Tampilkan postingan dengan label Dea Anugrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dea Anugrah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Maret 2015

Kamu: Cerita yang Main-main tapi Serius dan Serius tapi Main-main




“Emm... kalau kuberi tahu hal yang tidak kusukai dari dirimu, apa kau mau berubah?”
“Bisa ya, bisa juga nggak. Kalau kupikir perlu diubah, ya kuubah. Kalau kupikir nggak perlu, ya, buat apa?” (hlm. 213).

***

Jika zaman ini kita seharusnya menjadi acuh, suka melamun, tiduran, sesekali bolos sekolah dan segala kegiatan yang barangkali dirutuki oleh manusia kebanyakan, yang bercita-cita sukses di masa depan, saya membayangkan pasukan itu seharusnya dipimpin oleh Sabda Armandio. Saya rasa bos pasukan semacam itu−kalau memang harus ada dan sepertinya sih tak akan ada sampai Mario Teguh masih menyapa pemirsanya dengan salam supernya−memerlukan sejenis keberanian dan sekaligus sikap masa bodoh yang sedikit kelewatan. Dan bekal itu sudah dimiliki oleh Saya, Kamu, sekaligus penulis tokoh ini sendiri.

Dunia hari ini adalah dunia tentang mimpi-mimpi dan kesuksesan yang dibuat-buat standarnya. Kadangkala (atau selalu?) abstrak. Setidaknya begitu yang barangkali ingin Dio−begitu ia disapa−muntahkan lewat novel yang terbit Februari (2015), Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Lewat obrolan-obrolan tokoh Saya dan Kamu, Dio sedang meluapkan apa-apa saja yang tidak dia sepakati dengan hidup dan kehidupan ini. Bertutur renyah seperti wafer, Dio mengangkat masalah-masalah yang dilahirkan dunia modernitas lewat narasi yang agak konyol.

Saat setiap orang berlomba-lomba memenangkan popularitas, penghargaan, dan nama di jejeran terdepan, tokoh Saya menolak masuk di perlombaan itu. Ia memilih berada di belakang saja. Tidak ingin dikenal. Biar saja dilupakan. Tak mengapa tak diingat. Saya tak ingin jadi spesial, sebab sebenarnya menurutnya, keinginan untuk menjadi spesial ini lah penyebab kompetisi, persaingan, dan perang. Analogi sederhanya mungkin begini, sebab Belanda merasa spesial, dan Indonesia dianggap hanyalah remah-remah, negara yang dihuni oleh manusia-manusia yang layak jadi pengikut, pesuruh, dan pelayan, maka itu Belanda menjadi angkuh, merasa pantas menduduki Indonesia. Tapi kemudian Belanda tidak sendirian, Jepang juga merasa spesial, dan jadilah politik balas budi untuk merebut Indonesia dari Belanda. Benarlah Nurhady Sirimorok, pemujaan terhadap individualitas, dalam bentuk benda maupun citra, sesungguhnya dapat menjadi awal dari kehancuran kolektif.

Bersepakat dengan Nurhady Sirimorok, barangkali Dio ingin menanamkan bibit ide di kepala pembacanya: untuk apa kita perlu merasa spesial di mata dunia yang bahkan tidak ada harganya ini? Keinginan menjadi spesial, bahkan menyebabkan sisi kemanusiaan kita terdegradasi, mengacuhkan orang lain sebab selalu hanya diri kita yang lebih di antara yang lain.

Sependek pengetahuan saya, penulis yang banyak memasukkan ide bahkan menumpahkan perasaannya lewat tulisan, adalah penulis yang tidak banyak omong di dunianya yang nyata. Lebih tepatnya, tidak begitu senang terlibat dalam obrolan. Sejenis manusia yang kalau ikut rapat, hanya sekedar isi presensi. Kalau ikut komunitas, hanya terlihat dari kerja-kerjanya, bekas tempat duduk atau bekas ngopinya, bukan dari suara dan bualannya. Apakah Dio termasuk penulis seperti ini? Kalau melihat aktivitasnya sehari-hari di biodata penulis, besar kecurigaan saya, iya. Barangkali hanya laki-laki yang tidak banyak omong, yang betah bekerja di perusahaan periklanan digital−tempat bekerjanya saat ini. Saya [sok] tahu, karena pernah menggunakan jasa profesi ini. Suatu ketika, saya ditugasi dosen mengurus brosur kegiatan. Sejak memesan hingga kembali lagi mengambil pesanan brosur, laki-laki dan perempuan yang bertugas di tempat itu, memang penganut adigium diam lebih baik! Tapi, yah, kita tahu, diam mereka tidak benar-benar diam. Mereka melahirkan karya, kalau boleh brosur itu disebut karya. Dan karya mereka nyata, benar-benar ada, saya gunakan untuk publikasi acara.

Soal tidak banyak omong seperti itu, saya ingat wejangan Eka Kurniawan, sudah tiba saatnya para penulis, mundur ke belakang, tidak ikut dalam kebisingan, tapi diam dan melakukan aktivitas lain: membaca, berpikir secara matang, masuk ke ‘laboratorium’ dan sebagainya. Saat semua orang bisa berbicara, penulis harus menahan diri untuk tidak hanya sekedar ikut arus. Entah pernah membaca wejangan Eka itu atau tidak, sepertinya Dio telah dan tengah melakukannya. Lewat novel pertamanya ini, dia mengeluarkan hasil penelitian dari laboratoriumnya. Proses penelitian yang panjang, menulis dan menerjemahkan cerpen, dan membaca, tentu.

Sebagai saran, untuk keabsahan catatan ini. Sepertinya Dea Anugrah dan tim Moka Media, harus lebih bersabar dan tekun sebelum yakin untuk meloloskan karya ini kalau akan dicetak lagi. Saya menemukan beberapa kata yang salah ketik. Padahal, pemanasan untuk melahirkan novel ini cukup lama, dan saya menaruh harap lebih bahwa novel ini akan jauh dari kesalahan ketik dan semacamnya. Menurut penulisnya, pemanasan yang lama itu agar pembaca tidak kram. Ya tidak kram sih, hanya keseleo. Sayangnya, saya mengingat dan membawa rasa keseleo itu sepanjang membaca cerita di novel ini.

Saya tidak mencatat halamannya, tapi saya ingat betul kata “sebelah” yang malah tertulis “seblah”. Parahnya, karena kata “seblah” itu berdekatan (atau malah satu kalimat, saya lupa) dengan kalimat yang juga ada kata “sebelah” yang benar, jadi begitu mencolok kan? Atau penggunaan di- yang tertukar fungsi sebagai prefiks dan preposisi. Atau lagi, dua kata yang alpa diselipi spasi seperti pada kalimat pertama paragraf 3 halaman 130. Paling tidak, kalau novel ini cetak ulang (saya turut berharap), kesalahan teknis macam itu sudah tidak ditemukan lagi. Kecil tapi berdampak besar, apalagi untuk tipe pembaca yang menuntut banyak pada sebuah karya. Menyalin-tempel William Faulkner, tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah tulisan, kecuali belajar dari kesalahan.

Sallluuuuut!


Rabu, 21 Januari 2015

Kafka dan Cerita Adik Kecoa



“Di suatu pagi Gregor Samsa terbangun dari mimpinya, dia menemukan dirinya telah berubah menjadi kecoa.”


Itu adalah kalimat pembuka dari karya penting Franz Kafka, ‘Metamorphosis’. Buku ini tidak hanya menjadi semacam pengubah haluan penerima nobel sastra, Gabriel García Márquez, dari penulis puisi ke prosa, tapi merupakan salah satu karya yang paling banyak dibaca dan berpengaruh pada karya-karya fiksi pada abad ke-20. Setelah membaca kisah Samsa dan keluarga kecilnya, dengan dibuka kalimat seperti di atas, Gabo menjadi penasaran dan tertarik untuk menulis karya sejenis itu. Hasilnya, kita bisa menikmati “One Hundred Years of Solitude” dan “Love at the Time of Cholera”, dua di antara karya Gabo yang sering menjadi rujukan penting kesusastraan Amerika Latin.

Bukan karena alasan-alasan prestisius seperti itu sehingga saya menyukai karya Kafka ini. Kenyataannya, karya Murakami yang juga dipuji dan memenangkan berbagai award, Dengarlah Nyanyian Angin (2013)−dari terjemahan asli “Kaze No Uta O Kike” (1979)−saya baca pada bulan yang sama, tidak juga memberi kepuasan serupa. Memang masing-masing karya akan memberi kepuasan yang berbeda, tapi maksud saya, ukuran kepuasan yang saya dapatkan setelah membaca karya pertama Murakami tidak mencapai ekspektasi yang saya buat, setinggi karya Murakami tersebut dinaikkan dengan pujian. Atau mungkin saya yang tidak mampu menemukan keindahannya? Bisa jadi.

Tapi ini tidak terjadi dengan karya Kafka (yang pertama kali saya baca) ini. Meski pun pada beberapa kalimat ada yang tidak saya pahami dengan jelas (ini mungkin karena efek spoiler dari terjemahan yang saya baca), tapi itu tidak mengurangi kekuatan dari cerita Samsa sekeluarga.

Baiklah, beberapa penulis yang sudah membacanya mungkin tertarik menjabarkan nilai-nilai atau hal-hal menarik yang mereka dapatkan atau bahkan ideologi yang ditawarkan Kafka di karyanya ini. Kita akan menemukan Kafka dengan sangat hati-hati menggambarkan bagaimana seorang penindas bisa saja masuk secara tiba-tiba dalam suatu kelompok. Saat tiga orang tamu, dipersilakan Samsa menyewa satu kamar di apartemen mereka, dan mengizinkan tamu tersebut untuk memerintah mereka seenak udelnya (karena tamu ini punya alat kuasa, yakni uang sewa, dan jika satu keluarga ini tidak memuaskan ketiganya, maka uang sewa bisa saja dicabut). Tidakkah ini meningatkan kita pada Indonesia pasca penandatangan Letter of Intent antara Soeharto dan IMF (1997)?

Saya lebih tertarik dengan hubungan sepasang saudara, adik-kakak, di kisah tersebut. Gregor dan Grete.

Grete adalah satu-satunya penghuni rumah yang berani masuk ke kamar Gregor setelah berubah jadi kecoa. Grete ‘merawat’ Gregor dengan cara-cara yang unik: memasukkan berbagai makanan di dalam kamar Gregor, dan memperhatikan makanan mana yang berkurang, dan setelah itu ia paham yang mana yang disukai kakaknya. Juga, mengeluarkan berbagai perkakas lama di kamar yang mungkin menghalangi Gregor untuk berjalan. Setiap hari, Grate membersihkan kamar Gregor yang dipenuhi bekas kaki kecoa yang busuk dan mengotori dinding, tanpa mengeluh sama sekali.

Suatu kali, Dea Anugrah (editor Penerbit Moka dan cerpenis di beberapa koran nasional), menulis di artikelnya bahwa tidak sepantasnya sebuah novel mengabaikan aspek asmara. Pembaca mungkin tidak akan betah dengan karya yang tebal yang tidak ada kisah cintanya? Kafka, sebelum Dea menulis itu, telah menulis sesuatu yang jauh dari kisah Romeo-Juliet atau Laila-Majnun. Kenyataannya, karya Kafka dapat membuat saya betah menghabiskannya dan menunda mandi sore beberapa jam sebelum saya tamatkan. Kafka menuliskan sesuatu yang dekat, hampir semua orang mengalaminya dan itu jelas bukan kisah sepasang asmara.

Di saat Gregor berubah jadi kecoa, tiba-tiba ia menjadi asing di dalam keluarganya sendiri. Grate, yang awalnya dianggap masih kanak di dalam keluarganya, bocah ingusan, justru yang paling sabar dan berbesar hati menerima perubahan Gregor. Penerimaan Grate melampaui kedua orang tua mereka yang terkesan tidak bisa menerima perubahan anak mereka sendiri.

Secara timbal balik, Gregor juga menyayangi adiknya, terlampau malah. Gregor diam-diam, sebelum peristiwa besar terjadi pada tubuhnya, mengumpulkan mimpi yang diikuti persiapan dana bagi sekolah musik Grate. Gregor tahu, Grate berbakat. Ia ingin melihat adiknya masuk di sekolah musik, mengembangkan bakatnya bermain biola.

Setelah berubah jadi kecoa pun, Gregor masih menyayangi Grate. Itu terlihat pada saat dia mendekati Grate setelah bermain biola dan ketiga tamu yang meminta dilayani dengan permainan biola Grate justru mengejek cara Grate memainkan biola itu. Gregor merasa harus menghibur Grate, ia naik di punggungnya, dan menyentuhkan kepalanya di leher Grate. Mungkin semacam membelai adik yang sedang bersedih?

Gregor akhirnya meninggal dengan bangkai kecoa yang masih bersemayam di tubuhnya. Grate tentu sangat terpukul, tapi kemudian dia pula yang mengajak kedua orang tuanya untuk mulai ‘hidup’ kembali.

Membaca kisah ini, membuat saya mengingat adik saya yang hanya satu-satunya. Terakhir mengobrol dengannya lewat telepon, dia bercerita ingin membeli sepatu takraw (dia tidak suka membaca tapi menghabiskan setiap harinya di sore hari untuk berlatih takraw). Sepertinya dia benar-benar membutuhkan sepatu itu.