Tampilkan postingan dengan label Sekolah Rakyat KAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Rakyat KAMI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2016

Hujan dan Ikan Mati di Sumur


Sore di akhir Desember 2015, seperti Minggu biasanya, saya datang ke lokasi kampung pemulung. Di pinggir jalan baru yang tanahnya agak meninggi, lebih tinggi dari tanah warga, motor saya terhenti. Kali itu, saya memarkir kendaraan di tempat berbeda. Di tanah sekitar perumahan warga, beberapa lokasi tanah digenangi air dan beberapa yang lain berlumpur.

Saya membuka sepatu dan kaos kaki untuk berjalan melewati genangan air menuju rumah salah satu warga. Jika tidak, maka air bercampur sisa sampah dan plastik itu bisa-bisa membasahi kaos kaki saya dan membuatnya lembap seharian.

Di bagian depan pemukiman, yang merupakan rumah si pengumpul sekaligus tuan tanah, juga tergenang banjir. “Ada ular masuk di bawah televisinya karena banjir”, papar Kak Ira, salah satu warga yang rumahnya tepat di belakang rumah pengumpul. Di antara rumah warga yang satu dengan lainnya, yang ada hanya genangan air. Di tanah yang agak meninggi, lumpur bisa menjebak kaki-kaki mahasiswa yang datang ke sana. Tapi anak-anak kecil, senang bukan kepalang bermain-main di sekitar genangan air dan tanah berlumpur tersebut. Ketiadaan fasilitas bermain dan keterbatasan akses menikmati hiburan membuat anak-anak pemulung itu menikmati melimpahnya air dari langit yang tertahan di tanah-tanah pemukiman mereka akibat saluran drainase air yang tidak ada. Ditambah lagi sampah-sampah plastik terkumpul di sana, baik yang jadi hasil memulung para warga atau juga sampah-sampah plastik dari sisa konsumsi mereka yang dibuang sekenanya.

***

Awal April 2016, juga di akhir pekan, saya datang membawa buku cerita bilingual untuk Dila, Sita, Aan, dan beberapa teman lainnya. Saya menghentikan sepeda motor tepat di samping sumur warga. Sumur itu merupakan satu-satunya sumber air ‘bersih’ bagi warga. Sumur ‘bersih’ itu menghasilkan air kehitam-hitaman dan ikan yang berenang bebas di dalamnya, kadang juga ikan mati masih menggenang di permukaan sumur. Namun, sekotor-kotornya air di sumur itu, warga tetap mensyukuri keberadaannya. Dari air di sumur itu, mereka bisa mandi dan mencuci pakaian-pakaian mereka. Bukankah jika tidak ada pilihan lain, seburuk apa pun fasilitas yang tersedia, apatah lagi jika merupakan kebutuhan mendasar, pada akhirnya akan diterima sebagai sebuah kemewahan?

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

Menjelang penghujung sore, selepas belajar bersama anak-anak di bawah jembatan di belakang kampus poltek, kami kembali ke sekitar sumur. Masih ada Daeng Token dengan tiga plastik besar yang membungkus pakaian kotor yang ada di hadapannya.

“Banyaknya cucian ta’. Tidak mencari [memulung] ki’ kah hari ini?”, tanya saya memulai percakapan.
“Mencari ji juga Nak. Cuma menumpuk mi ini. Jadi harus mi dicuci”, jawabnya.


Cuciannya masih banyak. Langit mendung dan rintik air sudah mulai turun. Saya berpamitan segera, mencoba mengejar waktu agar tidak terlalu kebasahan untuk sampai kembali di rumah. Saya meninggalkan Daeng Token dan anak-anak itu di tengah genangan air yang tidak kunjung kering di atas tanah tempat tinggal mereka, juga di antara air sumur yang menghitam, yang sebentar lagi akan kembali ditumpahi air dari langit.

Jumat, 18 Maret 2016

Belajar Menghitung Menggunakan Sampah Plastik


“… kita harus mentransendenkan semua model pendidikan sehingga diperoleh model pendidikan di mana mengetahui (to know) dan merubah (to transform) realitas merupakan syarat yang timbal balik.” (Paulo Freire)

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Pinggir Utara Danau Unhas

Kebahagiaan, pikir saya yang tengah berada di antara dua gadis yang sedang menghitung sampah-sampah plastik yang berhasil kami kumpulkan. Jika keadaan ini adalah awal sebuah puisi, saya ingin menyebut perasaan ini sebagai “kebahagiaan”.

Seandainya orang-orang yang tengah berkoar-koar tentang keselamatan lingkungan melihat semangat Fitri dan Dila memungut plastik-plastik yang bertebaran di pinggir Utara Danau Unhas sore itu, mereka mungkin bisa sedikit lebih lega menyaksikan adegan tersebut. Fitri dan Dila sebenarnya tidak sedang dalam rangka sengaja menjaga lingkungan dengan turun tangan memungut sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh para penghuni kampus yang katanya berpendidikan itu. Mereka berdua hanya sedang belajar menghitung bilangan dari 1 sampai 30-an dengan menggunakan perangkat belajar yang mudah didapatkan: sampah.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Fitri (Baju Hijau) & Dila (Baju Kuning)

Mereka sudah lancar menyebutkan angka satu sampai sepuluh, meski masih tertatih-tatih mengingat nama bilangan di atas angka sepuluh. Akhirnya, keduanya cukup keras menyebut ekor bilangan yang berulang seperti “belas”. Misalnya, saya menyebut “dua”, mereka menyambung “belas”. Saya menyebut “tiga”, mereka menyambung lagi dengan “belas”. Begitu seterusnya.
 
Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Menghitung Sampah


Selama lima menit sebelumnya, kami bertiga bersepakat mengumpulkan plastik-plastik di sekitar kami. Sebanyak-banyaknya. Plastik-plastik itu lalu dikumpulkan dan dihitung sembari dimasukkan ke kantongan hitam besar untuk jadi “oleh-oleh” bagi orang-orang rumah. Lumayan ‘kan untuk ditimbang?

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Sampah yang Dikumpulkan

Kami berhasil mengumpulkan 73 botol-botol plastik, dengan rincian : Dila 34 buah, Fitri 14 buah, dan saya sendiri 25 buah. Dila berhasil mengumpulkan yang paling banyak. Di antara kami, memang Dila yang saban hari menemani kakek dan neneknya ke kampus mencari plastik sehingga dia lebih lincah dan mahir mencari. Dila bahkan sudah mampu mengenali jenis plastik yang bisa dia bawa pulang. Beberapa jenis plastik tidak dapat ditimbang dan ditukar dengan uang untuk makan. Maka kepada Dila, saya bertanya, “plastik ini bisa diambil ya, Dila?” Dari Dila saya belajar tentang plastik yang nantinya bisa didaur ulang. Maka benarlah sebuah kutipan tak bernama, “setiap ruang adalah kelas, dan setiap orang adalah guru.”

Berbeda dengan Fitri, kebanyakan waktunya dihabiskan di rumah. Ibu Fitri bekerja sebagai tukang bersih-bersih di lima kosan yang berjejer di dekat kampung pemulung. Dengan bekerja setiap hari, tanpa libur meski hari Minggu, ibu Fitri menerima upah sebesar 1,2 juta per bulan. Ayah Fitri sendiri, awalnya bekerja sebagai cleaning service di kampus. Sekarang sudah diangkat sebagai pengawas cleaning service. Memang, di antara beberapa keluarga yang tinggal di kampung pemulung, keluarga Fitri sudah hidup secara lebih manusiawi dibanding keluarga lainnya yang masih menggantungkan kehidupan mereka dari hasil memulung semata.


Menjelang penghujung sore hari, segera setelah plastik-plastik itu kami kumpulkan, kami bertiga meninggalkan danau Unhas. Di bagian depan wilayah kampung pemulung, ada lahan khusus tempat warga mengumpulkan barang-barangnya sehabis mencari, dan di sanalah kami singgah. Biasanya, plastik-plastik dikumpulkan terlebih dahulu di sana, setelah sepekan dikumpulkan lalu ditimbang dan dijual kepada pengumpul. Di tempat itu, sedang ada dua perempuan yang sedang membersihkan plastik-plastik hasil mencarinya. Salah seorang di antara keduanya adalah nenek Dila, dan kepadanyalah kami menyerahkan hasil memungut sampah─sekaligus alat belajar─kami hari itu.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi/ Menyerahkan 'Oleh-oleh'

Senin, 22 Februari 2016

Dila dan Pakaian Intelektual


Siang setelah saya makan di kantin bersama sahabat, saya melewati lorong-lorong fakultas dan menemukan dua orang yang akrab di mata saya. Mencoba memastikan, saya mendekatinya. “Dila…!”, teriak saya. Tadi malam, kami baru saja bertemu. Malam saat adzan Isya berkumandang, saya meninggalkan kampung pemulung dengan teriakan dari Dila, “daaaadah Kakak Andiiiiis”, yang saya yakin satu kampung pemulung mendengar teriakannya. Selalu ada bahagia yang saya bawa pulang setelah menjenguk mereka, sebab mereka senantiasa mencintai saya dan saya pun mencintai mereka dengan cara sederhana yang merek ajarkan kepada saya.

Sumber : Kolekasi Pribadi/Dila Dalam Pelukan

Kembali ke siang tadi, setelah pertemuan yang belum cukup 24 jam, Dila agak malu-malu berbicara dengan saya, padahal semalam dia masih merajuk manja kepada saya. Spradley, seorang etnografer, pernah menulis bahwa kondisi antara partisipan dengan seorang etnografer menentukan sejauh mana kedekatan yang dapat terjadi antara keduanya. Lingkungan kampus tempat kami bertemu saat itu dengan lingkungan rumah Dila di mana biasa kami bertemu, adalah dua lingkungan yang kontras, mungkin begitu yang dimaksud Spradley. Saya tengah berada di kampus sebagai bagian dari penghuni kampus, meskipun sudah berstatus alumni, tapi saya tetap menenteng buku-buku dengan pakaian yang meskipun tidak rapi-rapi amat, tetap saja kontras dengan pakaian Dila. Itu semua mempertebal perbedaan di antara kami, dan membuat Dila sungkan berbicara dengan saya. Lagi-lagi, setelah bertemu dengan Dila, saya kembali merenung. Sejauh inikah pendidikan telah memisahkan saya dengan orang-orang papa dan tertindas, yang untuk merekalah seharusnya pengetahuan itu diusahakan? Untuk orang-orang yang tidak sempat dan tidak berkesempatan menikmati fasilitas pengetahuan yang saya nikmati hingga saat ini?

Saya melihat Dila tengah menenteng kantongan plastik kecil, yang di dalamnya ada beberapa bungkus gorengan. Saya bertanya, “tawwa Dila ada gorengannya, beli di mana?”. Dila tertunduk sambil berbisik, “kudapat tadi Kak”. Haduh, ya Allah. Dapat di mana? Di tong sampah kah Dek? Saya tidak melanjutkan pertanyaan itu sebab takut Dila semakin merasa berbeda dengan saya. Haduh ya Allah, saya baru saja minum jus buah di kantin, dan beberapa saat sebelumnya saya menarik uang di atm dengan perasaan yang saya-mesti-lebih-hemat-lagi-nih melihat nominal tabungan yang kian menepis. Di tengah-tengah perasaan yang sempat merasa kurang padahal masih bisa makan dengan uang sendiri, saya menemukan Dila yang mendapatkan makanan dari sisa-sisa mahasiswa. Duh ya Allah, apalah saya ini!

Minggu, 24 Januari 2016

Langkah-langkah Kecil Perlawanan


Edmund Dene Morel adalah seorang pekerja di perusahaan Elder Dempster milik Raja Leopald II Belgia yang menguasai luas wilayah Kongo. Luas negeri ini sama dengan semua negara di daratan Eropa Barat, dan atas semua kekayaan alam yang dihasilkan dari negeri ini, Raja Leopald lah yang menerima keuntungan luar biasa tersebut. Morel kemudian melihat ada yang salah dengan sistem kerja yang dilakukan Raja Leopald. Di tempatnya bekerja, Morel melihat pelecehan, pemukulan, hingga pembunuhan. “Cukup hanya dengan melihat bagaimana para buruh melakukan kerja paksa, dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan nyaris tanpa istirahat, sudah menjelaskan jenis keuntungan macam apa yang diperoleh dari sana…” Demikian pengakuannya melihat kelakuan sang majikan atas pekerja warga Kongo.

Bukan hal yang mudah untuk melawan majikan, apatahlagi seorang raja penguasa. Tapi Morel menolak untuk tetap diam. Morel tidak tergoda dengan segala macam suap yang dilancarkan oleh sang Raja.

Sekali lagi bukan hal yang mudah melawan Raja Leopald bersama para pengikut butanya. Apatahlagi bagi seorang Morel yang hanya seorang pekerja di perusahaan raksasa milik Sang Raja. Berbagai tipu daya dilakukan oleh pengikut raja untuk melawan pengungkapan yang dilakukan Morel, hingga khalayak dibuat bingung dan akhirnya meragukan pengakuan Morel. Tapi Morel tidak berhenti bekerja keras, begitu tulis Steve Crawshaw & John Jackson dalam ‘Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan’.

Tidak kehabisan akal, Morel mengambil sebuah Kodak. Secara sembunyi-sembunyi Morel memotret pembunuhan berkedok kerja yang dilakukan Raja Leopold. Sebuah benda yang menghasilkan gambar yang tidak dapat mengatakan satu kata pun, tapi menghantam habis Raja beserta pengikutnya. Terbeberkanlah tindak penindasan Raja Leopold.

Tahun 1924, Morel akhirnya meninggal. Kongo yang kini bernama Republik Demokratik Kongo tersebut masih dalam konflik yang belum juga usai. Sumber daya alamnya yang melimpah seperti gading gajah, karet dan hasil-hasil hutan lainnya, masih juga diperebutkan. Keserakahan itu masih ada, tapi tindakan teguh Morel untuk melawan bukan berarti tidak punya arti. Tidak serta merta upaya Morel di masa lalu menjadi sia-sia. Justru, tindakannya jadi mercusuar bagi orang-orang Kongo untuk melawan kedzaliman. Hingga Bertrand Russell menyebut Morel dengan kata-kata, ‘Tidak ada orang lain seperti dia yang saya tahu yang memiliki kepahlawanan sederhana dalam memahami dan menyatakan suatu kebenaran politik”.

***

Salah seorang warga pemulung yang saya dampingi, sedang terkena kasus pinjam-meminjam dengan seorang rentenir. Dana 10 juta rupiah dipinjam dalam masa dua bulan, dengan bunga tiap bulan 1,5 juta rupiah. Bunga 3 juta telah dibayarkan, namun pokok sama sekali belum tersentuh. Akhirnya, masa dua bulan berakhir dan si peminjam harus membayar denda 100 ribu setiap harinya.

Di kampung pemulung, adalah hal yang lumrah bagi warga untuk meminjam dana dalam keadaan terdesak. Apatahlagi sejak plastik-plastik yang dikumpulkan hanya dihargai seribu rupiah per kilonya saja. Bukan sekali dua kali, warga meminjam dengan nominal besar dan beberapa teman pegiat juga sudah pernah berupaya menawarkan solusi berupa bank sampah. Namun apa boleh dikata, sistem koperasi bank sampah tidak berjalan baik. Salah seorang pegiat malah harus kehilangan dana tidak kurang 3 juta rupiah untuk menutupi kekurangan dana.

Tapi kegagalan masa lalu tidak boleh membenarkan terjadinya kedzaliman terus menerus. Hutang-piutang warga yang sedang terkena kasus harus segera diselesaikan. Jika tidak, setiap hari, keluarga warga yang sedang mengutang ini, dengan terpaksa harus mengencangkan ikat pinggangnya untuk mencari plastik-plastik bekas setiap hari demi menghasilkan uang 100 ribu rupiah guna membayar denda kepada sang rentenir.

Mahasiswa-mahasiswa saya di dua kelas akuntansi yang saya asuh, tergerak lalu ikut terlibat. Membuat origami lalu menjualnya; mengumpulkan pakaian bekas, kertas bekas, dan botol bekas lalu menimbangnya; membuat kue lalu menjualnya; dan berbagai aksi pencarian dana lainnya dilakukan. Setelah itu, mereka beramai-ramai menjenguk si keluarga warga yang terkena kasus, menyerahkan bantuan dana untuk membayar hutang yang mendesak. Sembari itu mereka belajar apa definisi liabilitas dari mereka yang dijerat kasus utang dan dalam keadaan tercekik untuk mengumpulkan dana melunasinya. Belajar dengan sistem “hadap masalah” ala Freire.

Bantuan yang mereka lakukan tidak banyak jika dibandingkan dengan total yang harus dilunasi. Hanya menutupi kekurangan dari beberapa donatur yang saya dan teman pegiat lain kumpulkan. Tapi tindakan-tindakan kecil mereka, membuat saya belajar banyak. Bahwa semangat melawan kedzaliman oleh pengusaha yang mendapat keuntungan dari orang-orang papa, tidak boleh surut. Benarlah, ketika mengajar, ada kesadaran bahwa diri sendiri harus terus belajar.

Apa yang sudah saya, teman saya yang ikut mendampingi kasus ini, mahasiswa-mahasiswa saya, dan juga para donatur lakukan untuk membantu keluarga tersebut, yang akhirnya dapat terlepas dari cekikan rentenir, barangkali hanya menutup satu kasus. Di kemudian hari, si rentenir bisa saja menjerat leher-leher yang lain. Tapi, tidak lantas menjadi sia-sia segala upaya itu. Justru, tindakan-tindakan kecil perlawanan ini menjadi sumbu bagi api untuk terus menyalakan bara dan semangat perlawanan atas keserakahan. Sebagaimana Morel tidak pernah menyesal atas sikapnya yang keras kepala melawan Raja Leopald, bahkan jika pun di negara yang sama, warisan keserakahan Raja Leopald masih ada hingga kini.

Mengutip kata kawan saya di suatu waktu di masa lalu, kita akan melakukan perubahan, sekecil apa pun perubahan itu. Dan kita akan melakukan apa pun yang bisa kita lakukan untuk perubahan itu.


RubrikLiterasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 22 Januari 2016)

Minggu, 10 Januari 2016

Pendampingan Kasus yang Mencekik


 Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah manusia yang paling banyak bermanfaat dan berguna bagi manusia  yang lain; sedangkan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah memberikan  kegembiraan kepada orang lain atau menghapuskan kesusahan orang lain, atau melunasi hutang orang yang tidak mampu untuk membayarnya, atau memberi makan  kepada mereka yang sedang kelaparan dan jika seseorang itu berjalan untuk  menolong orang yang sedang kesusahan, itu lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjidku ini selama satu bulan ”

Jumat, 08 Januari 2016
Ba’da shalat Maghrib, telepon saya berdering. Nama kontak yang muncul di layar HP adalah ‘KAMI Mama’. Tidak sempat saya mengangkatnya. Beberapa menit setelah itu, sms masuk dari nomor yang sama. Isinya meminta saya untuk menelepon balik. Langsung saya meneleponnya. Orang di ujung telepon sana mengabarkan kalau kemungkinan si tentara itu mau bertemu besok. Mama bertanya, “apa saya bisa teleponki’ Nak kalau mau ketemu besok?”. “Iye, tentu saja. Kalau mauki’ ketemu, telepon meka’ di’ Ma’”, jawab saya kepada mama yang berada di ujung telepon sana.

Namanya Daeng ‘T’, saya menulis namanya di kontak HP dengan ‘KAMI mama’. Saya memanggilnya “mamak”. Di kampung pemulung, saya memanggil beberapa orang di sana sesuai dengan panggilannya dari keluarganya. Tujuannya agar kami lebih dekat dan tidak berjarak. Karena adik-adik damping saya memanggilnya mamak, maka saya juga memanggilnya demikian. Beberapa adik yang masih memiliki nenek dan memanggil nenek mereka dengan “nenek” saya juga memanggilnya demikian.

Sabtu, 09 Januari 2016
Tepat pukul 10.36, telepon dari “KAMI Mama” kembali bertandang di HP saya. Namun luput saya angkat. Tiga kali panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Saya tengah mengikuti pengajian akbar di Mesji Al-Markaz Al-Islami yang dibawakan oleh Ustad Dr. Syafiq Basalamah. Saat sesi tanya jawab sudah dibuka, suasana lebih santai, saya membuka kembali HP. Satu sms baru masuk dari ‘KAMI Mama’. Ada yang penting, ketiknya lewat sms.

Setelah pengajian usai, lepas shalat dzuhur di tempat yang sama, saya singgah bersama tiga teman lain di sebuah rumah makan untuk makan siang. Sembari makan siang, saya coba menebak-nebak, barangkali si tentara itu sudah minta bertemu. Lepas makan, saya berpisah dengan tiga teman lain di Jalan Gunung Bawakaraeng. Saya pamit ke Unhas. Belakang Unhas tepatnya.

Di jalan, saya memikirkan apa yang harus disiapkan untuk bertemu tentara itu. Saya putuskan singgah di kosan Jusma, dekat kampus Unhas, sebelum menuju lokasi kampung pemulung. Di kosan Jusma, saya menghubungi beberapa orang.

Orang pertama adalah “KAMI Mama”. Saat itu, di HP saya, waktu sudah menunjukkan pukul 15.49. Di saat yang sama, orang di ujung telepon sana masih berada di kampus untuk mencari plastik-plastik sisa minum mahasiswa. Pada hari libur, biasanya hasil memulung lebih sedikit karena yang meninggalkan sisa-sisa plastik minum tidak banyak. Karena itu mamak akan lebih lama mencari di kampus. Mahasiswa yang datang ke kampus biasanya berada di sekitar himpunan. Di sanalah biasanya mamak mencari. Seringnya di Fakultas MIPA. Sesekali di fakultas-fakultas lain.

Saya bertanya ada apa tadi menelepon saya, dan menjelaskan bahwa di saat itu saya tidak bisa menerima telepon karena sedang pengajian. Mamak memahaminya dengan “oh iye,”Mamak mengabarkan kalau hari ini si tentara dapat ditemui di rumahnya. Saya setujui untuk bertemu. Saya bertanya beberapa hal, yang harus saya masukkan di surat perjanjian. Lalu telepon saya tutup saat mamak mengatakan akan segera pulang dan kami janjian bertemu sesaat kemudian.

Orang kedua yang saya hubungi adalah seorang teman yang bekerja di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar. Setidaknya saya harus ditemani teman yang paham soal hukum, pikir saya. Tapi dia baru saja tiba di Makassar, katanya di ujung telepon. Saya menceritakan kasus warga yang saya dampingi. Dia katakan kalau saya harus melapor di kantor LBH terlebih dahulu. Kantor buka pada hari Senin-Jumat, sementara hari itu kantor libur. Dia memberi nomor temannya yang lain. Saya coba hubungi, tapi tidak aktif.

Keadaan mendesak, dan bantuan dari LBH tidak dapat saya harapkan saat itu. Akhirnya saya memutuskan mengajak Jusma. Syukurlah Jusma mengiyakan. Dia salah satu teman saya yang keren dalam mengerjakan hal-hal yang keren.

Orang ketiga yang saya hubungi adalah suami saya sendiri. Saya mengirimkan isi surat perjanjian yang sudah saya ketik. Mantap beliau menyatakan “good!”. Saya siap berangkat. Bismillah.

Bersama Jusma, kami menyusuri jalan becek menuju lokasi kampung pemulung. Di depan lokasi, di rumah pertama, mamak dan beberapa warga lain sedang duduk-duduk mengobrol. Saya menyapa mereka. Lalu mamak menyuruh saya dan Jusma ke rumahnya. Di rumah mamak, kami menghubungi si tentara. Setelah mengkonfirmasi, kami berlima berangkat dengan dua sepeda motor. Saya bersama Jusma, dan mamak bersama Kak ‘R’ dan Sita. Keduanya adalah anak mamak. Kak ‘R’ inilah yang pernah bertemu si tentara guna melakukan perjanjian utang. Tanggal 10 Oktober 2015, Kak ‘R’ menerima dana 10 juta dari si tentara, tanpa kontrak apa-apa, hanya dengan menyerahkan ijazah.

Tiba di lokasi, saya memarkir motor. Tentara itu keluar. Dari jauh saya cukup kaget melihat postur tubuhnya. Saya dan Jusma saling memandang, tersenyum tipis. Dalam bayangan kami, tentara ini adalah seorang bapak yang kekar, besar, tinggi, kumis tebal dan perut agak membuncit. Nyatanya jauh dari apa yang kami bayangkan. Dia jauh lebih muda. Tinggi standar untuk ukuran tentara, dan pembawaan yang jauh dari karakter bapak-bapak tentara yang menyeramkan. Tapi tampilan bisa saja menipu. Apa yang ada jauh di dalam hati tidak selalu berjalan beriringan dengan tampilan.

Kami berlima dipersilakan masuk. Dia menjelaskan apa yang sudah mamak ceritakan. Tentang uang yang dipinjam 10 juta, dengan pengembalian 1,5 juta tiap bulan dan masa peminjaman dua bulan. Setelah lewat dari masa itu, denda 100 ribu (1% dari pokoknya) dikenakan setiap hari. Jika sebulan, dendanya berjumlah 3juta. Cukup tiga bulan saja didenda, jumlah dendanya bisa lebih banyak dari pokoknya. Total yang sudah dibayar mamak sampai hari itu adalah 4,8 juta. Ini hanya bunga dan denda-dendanya.
Bunga bulan I              Rp 1.500.000,-
Bunga bulan II             Rp 1.500.000,-
Denda 18 hari              Rp 1.800.00,-

Memiriskannya, si tentara ini ternyata lulusan pesantren, dan menurutnya, pinjam-meminjam ini tidak termasuk dalam riba’. Duh! Apa dia tidak malu mengakui dirinya lulusan Pesantren Gontor?

Informasi tambahan dari si tentara ini adalah, dia mengaku bahwa pinjam meminjam itu sebenarnya merupakan usaha dari kenalannya di Surabaya. Dia hanya menghubungkan antara si peminjam dan kenalannya itu. Oleh karena itu, dia dalam hal ini hanya membantu orang yang sedang butuh dana. Dia kasihan pada Kak ‘R’ yang waktu itu datang menangis meminta bantuan dana. Maka dipinjamkanlah dana itu, dengan perjanjian pengembalian bunga yang sudah disepakati. Apa boleh buat, dana belum dikembalikan dalam masa dua bulan. Terpaksa dia harus menagih denda, yang dia sebut dengan biaya ‘charge’, 100 ribu setiap hari. Dia juga kasihan melihat kondisi keluarga Kak ‘R’ dan ibunya. Tapi apa boleh buat, itu ketentuan dari kenalannya yang dari Surabaya itu. Dia juga menjaga hubungannya dengan si teman yang berada di Surabaya agar tetap harmonis, katanya.

Tapi benarkah ‘si kenalan dari Surabaya’ itu benar-benar ada? Jusma mencoba mengonfirmasi dengan meminta nomor kontak si kenalan itu dengan alasan Jusma ingin meminta agar uang denda yang tersisa sebesar 1,2 juta─yang masih harus dibayar selain pokok 10 juta, dihapuskan saja. Kami ingin bicara langsung. Dia menolak. Dia sudah berjanji pada si kenalan untuk tidak mengenalkannya pada pihak yang berutang, katanya. Wah, sungguh sangat privasi!

Akhirnya, setelah saya berdiskusi berdua dengan Jusma, dengan pertimbangan denda yang harus dibayarkan setiap harinya jika menunda membayar sampai dana 10 juta terkumpul, kami memutuskan membayar 5 juta kepada si tentara. Lima juta ini didapatkan dari beberapa donatur (yang semoga Allah merahmati kalian), yang saya kumpulkan selama tiga hari. Jika 5 juta ini dibayarkan, maka denda berikutnya ‘hanya’ 50 ribu setiap hari.

Karena mendesak, saya tidak lagi mengeprint surat perjanjian yang sudah saya ketik sebelumnya. Saat itu, dengan sigap saya memindahkan isi surat perjanjian yang saya ketik ke kertas polio dengan menulis tangan. Sembari menulis, di ujung dekat pintu, saya menangkap di ujung pandangan saya, mamak duduk dengan tertunduk dalam.

Usai menandatanganinya dan menyerahkan uang 5 juta, kami berlima pamit. Kesepakatannya, kami akan kembali pekan depan, 16 Januari 2016, melunasi sisa 5 juta pokonya, ditambah denda 12 hari sebelumnya sebanyak 1,2 juta, serta denda 7 hari ke depan 50 ribu setiap harinya. Totalnya Rp 6. 550. 000.

Menjelang Maghrib, kami berlima sudah tiba di rumah Daeng ‘J’ kembali. Baru saja duduk, mamak menangis di pintu. “Saya enda’ tahumi mau bilang apa, Nak. Dua keluarga yang saya hubungi tidak ada kodong yang bisa bantu. Na kita bukan siapa-siapaku. Saya enda’ tahu bagaimana…” Suaranya terputus oleh tangisan. Saya memeluknya. Air mata saya juga tumpah. Di samping saya, suaminya tertunduk menghapus air mata. Di belakang saya, Jusma terdengar sesenggukan. Kami hanyut dalam keharuan. Duh Ilahi, pada keluarga yang rapuh ini, masih ada juga orang yang tega mengambil kesempatan menawarkan bantuan sembari mencekik lehar mereka satu .

Kepada para donatur yang sebelumnya ingin membantu, namun belum sempat mengirimkan donasinya, saya masih setia menunggu untuk melunasi sisa yang harus dibayarkan pada Sabtu depan di rekening saya 0348794123 (BNI) atas nama Andi Sri Wahyuni sebelum tanggal 16 Januari 2016.

Kata Ibu mertua saya, “hati nurani saya tidak bisa membuat saya diam melihat orang-orang yang kesulitan sementara saya bisa membantu, tapi tidak melakukannya”. Saya percaya masih banyak orang yang memiliki hati nurani seperti ibu saya itu.

Selanjutnya, tanpa mengurangi pemuliaan saya, dan insya Allah tidak mengurangi ketulusan para donatur─semata untuk akuntabilitas, berikut saya lampirkan rincian donasi yang sudah masuk :
Dr. Abdul Hamid Habbe                                 Rp 3.500.000,-
Harman, S.IP                                                   Rp 1.000.000,-
Mahasiswa Unifa kelas B 2014 kelompok I    Rp   135.000,-
Mahasiswa Unifa kelas B 2014 kelompok II   Rp   390.000,-
Total donasi per 09 Januari 2015                    Rp 5.025.000,-

Kemudian, izinkan saya mengutip apa yang tertulis dalam buku ‘Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan’. Buku yang mengisahkan 80 cuplikan keberanian dan ketegaran orang-orang yang melawan berbagai penguasa dan pengusaha yang dzalim. Dalam buku itu tertulis di pengantarnya, “Apa yang kita lakukan adalah apa yang memang sudah seharusnya kita lakukan”. Kalimat ini, mengajak kita untuk istiqomah pada kerendahan hati dalam berbuat baik.

Akhirnya, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya”. (Muhammad Sallallahu ‘Alayhi Wasallam)Semoga Allah menghimpun kita dalam kebaikan senantiasa, menguatkan hati kita untuk bergerak dalam kebaikan. Mari sama-sama berdoa untuk selalu bermanfaat. Insya Allah laporan berikutnya akan saya sampaikan kembali.




Salam,

Andi Sri Wahyuni

Pendamping Warga Kampung Pemulung Belakang PNUP, Tamalanrea

Senin, 21 Desember 2015

Sita Siap Daftar Sekolah


Sumber : Dokumentasi Pribadi/ Sedang Mencoba Pakaian Sekolah di Toko


Alhamdulillah, perjuangan mengantar Sita untuk siap ke bangku sekolah sudah rampung. Jika tahun 2015 ini Sita tidak dapat mendaftar sekolah karena tidak punya akta kelahiran, enam bulan ke depan, saat pendaftaran mahasiswa baru kembali dibuka, insya Allah Sita sudah bisa didaftarkan karena aktanya sudah jadi. Bersama Kakak Ida, keluarga, dan teman-teman Sita di kampung pemulung, pengurusan akta sudah selesai diusahakan. Selembar akta kelahiran Sita sudah di tangan.

Sumber : Dokumentasi Pribadi/ Akta Kelahiran Sita


Terima kasih kepada petugas kecamatan karena dalam pengurusan akta ini, meski ada saja surat-surat yang bermasalah, para pegawai kelurahan dan kecamatan yang kami temui cukup kooperatif. Salah seorang petugas bernama Dian awalnya bertanya, “ini siapanya Sita?” dan kemudian agak bingung mendengar jawaban saya, “kakak dampingnya”. “Kakak damping???”, tanya pegawai itu lagi. Setelah saya menjelaskan hubungan saya dengan Sita, dan aktivitas saya di kampung pemulung yang tengah melakukan pendampingan, pegawai ini malah begitu kooperatif untuk membantu mengurusi akta Sita. Dia bahkan sempat menelepon saya untuk menanyakan kevalidan data Sita. Kepedulian yang menggerakkan!

Meski pula kantor camat terakhir yang saya tuju tidak saya ketahui alamatnya, harus pula berpindah dari kantor Camat Tamalanrea ke Kantor Camat Biringkanaya, dan sempat kesasar di jalan tol sekitar kantor camat, pada akhirnya bisa juga ke sana dengan lancar karena sudah mengenal area kantor camat itu saking seringnya bolak-balik antar surat. Dan terbitnya akta Sita, serta kesediaan kakak-yang-tidak-bisa-disebut-namanya untuk menjadi kakak angkat Sita dengan membelikan perlengkapan sekolah, membuat segalanya terbayar. Ada rasa syukur yang besar atas kesempatan mendampingi Sita sejauh ini. Ada bahagia bisa turut mengurangi beban Sita sekeluarga. Ada rasa berarti bisa menutupi bolongnya harapan Sita untuk bisa bersekolah tahun depan nanti. Dan tidak bisa saya gambarkan kebahagiaan di wajah mama Sita saat menemui saya setelah pulang dari memulung, kalimat pertama yang dia ucapkan, “terima kaaaaaaasih, Nak!”. Sungguh saya merasa berarti!

Jadi, siapa lagi yang ingin kita ringankan bebannya hari ini?

Sabtu, 21 November 2015

Rumah Baru KAMI


Sumber : Kak Ida (Edit)

 “Tempat terbaik di dunia ini adalah rumah.”

Sabtu yang gerimis, tanggal 21 Nopember 2015, niat menjemput buku-buku dan alat-alat sekolah KAMI di Kata Kerja akhirnya terwujud. Saya, Kak Ida, Ratna, dan Sari berkendara motor ke Kata Kerja menembus hujan yang turun sejak setengah jam sebelumnya. Kami sudah mendapatkan rumah untuk menampung peralatan-peralatan yang akan dijemput tersebut.

Awalnya, saya berencana menyewa sebuah rumah kontrakan di sekitar kampung pemulung. Namun jangankan rumah kontrakan, kamar pun tidak saya dapatkan. Sebenarnya, ada banyak kamar kosan di sekitar sana, namun pertimbangannya adalah akses anak-anak dan ibu-ibu akan sulit karena kamar-kamar tersebut berdempetan dengan kamar-kamar para mahasiswa yang notabene mereka butuh suasana tenang untuk belajar dan atau beristirahat. Tidak memungkinkan untuk digunakan beraktivitas bersama oleh kami.

Selain berencana membuka ruang belajar bagi anak-anak, tempat itu sedianya akan kami gunakan sebagai ruang belajar ibu-ibu untuk membuat kerajinan tangan dari kain Sabbe. Sekitar tiga tahun silam, saya dan Kak Ida pernah mendapatkan dana Program Kreativitas Mahasiswa dari Kemendikbud untuk program pelestarian kain tradisional bugis, kain Sabbe. Kami berdua berencana melanjutkan program yang kami rintis dan kemudian sempat terhenti selama dua tahun tersebut─dengan memberdayakan ibu-ibu yang ada di sana. Mohon doakan kami agar bisa menindaklanjuti rencana-rencana indah ini. 

“Tidak ada rotan, akar pun jadi. Tidak ada kamar, rumah dari warga pun jadi. Malah jadi lebih baik sebenarnya.”
 
Beruntunglah kami, ternyata ada satu rumah yang tidak lagi berpenghuni di kampung pemulung. Rumah itu pernah ditempati oleh Dila bersama kedua orang tua dan seorang kakak perempuannya. Namun karena desakan ekonomi, kedua orang tua Dila akhirnya memutuskan merantau menjadi TKI di perkebunan kelapa sawit, Malaysia. Dila dan kakaknya, Ratna, kini tinggal bersama kakek-nenek mereka, bersama empat orang keluarga yang lain. Rumah yang mereka tempati itu, ada tiga bagian. Bagian pertama digunakan sebagai beranda sekaligus tempat menyimpan tumpukan pakaian bekas yang mereka terima tiap kali ada kegiatan baksos dan semacamnya. Beranda itu juga sebagai tempat kakek Dila beristirahat meluruskan badan setelah memulung seharian. Ruang kedua adalah tempat tidur, sekaligus ruang berkumpul, sekaligus ruang tamu, sekaligus ruang belajar anak-anak. Boleh dibilang ruang kedua ini multifungsi─karena tidak cukupnya ruang untuk masing-masing fungsi yang banyak tadi. Ruang ketiga, tepat berada di bagian belakang, adalah ruang memasak sekaligus ruang makan, sekaligus ruang cuci piring. Ukuran keseluruhan rumah berdinding trpileks dan baliho itu sekitar 7 x 7 cm. Tidak memungkinkan untuk disediakan ruang-ruang privasi bagi setiap keluarga. Semua ruang adalah tempat bersama.

Daeng Juma’, kakek Dila, mengizinkan kami menggunakan rumah orang tua Dila yang kini tidak dihuni itu. Alhamdulillah, selain lokasinya di lingkungan kampung pemulung yang akan memudahkan kami untuk belajar bersama, kami pun tak perlu mencari dan mengeluarkan dana untuk menyewa tempat nantinya.

***

Kembali ke proses kami berempat menjemput peralatan belajar tadi. Di Kata Kerja, kami bertemu Kak Aan dan seorang pustakawan lain. Keduanya membantu kami menurunkan peralatan tersebut dari lantai dua Kata Kerja. Karena barang-barangnya lumayan banyak untuk diangkut di motor, kami akhirnya menggunakan jasa bentor. Sari dan Ratna mendampingi barang-barang tersebut di atas bentor menuju ke sekolah kembali. Betapa romantisnya mereka berdua di dalam bentor bersama buku-buku di Sabtu sore selepas gerimis ini.

Sumber : Kak Ida (Edit)



Demikianlah akhirnya, kini kami punya rumah baru untuk menyimpan peralatan belajar. Rumah untuk kami menampung cerita, belajar, dan bermain bersama.

Sumber : Kak Ida (Edit)


Sumber : Kak Ida (Edit)

Jumat, 13 November 2015

Kebahagiaan Itu Menular



Bergerak di jalan yang meminta waktu, pikiran, tenaga, dan masih banyak hal dalam diri kita untuk kepentingan banyak orang, bahkan jika orang itu tidak kita kenal sama sekali, sungguh bukan hal yang mudah. “Perlu keteguhan hati yang kuat dan keras kepala untuk keyakinan akan kebenaran”, kata kawan saya, Rahiwati Sanusi. Demikianlah saya kemudian memilih untuk kembali bergiat di tempat yang sama saya bergiat beberapa tahun lalu. Saya meninggalkan komunitas ini untuk melanjutkan studi selama dua tahun, dan kembali dengan menemukan komunitas yang sama telah kehilangan banyak tangan-tangan yang pernah bergandengan bersama di sana.

Kita tahu bersama, di negeri yang kita cintai dengan malu-malu ini, ketidakdilan masih terlalu sering mengagetkan mata kita di jalan. Buruh-buruh pabrik yang kehilangan tenaga kerjanya dengan dibayar tidak sepadan dibanding dividen yang diterima para pemegang saham perusahaan raksasa. Anak-anak di perempatan yang kita temui menjual tissue lima ribu rupiah untuk tiga bungkus atau menjajakan koran-korannya, padahal mereka berhak menikmati masa kanaknya tanpa dituntut bekerja untuk mengisi perut. Para orang tua pemulung yang terampas kuasanya untuk menjual plastik yang ditemukan di tengkulak dengan harga murah, karena mereka terikat perjanjian dengan tengkulak tersebut dan bermukim di atas tanah tengkulak. Para petani, para nelayan, dan para tukang becak yang tidak kuasa melawan sistem. Orang-orang lemah dan marjinal itu masih bertebaran di mana-mana.

Sekolah Rakyat KAMI memilih satu titik dari berjuta-juta titik di mana ketidakdilan berkata dengan jelas di depan mata. Titik itu ada di kampung pemulung sekitar kampus Unhas.

Kita tidak tahu, kerja-kerja sukarela yang dilakukan sejauh apa akan membawa hasil bagi mereka. Tapi setidak-tidaknya kita akan berada di sana, jika satu di antara mereka butuh pendampingan untuk mengurusi tetek-bengek dalam mengurusi administrasi di kantor-kantor pemerintahan, yang kita tahu, kadang-kadang mereka bahkan takut ke sana karena malu tidak bisa dan tidak tahu bertanda tangan. Kita ada saat koprasi-koprasi nakal datang menawarkan bantuan dana berbunga kepada mereka yang terdesak untuk membayar biaya rumah sakit. Kita ada untuk ikut belajar dan bermain bersama para anak-anak yang tidak menikmati masa kanak untuk bermain dan belajar sebagaimana mestinya.

Sumber : Dokumen Pribadi [edit]


Hari ini adalah hari ulang tahun Dila. Tanpa ayah dan ibu, karena keduanya sedang menjadi tenaga kerja di Malaysia, Dila tetap bahagia menjalani hari ini. Tanpa perayaan, Dila tetap tertawa riang hari ini. Maafkan jika terlalu melankolis, tapi kebahagiaan kecil saat berada di tengah-tengah mereka, sepadan untuk segala yang terberi─jika pun memang ada sesuatu yang pantas disebut sebagai pemberian bagi mereka. Sebab sesungguhnya, apa-apa yang berlebih dari kita, termasuk tenaga, waktu, dan materi, sesungguhnya adalah hak mereka yang lemah bukan?