui, masih juga ada yang nakal berkasak-kusuk. Mereka bercerita dan bergosip, tanpa disadari menganggu pembaca yang lain.

Di televisi terlebih lagi. Suguhan berita dan program kehidupan artis, hampir dimiliki oleh semua stasiun. Para artis dimunculkan dengan proses tanya jawab yang padat dan lebih banyak tidak berisi. Mereka bahkan dengan senang hati bercerita lebih banyak dari yang ditanyakan oleh wartawan.

Hasil pemberitaan itu kemudian menyebar di seluruh nusantara. Maka jadilah berita artis tersebut bahan obrolan yang membuat penyebar dan pendengar berita untuk menghabiskan waktu mereka berjam-jam, memperbincangkan kehidupan orang lain.

Sindrom speakaholic ini menyiratkan bahwa masyarakat kita lebih condong merefleksikan apa yang dipikirkan dengan mengucapkannya. Kadang diucapkan terburu-buru, takut kehilangan ide. Kontradiksi dengan sebuah pesan yang diungkapkan oleh A.S. Laksana, “dekatkanlah tanganmu pada otakmu!”

Barangkali kesukaan kita pada hal yang cepat dan instan adalah salah satu penyebab sindrom speakaholic. Kita malas menuliskan sebuah ide. Kita tak mau bersusah payah mencatatnya dalam kertas kemudian menganalisanya kembali. Akhirnya, bukan pekerjaan dari tangan kita yang dekat dengan otak, tapi pekerjaan mulut kita.

Terlalu banyak orang berbicara, membuat kita pun harus menyediakan telinga untuk mendengar. Namun, ada berapa banyak yang memilih menjadi pendengar? Orang-orang senang berbicara, sibuk mencari bahan pembicaraan.

Sindrom ini pun akhirnya berdampak pada sedikitnya bacaan berkualitas yang tersedia di negeri ini. Sebab boleh jadi ide-ide hebat hanya tumpah dalam kata-kata yang tak sempat dituliskan.

Bisa dibayangkan bagaimana pengetahuan tentang perjuangan kemerdekaan kita akan bergitu kerdilnya, jika Bung Hatta mengidap sindrom speakaholic ini? Jika Pramoedya Ananta Toer hanya berimajinasi dan mendongengkan tetralogi buruhnya, tanpa pernah menuliskannya?

Kata orang, kata-kata akan hilang dan tulisan akan abadi. Sebagaimana ungkapan “verba volant, scripta manent”. Sepertinya kalimat tersebut cukup mengingatkan pada kita yang buncah bicara. Sekaligus mengingatkan diri kita yang sedikit menulis.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Rabu, 27 Nopember 2013).