Tampilkan postingan dengan label Anis Chariri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anis Chariri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2016

Tidak Ikut SNA


Beberapa hari lalu, saya menerima surel dari Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Pendidik (IAI KAPd) Jawa Timur. Masih tentang artikel saya yang akhir bulan lalu saya presentasikan di Jember dalam acara Konfrensi Regional Akuntansi (KRA) III. Mereka meminta (lagi) kesediaan saya untuk mengirim artikel yang sama ke perhelatan, yang katanya besar, di Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XIX di Lampung. Padahal, sebelumnya saya sudah mengirim surat ketidaksediaan untuk mengikuti acara tersebut. Mungkin panitia lelah, jadi surat saya sebelumnya tidak dibaca.

Awalnya, saya sempat girang mendapat surat dari panitia bahwa artikel yang sama akan diwadahi untuk diikutkan ke SNA. Berdasarkan surat dari panitia, KRA menjadi sarana peningkatan kualitas paper Pra SNA. Artikel yang diterima untuk dipresentasikan di KRA sendiri, ada 172 dari 363 artikel yang masuk ke panitia KRA III.

Oh ya, saya belum pernah mengikuti perhelatan SNA selama ini, mulai sejak menyandang status sebagai mahasiswa akuntansi yang unyu-unyu sampai akhirnya jadi dosen akuntansi yang sudah gampang lelah. Tahun lalu dan dua tahun lalu, sempat tebersit keinginan untuk ikut, tapi saya tidak mengirim artikel dan memang tidak menulis artikel. Tahun ini, setelah merampungkan artikel dan kebetulan ada permintaan untuk KRA, jadi saya kirim saja. Eh tahu-tahunya diminta ke SNA juga. Tapi, tetap saja, kemungkinan besar saya tidak ikut SNA Agustus mendatang. Loh?

Saya menulis artikel tersebut bersama dosen Undip, yang adalah dosen pembimbing S2 saya, Pak Anis. Meski sebenarnya, seluruh draf pertama artikel tersebut dikerjakan oleh saya, namun Pak Anis mereview dan menambahkurangkan isi artikel tersebut. Kalau tidak ada bantuan Pak Anis, saya mungkin masih menyimpan artikel tersebut di folder laptop dan tidak mengirimnya ke mana-mana. Karena itu, sebelum membalas surat panitia, saya menyampaikannya ke Pak Anis, dan seperti yang sudah saya curigai, Pak Anis tidak sepakat untuk mengikutkan artikel yang sama di dua konfrensi yang berbeda. “Tidak etis, Mba Andis”, kata Pak Anis.

Awalnya, seperti yang saya tulis sebelumnya, saya curiga Pak Anis tidak bersedia. Tahun lalu, pada perhelatan KRA II, ada salah satu pemakalah yang bahkan menggugat panitia karena mengirimkan artikelnya ke SNA. Saya jadi penonton saja, waktu di media sosial Facebook, dosen-dosen akuntansi memperdebatkan etis tidaknya mengirim artikel yang sama ke dua konfrensi yang berbeda (meskipun dengan perubahan artikel dari saran dan masukan saat konfrensi pertama). Saya sendiri belum membaca ketentuan-ketentuan terkait hal ini, juga tidak tahu menahu soal peraturan mempresentasikan artikel dua kali di tempat yang berbeda. Cuma di pikiran saya, kalau dipresentasikan dua kali, artinya ide atau gagasan lebih tersebar luas dan dengan demikian akan lebih baik bagi artikel kita karena mendapat masukan di dua tempat berbeda yang kemungkinan besar pesertanya juga berbeda.

Jadi kenapa akhirnya saya malah manut sama Pak Anis? Tentu saja karena pengalamannya di dunia riset akuntansi jauh lebih banyak daripada saya. Istilahnya, aku mah apa atuh!

Lagi pula, saya sendiri boleh dibilang tidak ngototan. Woles aja gitu. Apa sih yang saya cari? Kum? Jelas tidak. Saya sedang dan untuk beberapa waktu ke depan tidak berminat dan tidak peduli dengan kum dan kenaikan jabatan serta hal-hal lain yang terkait. Salah satu alasan terbesar ikut KRA juga untuk dapat pengakuan ilmiah kalau karangan saya itu dikerjakan sesuai metodologi penelitian yang benar. Mendapat legalitas bahwa tulisan saya bukan karya abal-abal. Yah, apa boleh buat, saya hidup di dunia profesi yang keilmiahan tulisan diakui dari publikasi jurnal dan konfrensi di sana-sini. Karena sudah saya presentasikan di KRA, ya jadinya sudah ilmiah dong? Itu sajalah!


KRA sebagai ‘alat’ memvalidasi tulisan, biar nanti yang baca yakin kalau saya tidak sedang ngawur. Jadi kalau saya menulis, ya menulis. Untuk berbagi pemikiran dan pengalaman yang saya anggap baik. Mugi-mugi ada manfaatnya. Nah, soal saya yang tidak ikut SNA, santai saja. Capek juga keluar kota melulu, apalagi kalau sendirian!

Sabtu, 16 April 2016

Berhenti Sejenak Menulis Artikel Ilmiah Bahasa


Saya sedang di bandara Cengkareng menuju Semarang saat mulai menuliskan catatan ini. Dua hari lalu, saya mengikuti Temu Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia di Universitas Mercu Buana, Meruya Selatan, Jakarta. Ini perhelatan ketiga yang sama yang saya ikuti. Perhelatan pertama saya absen karena sementara ujian pada waktu yang sama. Perhelatan kedua diadakan di Makassar. Waktu itu, lebih banyak karena ingin pulang kampung saja maka saya mengikuti acara ini. Perhelatan ketiga di Bali. Saya mengikutkan artikel yang awalnya merupakan tugas kuliah dan tidak dinyana malah jadi best paper dan diterbitkan oleh penerbit jurnal yang bekerja sama dengan penyelenggara acara. Perhelatan kali ini saya ikut kembali dengan mengirimkan artikel dari thesis saya sewaktu kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Lagi, artikel tersebut mengantar saya sebagai pemakalah terbaik di perhelatan ini.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

Saya langsung mengirimkan bukti sertifikat kepada dua supervisor thesis saya itu untuk mengabari dan memberi ucapan selamat atas capaian kami. Tentu saja karena mereka punya banyak kontribusi untuk perampungan penelitian yang saya kerjakan tersebut.

Balasan dari supervisor kedua saya, membuat saya kegirangan. Dia menulis : “We are proud for your achievement and results of our productive cooperation. Hope every success in the future.” Setelah berpuas-puas diri tersenyum membaca surel tersebut, saya akhirnya semakin yakin memutuskan untuk berhenti menulis artikel ilmiah bahasa sementara ini.

Setelah dari Jakarta, tiga hari berikutnya saya akan ke Jember untuk mempresentasikan artikel pendidikan akuntansi kritis. Artikel itu adalah hasil dari apa yang saya kerjakan bersama para mahasiswa di kelas yang saya ampu enam bulan terakhir ini. Artikel itu boleh dibilang merupakan salah satu bukti kongkrit, yang kata orang ilmiah, hasil belajar bersama kami di dalam dan di luar kelas. Artikel itu sekaligus akan menjadi penanda sebagai artikel terakhir yang saya tulis dalam bahasa hingga waktu yang tidak dapat saya tentukan.

Alasan berhenti sejenak karena melihat jumlah artikel yang saya hasilkan di awal usaha belajar menulis artikel ilmiah sepertinya sudah lebih dari cukup. Kalau saya menulis lagi, kualitasnya saya rasa tidak akan jauh beda dengan empat artikel yang telah saya tulis sebelumnya. Bukankah orang yang sama dengan hari kemarin adalah orang yang rugi?

Hal yang saya butuhkan saat ini adalah membaca lebih banyak jurnal. Saya harus mengakui betapa sedikit jurnal-jurnal baik yang saya baca satu tahun terakhir ini. Sejak tidak lagi kuliah dan disibukkan dengan tugas kampus sebagai dosen, saya lebih banyak membaca novel sebagai ajang balas dendam karena sewaktu kuliah tidak sempat membacanya. Tentu saja saya tidak ingin berhenti membaca novel. Hanya saja barangkali saya harus menyisihkan lebih banyak waktu untuk duduk membaca.

Melirik Standar Akuntansi Keuangan revisi 2015 yang saya pinjam dari kampus ditambah jurnal-jurnal yang diunduhkan oleh kawan baik saya dari Semarang, membuat saya merasa ironi dengan diri sendiri. Betapa saya butuh lebih sering mengingatkan diri sendiri untuk membaca banyak hal penting ketimbang mengeluhkan banyak hal yang sedang terjadi di sekeliling saya. Mengutip Eka Kurniawan, ketimbang mengeluhkan hal yang tidak kamu sepakati, kamu lebih baik melakukan hal yang menurutmu baik. Itu lebih produktif kan?

Minggu, 08 November 2015

Beberapa Jurnal Akuntansi [Kualitatif] yang Saya Baca Berulang Kali


Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca jurnal-jurnal kanon akuntansi, khususnya yang menggunakan pendekatan kualitatif, adalah berapa banyak bacaan yang dilahap oleh para penulis jurnal itu? Hasil-hasil penelitian Hines, Morgan, dan Tinker, misalnya. Saya selalu terperangah dengan kualitas tulisan mereka. Referensi-referensi yang mereka gunakan dalam artikel bisa dipastikan adalah referensi-referensi yang tidak semua peneliti akuntansi mau dan mampu membacanya. Di waktu luang, kadang-kadang saya menelusuri daftar pustaka artikel mereka, dan mencarinya dengan fasilitas akses gratis unduh jurnal yang disediakan di kampus. Untuk keperluan menulis yang baik, saya pikir penting untuk mencatat hal-hal baik yang dilakukan oleh penulis-penulis besar itu. Salah satunya adalah menelusuri bacaan-bacaan mereka.

Selain melakukan hal itu, karena kemampuan bahasa Inggris saya yang minim, maka saya memaksimalkan latihan menulis dengan membaca jurnal-jurnal berbahasa Indonesia. Untuk kepentingan penulisan tesis, tidak kurang dari delapan bulan lamanya saya menulis, 48 jurnal berbahasa Indonesia saya baca dan analisis teknik penulisannya. Ini tidak termasuk jurnal berbahasa Inggris, jurnal yang saya baca secara cepat, atau beberapa yang lain yang terbaca sepotong-sepotong karena saya hanya butuh beberapa bagian dari isi jurnal tersebut. Kadang saya membacanya sepotong-sepotong kalau ada penjelasan khusus yang saya butuhkan, dan kebetulan ada pembahasannya di jurnal tersebut. Atau jika saya hanya butuh hasil penelitiannya, maka saya cukup membaca abstraknya saja.

Beberapa dari 48 jurnal yang saya baca secara utuh untuk keperluan latihan, dengan senang hati saya baca lebih dari sekali. Ada yang sampai empat kali demi untuk mendalaminya. Beberapa jurnal yang saya tuliskan di sini bisa Anda anggap sebagai jurnal-jurnal yang saya rekomendasikan.

Pertama. Sebenarnya ini bukan jurnal, hanya artikel lepas yang ditulis oleh dosen pembimbing saya, Anis Chariri. Tulisan ini dibuat untuk keperluan latihan menulis jurnal ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Saya membacanya berulang kali sampai lupa berapa kali tepatnya saya baca. Saat saya menulis catatan ini, artikel tersebut masih berada di dalam tas saya. Pada waktu senggang, bahkan beberapa hari setelah saya diwisuda, saya masih membawanya ke mana-mana. Artikel ini sudah dimiliki oleh banyak mahasiswa Maksi Undip. Siapa pun yang ingin mulai belajar menulis penelitian kualitatif, artikel ini cukup sebagai dasar untuk menelusuri tema-tema apa yang perlu dipelajari lebih dalam lagi nantinya. Artikel ini berisi tentang bagaimana dan seperti apa penelitian kualitatif, juga beberapa penjelasan tentang metode-metode yang memungkinkan untuk digunakan. Jika ada yang berminat, artikel ini bisa dengan mudah di dapat lewat Google dengan judul “Landasan Filsafat & Metode Penelitian Kualitatif”.

Kedua. Jurnal yang ditulis oleh Akhmad Riduwan dengan judul “Etika dan Perilaku Koruptif dalam Praktik Manajemen Laba: Studi Hermeneutika-Kritis”. Pertama kali saya menemukan jurnal tersebut dari Pak Anis, dosen yang saya maksud sebelumnya di atas, di kelas Metodologi Penelitian. Dia memberikan dua jurnal, satunya contoh jurnal baik dan satunya contoh jurnal buruk. Saya penasaran dengan perbedaan kedua jurnal itu. Lalu saya membaca keduanya, dan pahamlah saya mengapa Pak Anis menyebut yang satunya baik dan satunya buruk. Contoh jurnal baik yang ditulis Akhmad Riduwan, sungguh keren. Sejauh pembacaan saya, belum ada penulis yang bisa menandingi ‘ketabahan’ tulisannya. Tidak meletup-letup, tapi berisi. Semua kalimatnya tersusun rapi, dan tidak ada satu pun kesalahan pengetikan yang saya temukan di jurnalnya─kesalahan yang menurut saya sulit dihindari oleh seorang penulis jurnal. Selain itu, data yang digunakan dan ditampilkan dalam badan teks begitu kuat dan terasa ‘pas’ penempatannya. Jawaban penelitian pun matching dengan pertanyaan penelitian─sesuatu yang krusial tapi kadang dilupakan oleh seorang peneliti. Sampai saat ini, saya baru berhasil membaca tiga jurnal dari Akhmad Riduwan, dan saya selalu menunggu hasil penelitian berikutnya dari penulis ini.

Ketiga. Hasil penelitian dari Sujoko Efferin & Felizia Arni Rudiawarni yang berjudul ‘Memaknai Perilaku Stakeholders dalam Adopsi IFRS di Indonesia: Tinjauan terhadap Aspek Kepentingan, Bahasa, dan Budaya’. Saya mencari jurnal ini karena penasaran dengan penulis pertamanya, Sujoko Efferin. Penasaran ini bermula saat bertemu dengannya di suatu forum di Bali. Dia datang sebagai seorang fasilitator. Cara menyampaikan materinya membuat saya tidak mau beranjak dari tempat duduk bahkan merasa enggan meninggalkan ruangan untuk keluar buang air kecil. Kualitas bicara dan kualitas tulisannya tidak jauh berbeda. Membaca jurnalnya membuat saya merasa kalau pada dasarnya jurnal akuntansi dengan pendekatan kualitatif tidak ada bedanya dengan pendekatan kuantitatif dari segi penemuan dan penyajian data. Selama ini, banyak pihak meragukan jurnal kualitatif karena menurut mereka penelitian ini terkesan subjektif [kata Denzin dan Lincoln (2009), memangnya adakah yang benar-benar objektif dalam penelitian sosial?]. Tapi di tangan kedua penulis jurnal ini (Efferin dan Rudiawarni), data yang disajikan terasa begitu ilmiah.

Keempat. ‘Integrasi Pancasila dalam Pendidikan Akuntansi Melalui Pendekatan Dialogis’ yang ditulis oleh Ari Kamayanti. Jurnal ini baru terbit pada September tahun lalu. Tapi saya telah membacanya sejak tahun 2012, kalau tidak salah ingat. Jurnal ini pernah membawa penulisnya sebagai penulis artikel best paper di Simposium Nasional Akuntansi. Versi yang terbit di jurnal (2014) terasa lebih matang. Ari Kamayanti, banyak menulis jurnal-jurnal kualitatif. Tapi di antara banyak tulisan dari hasil penelitiannya, jurnal inilah yang paling saya suka. Barangkali karena kecerdasannya membangun dialog di kelas─yang dijadikannya sebagai data untuk penelitian di tulisannya ini.


Kelima. “Predatory Pricing : Persaingan Harga Minimarket dan Gadde-gadde dalam Metofora Cerpen”. Tidak ada alasan lain saya memasukkan judul tersebut di daftar kelima ini, selain karena saya adalah penulisnya. Saya berharap Anda mencari dan membacanya. Terima kasih.

Selasa, 03 November 2015

Usaha Kecil untuk Hidup Lebih Dekat Bersama Keluarga



Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan setengah hari di Perpustakaan Daerah Semarang untuk menamatkan cerita Leo Tolstoy. Novel pendek pengarang Rusia itu diterjemahkan oleh sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer. Dalam keadaan kurang sehat, saya membaca tulisan Tolstoy seperti obat. Menyembuhkan. Ya, tulisan yang baik─yang diterjemahkan dengan cara yang juga baik, terbukti membawa dampak yang baik untuk pembacanya. Setidaknya begitulah yang saya rasakan, meski setelah membacanya saya harus diingatkan kembali dengan perut yang agak bermasalah.

Novel itu bercerita tentang Katie, seorang perempuan yang menikah dengan laki-laki yang usianya jauh lebih tua darinya. Masa-masa awal pernikahan mereka, seperti banyak cerita yang kita tahu tentang pengantin baru, adalah semata tentang cinta yang sedang berbunga-bunga. Setelah dua bulan menikah, Katie sudah merasa bosan dengan aktvitas yang sama setiap hari di rumah. Bangun, memasak untuk suami, menunggu suami pulang kerja, lalu tidur. Kepada suaminya dia sampaikan, dia ingin bergerak. Lalu suaminya yang pengertian ini, mengajak Katie berlibur ke kota. Di kota itu, Katie merasa lebih berarti. Kehidupan dan pergaulannya di kota membuat Katie merasa lebih dihargai, bukan lagi sebagai seorang perempuan yang berlindung di balik suaminya. Tapi permasalahan terjadi. Suaminya merasa tidak dihargai dengan kelakuan Katie. Maka sang suami memutuskan meninggalkan Katie yang tetap ngotot tinggal di kota.

Singkat cerita, Katie menyesali perbuatannya. Dia kembali ke rumah suaminya. Tapi keadaan sudah berbeda. Cinta keduanya tidak lagi sama. Katie akhirnya harus hidup bersesal diri karena menyia-nyiakan kebahagiaannya yang hakiki. Kebahagiaan sebagai seorang istri.

Apa yang dialami Katie tersebut, mengingatkan saya dengan seorang perempuan bernama Hasri Ainun Besari. Ya, dia adalah istri Habibie. Ainun adalah warna kontras dari Katie. Dia adalah perempuan yang menemukan kebahagiaannya di balik kebahagiaan suaminya. Dia adalah perempuan yang menemukan arti gerak dari cinta kasih yang dia berikan kepada Habibie.

***

Izinkan saya bercerita, yang mungkin akan panjang, tentang peristiwa yang terjadi dua hari sebelum saya membaca cerita Tolstoy itu. Malam itu, malam tasyakuran wisudawan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip. Saya mewakili teman-teman wisudawan ditunjuk membacakan sambutan wisudawan. Seperti yang sudah saya bayangkan, saya menangis haru karena membaca naskah sambutan yang saya buat tiga jam sebelum acara itu dimulai. Air mata saya tumpah karena mengingat dua orang laki-laki yang tidak hadir pada wisuda saya. Laki-laki pertama adalah bapak saya. Saya akan mengutip isi naskah pidato itu di sini :
Kepada laki-laki yang tidak sempat hadir di ruangan ini untuk menyaksikan wisuda saya karena beliau terkena strok ringan, dia adalah Bapak saya. Saya memanggilnya Etta. Seorang petani yang selalu setia menunggu saya di rumah untuk pulang. Dia adalah orang yang selalu mendukung setiap keputusan saya.


Setelah penyerahan piagam, acara selanjutnya adalah sambutan dari dekan. Saya sebenarnya malu dan sedikit menyesal sudah membacakan naskah sambutan yang sifatnya agak pribadi. Harusnya saya tidak perlu bercerita tentang kondisi orang tua saya. Dampaknya, dekan membahas isi sambutan saya. “Saat pertama kali masuk di kelas Mb Andis, Pak Anis sudah pesan. Ada yang namanya Andis di sana, diajak aja gabung di Undip… Undip gitu loh. Lima besar kampus top di Indonesia, kok ditolak. Akhirnya kita tahu dari sambutannya tadi, beliau ingin dekat dengan orang tuanya”.

Mendengar itu, saya hanya tersenyum simpul. Sesungguhnya saya juga ingin dekat dengan laki-laki kedua yang tidak hadir di wisuda saya.

***

Sehari setelah wisuda, bapak saya menelepon. “Bagaimana urusanmu? Kata mama kamu diminta tinggal di sana ya? Kalau saya, terserah kamu saja. Tapi bagaimana dengan suamimu?”

“Di Makassar saja. Di Makassar saya masih bisa berbuat banyak.”, jawab saya. “Ya, di Makassar saja kalau itu menurut kamu yang terbaik”, tutup bapak saya di telepon.



Saya jadi ingat peristiwa saat pertama kali, Pak Anis menawarkan saya untuk bergabung di Undip. Sehari setelah penawaran itu diberikan kepada saya, terpisah jarak yang jauh dari Semarang, di rumah saya sedang persiapan menyambut rombongan tamu besar. Setelah mendengar tawaran Pak Anis, saya menelepon mama saya di rumah. Saya menceritakan tawaran itu. “Jauh ya. Tapi terserah kamu”, kata mama saya. “Lalu bagaimana dengan laki-laki yang keluarganya akan datang ke rumah besok, Ma?”, tanya saya. “Tapi bukankah dia akan meninggalkanmu di tahun pertama pernikahanmu? Terima saja dulu. Nanti kan bisa pindah”, kata mama saya. “Tapi tidak selalu sesederhana itu, Ma”, jawab saya.


Saya menghubungi laki-laki itu. Meminta pendapatnya. Di ujung telepon, dia menyerahkan keputusan kepada saya. “Ya sudah, tidak usah diterima.”, saya memutuskan. “Kenapa?”, tanyanya memburu. “Biar kita bisa dekat”, tutup saya.

Demikianlah akhirnya, saya memilih tidak menerima tawaran yang membuat saya dihubungi oleh beberapa orang untuk memikirkan lagi keputusan saya itu. Keputusan yang membuat orang akan melihat saya dengan tatapan aneh seolah mau berkata “sayang ya, sudah ditawarkan kok ditolak”. Saya pernah menerima surel dari seorang dosen yang menyuruh saya shalat istikharah karena tidak menerima tawaran itu.

Sejujurnya, saya merasa tidak ada apa-apanya untuk tawaran itu. Kualitas saya, duh, jauh di antara dosen-dosen Undip. Pak Anis, dosen yang tidak kurang sebagai orang tua ideologi saya di kampus, entah bagaimana bisa, melihat saya dengan ekspektasi yang menurut saya berlebih. Tuhan benar-benar menutupi aib dan kelemahan saya di mata Pak Anis.
***
Memilih memutuskan untuk kembali menetap di Makassar, adalah perkara kompleks. Ada banyak alasan untuk memutuskan meninggalkan tawaran yang menjanjikan di Semarang, dan kembali ke Makassar dengan kesempatan mengabdi (sebagai dosen) yang masih samar. Seperti yang saya selalu pegang, memilih dengan sadar berarti bersiap dengan segala konsekuensi pilihan yang kita ambil. Dan dengan itulah saya tidak ingin dan semoga tidak pernah menyesal dengan keputusan saya. Mengutip sebuah pesan dari seorang guru: orang yang dewasa adalah orang yang tahu mana pilihan yang paling baik untuk dirinya. Bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Memutuskan menetap di Makassar, di kota suami saya menetap, tentulah tidak juga lantas menjadikan saya sehebat Ainun. Butuh proses yang panjang dan usaha tiada henti untuk menjadi sebaik-baik perempuan di mata suami. Hanya Tuhan dan suami saya yang tahu, betapa banyak keburukan dalam diri saya sebagai seorang istri. Tapi setidak-tidaknya, keputusan hidup bersama dengannya di kota yang sama, setelah dia menyelesaikan studinya kelak, adalah usaha kecil untuk menjadikannya istimewa. Usaha kecil untuk tumbuh dan hidup bersama.

Hidup dalam rumah yang sama, bagi pasangan suami istri, meski tidak selalu penuh bahagia, adalah jalan untuk mengusahakan kehidupan yang baik. Begitulah pesan yang ingin disampaikan Tolstoy lewat tokoh Katie dan suaminya barangkali. Seperti kalimat terakhir dalam novel tersebut : “Kebahagiaan suami istri hanya terdapat dalam rumah tangga dan keluarganya sendiri yang beres, teratur dan baik”.

Kepada laki-laki kedua yang tidak hadir di wisuda saya, saya ingin mengutip tulisan saya di ucapan terima kasih tesis saya: “Kepada Muh. Akbar Bahar, laki-laki yang telah, tengah dan akan menjadi teman berjuang dalam hidup. Saya kehabisan kata mendeskripsikanmu, kecuali “aku mencintaimu−mencintai ketabahanmu mencintaiku.”

*Catatan ini saya buat untuk merayakan cinta. Tiga bulan lalu, cinta kami lahir dalam rumah Tuhan. Tidak selalu mudah jalan panjang ini, tapi semoga segala yang tidak mudah itu membuat segalanya lebih indah dan layak untuk diperjuangkan.

Yours,
Semarang, 03 Nopember 2015 

Jumat, 08 Mei 2015

Dosen Juga Rocker


Judul tulisan ini berasal dari ucapan seorang dosen di tempat saya menempuh pendidikan tinggi. Apa yang disampaikannya itu, di kemudian hari, selalu saya ingat hingga hari ini. Tiap kali bertemu tenaga pendidik, baik guru, dosen atau bahkan seorang guru besar, yang merasa dirinya selalu benar, dalam hal ini tidak berupaya memahami dan menghargai pendapat orang lain, saya jadi terkenang ucapan dosen tadi.


Barangkali dosen dengan tipe merasa-selalu-benar lupa bahwa mereka adalah rocker, di mana rocker juga manusia. Bisa salah. Bebas untuk dikritik−dengan cara-cara yang baik dan benar, tentu saja.

***

Adalah Amir Khan, pemeran utama film Bollywood yang naik daun sekitar tiga tahun silam, 3 Idiots, pernah mengingatkan, bahwa tugas seorang dosen tidak berhenti pada tahap memberi, tapi juga bersedia menerima. Menerima ilmu dan pengetahuan baru yang berbeda dari orang lain, termasuk yang berasal dari para mahasiswanya sendiri. Juga memiliki keluasan hati untuk bersedia dikritik. Film ini, saya kira, layak direkomendasikan bagi setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan secara umum.

Dosen yang ada dalam film tersebut membanggakan aturan-aturan yang tidak membebaskan. Bagi sang dosen (yang merangkap sebagai rektor), pengalaman menjadikan kampus yang dipimpinnya sebagai salah satu universitas terbaik di India, menjadi bukti bahwa pola-pola yang ditempuh selama ini sudah berada pada jalur yang benar. Membangun habitus untuk hidup disiplin tanpa kenal toleran sama sekali, mengagungkan kompetisi (bukannya menularkan semangat belajar dengan cara mencintai belajar itu sendiri) dan menghilangkan unsur “hati” dalam proses interaksi dengan para mahasiswa.

Sekali waktu, dia menolak mentah-mentah karya seorang mahasiswa tingkat akhir, sebuah miniatur pesawat terbang yang dapat berfungsi sebagai kamera pengintai. Lebih memilukan lagi, dia menganggap remeh karya tersebut. Dia membuangnya ke tong sampah.

Tidak ada usaha untuk menghargai proses yang sudah dilakukan si mahasiswa. Karya yang tidak sesuai dengan ekspektasi sang dosen, layaknya remah-remah yang lebih pantas diperlakukan seperti sampah. Apa yang kemudian terjadi adalah, mahasiswa tadi stres, lantas memilih gantung diri di apartemennya.

Beginilah sistem yang telah dibanggakan oleh sang dosen, secara tidak langsung membunuh manusia yang terperangkap dalam sistem tersebut. Tidakkah ini mengingatkan kita dengan kasus beberapa siswa yang bunuh diri karena gagal melewati ujian nasional pada tahun-tahun silam di negeri ini?

Hal-hal demikian, bagi Amir Khan, adalah suatu bentuk penindasan dalam dunia pendidikan. Dia mengkritik habis-habisan pola-pola yang dilakukan oleh dosen tersebut. Baginya, kampus semacam itu hanya memproduksi mahasiswa layaknya mesin. Setelah lulus, menjadi siap pakai di pasar tenaga kerja.

Bagi Amir Khan, siswa harusnya lebih banyak memahami daripada menghafal. Siswa tidak boleh hidup dalam menara gading, yang berjarak dengan masyarakatnya. Siswa belajar karena mencintai pelajarannya, bukan karena ketakutan dihukum. Dan pendidik adalah seorang pembelajar, bukan subjek yang merupakan sumber kebenaran semata.

Saya jadi ingat dengan salah satu teman bergiat di Sekolah Rakyat KAMI (Komunitas Anak Miskin). Namanya Kadrina Rauf. Setiap kali ditanya tentang apa yang dilakukannya di sekolah bersama anak-anak, dijawabnya: “kami belajar dan bermain bersama. Kami semua adalah teman”.

Bagi Kak Gina−begitu kami memanggilnya, dia bukanlah subjek, bukan seorang guru yang datang mengajar di sekolah. Dia adalah seorang teman yang datang untuk belajar bersama adik-adik KAMI.

Saya menyadari, pelajaran yang saya dan teman-teman dapatkan justru lebih banyak dari apa yang coba kami bagi kepada anak-anak di sekolah KAMI. Lebih dari sekedar kesenangan saat belajar membaca, perkalian, mengaji, dan bermain bola hingga membuat layang-layang bersama.

Pada cerita yang lain, sekali waktu saat menjelang musim libur, dosen saya di Unhas memanggil saya secara pribadi. Usut punya usut, beliau sedang mengevaluasi proses belajar yang dilakukannya di kelas. Saya diminta berkomentar tentang proses belajar selama satu semester itu, apa-apa yang patut dipertahankan, apa saja yang dianggap tidak menambah kualitas pembelajaran, dan tidak lupa meminta ide untuk perbaikan di kelas berikutnya.

Tidak hanya saya (sebagai mahasiswa yang mengikuti kelasnya), ditanyai perihal seperti itu. Beliau melakukan hal yang sama kepada para mahasiswa yang diwalikannya.

Apa yang dilakukan sang dosen adalah sebuah upaya untuk mau mendengar, mau memperbaiki diri. Pengalaman mengenyam bangku sekolah, membuat saya cukup yakin, bahwa tidak banyak tenaga pendidik di negeri ini yang bersedia melakukan hal yang sama. Mau mengetahui isi kepala peserta kelas dan memberi ruang kepada [maha]siswa untuk bersama-sama menjalankan proses belajar yang dianggap baik. Membebaskan dan memanusiakan bukan?

Paulo Freire, lewat ide 'Pendidikan Kaum Tertindas'-nya, telah jauh-jauh hari mengingatkan, bahwa seorang pendidik sama sekali tidak boleh memainkan peran penindas di dalam kelasnya. Kalau nasehat Freire tersebut terlalu jauh untuk konteks negeri kita, coba yang dekat-dekat saja. Multatuli−salah seorang penggagas pendidikan di Indonesia, toh juga pernah mengingatkan, bahwa tugas manusia [sebagai seorang pembelajar] adalah menjadi sebenar-benarnya manusia.

Akhirnya, kepada para dosen yang selalu menyadari keterbatasannya sebagai manusia, dan karena itu jauh dari ucapan “pokoknya begini dan begitu”, saya ingin mengucap terima kasih. Tidakkah kita bersepakat bahwa laku menghargai cara pandang dan senantiasa mau belajar, adalah laku sebenar-benarnya pendidik?

***

Oh ya, dosen yang mengeluarkan pernyataan yang menjadi judul tulisan ini, tidak lain adalah dosen pembimbing penelitian tugas akhir saya saat ini. Saya memanggilnya “Pak Anis”, seorang pembimbing yang tidak pernah menganggap apa yang saya tulis sebagai remah-remah, dan senantiasa berbesar hati membuka ruang bagi ide-ide saya untuk bertumbuh. Negeri ini, saya kira, butuh lebih banyak tenaga pendidik sepertinya.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 09 Mei 2015)

Jumat, 09 Mei 2014

Kolektor Buku



Alkisah, seorang mahasiswa yang memasuki awal perkuliahannya, baru saja membeli empat buah buku untuk empat mata kuliahnya. Selain buku wajib, ia juga membeli beberapa buku penunjang. Karena kegemarannya pada sastra dan buku-buku kritis, maka tak lupa pula ia membeli beberapa judul untuk kedua jenis buku tersebut.

Apa yang dilakukannya adalah sedang berusaha memuaskan diri dengan berbagai pengetahuan dari buku. Namun sayangnya, setelah berminggu-minggu, buku-buku itu belum terjamah semua. Semangatnya untuk membaca tidak sebesar semangatnya saat membeli buku-buku itu.

Rupanya, seperti istilah masyarakat kita di Sulawesi Selatan, mahasiswa ini—yang adalah saya sendiri—terjangkit sindrom “panas-panas tai kucing”. Istilah ini untuk menyebut kondisi seseorang yang bersemangat di awal lantas melemah seiring waktu.

Beberapa kolektor buku bisa jadi adalah mereka yang senang ke toko buku hanya sebagai wahana eskapis, memilih toko buku sebagai tempat pelarian. Tidak heran kemudian jika kegiatan membeli buku merupakan wujud impulsif yang membuat buku yang terbeli teronggok tak terbaca.

Padahal, buku pernah menjadi sebuah barang yang sangat berharga dan dijaga pada masa Gelap Eropa, lebih dari 15 abad silam. Masa itu, seorang sarjana akan menulis surat kepada teman jauhnya lewat reruntuhan perang dan jarahan bandit-bandit hanya untuk menanyakan kalau-kalau ada buku yang dapat disalin dan dipinjam. Kisah ini dapat ditemukan dalam tulisan Gilbert Higet yang membahas tentang pentingnya sebuah buku pada masa yang disebutnya sebagai Zaman Kegelapan.

Jika pada zaman tersebut buku dikumpulkan untuk dilindungi sebagai sebuah benda suci, maka pada zaman ini, beberapa orang membeli buku karena alasan buku merupakan benda yang kolektibel. Thomas Frognal Dibdin, penulis kelahiran Inggris yang menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan megah di Althorp, mengistilahkan orang-orang seperti ini dengan nama bibliomania.

Dibdin menjelaskan bahwa ciri-ciri orang yang diserang wabah penyakit bibliomania adalah matanya nanar ketika melihat serangkaian huruf kecil yang dicetak miring pada katalog buku lelang ”unik dan langka”. Ini dijelaskannya dalam buku,“The Bibliomania”.

Penulis lain, Deidre Lynch turut mengecam pengidap bibliomania dalam tulisannya yang diterbitkan di website resmi artikel ilmiah Indiana University, “Wedded to Books: Bibliomania and the Romanitic Essayists”. Dan, saya sepertinya berpotensi untuk menjadi salah satu yang dikecam Dibdin dan Lynch jika berikutnya tidak lebih telaten mengingatkan diri sendiri untuk tidak kalap membeli buku saat berkunjung ke toko buku.

Salah seorang yang telah nyata mengidap bibliomania ini adalah ahli hukum asal Prancis bernama Boulard. Ia tergila-gila membeli buku hingga harus membeli tujuh rumah—sebagian orang bahkan mengatakan ada delapan—untuk menampung buku-bukunya. Hingga kematiannya, koleksi berjumlah sekitar 800-ribu jilid hanya ditumpuk tanpa dibaca.

Cerita lain datang dari seseorang bernama Baresford. Ia merasa tersinggung dengan istilah Dibdin yang digunakan untuk seseorang yang dianggap terjangkit penyakit bahkan kelainan bagi kolektor buku. Sebenarnya, bukan tanpa sebab bibliomania disebut sebagai penyakit. Pasalnya, seorang pakar kedokteran bernama Dr. John Ferriar, pernah menuliskan dalam puisi-puisinya bahwa bibliomania adalah hasrat liar, siksaan tiada akhir yang diidap manusia malang, pengidap penyakit buku.

Dibbin mengatakan bahwa menjijikkan ketika kegiatan mengumpulkan buku dilakukan dengan hasrat yang meledak-ledak tanpa tujuan intelektual yang jelas. Sepertinya memang memprihatinkan ketika kita tergila-gila dengan tumpukan kertas yang terjilid rapi, menghabiskan uang begitu banyak dan tidak mendapatkan pengetahuan darinya.

Ini membuat saya teringat dengan dosen saya, Anis Chariri—salah satu pakar metode penelitian kualitatif di Indonesia yang disertasinya sempat mendapat penghargaan dari Wollonggong University —pernah berucap bahwa buku tak lain hanyalah seonggok kertas. Bagi jebolan University of New South Wales ini, buku akan menjadi bermakna ketika kita memberikan interpretasi atas kalimat-kalimat yang ada di dalamnya.

Namun sayangnya bagi Baresford—penentang istilah Dibdin yang menyebut kolektor buku sebagai bibliomania—mengoleksi buku meski tanpa dibaca adalah salah satu perbuatan mulia. Mengoleksi buku adalah bentuk penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga, mereka yang sudi menghabiskan waktu dan tenaganya untuk menghimpun, merawat dan menjaga ribuan buku sebenarnya lebih patut disebut bibliophia—buku dan kebijaksanaan.

Sebenarnya ada banyak istilah lain untuk orang-orang yang dekat dengan buku, entah bermakna positif atau negatif. Sebut saja biblioholic, biblioklas, bibliocaust, bibliokleptomania dan bibiliofile. Apapun istilahnya, semoga kita sepakat bahwa yang terpenting adalah kegiatan memperoleh pengetahuan itu sendiri.

Buku hanyalah alat. Sehingga, menjadi percuma kegiatan membeli buku, jika tidak memperoleh pengetahuan darinya.

Ali bin Abu Thalib, khalifah muslim yang terkenal dengan kecerdasannya, pernah berpesan, “seseorang yang (selalu) menyibukkan dirinya dengan buku-buku, tidak akan pernah kehilangan ketenangan akalnya.”. Dan untuk kita ingat, sibuk membeli buku dan sibuk membacanya adalah dua hal berbeda.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 08 Mei 2014).