Tampilkan postingan dengan label M.Aan Mansyur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M.Aan Mansyur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Agustus 2016

Bagaimana Morgan Menulis Hingga Membuat Tulisannya Menjadi Raksasa Akuntansi Kualitatif?


Kalau tidak salah, di Bumi Manusia-nya, Pram pernah bilang bahwa sesuatu yang besar lahir dari syarat pengalaman yang luar biasa sulitnya. M. Aan Mansyur juga pernah menyatakan hal yang serupa, bahwa tidak ada sesuatu yang indah yang terlahir dari sesuatu yang mudah. Kira-kira seperti wejangan ini : pelaut yang hebat lahir dari terpaan ombak, bukan dari lautan yang tenang. Demikian juga dengan jurnal ilmiah, mestinya dia lahir dari kumpulan berbagai pengetahuan sebelumnya yang kemudian menghadirkan pengetahuan baru. Begitu bukan sih?

Dulu di kepala saya, jurnal yang kanon itu harusnya memunculkan banyak referensi, ngutip sana-sini pendapat dan hasil penelitian orang. Tapi Morgan mencungkirbalikkan pemahaman saya itu. Sebutlah artikelnya yang berjudul ‘Accounting As Reality Construction: Towards A New Epistemology for Accounting Practice’.

Pada halaman pertama di jurnal tersebut (abstrak dan sebagian pendahuluan), tidak muncul satu pun hasil penelitian sebelumnya sebagai pembanding. Bagaimana mungkin ini terjadi, sementara dulu waktu mengambil mata kuliah metodologi penelitian, saya selalu diwanti-wanti sama dosen bahwa pendahuluan minimal harus memuat latar belakang teoritis. Penelitian harus mengisi bagian pada badan pengetahuan (body of knowledge), atau bahasa kerennya turut menyumbang pengetahuan, dan karena itu seharusnya ada rujukan dari artikel sebelumnya yang menjadi penjelas tema mana yang kita bahas dan kekurangan penelitian mana yang dilengkapi oleh penelitian kita. Ok! Fix, saya bingung sama Morgan!

Mari lanjut ke halaman kedua. Pada halaman ini, pembaca malah disuguhi sebuah gambar dari seniman M. C. Escher ini :
Sumber : Google
Kualitatif gitu ya, apa aja bisa jadi datanya (kata orang begitu). Pada halaman kedua juga belum ada kutipan yang dimunculkan satu pun. Baru pada halaman ketiga, Morgan memunculkan empat referensi. Dari empat referensi itu, tiga di antaranya adalah referensi yang menggunakan namanya sendiri sebagai penulisnya. Nah kan, langsung menghantam ini sih jadinya. Pembaca mana yang tidak akan dibuat paham kalau Morgan sudah ahli di bidang yang ditulisnya tersebut dengan merujuk langsung pada tiga penelitian yang dihasilkannya sendiri sebelumnya? Alih-alih meremehkan tulisannya sebagai abal-abal atau asal bunyi karena pada halaman awal tidak ada satu pun kutipan, hanya dipenuhi argumen, berikutnya malah membuat pembaca harus tersenyum kecut dengan kecerdikannya memunculkan tiga hasil penelitiannya sebagai sodoran. Betapa Morgan sudah mendalami masalah yang ditulisanya itu jauh hari sebelumnya.

Lanjut ke halamana kelima, kembali tidak ada satu pun sumber yang dikutipnya. Baru kemudian pada halaman keenam (halaman keempat dari terakhir), Morgan memunculkan para pendahulu dan rekannya secara runut sebanyak empat belas referensi artikel dan buku. Sebutlah beberapa di antaranya berasal dari tulisan Paton, Littleton, Belakoui, Tinker, Gambling, dll. Siapa sih yang berani-berani mengaku sudah membaca dengan baik hasil penelitian akuntansi dengan pendekatan kualitatif tanpa pernah menemukan satu pun nama-nama itu sebagai rujukan?

Dengan hanya delapan halaman ditambah satu daftar pustaka, tulisan Morgan menjadi raksasa bagi penelitian kualitatif khususnya yang butuh penguat argumen terkait akuntansi sebagai realitas yang subjektif. Hayo, siapa bilang menulis jurnal bagus harus lebih dari dua puluh halaman? Menurut saya yang bacaannya belum banyak ini, benar bahwa Morgan tidak banyak mengambil referensi sebagai penguat argumen, namun kekuatan dari tulisan itu sendiri yang membuat artikel tersebut menjadi kanon hingga saat ini (tulisan tersebut terbit tahun 1988).

Morgan hadir ke belantara pengetahuan akuntansi yang sudah mapan dengan pemahaman bahwa akuntansi adalah sesuatu yang objektif dan bebas nilai dengan pernyataan “akuntansi yang subjektif dan bebas nilai itu mitos!”. Sangar tidak? Menurut Morgan, akuntansi terpengaruh oleh banyak hal. Budaya, misalnya, sangat berpengaruh pada bentukan akuntansi itu sendiri. Belakangan ini, semakin banyak penelitian yang membenarkan hal tersebut.

Dengan menggunakan gambar Escher di halaman kedua, Morgan mengajak pembaca berpikir tentang cara memandang realitas. Sebagaimana gambar Escher yang sedang menggenggam bola, gambar tersebut kita lihat sama persis seperti cara pelukisnya memandang. Pemandangan yang dilihat si pelukis kemudian digambar dan kita lihat bersama hasilnya sebagai sebuah gambar, sebuah realitas. Dengan demikian, apa yang kita lihat dari gambar tersebut, sedetail dan sebanyak apa pun yang kita tangkap, hanya sebatas cara pandang si pelukis yang menuangkannya dalam bentuk gambar. Katakanlah ada orang lain, sebutlah si B yang sedang berdiri 100 meter dari jarak si pelukis saat menggambar dan disuruh menggambar pemandangan yang sama dari tempatnya berdiri, tentu hasil gambarnya akan berbeda. Dan gambar itulah akuntansi, yang selalu dipertahankan sebagai sebuah kebenaran objektif. Padahal, setiap realitas terbentuk dari sebuah cara pandang tertentu. Beda cara pandang (beda tempat memandang dalam konteks gambar Escher), akan menghasilkan realitas yang berbeda. Pendeknya, "In a broad sense, all knowledge is a matter of perspective", ngono ik kata Morgan. Bukan kata saya loh ya, kata Eyang Morgan.


Akhirnya, bagaimana Morgan masih berdiri kuat di tengah-tengah melimpahnya penelitian akuntansi, tidak lain barangkali karena hasil pemikirannya yang menjadi dasar bagi hampir semua bangunan pengetahuan akuntansi yang memandang realitas akuntansi sebagai sesuatu yang dapat dikonstruksi. Pertanyaannya adalah, bagaimana Morgan bisa mencapai pemikiran tersebut, mealampaui pemikiran umum pada zamannya? Tentu bukan karena mengejar banyak kutipan ya, tapi melihat dari daftar pustakanya, bisa ditebak kalau Morgan membaca bacaan-bacaan terbaik pada zamannya. Aih, guru yang baik lahir dari guru yang jauh lebih baik. Penulis yang baik lahir dari melimpahnya bacaan dari penulis-penulis terbaik pula. Dan barangkali itu juga berlaku bagi hasil-hasil penelitian akuntansi, apa pun metode pendekatannya.

Rabu, 23 Maret 2016

Menjaga Semangat Membaca


Sepanjang saya melakukan pencatatan untuk melihat seberapa banyak dan buku-buku apa saja yang saya baca dalam sebulan, mulai dari awal tahun 2015, bulan Februari tahun ini tercatat sebagai bulan paling produktif bagi saya. Entahlah, apakah jumlah sembilan buku bisa dibilang banyak atau tidak untuk seseorang yang bergumul dengan kegiatan mengajar, dan dengan demikian memang harus banyak membaca buku. Mengingat pula saya tidak pernah mencari tahu dengan pasti berapa rata-rata buku yang dapat dibaca oleh orang-orang yang berprofesi sama dengan saya dalam sebulan. Namun, berhubung di bulan tersebut kampus sedang libur, saya pikir jumlah sembilan bukan sesuatu yang layak dibanggakan.

Malah, kalau berdiri di depan rak buku yang ada di rumah, semacam perasaan impulsif mendorong saya untuk membaca buku satu buku setiap hari secara rutin. Tapi ya tetap saja, hingga saat ini, saya tidak pernah mampu melakukannya secara konsisten dalam satu bulan. Buku-buku di rak tersebut masih banyak yang belum saya baca.

Dulu waktu kuliah, saya pernah melakukannya selama satu atau dua hari. Bahkan saya pernah melebihi target dengan menamatkan satu hari dua buku. Tapi itu hanya bertahan di hari itu saja. Besoknya, kekuatan membaca saya menurun lagi karena mengerjakan hal-hal lain yang berhubungan dengan tugas-tugas kampus.

Hingga saat ini, saya belum menemukan cara bagaimana agar semangat membaca tetap terjaga dengan baik. Hanya yang saya tahu dan bisa saya praktekkan, kalau saya mulai malas membaca, artinya saya mulai akan melakukan hal-hal bodoh. Saya benci menjadi bodoh, karena itu saya harus selalu membaca.


Saya tidak bisa menjadi M. Aan Mansyur yang hidup di perpustakaan dan menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk membaca buku yang dia mau. Juga saya bukan Prof Halide yang konsisten membaca 100 halaman per hari. Atau Jorge Luis Borges yang di saat matanya sudah hampir buta masih saja ngotot membaca. Tapi sebagai remah-remah, saya pikir, mencoba menelusuri jalan intelektual mereka, meminjam semangat membaca mereka, rasa-rasanya layak dilakukan.

Jumat, 05 Februari 2016

Saut Situmorang dan Buku Kritiknya


Sumber : Koleksi Pribadi

Barangkali setengah tahun, atau malah lebih, waktu yang saya butuhkan untuk membaca buku Saut Situmorang, ‘Politik Sastra’. Saat buku ini pertama kali sampai di kosan saya di Semarang tahun lalu, saya langsung membacanya. Semangat menggebu saat memiliki buku yang sudah lama saya incar dengan langsung membacanya, kerap kali saya alami. Namun sayangnya, semangat itu tidak berlangsung lama. Demikian halnya dengan buku Saut. Di tengah-tengah bacaan, saya mulai bosan dengan banyaknya kalimat kritik dan cacian yang dilontarkannya. Saya bahkan sempat berpikir, sepertinya Saut hidup hanya untuk mengurusi kebenciannya dengan sastrawan atau budayawan yang tergabung di Salihara dan Teater Utang Kayu.

Sampai kemudian saya menghadiri diskusi di Kafe Dialektika, Makassar (23/01/2016), yang mengusung tema ‘Solidaritas Makassar untuk Saut Situmorang’. Sepulang dari diskusi itu, saya mencari buku Saut di lemari. Dalam waktu tidak kurang sehari, sisa halaman yang belum saya tamatkan di waktu yang lalu, akhirnya tamat sudah. Ada yang berubah di pikiran saya setelah melanjutkan membacanya kembali.

Pada dasarnya, gaya menulis Saut, mengutip apa kata M. Aan Mansyur yang ditulis di Tempo (27/01/16)─Aan juga menjadi salah satu pembicara di diskusi yang diadakan di Kafe Dialektika itu, “Saut termasuk sastrawan yang gamblang dalam memaknai kata-kata”. Bagi orang-orang yang pernah membaca buku esai Saut yang baru saja saya tamatkan itu, saya pikir akan berpendapat tidak berbeda jauh dengan Aan. Lanjut Aan, “sejak kehadirannya [Saut] di jagat sastra Indonesia, telah membuat hati ketar-ketir banyak pihak, terutama mereka yang termasuk kategori sastrawan dan budayawan yang banyak melakukan perselingkuhan dengan kekuasaan. Apa yang dilakukan Saut selama ini tidak aman. Dia datang meruntuhkan hal yang sudah dianggap mapan. Ini yang membuat Saut menemui banyak masalah”.

Tindakan Saut untuk mengungkap perselingkuhan, bahkan sampai mengata-ngatai, beberapa  nama sastrawan yang dipuja-puji hingga kancah internasional, saya pikir sudah sampai tahap yang benar-benar berani─untuk tidak menyebutnya kelewat berani. Pandangan-pandangannya ‘liar’, dan tidak pakai ba-bi-bu. Saut langsung menjurus pada persoalan.

Apa yang ditulisnya, di beberapa halaman terakhir, juga membuktikan bahwa Saut tidak sedang dalam rangka membela kelompoknya, sastrawan yang tergabung di cybersastra, tapi Saut sedang membela kelompok sastrawan yang karyanya dianggap ‘remah-remah’ namun sebenarnya punya kualitas yang tidak kalah, bahkan jauh lebih baik dibanding karya mereka yang sudah terlanjur dianggap hebat. Salah satu pembelaannya, misalnya, kenapa pada umumnya penilaian suatu karya sastra di Indonesia yang dianggap artistik dan bermutu, selalu yang menyentuh sastrawangi? Kenapa yang disebut karya bermutu kebanyakan yang mengeksploitasi seks, yang ditulis oleh juga perempuan “cantik”, muda dan “buka-bukaan”? Bagaimana, misalnya, dengan fiksi para pengarang Forum Lingkar Pena yang berjilbab itu? Jadi apa sebenarnya yang jadi ukuran untuk menilai karya sastra? Siapa yang menentukan standar-standar ini?

Rentetan pertanyaan itu, dijawab Saut dalam bukunya. Tidak hanya soal politik sastra, Saut juga membahas tentang rendahnya kualitas kritik sastra di Indonesia, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh kritikus Belanda, A Teeuw. Kritik sastra yang ada di negeri ini, bagi Saut, tampak seperti tulisan resensi belaka.

Menurut Saut, selain persoalan isi, bentuk kalimat, dan hal-hal yang terkait dengan esetetika tulisan, ada yang lebih penting dibahas dalam sebuah karya fiksi oleh seorang kritikus. Saut, sepaham dengan Katrin Bandel─kritikus yang tidak lain adalah istri Saut sendiri, menganggap bahwa kritik sastra juga harus menyentuh wilayah kedalaman dari sebuah karya. Dalam bukunya, ‘Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas’, Katrin Bandel menulis bahwa karya sastra dapat berangkat dari cerita non-fiksi berupa ilmu sains, sejarah, kebudayaan, bahkan luruh dalam ideologi penulis karya itu sendiri. Wilayah-wilayah tersebutlah yang seharusnya juga ada dalam catatan kritis seseorang yang mendaku kritikus sastra.

Apa dan kenapa Eka Kurniawan, bisa menulis cerita tentang makhluk supranatural? Konteks negara di mana Eka tumbuh menjadi penulis, tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat akan adanya kekuatan-kekuatan supranatural seperti di novel ‘Lelaki Harimau’-nya itu. Pada masyarakat Bugis, misalnya, banyak orang percaya bahwa calon bayi yang berada di dalam rahim seorang perempuan, yang tiba-tiba saja menghilang sebelum dilahirkan, kelak akan lahir sebagai seekor buaya. Kejadian dan kepercayaan seperti ini, hidup dalam novel Eka Kurniawan. Seorang kritikus berusaha memahami hal-hal demikian. Mengapa sebuah karya sastra bisa hadir dengan jalan cerita dan tokoh-tokoh yang dipilihnya. Bacaan-bacaan apa yang dibaca penulis dan kekuasaan macam apa yang menentukan jenis bacaan yang mampu dijangkau penulis, pun bisa jadi bahan analisis bagi seorang kritikus sastra.

Kalau Saut Situmorang mampu menulis berbagai pandangan dan sikapnya tentang penulis-penulis dan tulisan-tulisan mereka yang tidak disenanginya, Eka Kurniawan, sependek pengetahuan saya, punya pandangan lain soal ini. Dalam jurnalnya, Eka menulis bahwa kebanyakan dari kita terlalu banyak berantemnya, dan itu kontraproduktif. “Sebenarnya begini, bagi saya simple aja. Kalau tidak suka dengan novel-novel yang kita tidak suka ya nggak usah dibaca. Kalau kita punya standar estetika sendiri, ya kita tawarkan. Misalnya saya sendiri banyak tidak suka dengan beberapa genre dalam sastra, misalnya novel-novel populer tidak terlalu menarik bagi saya. Tapi daripada saya berdebat dan kemudian kita ngomong novel seperti itu harus dilarang karena tidak mendidik dan sebagainya, itu malah kontraproduktif.”


Tentang keberanian bersuara, kita tidak dapat meremehkan apa yang dilakukan oleh Saut. Tidak banyak sastrawan yang barangkali mau menanggung keonsekuensi tindakan melawan komunitas sastra yang sudah ‘besar’ di negeri ini. Namun dalam banyak hal, saya selalu suka dan akhirnya bersepakat dengan Eka Kurniawan. Termasuk tindakannya, seperti apa yang dia tulis, “Bagi saya lebih [baik] kita cari novel yang kita suka dan kita menulis novel yang kita maui, itu malah produktif.” Tapi bisa jadi, menulis esai kritis tentang ‘Politik Sastra’, itu juga sudah jalan produktif bagi Saut.

Selasa, 19 Mei 2015

Sylvia Plath dan Hal-hal Menyenangkan yang Harus Dilakukan




Desember 2011, “The Bell Jarr” Sylvia Plath diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Pada masa itu, saya  belum tahu-menahu, oh jangankan Sylvia Plath, sastrawan di Indonesia saja belum begitu banyak yang saya tahu. Bacaan saya, meminjam istilah Eka Kurniawan, termasuk lambat bertumbuh.

Saya sering membaca nama Sylvia Plath di beberapa ulasan tentang penulis puisi yang difavoritkan. Sekitar sepekan lalu, saya membaca “Melihat Api Bekerja” milik M Aan Mansyur, dan kembali menemukan nama Sylvia Plath di sana. Penasaran, saya memutuskan memanfaatkan fasilitas Google untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Sylvia Plath dan karya-karyanya.

Rupanya, dia tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tapi juga penulis novel. “The Bell Jar” adalah satu-satunya novel yang ditulisnya, dan pada awalnya diterbitkan dengan nama samaran, beberapa pekan sebelum ia memutuskan bunuh diri. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa, dan pada sampulnya Ahmad Tohari menyatakan novel ini pantas disebut sebagai salah satu novel terbaik yang pernah ditulis. Selain sebagai penulis, perempuan kelahiran Boston, 1932, ini kalau tidak salah juga pernah bekerja sebagai pustakawan (saya lupa membacanya di mana).


Meski termasuk telat membaca karya penulis yang wajahnya banyak dikagumi lelaki ini, sejujurnya saya tidak begitu menyesal. Pada masa seharusnya saya membaca novelnya, kalau boleh beralasan, saya sedang disibukkan dengan hal-hal menyenangkan yang lain. Salah satunya, menjadi teman di Komunitas Sekolah Rakyat KAMI. Lagi pula, di novel ini, Sylvia Plath memberi wejangan itu saya kira: kau harus melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia, itu terutama. Bagaimana bisa kau membagi kebahagiaan kepada yang lain, kalau kau sendiri tidak bahagia? Sayang sekali, Sylvia Plath pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri di usianya yang masih terbilang muda. Yah, soal wejangan, paling susah memang menasihati diri sendiri sih ya.

Jumat, 08 Mei 2015

Menduga-duga “Semusim, dan Semusim Lagi”





Dalam penempatan tokoh-tokohnya, dan belajar dari karakter-karakter yang dibentuknya, saya bisa secara semena-mena menyatakan bahwa penulis “Semusim, dan Semusim Lagi” sedikit banyak dipengaruhi oleh penulis Jepang yang dua tahun ini masuk dalam nominasi Nobel Sastra. Kalau mau lebih tepatnya lagi, novel besutan pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini mengingatkan saya pada karya Haruki Murakami, “Kafka on the Shore”.

Kita bisa meraba-raba kemungkinan itu dengan menyama-nyamakan penokohan yang muncul pada kedua novel tersebut. Seorang anak sulung yang hidup dengan orang tua tunggal, namun terasa seperti orang asing. Anak remaja itu kemudian meninggalkan rumah tanpa izin. Tujuan kaburnya untuk mencari orang tua tunggalnya yang lain, yang telah meninggalkannya sejak dia bahkan belum mampu melakukan proses mengingat dengan baik−untuk menyimpan kenangan dengan orang tuanya tersebut. Dalam proses pencarian anak itu, permainan konflik muncul dengan intens. Dan ya, jangan lupa, baik novel Haruki, pun novel ini, kucing muncul dalam cerita. Meski Andina lebih memilih ikan emas koki dibanding kucing sebagai “tokoh” yang menemani “aku” pada sebagian besar kisahnya.

Dugaan saya perihal pengaruh karya Haruki terhadap karya Andina Dwifatma menjadi lebih kuat setelah membaca pengumuman UWRF 2015 (saya membuka HP dan secara acak menemukan pengumuman ini saat jeda membaca novel Andina). Potongan isi surat Pertanggungjawaban Kuratorial UWRF yang disusun oleh Eka Kurniawan, M. Aan Mansyur, dan Ketut Yuliarsa itu berbunyi : “... kita bisa melihat beberapa di antara mereka [16 penulis terpilih UWRF 2015] dengan cekatan menulis cerita ala Haruki Murakami... ”. Dan, ‘beberapa’ yang dimaksud kemudian diperjelas dengan penjelasan, “[h]al ini terlihat misalnya dalam karya-karya ... [salah satunya] Andina Dwifatma ... ”.

Hal yang menarik dari penjelasan para kurator UWRF, bahwa meski dipengaruhi oleh penulis Jepang, mereka tetap mampu menceritakan hal yang berbeda dengan penulis Jepang tersebut. Untuk karya Andina, “Semusim, dan Semusim Lagi”, ‘hal berbeda’ yang dimaksud dengan sangat gamblang terjelaskan lewat judulnya. Pemilihan judul “Semusim, dan Semusim Lagi” dicomot dari puisi Sitor Situmorang, “Surat Kertas Hijau” (1953).

Andina memetik idenya dari puisi sastrawan Indonesia, dengan meminjam berbagai teknik menulis, salah satunya dari Haruki Murakami. Eka Kurniawan mengangkat cerita tentang kehidupan pada akhir masa kolonial pada novel “Cantik Itu Luka”-nya, dipengaruhi Gabriel García Márquez. Dan beberapa penulis keren, juga menempuh cara yang sama.

Mereka, para penulis yang baik itu, membaca karya-karya penulis yang dianggapnya keren, dan belajar dari sana. Dan ini lah pola yang saya pelajari dari membaca karya-karya mereka.


Kalau kita mau terus belajar, selalu ada hal-hal menyenangkan yang bisa dipelajari dari karya-karya yang baik. Pertanyaannya, bersediakah kita terus belajar ?

Kamis, 27 November 2014

Pesan Seperempat Lusin Laki-laki Jika Kamu Merasa Bodoh



Jika Anda merasa bodoh, bacalah buku. Tapi jika Anda merasa sudah pintar, Anda butuh membaca buku lebih banyak lagi!


Siapa pun pengikut lini kala M. Aan Mansyur (@hurufkecil), kemungkinan besar sudah familiar dengan pesan di atas. Saya sengaja mengatakan pengikut, bukan pembaca. Sependek bacaan saya, Aan belum pernah menarasikan secara tersurat pesan tersebut di tulisan-tulisannya, baik fiksi mau pun non-fiksi. Jadi jika Anda pernah menemukannya, maka bacaan Anda mungkin lebih banyak dari saya.

Sederhana saja sebenarnya yang ingin disampaikan Aan, teruslah membaca. Tapi cara mengungkapkannya, cukup efektif sebagai upaya menghantam kepala orang yang selama ini sok pintar, merasa telah membaca banyak buku. Sepertinya saya cukup sepakat dengan pernyataan yang entah siapa, yang mengatakan bahwa Aan adalah tipe penulis yang menerbangkan ide besar dengan menggunakan pesawat kecil.

Jika Anda punya waktu yang cukup, ada baiknya baca juga jurnal-jurnal Eka Kurniawan. Eka adalah sastrawan yang diakui Aan di salah satu Kolom Literasi Koran Tempo Makassar sebagai penulis Indonesia yang paling disukainya. Saya tidak menuliskan alamat lengkap jejaring Eka di sini, sebab jika Anda benar-benar serius ingin membaca tulisannya, dengan pintar Google akan menginformasikan alamat tersebut.

Di kumpulan tulisan daring milik Eka itu, hampir setiap tulisan yang ada, tidak berlebihan jika dikatakan mampu menggedor kesadaran pembaca untuk lebih rakus membaca. Paling tidak, begitu yang saya rasakan setelah menelusuri tulisan-tulisan Eka hingga beberapa tahun belakangan.

Tentu saya tak bermaksud menyampaikan bahwa saya kini lebih rakus. Sebab nyatanya, saya justru merasa mundur jauh ke belakang setelah membaca jurnal-jurnal Eka. Pasalnya, saya coba bandingkan kebiasaan membaca saya untuk satu buku, paling cepat, saya mampu menghabiskan dalam waktu satu hari untuk buku tipis sementara Eka hanya butuh empat jam saja. Duh!

Saya mampu membaca tidak kurang delapan buku dalam sebulan, sesibuk apa pun. Tegas Eka di jurnalnya.

Membandingkan diri saya yang amatiran ini dengan dua penulis sekaliber Aan dan Eka, sebenarnya tak lebih dari sekedar upaya untuk tidak terlihat lebih pemalas. Sebab ada penulis-penulis hebat, yang nyatanya bisa lebih mengenaskan kebiasaan membacanya.

Kita sebut saja Jorge Luis Borges. Ia hampir menghabiskan masa tuanya dengan mata yang nyaris buta karena kegilaannya membaca hampir semua buku di perpustakaan tempat ia bekerja. Saya tidak tahu, ini benar-benar benar atau tidak. Ini hanya kecurigaan Eka, yang ditulis di jurnalnya. Dalam salah satu tulisan Eka, ia bandingkan dirinya dengan sosok Borges yang dikaguminya.

Benarlah Paulo Freire, yang mensyaratkan kerendahan hati sebagai salah satu syarat untuk belajar. Belajar untuk menjadi sebenar-benarnya manusia. Untuk merawat semangat membaca, membandingkan diri dengan salah satu penulis favorit adalah jalan yang ditempuh Eka.

Jika Anda tidak mau meniru kebiasaan Borges yang mengundang bahaya itu, coba yang dekat-dekat saja. Sapardi Djoko Damono misalnya. Penulis yang dikagumi Aan ini, sulit untuk tidak meyakini bahwa ia bukan seorang pembaca akut.

Pada awalnya, Aan juga membandingkan dirinya dengan mantan Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia tersebut. Selanjutnya Aan menelusuri bacaan-bacaannya, berusaha membaca semua buku-buku yang dicurigainya pernah dibaca Sapardi.

Cukup mudah untuk menarik kesimpulan, baik Aan maupun Eka, menjaga dirinya dari kemalasan dengan melirik kebiasaan membaca penulis yang mereka kagumi. Mengetahui seseorang telah membaca lebih banyak dari diri sendiri, cukup efektif untuk membuat diri merasa atau paling tidak sadar bahwa diri sendiri tidak ada apa-apanya. Setidaknya bagi saya begitu. Dan saya curiga, sebenarnya saya memang butuh untuk senantiasa merasa seperti itu. Atau jika dengan cara itu, saya bisa sedikit lebih malu untuk tidak bisa tidak belajar. Dalam hal ini, tidak bisa tidak membaca.

Pada titik ini, nasehat lama anak sulung dari perempuan yang saya panggil ‘ibu’ tiba-tiba saja menjadi bertuah: kita butuh orang-orang yang pintar merasa, bukan merasa pintar. Merasa jauh dari kepantasan adalah jalan untuk tidak merasa pintar, setidaknya itu juga bisa jadi cara yang baik untuk menjaga kita dari keangkuhan pengetahuan.

Dan izinkan saya menarik benang merah dari pesan tiga laki-laki yang tulisan-tulisannya saya sukai itu: Aan, Eka dan kakak saya. Kira-kira bagaimana kalau saya tuliskan, sebenarnya mereka hendak berpesan begini: kita boleh [dan sepatutnya untuk] merasa bodoh, tertinggal jauh di belakang. Namun satu hal, kita tidak boleh berhenti untuk terus belajar. Anda sepakat?

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 28 Nopember 2014)

Jumat, 31 Oktober 2014

Meminjam Kacamata Penerjemah



Membaca terjemahan, seperti meminjam kacamata penerjemah. Seorang penerjemah punya latar belakang pengetahuan, kemampuan memahami kalimat, serta keluasan kosa kata yang berbeda-beda.

Selain itu, motivasi melakukan penerjemahan dari seorang penerjemah pun berbeda-beda. Motif ekonomi dan motif kesenanganan, atau penggabungan keduanya, akan memberikan dampak pada 'rasa' buku yang diterjemahkan. Karenanya, kualitas hasil kerja mereka sangat bergantung dari kapabilitas, juga motif mereka.

Kualitas terjemahan yang buruk secara otomatis membuat citra buruk pula dari karya yang meski dalam bahasa aslinya adalah gemilang. Seperti yang dikatakan Ben Anderson kepada Eka Kurniawan: terjemahan yang buruk akan memberi kesan yang buruk terhadap karyamu.

Novel klasik karya Kawabata cukup menarik untuk dijadikan contoh kasus. Novel dengan judul asli 'Utsukushisa To Kanashimi To' ini diterjemahkan dalam edisi Bahasa Inggris sebelum akhirnya diterjemahkan dalam edisi Bahasa Indonesia. Jadi, sebelum meminjam kacamata penerjemah Indonesia, lebih dahulu kita dipaksa menggunakan--mau tidak mau--memakai kacamata Howart Hibbert, yang terbit dengan judul 'Beauty and Sadness'. Novel yang terbit semacam ini, seumpama memakai kacamata berlapis-lapis. Itu adalah risiko bagi pembaca seperti saya yang tidak menguasai bahasa lain selain bahasa Ibu (bahasa Bugis) dan Bahasa Indonesia, tentu.

Setelah melalui penerjemahan yang panjang, di Indonesia, novel ini selanjutnya diterbitkan dan diterjemahkan oleh dua penerbit dan penerjemah yang berbeda pula. Meminjam istilah Umberto Eco, teks adalah sebuah karya yang terbuka, oleh karenanya pemaknaan atas teks menjadi terbuka pula. Maka, semakin panjang garis distribusi terjemahan sebuah karya, semakin lebar pula makna yang dihasilkannya. Atau boleh dibilang, maknanya kian menganga.

Belum lagi, latar budaya yang kemungkinan besar berbeda antara tiga pelaku utama: penulis, penerjemah dan pembaca. Kompleksitas pemaknaan sebuah teks menjadi lebih tinggi kadarnya saat teks itu harus dipahami oleh pembaca yang berasal dari kebudayaan lain. Pernyataan Benny H. Hoed−peneliti karya terjemahan Indonesia−tersebut mengukuhkan pernyataan Nord, seorang pakar di bidang penerjemahan, bahwa proses penerjemahan adalah 'a process of intercultural communication.'

Kembali tentang novel Kawabata, pertama kali, saya mendapatkan terjemahan tersebut digarap oleh Asrul Sani, dengan judul Keindahan dan Kepiluan. Berselang satu hari, di perpustakaan yang sama, saya menemukan novel itu lagi dengan frase judul yang berbeda, Keindahan dan Kesedihan. Kali ini diterjemahkan lebih segar oleh Sobar Hartini.

Dari penampakan sampulnya, dengan mudah dapat dibedakan terjemahan mana yang lebih dahulu terbit. Terlebih jika membaca isinya, karya terjemahan Asrul Sani, sentuhan sastra lama berseliweran di mana-mana. Dalam beberapa frase, masih dapat ditemukan ejaan lama, seperti 'tilpon' dan 'daripadanya'. Jadi, jika hanya berkepentingan menikmati cerita Kawabata, saya merekomendasikan terjemahan Sobar Hartini untuk Anda baca. Bahasanya lebih mudah dicerna.

Berbeda halnya jika Anda punya kepentingan lain, meneliti jejak karya sastra dan atau terjemahan misalnya. Atau misalnya lagi Anda penggemar karya Asrul Sani, maka mau seberat apapun kata-katanya dicerna, Anda jelas akan lebih memilih terjemahan karya Asrul Sani.

Singkatnya, seorang pembaca karya terjemahan juga punya motif dan kepentingan yang berbeda-beda pula. Persis seperti saat saya meminjam kacamata teman sekelas. Waktu itu penglihatan saya agak bermasalah akibat kebiasaan buruk membaca tidur. Selepas menggunakan kacamatanya, kepala saya justru sakit. Kesimpulan: saya tidak cocok dengan kacamata itu.

Karya terjemahan dari kacamata penerjemah akan mempengaruhi selera Anda untuk kemudian menghukumi suatu tulisan bagus atau tidak. Secara tidak langsung, Anda sedang menghukumi tukang penerjemahnya, cocok atau tidak dengan selera Anda.

Maka demi untuk tidak menggunakan kacamata, saya memutuskan mengobati mata saya dengan bantuan penjual jus depan kampus. Sesering mungkin saya membeli jus wortelnya. Mata saya agak lebih baik. Saya bisa membaca tanpa harus repot-repot ke optik demi untuk menguji seberapa tinggi tingkat minus-plus yang saya butuhkan dari sebuah kacamata.

Mungkin sama seperti kalau tak ingin menggunakan kacamata penerjemah, maka tidak ada cara lain kecuali menguasai bahasa asli karya tersebut. Tapi tentu saja, Anda harus lebih giat dan usaha yang diperlukan mungkin lebih lama dari sekedar usaha saya meminum jus wortel!

***

Ngomong-ngomong tentang penerjemahan. Tanggal 1 Nopember ini, selain adalah tanggal kelahiran Masehi saya, salah satu penulis Komunitas Literasi Makassar hendak meluncurkan buku puisinya, yang sependek pengetahuan saya adalah karya pertamanya yang diterjemahkan dalam bahasa luar. Kelahiran buku tersebut, kabarnya, dirayakan di Malaysia. Tahniah Kak Aan!

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 31 Oktober 2014)

Minggu, 25 Mei 2014

Penjara Murah[an]



Adalah Jeremy Bentham, seorang filsuf Inggris abad ke-16, penabur benih tumbuhnya istilah Panapticon. Nama Bentham akan sering ditemukan bersandingan dengan J.S.Mill, Priestly dan Locke, sebagai penganut paham utilitarianisme—pandangan tentang tindakan benar salah yang didasarkan konsekuensi atas kebahagiaan manusia.

Pemikiran Bentham dikenal lewat tulisan-tulisannya yang kemudian laris dalam bentuk buku: “An Introduction to the Principles of Morals and Legislation”. Buku tersebut banyak mengkaji tentang nilai moral dan keadilan. Setidaknya begitu yang ditulis oleh James Garvey dalam bukunya, The Twenty Greatest Philosophy Books.

Tidak banyak yang tahu perihal buah karya Bentham di luar tulisan-tulisannya. Bahwa selain mengkaji dan menulis filsafat dan teori hukumnya, Bentham pun mendesain rumah-rumah serba guna, sistem-sistem pemanas dan unit-unit pendingin, alat bukti catatan bank palsu dan merancang penjara Panaptic.

Panaptic merupakan sebuah penjara yang dirancang Bentham dengan konsep menjaga penghuni tahanan di bawah pengawasan terus-menerus dengan hanya sedikit penjaga. Ide ini datang dalam rangka membantu pemerintah yang berkuasa untuk merancang model penjara murah.

Panaptic menekan biaya pengawasan dengan berbekal beberapa orang pengawas yang dapat memantau banyak tahanan dari luar penjara. Para tahanan tahu bahwa kegiatan mereka sedang diawasi, namun mereka tidak tahu di mana para pengawas itu berada. Hal ini membuat tindakan mereka terbatasi sebab merasa senantiasa diawasi.

Model penjara ini kemudian mengilhami Foucault untuk mengembangkan gagasannya terkait konsep kekuasaan dan pengetahuan dengan cara produksi wacana. Foucalt mengistilahkan kondisi masyarakat yang dipantau oleh mata-mata penguasa dengan fenomena Panapticon.

Fenomena Panapticon pernah digambarkan oleh Nurhady Sirimorok dalam bukunya yang mengkritisi Andrea Hirata saat memuja negeri Eiffel dalam novel tersohornya, Laskar Pelangi. Bagi Nurhady, Andrea alpa menggambarkan bagaimana orang-orang yang ada di sekitar Eiffel yang merasa diawasi dan anehnya mereka tidak tahu di mana para pengawas itu berada.

***

Sejenak, mari beralih dari penjara Panapticon menuju perbincangan ihwal dunia maya yang kita cipta lewat berbagai media. Khusus kali ini, kita fokuskan saja pada media sosial bernama facebook—yang jika seseorang memiliki akun di media sosial, maka hampir dapat dipastikan memiliki pula akun facebook.

Sependek pengingatan saya, facebook mulai nge-trend di sekitar tahun 2009. Saya mengingatnya sebab masa itu adalah tahun saya lulus SMA dan beranjak menjadi calon mahasiswa. Waktu itu, saya membuat akun di facebook karena kebanyakan kami—saya dan teman-teman SMA—sudah terpisah dengan tujuan tempat yang berbeda, baik untuk kuliah maupun bekerja.

Facebook mampu mempertemukan kami dalam ruang maya. Komunikasi lewat facebook di grup-grup tentu saja lebih murah dan efisien, ketimbang meng-sms satu per satu untuk bertukar kabar.

Namun kemudian, setelah lebih dari lima tahun, keberadaan seseorang dalam dunia facebook kian diwarnai berbagai motif. Tidak lagi melulu tentang tukar-menukar kabar, tapi mulai dari motif penculikan hingga membuat akun untuk menikmati aplikasi permainan daring.

Isi dari up date-an status facebook pun kian beragam. Namun, kita sepertinya akan sepakat bahwa tidak sulit untuk menemukan status-status berupa luapan kesedihan dan kegembiraan seseorang di beranda facebook.

Media sosial memang sungguh-sungguh menggoda untuk berbagi aktivitas kita. Bahkan tidak sungkan membagikan perasaan-perasaan kita saat merasa jengkel atau suka dengan seseorang, baik secara tersurat maupun lewat simbol-simbol.

Kegiatan berbagi ini bahkan sampai pada kesan memamerkan setiap tindakan si pengguna akun. Jika sudah demikian, maka media sosial yang merupakan perwujudan dari melesatnya teknologi, kini hadir sebagai sesuatu yang ternyata dapat memicu kebanggaan seseorang jika kegiatannya diketahui orang lain.

Setengah abad sebelum sekarang, Jaques Ellul dalam bukunya, The Technological Society, pernah mewanti-wanti dampak dari munculnya teknologi. Bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan perkembangan dan kebutuhan manusia, namun justru sebaliknya, manusialah yang akhirnya harus menyesuaikan diri dengan produk teknologi. Lebih keras Ellul mengingatkan, manusia sering terpenjara dalam kisi-kisi teknologi yang tak pelak merampas kemanusiaan dan kebahagiaannya.

***

Dalam beberapa tulisan sebelum hadirnya tulisan ini, fenomena dan dampak dari media sosial telah dibahas secara lebih tajam dalam berbagai perspektif oleh M.Aan Mansyur, Sinta Febriany Sjahrir, dan Hasrul Eka Putra. Tulisan-tulisan mereka tersebut, terbit di Koran Tempo Makassar, Rubrik Literasi, tempat di mana inti dari tulisan saya ini juga diterbitkan tepat pekan lalu dengan judul Penjara Murah. Sudut pandang yang membedakan tulisan ini dengan tulisan-tulisan tersebut adalah saya meminjam konsep penjara dari Bentham, Panaptic, seperti yang sudah saya uraikan di bagian awal tulisan ini.

Menjadi menarik untuk kita pikirkan bahwa beberapa kita mungkin secara tidak sadar telah membentuk penjara Panaptic dalam media sosial bernama facebook. Ketika seorang pengguna akun media sosial ini membagikan informasi kegiatan-kegiatannya—yang mungkin saja tidak bermanfaat bagi orang lain, foto-fotonya saat makan di restoran mahal, atau bahkan keluh-kesahnya terkait kehidupan pribadinya. Informasi tersebut menyebar, dibaca oleh banyak orang yang bahkan tidak dikenalnya, di tempat yang mungkin juga tidak dijangkaunya dan dapat dibaca sepanjang informasi tersebut belum dihapuskan.

Bedanya, dalam penjara rancangan Bentham, para tahanan ketakutan beraktivitas karena senantiasa merasa diawasi, sementara akun media sosial rancangan Mark Elliot Zuckerberg ini menjadikan penggunanya secara sukarela menginformasikan tetek-bengek kehidupannya kepada dunia, bahkan untuk hal-hal yang sifatnya privasi sekali pun.

Kata banyak orang bijak, tulisan akan mengabadi dan menjadi prasasti jauh, jauh di kemudian hari. Maka jika kalimat-kalimat yang kita bagikan itu baik nan manfaat, ia akan mengabadi sebagai amal jariyah. Sebaliknya, tulisan buruk pun, yang terpampang di beranda maya, akan mengabadi sebagai dosa jariyah bukan?

Status-status yang kita bagikan, apakah memang perlu untuk dituliskan. Ataukah semata untuk berbagi cerita saja dengan teman-teman yang mungkin tidak perlu membacanya.
Ini mengingatkan saya dengan sikap megalomania pada diri seorang penulis yang katanya cenderung merasa bahwa pikiran-pikiran dan kisah-kisahnya jua yang paling menarik. Dan karena setiap orang (bisa menjadi) penulis—entah untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain—maka hal ini yang menyebabkan banyak orang dengan senang hati menulis status-status tentang suasana hati, pencapaian-pencapaian “ini loh aku”, hingga hal remeh-temeh di media sosial.

Ketika akses terhadap informasi terkait diri kita terumbar dan tidak lagi berbatas, ini berarti dengan sendirinya kita dengan tangan terbuka menyambut orang-orang yang menjadi teman di media sosial sebagai opticon (pengamat) bagi diri kita. Betapa mud(r)ahnya informasi itu terbaca di hadapan orang lain. Cukup daring, lalu status dibagi.

Saya akhirnya harus menegur diri sendiri untuk tidak risih dan marah, saat orang lain meng-kepo-i kehidupan pribadi saya. Sebab di masa lalu, saya memang banyak mengumbar informasi-informasi yang sepertinya tidak layak menjadi konsumsi publik.

Mungkin, Bentham tidak akan pernah menyangka bahwa konsep penjara murah yang dirancangnya tidak hanya berguna bagi penguasa di zamannya. Panaptic yang dirancangnya telah berhasil melampaui zamannya hingga zaman di mana aktivitas-aktivitas dan perasaan-perasaan privasi kita tersebar dalam dunia sosial. Saat kita dengan sukarela menjadi tahanan yang diamati banyak orang yang bahkan tidak kita kenal sekali pun.

Sebagai informasi terakhir tentang Bentham, saya menemukan namanya dalam salah satu buku Mansour Fakih, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi—yang dalam kurun waktu dua belas tahun setelah penerbitannya, masih saja setia melewati mesin cetak di penerbitan. Bentham ditulis oleh Fakih berderet dengan nama David Ricardo, James Mill, Thomas Robert Malthus dan J.B. Say sebagai pengikut dan pemikir yang sejalan dengan Adam Smith. Ya, anda tentu dapat menebak teori itu adalah Teori Ekonomi Klasik yang tak lain adalah akar Teori Ekonomi Kapitalisme.

Nah! Jika anda kemudian mencoba menebak lagi, barangkali ada hubungan kausalitas antara facebook dengan konsep produksi wacana dalam menghegemoni pemikiran masyarakat luas untuk berkiblat pada kapitalisme. Sejujurnya, saya juga sedang memikirkannya!

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 24 Mei 2014).