Tampilkan postingan dengan label Kadrina Rauf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kadrina Rauf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

Dosen Juga Rocker


Judul tulisan ini berasal dari ucapan seorang dosen di tempat saya menempuh pendidikan tinggi. Apa yang disampaikannya itu, di kemudian hari, selalu saya ingat hingga hari ini. Tiap kali bertemu tenaga pendidik, baik guru, dosen atau bahkan seorang guru besar, yang merasa dirinya selalu benar, dalam hal ini tidak berupaya memahami dan menghargai pendapat orang lain, saya jadi terkenang ucapan dosen tadi.


Barangkali dosen dengan tipe merasa-selalu-benar lupa bahwa mereka adalah rocker, di mana rocker juga manusia. Bisa salah. Bebas untuk dikritik−dengan cara-cara yang baik dan benar, tentu saja.

***

Adalah Amir Khan, pemeran utama film Bollywood yang naik daun sekitar tiga tahun silam, 3 Idiots, pernah mengingatkan, bahwa tugas seorang dosen tidak berhenti pada tahap memberi, tapi juga bersedia menerima. Menerima ilmu dan pengetahuan baru yang berbeda dari orang lain, termasuk yang berasal dari para mahasiswanya sendiri. Juga memiliki keluasan hati untuk bersedia dikritik. Film ini, saya kira, layak direkomendasikan bagi setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan secara umum.

Dosen yang ada dalam film tersebut membanggakan aturan-aturan yang tidak membebaskan. Bagi sang dosen (yang merangkap sebagai rektor), pengalaman menjadikan kampus yang dipimpinnya sebagai salah satu universitas terbaik di India, menjadi bukti bahwa pola-pola yang ditempuh selama ini sudah berada pada jalur yang benar. Membangun habitus untuk hidup disiplin tanpa kenal toleran sama sekali, mengagungkan kompetisi (bukannya menularkan semangat belajar dengan cara mencintai belajar itu sendiri) dan menghilangkan unsur “hati” dalam proses interaksi dengan para mahasiswa.

Sekali waktu, dia menolak mentah-mentah karya seorang mahasiswa tingkat akhir, sebuah miniatur pesawat terbang yang dapat berfungsi sebagai kamera pengintai. Lebih memilukan lagi, dia menganggap remeh karya tersebut. Dia membuangnya ke tong sampah.

Tidak ada usaha untuk menghargai proses yang sudah dilakukan si mahasiswa. Karya yang tidak sesuai dengan ekspektasi sang dosen, layaknya remah-remah yang lebih pantas diperlakukan seperti sampah. Apa yang kemudian terjadi adalah, mahasiswa tadi stres, lantas memilih gantung diri di apartemennya.

Beginilah sistem yang telah dibanggakan oleh sang dosen, secara tidak langsung membunuh manusia yang terperangkap dalam sistem tersebut. Tidakkah ini mengingatkan kita dengan kasus beberapa siswa yang bunuh diri karena gagal melewati ujian nasional pada tahun-tahun silam di negeri ini?

Hal-hal demikian, bagi Amir Khan, adalah suatu bentuk penindasan dalam dunia pendidikan. Dia mengkritik habis-habisan pola-pola yang dilakukan oleh dosen tersebut. Baginya, kampus semacam itu hanya memproduksi mahasiswa layaknya mesin. Setelah lulus, menjadi siap pakai di pasar tenaga kerja.

Bagi Amir Khan, siswa harusnya lebih banyak memahami daripada menghafal. Siswa tidak boleh hidup dalam menara gading, yang berjarak dengan masyarakatnya. Siswa belajar karena mencintai pelajarannya, bukan karena ketakutan dihukum. Dan pendidik adalah seorang pembelajar, bukan subjek yang merupakan sumber kebenaran semata.

Saya jadi ingat dengan salah satu teman bergiat di Sekolah Rakyat KAMI (Komunitas Anak Miskin). Namanya Kadrina Rauf. Setiap kali ditanya tentang apa yang dilakukannya di sekolah bersama anak-anak, dijawabnya: “kami belajar dan bermain bersama. Kami semua adalah teman”.

Bagi Kak Gina−begitu kami memanggilnya, dia bukanlah subjek, bukan seorang guru yang datang mengajar di sekolah. Dia adalah seorang teman yang datang untuk belajar bersama adik-adik KAMI.

Saya menyadari, pelajaran yang saya dan teman-teman dapatkan justru lebih banyak dari apa yang coba kami bagi kepada anak-anak di sekolah KAMI. Lebih dari sekedar kesenangan saat belajar membaca, perkalian, mengaji, dan bermain bola hingga membuat layang-layang bersama.

Pada cerita yang lain, sekali waktu saat menjelang musim libur, dosen saya di Unhas memanggil saya secara pribadi. Usut punya usut, beliau sedang mengevaluasi proses belajar yang dilakukannya di kelas. Saya diminta berkomentar tentang proses belajar selama satu semester itu, apa-apa yang patut dipertahankan, apa saja yang dianggap tidak menambah kualitas pembelajaran, dan tidak lupa meminta ide untuk perbaikan di kelas berikutnya.

Tidak hanya saya (sebagai mahasiswa yang mengikuti kelasnya), ditanyai perihal seperti itu. Beliau melakukan hal yang sama kepada para mahasiswa yang diwalikannya.

Apa yang dilakukan sang dosen adalah sebuah upaya untuk mau mendengar, mau memperbaiki diri. Pengalaman mengenyam bangku sekolah, membuat saya cukup yakin, bahwa tidak banyak tenaga pendidik di negeri ini yang bersedia melakukan hal yang sama. Mau mengetahui isi kepala peserta kelas dan memberi ruang kepada [maha]siswa untuk bersama-sama menjalankan proses belajar yang dianggap baik. Membebaskan dan memanusiakan bukan?

Paulo Freire, lewat ide 'Pendidikan Kaum Tertindas'-nya, telah jauh-jauh hari mengingatkan, bahwa seorang pendidik sama sekali tidak boleh memainkan peran penindas di dalam kelasnya. Kalau nasehat Freire tersebut terlalu jauh untuk konteks negeri kita, coba yang dekat-dekat saja. Multatuli−salah seorang penggagas pendidikan di Indonesia, toh juga pernah mengingatkan, bahwa tugas manusia [sebagai seorang pembelajar] adalah menjadi sebenar-benarnya manusia.

Akhirnya, kepada para dosen yang selalu menyadari keterbatasannya sebagai manusia, dan karena itu jauh dari ucapan “pokoknya begini dan begitu”, saya ingin mengucap terima kasih. Tidakkah kita bersepakat bahwa laku menghargai cara pandang dan senantiasa mau belajar, adalah laku sebenar-benarnya pendidik?

***

Oh ya, dosen yang mengeluarkan pernyataan yang menjadi judul tulisan ini, tidak lain adalah dosen pembimbing penelitian tugas akhir saya saat ini. Saya memanggilnya “Pak Anis”, seorang pembimbing yang tidak pernah menganggap apa yang saya tulis sebagai remah-remah, dan senantiasa berbesar hati membuka ruang bagi ide-ide saya untuk bertumbuh. Negeri ini, saya kira, butuh lebih banyak tenaga pendidik sepertinya.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 09 Mei 2015)

Sabtu, 15 November 2014

Terpanggang Matahari dan Bulan Berakhiran -Ber

 
Apa yang lekat dengan Makassar selain geng motor, manusia kasar, demonstrasi mahasiswa dan streotype sejenis yang menggeneralisasikan masyarakat ini? Jawabannya adalah panas. Ya, kota ini panas. Saya hampir yakin, para wisatawan & pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Makassar, akan langsung membenarkannya. Tanpa perlu mengeluarkan termometer, mereka akan sepakat, Makassar panas. Saya pikir, Anda pun sepakat akan hal ini.

Tapi tak perlu khawatir! Meski pun di jalan-jalan umum, pemerintah lebih memilih memenuhi pandangan mata Anda dengan baliho tentang dirinya sendiri tinimbang memanjakan Anda dengan pohon-pohon sejuk, Anda tetap akan terlindung dari terik matahari jika berada di strata masyarakat menengah ke atas.

Anda disuguhi pilihan pertama, memiliki & menaiki mobil mewah. Memilih menggunakan pete-pete, tidak membuat Anda terbebas dari sengatan matahari. Terlebih harus berdesakan dengan penumpang lain, dengan aroma yang bercampur aduk di dalamnya. Maka, seperti logika menyewa hotel, semakin tinggi standar kenyaman, semakin besar uang yang harus Anda keluarkan. Maka, jika belum mampu mengkredit mobil pribadi, minimal, Anda harus mampu membayar ongkos taksi untuk bisa sampai tujuan dengan nyaman, tanpa terpanggang matahari.

Demikianlah masyarakat kota harus hidup & bepergian tanpa gangguan. Maka jangan heran, jika di kota ini, kendaraan pribadi tak kenal pembagian angka berdasarkan kepala keluarga. Pemandangan lumrah, anak-anak muda ke kampus, bahkan sekolah, dengan mengendarai mobil pribadi. Lalu kemacetan bertumpu di titik-titik pertemuan keramaian kota. Tak mengapa, asal tak terpanggang matahari.

Tak hanya hierarki di jalanan, jenis pekerjaan pun mengikuti pola yang sama. Pekerjaan dalam ruang ber-AC lebih mentereng tinimbang pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan matahari. Semakin hari, pekerja-pekerja semakin jauh dari tanah. Lupa bahwa apa yang dimakannya setiap hari, mungkin sambil menonton berita di televisi, adalah hasil keringat para pekerja yang bersentuhan langsung dengan tanah. Petani!

Tidak hanya pekerja kasar seperti buruh, tukang becak atau padagang pinggir jalan yang jauh dari cita-cita profesi, bahkan pada pekerjaan kantor pun, hierarki ini tetap terbagi atas dua: pekerja lapangan & belakang meja.

Semakin terlindungi pekerjaan Anda dari sengat matahari, semakin baik pekerjan itu. Kira-kira begitu pola yang hendak dibentuk. Karena ketidakmampuan mengakses fasilitas, seperti mobil mewah & bekerja di kantor ber-AC, maka seseorang harus menanggung terik matahari.

Dalam banyak literatur, setiap frase matahari, disematkan sebelumnya kata "panggang"-- termasuk dalam judul tulisan ini tentu saja. Kata "panggang" diasosiasikan dengan sesuatu yang dekat dengan api. Panas. Semakin lama Anda terpanggang, semakin besar kemungkinan Anda gosong.

Ini sangat berbeda dengan cara Esthy M.W. dalam bukunya, Seri Pencipta, yang memadupadankan kalimat seperti "matahari di balik gunung yang menerangi rumahku". Atau "mengeringkan baju kami, dan dengan sinarnya, membuat keluargaku sehat selalu". Esthy M.W. menarasikan matahari sebagai potensi yang dimanfaatkan & didayagunakan.

Matahari dalam media, digambarkan sebagai sesuatu yang memberi dampak menghitamkan kulit, merusak dandan, menimbulkan bau badan dan sebagainya, sehingga seseorang harus mengkonsumsi alat pelindung wajah, bahkan badan keseluruhan, dari matahari. Bintang iklan kecantikan memojokkan matahari sebagai sesuatu yang harus dihindari dengan menggunakan produk yang diiklankannya.

Jarang ternarasikan bagaimana matahari menjadi penting bagi pertumbuhan padi-padi yang meremaja di pematang sawah, yang merupakan bagian penting dari proses produksi para petani. Atau seperti hampir saban pagi, saya menyaksikam seorang perempuan tua di atas kursi rodanya, mengobati diri dengan mengambil manfaat sinar ultraviolet untuk kulitnya yang pucat itu.

Matahari adalah sesuatu yang kini menjadi sebab seseorang butuh lebih banyak kebutuhan primer untuk dapat bertahan di kota. Matahari, yang dalam sebuah lagu anak populer dimajaskan serupa tugas mulia seorang ibu, "bagai Sang Surya menyinari dunia" menjadi sirna keagungannya di depan masyarakat kota penikmat modernitas. Matahari telah jauh dari kesan anugerah, terlebih berkah.

***

Kini, musim penghujan sedang menyapa kota. Hampir setiap hari. Tidak lama lagi, matahari akan kita rindukan dengan malu-malu. Dan seperti kata teman saya, ‘ingat! Ketika hendak mengeluhkan tanah yang becek, air yang tergenang, cucian tak kunjung kering, ingatlah kembali saat-saat kita berkeluh kesah kepanasan dan mengumpat pada mentari.

***

Oh ya, ngomong-ngomong, bapak walikota kita katanya adalah seorang yang ahli terkait tata ruang dan kota ya? Bagaimana kalau kita perhatikan kinerjanya di bulan-bulan berakhiran –ber ini. Sebab, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, pada musim penghujan, beberapa titik di Makassar tiba-tiba berubah jadi danau-danau kecil. Jadi, mari kita lihat tahun ini, apakah danau tersebut akan muncul kembali, atau bahkan kian melebar?

Rubrik Opini, Koran Fajar (Sabtu, 15 Nopember 2014)