Tampilkan postingan dengan label Pramoedya Ananta Toer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pramoedya Ananta Toer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2019

Ucapan yang Ditancapkan



Ada sebuah episode tidak terlupakan ketika saya menempuh kuliah sarjana yang berhubungan dengan nilai. Episode ini selalu tertanam dalam ingatan saya yang tidak seberapa kuat, dan selalu melahirkan pemikiran semacam “wah dulu bisa kayak gitu banget ya?”

Kisah ini terjadi ketika saya masih jadi mahasiswa baru, dan mengambil mata kuliah, kalau tidak salah ingat, Perekonomian Indonesia. Dosennya luar biasa galak, dan sudah terkenal seantero fakultas. Waktu itu, saya sedang sibuk-sibuknya ikut UKM Paduan Suara, dan inilah sumber masalahnya.

Ketika pertemuan ketiga, saya tidak hadir kuliah tersebab menjalankan tugas negara sebagai anggota paduan suara di luar kota. Waktu itu, pengalaman keluar kota menjadi peristiwa pertama kali bagi saya untuk berkendara pesawat terbang. Dihinggapi perasaan buncah atas pencapaian bisa naik pesawat, saya rela-rela saja bolos mata kuliah Perekonomian Indonesia.

Akhirnya, saya kembali dari tugas negara dan hadir di pertemuan ketiga kuliah Perekonomian Indonesia. Sebelum memulai kuliah, sang dosen memberikan dua pertanyaan, yang entah dapat ilham darimana malah menunjuk saya untuk menjawab salah satunya. Saya bengong, bapaknya marah-marah. Katanya, itukan sudah dibahas dipertemuan sebelumnya dengan jelas sehingga semua mahasiswa wajib memahaminya. Ya piye, saya kan tidak hadir pertemuan sebelumnya. Saya diam dan tidak mampu membantah. Lalu si bapak malah naik pitam karena menganggap saya cueki, lantas menyuruh saya berdiri di depan kelas dan di sanalah malapetaka terjadi.

Bayangkan, seorang gadis berjilbab agak panjang dengan garis wajah kusut khas anak kos-kosan, menunduk di depan hampir lima puluh mahasiswa di kelas itu—kelas besar, gabungan dari beberapa jurusan di fakultas. Medeni, kalau kata orang Jawa.

Berdiri bukan karena dielu-elukan pujian hebat atau pintar, tapi karena dihukum tidak bisa menjawab pertanyaan yang sesungguhnya saya sendiri belum pernah pelajari sebelumnya. Inti malapetakanya bukan berdiri, tapi kalimat yang kemudian sang dosen muntahkan dan akan dikenang si gadis seumur hidupnya. “Mahasiswa ini, yang kayak gini, nanti kalau tertabrak mobil ya, ngga bisa geger otak. Tahu kenapa?”. Pandangan sang dosen menyapu seluruh peserta kuliah tapi tidak ada jawaban terdengar. “Ya karena dia ngga punya otak.”

Si dosen terbahak-bahak. Saya menangis dalam hati. Ya Allah… piye, sudah dikasarin, dipermalukan di depan umum pula dan tanpa rasa bersalah, sang dosen yang terhormat menganggap dirinya sedang melucu. Saya tidak tahu apa pikiran teman-teman saya kala itu. Sungguh mengenaskan jika mengingat bahwa sebagian di antara mereka juga ikut tertawa.

Cerita ini ditutup dengan saya lulus mata kuliah pak dosen dengan mengantongi nilai A, satu-satunya mahasiswa yang berhasil membawa nilai A keluar dari mata kuliah itu. Tentu saja karena ada semacam rasa jengkel sudah diperlakukan demikian sehingga saya belajar keras mempersiapkan ujian mata kuliah tersebut.

Luka tetaplah luka. Dia bisa termaafkan, tapi akan selalu ada di sana. Saya mengingat dan membawa memori tentang sang dosen dan ucapannya selalu, sepanjang perjalanan hidup saya. Bahwa ada saja orang di luar sana yang tidak bisa menjaga mulutnya, dan kita, dipersilakan memilih untuk takluk dan terpuruk atas ucapan-ucapan demikian, atau memilih menjadi lebih baik dari sangkaan orang tersebut.

Ini menjadi pelajaran berharga pula bagi profesi saya sekarang, untuk selalu mengusahakan berkata yang baik-baik di depan mahasiswa, semenjengkelkan apapun mereka. Kalaulah saya tidak bisa memperlakukannya sebagai anak didik, maka setidak-tidaknya saya harus melihat mahasiswa saya sebagai seorang manusia yang memiliki harkat dan martabat. Sebab memang, kata Pram, tugas mendidik adalah tugas memanusiakan.

Selasa, 13 November 2018

Yang Membedakan Kita Adalah Pengetahuan

Kredit Pribadi

Saya baru selesai membaca buku otobiografi ini setelah kurang lebih tiga hari menjadikannya selingan di antara kewajiban-kewajibam dan kegiatan-kegiatan saya yang lain. Awalnya saya niatkan untuk menyelesaikannya satu hari saja karena ukurannya yang tipis. Apalah daya, harapan yang tinggi tidak dibarengi dengan usaha maksimal. Itupun saya khatamkan saat menunggu jadwal antrian di Balai Pengobatan Gigi dan Mulut yang super lama dan bikin ngantuk. Saya sudah selesai baca, antrian saya masih panjang loh, saking panjangnya. Hehe...

Alhamdulillah, tadi sewaktu berangkat dari rumah masih sempat memasukkan buku ini di tas. Padahal, sempat muncul rasa malas buat memasukkan buku tadinya. Ini karena sebelum-sebelumnya ke puskesmas untuk periksa gigi kok tidak pernah sempat membaca buku karena antrian yang pendek. Baru duduk, tiba-tiba nomor antrian sudah dipanggil sama petugas registrasi. Bahkan kadang tidak sampai mengantri alias langsung saja daftar terus masuk ruang poli gigi.

Hal yang kurang saya sadari adalah kalau ke balai akan lama mengantri karena balainya merupakan balai pusat sekota Makassar, sementara tadi di puskesmas cuma sekelurahan. Ya elah, Andis mah gitu 
-_-

Ya, sekali lagi, tetap alhamdulillah, masih bawa buku. Isi bukunya, meskipun tipis, tapi amat bergizi. Ini seperti kamu ketemu orang berilmu dan bijak. Tidak banyak bicaranya, tapi kamu amat menanti sepatah-dua patah kata keluar dari mulutnya. Jika pun ada kalimat yang kamu dengar darinya, kebaikan jua isinya.

Nah begitu persis! Buku tulisan Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini tentang perjalanan hidupnya belajar di Mekah sampai menjadi khatib dan guru di Masjidil Haram. Masya Allah, al fatihah baginya.

Dia menuliskan kisah hidupnya pada masa remaja. Waktu itu bahkan Indonesia belum ada loh, masih Jawa/Melayu yang dijajah Belanda. Bayangkan deh, saking lamanya buku ini dan masih terus terjaga. Masya Allah, ngga salah yah kata Opa Pramoedya, menulis adalah kerja keabadian.

Dia ke Mekah, awalnya untuk haji bersama keluarga. Bisa ditebak dong, dia dari golongan keluarga Minangkabau yang kaya rayo. Sampai di Mekah, orang-orang tidak langsung melaksanakan ritual haji nih kayak sekarang. Namun, dimulai dengan beberapa bulan belajar Ilmu Nahwu (Bahasa Arab). Dari sini, dia terpikat untuk memperdalam ilmu agamanya.

Sekembali ke Indonesia, dia terus berharap bisa ke Mekah lagi menimba ilmu. Gayung bersambut, dia berhasil ke sana atas jasa seorang guru dari Arab yang kebetulan singgah berlayar di tanah Minangkabau.

Di Mekah, dia terus belajar. Berbagai kemudahan datang padanya. Hingga akhirnya menikah dan beranak di sana. Karirnya sebagai pengajar di Masjidil Haram amat tersohor, hingga terdengar kabar sampai di kampung halaman. Dia kemudian banyak menulis buku tentang ilmu agama Islam dan dikirim ke Indonesia, yang pada saat itu masih cukup awam dan banyak dijejali pemikiran-pemikiran dari orang Belanda.


Masya Allah, isinya banyak membahas tentang keutamaan menuntut ilmu. Betapa orang-orang yang mencintai ilmu amatlah beruntung. Mereka adalah pewaris para nabi, ketika mereka berkumpul dan belajar maka para malaikat merendahkan sayap bagi mereka, ikan-ikan di lautan mendoakan mereka, mulia diri para pencari ilmu dalam pandangan dunia, berwibawa mereka ketika dipandang, yang mencarinya adalah mujahid, yang mengajarkannya adalah para dermawan yang bersedekah. Barakallahufiykum, untuk semua para pecinta ilmu di mana pun berada, dan semoga semangat untuk terus belajar terus ada untuk kita semua ya. Doakan saya dan keluarga kecil saya bisa merawat semangat yang sama dengan yang dimiliki syaikh dari Minangkabau ini ya :)

Rabu, 24 Agustus 2016

Bertemu Eka Kurniawan di Bekas Gereja Belanda


Saya belum pernah ketemua Eka, bahkan jika dia sudah dua kali datang ke Makassar mengikuti Makassar International Writers Festival (MIWF). Kali pertama Eka berkunjung ke Makassar, saya sedang sekolah di Semarang. Kali kedua, saya sedang tergolek di kamar karena sakit. Tapi, mungkin juga kalau saya sehat, saya akan tetap memutuskan untuk tidak menemuinya. Maksud saya, kalau pun saya ke Fort Rotterdam, tempat MIWF digelar waktu itu, saya hanya akan melihatnya di kelas-kelas di mana dia jadi pembicara. Sungguh kikuk dan membingungkan buat saya menyapa orang lain yang saya yakin tidak mengenal saya, bahkan jika pun saya sendiri sudah mengikuti hampir semua tulisannya.

Tapi saya tidak kecewa juga melewatkan kelas Eka yang berharga itu di Makassar. Justru di negeri Belanda, saya berjumpa dengan Eka dengan cara yang bagi saya sebagai pembaca : menyenangkan.


Akhir pekan lalu, saya dan suami berkunjung ke Zwolle, kota yang tepat bersebelahan dengan tempat tinggal kami, Groningen. Hanya ada satu titik yang ingin kami kunjungi, Waanders In de Broeren. Itu adalah sebuah bangunan gereja tua yang sudah dialihfungsikan jadi toko buku.

Pintu Masuk Waanders in de Broeren (Kredit M.A.Bahar)

Awalnya, kami mengiranya sebagai perpustakaan. Menurut suami saya, barangkali perpustakaan itu dikonsep sebagai ruang untuk menyerap ilmu di tempat ibadah. Kan ilmu itu suci, jadi diambil dari tempat suci juga. Kesannya jadi kental buat ibadah kalau pengunjung sedang membaca. Baru membayangkan begitu saja, hati saya sudah buncah bahagia akan berkunjung ke sana.

Nanti sehari sebelum berangkat, setelah mencari-cari informasi lewat Google mengenai tempat itu, saya akhirnya tahu kalau itu bukan perpustakaan tapi toko buku. Tapi ini tidak begitu mengecewakan karena mengingat bahwa rupanya tempat itu adalah salah satu toko buku terunik di dunia. Bikin cemburunya, Zwolle malah dikenal sebagai kota industri yang aktif di negara ini. Salah seorang teman Indonesia yang sudah menetap di sana bercerita kalau pemerintah menyediakan toko buku sebagai salah satu fasilitas untuk para pekerja. Pengetahuan dianggap sebagai salah satu kebutuhan publik, yang tidak hanya milik pelajar saja.

Tampak Bagian Depan (Kredit M.A. Bahar)

Tampak Bagian Belakang (Kredit M.A. Bahar)

Tangga Menuju Lantai 4 (Kredit M.A. Bahar)

Di sanalah saya bertemu Eka Kurniawan. Pertama kali masuk, setelah mengambil beberapa foto, kami menuju rak buku khusus berbahasa Inggris. Adanya di sebelah kanan lantai 1.
 


Rak Khusus English Literature (Kredit M.A. Bahar)

Toko buku ini ada empat lantai, di sisi kiri, dan dua lantai di sisi kanan. Semuanya dijejali rak-rak buku. Selain toko buku, ada sedikit ruang untuk nongki-nongki cantik disertai penjual makanan kecil. Jadi setelah membeli buku, pengunjung bisa langsung membacanya di kantin tersebut.

Penampakan Rak Lantai 1 dan 2 Sebelah Kanan (Kredit M.A. Bahar)

Di jejeran buku berhasa Inggris bagian sastra, saya menemukan nama-nama raksasa sastra dunia dari zaman nenek moyang hingga zaman kekinian. Dari genre sastra kiri ke sastra kanan (kalau itu ada). Saya menemukan Ernest Hemingway dan Haruki Murakami, juga Marxim Gorky dan Paulo Coelho. Sayangnya saya tidak menemukan nama yang saya cari, Eka Kurniawan.

Setelah mencari di rak-rak yang ada di lantai dua, nama Eka masih tidak saya temukan. Waktu itu karena kebelet pipis, saya tidak menjajaki lantai tiga dan empat di bagian kiri gedung. Lagi pula di sana hanya ada buku dengan bahasa Belanda.

Tampak Lantai I-4 Kanan Bangunan; Semua Dipenuhi Rak Buku (Kredit M.A. Bahar)

Akhirnya saya memutuskan mencari di katalog elektornik yang tersedia. Nah kan! Ada Eka di gereja ini. Atau setidaknya, pernah ada nama Eka di sana. Saya selanjutnya masih ngotot mencari Eka di jejeran rak buku sastra, mana tahu terlewat sebelumnya, tetap saja tidak menemukannya.

Karya-karya Eka Kurniawan (Kredit M.A. Bahar)

Puas dengan hanya menemukan nama Eka di katalog, saya pindah ke nama lain yang juga tidak kurang familiarnya. Adalah Pramoedya Ananta Toer, yang jumlah bukunya tentu saja sudah jauh lebih banyak yang pernah mampir di toko buku tersebut.

***

Bahkan jika Eka tidak mengenal saya, pun mungkin tidak pernah tahu ada pembaca seperti saya yang hidup di belahan dunia ini, saya tetap bangga melihat namanya dan Pram ada di sana. Bukan hanya karena daya tarik toko buku tersebut, tapi karena negara tempat toko buku tersebut adalah negara yang tidak kurang tiga ratus tahun pernah mengangkangi Indonesia. Ketika negara yang pernah terjajah justru darinya berasal karya kebanggaan yang di pajang di negara yang pernah menjajahnya. Bolehlah saya, sebagai salah satu masyarakat Indonesia untuk sedikit mengangkat kepala, bahwa ada dua penulis kami yang tidak dapat diremehkan—meski keduanya lahir di negara yang tidak pernah mendukung atau bahkan pernah menyembunyikan (kita tidak pernah lupa pemusnahan karya-karya Pram) karya-karya keduanya.

Tentu saja, dengan kebanggaan tersebut saya sangat naïf. Saya bersembunyi di balik karya-karya penulis besar di negara saya, sementara saya sendiri belum melakukan apa-apa. Uh! Untuk sementara, mumpung masih Agustus, selamat ulang tahun kemerdekaan aja lah.

Selasa, 09 Agustus 2016

Bagaimana Morgan Menulis Hingga Membuat Tulisannya Menjadi Raksasa Akuntansi Kualitatif?


Kalau tidak salah, di Bumi Manusia-nya, Pram pernah bilang bahwa sesuatu yang besar lahir dari syarat pengalaman yang luar biasa sulitnya. M. Aan Mansyur juga pernah menyatakan hal yang serupa, bahwa tidak ada sesuatu yang indah yang terlahir dari sesuatu yang mudah. Kira-kira seperti wejangan ini : pelaut yang hebat lahir dari terpaan ombak, bukan dari lautan yang tenang. Demikian juga dengan jurnal ilmiah, mestinya dia lahir dari kumpulan berbagai pengetahuan sebelumnya yang kemudian menghadirkan pengetahuan baru. Begitu bukan sih?

Dulu di kepala saya, jurnal yang kanon itu harusnya memunculkan banyak referensi, ngutip sana-sini pendapat dan hasil penelitian orang. Tapi Morgan mencungkirbalikkan pemahaman saya itu. Sebutlah artikelnya yang berjudul ‘Accounting As Reality Construction: Towards A New Epistemology for Accounting Practice’.

Pada halaman pertama di jurnal tersebut (abstrak dan sebagian pendahuluan), tidak muncul satu pun hasil penelitian sebelumnya sebagai pembanding. Bagaimana mungkin ini terjadi, sementara dulu waktu mengambil mata kuliah metodologi penelitian, saya selalu diwanti-wanti sama dosen bahwa pendahuluan minimal harus memuat latar belakang teoritis. Penelitian harus mengisi bagian pada badan pengetahuan (body of knowledge), atau bahasa kerennya turut menyumbang pengetahuan, dan karena itu seharusnya ada rujukan dari artikel sebelumnya yang menjadi penjelas tema mana yang kita bahas dan kekurangan penelitian mana yang dilengkapi oleh penelitian kita. Ok! Fix, saya bingung sama Morgan!

Mari lanjut ke halaman kedua. Pada halaman ini, pembaca malah disuguhi sebuah gambar dari seniman M. C. Escher ini :
Sumber : Google
Kualitatif gitu ya, apa aja bisa jadi datanya (kata orang begitu). Pada halaman kedua juga belum ada kutipan yang dimunculkan satu pun. Baru pada halaman ketiga, Morgan memunculkan empat referensi. Dari empat referensi itu, tiga di antaranya adalah referensi yang menggunakan namanya sendiri sebagai penulisnya. Nah kan, langsung menghantam ini sih jadinya. Pembaca mana yang tidak akan dibuat paham kalau Morgan sudah ahli di bidang yang ditulisnya tersebut dengan merujuk langsung pada tiga penelitian yang dihasilkannya sendiri sebelumnya? Alih-alih meremehkan tulisannya sebagai abal-abal atau asal bunyi karena pada halaman awal tidak ada satu pun kutipan, hanya dipenuhi argumen, berikutnya malah membuat pembaca harus tersenyum kecut dengan kecerdikannya memunculkan tiga hasil penelitiannya sebagai sodoran. Betapa Morgan sudah mendalami masalah yang ditulisanya itu jauh hari sebelumnya.

Lanjut ke halamana kelima, kembali tidak ada satu pun sumber yang dikutipnya. Baru kemudian pada halaman keenam (halaman keempat dari terakhir), Morgan memunculkan para pendahulu dan rekannya secara runut sebanyak empat belas referensi artikel dan buku. Sebutlah beberapa di antaranya berasal dari tulisan Paton, Littleton, Belakoui, Tinker, Gambling, dll. Siapa sih yang berani-berani mengaku sudah membaca dengan baik hasil penelitian akuntansi dengan pendekatan kualitatif tanpa pernah menemukan satu pun nama-nama itu sebagai rujukan?

Dengan hanya delapan halaman ditambah satu daftar pustaka, tulisan Morgan menjadi raksasa bagi penelitian kualitatif khususnya yang butuh penguat argumen terkait akuntansi sebagai realitas yang subjektif. Hayo, siapa bilang menulis jurnal bagus harus lebih dari dua puluh halaman? Menurut saya yang bacaannya belum banyak ini, benar bahwa Morgan tidak banyak mengambil referensi sebagai penguat argumen, namun kekuatan dari tulisan itu sendiri yang membuat artikel tersebut menjadi kanon hingga saat ini (tulisan tersebut terbit tahun 1988).

Morgan hadir ke belantara pengetahuan akuntansi yang sudah mapan dengan pemahaman bahwa akuntansi adalah sesuatu yang objektif dan bebas nilai dengan pernyataan “akuntansi yang subjektif dan bebas nilai itu mitos!”. Sangar tidak? Menurut Morgan, akuntansi terpengaruh oleh banyak hal. Budaya, misalnya, sangat berpengaruh pada bentukan akuntansi itu sendiri. Belakangan ini, semakin banyak penelitian yang membenarkan hal tersebut.

Dengan menggunakan gambar Escher di halaman kedua, Morgan mengajak pembaca berpikir tentang cara memandang realitas. Sebagaimana gambar Escher yang sedang menggenggam bola, gambar tersebut kita lihat sama persis seperti cara pelukisnya memandang. Pemandangan yang dilihat si pelukis kemudian digambar dan kita lihat bersama hasilnya sebagai sebuah gambar, sebuah realitas. Dengan demikian, apa yang kita lihat dari gambar tersebut, sedetail dan sebanyak apa pun yang kita tangkap, hanya sebatas cara pandang si pelukis yang menuangkannya dalam bentuk gambar. Katakanlah ada orang lain, sebutlah si B yang sedang berdiri 100 meter dari jarak si pelukis saat menggambar dan disuruh menggambar pemandangan yang sama dari tempatnya berdiri, tentu hasil gambarnya akan berbeda. Dan gambar itulah akuntansi, yang selalu dipertahankan sebagai sebuah kebenaran objektif. Padahal, setiap realitas terbentuk dari sebuah cara pandang tertentu. Beda cara pandang (beda tempat memandang dalam konteks gambar Escher), akan menghasilkan realitas yang berbeda. Pendeknya, "In a broad sense, all knowledge is a matter of perspective", ngono ik kata Morgan. Bukan kata saya loh ya, kata Eyang Morgan.


Akhirnya, bagaimana Morgan masih berdiri kuat di tengah-tengah melimpahnya penelitian akuntansi, tidak lain barangkali karena hasil pemikirannya yang menjadi dasar bagi hampir semua bangunan pengetahuan akuntansi yang memandang realitas akuntansi sebagai sesuatu yang dapat dikonstruksi. Pertanyaannya adalah, bagaimana Morgan bisa mencapai pemikiran tersebut, mealampaui pemikiran umum pada zamannya? Tentu bukan karena mengejar banyak kutipan ya, tapi melihat dari daftar pustakanya, bisa ditebak kalau Morgan membaca bacaan-bacaan terbaik pada zamannya. Aih, guru yang baik lahir dari guru yang jauh lebih baik. Penulis yang baik lahir dari melimpahnya bacaan dari penulis-penulis terbaik pula. Dan barangkali itu juga berlaku bagi hasil-hasil penelitian akuntansi, apa pun metode pendekatannya.

Senin, 01 Agustus 2016

Tugas Kebaikan


Huft Huft Huft… selesailah sudah tugas saya menginput nilai mahasiswa-mahasiswa yang mengambil kelas yang saya ampu semester kemarin. Dua pekan pertama sejak kedatangan saya di Groningen, Netherlands, saya habiskan untuk mengerjakan tugas ini. Tidak semua waktu sih, maksud saya, waktu yang sedianya bisa saya gunakan untuk belajar teralihkan ke tugas administratif seperti ini. Lumayan juga, lima kelas dengan rerata 30 siswa per kelas.

Namun ya namun, ada kelegaan luar biasa bisa memeriksa satu-satu tugas akhir mahasiswa dan menemukan beberapa mahasiswa yang curang. Beberapa mahasiswa meng-copypaste tugas temannya dan atau mencomot langsung dari internet. Sudah saya wanti-wanti di kelas, juga di kertas ujian, utamakanlah kejujuran. Saya pikir, menjadi orang jujur meski dengan nilai pas-pasan jauh lebih baik daripada sejumlah nilai tinggi yang didapat dengan ketidakjujuran.

Memeriksa catatan satu semester ke belakang untuk memasukkan nilai Prilaku, Kehadiran, Keaktifan, Ujian Tengah Semester, dan Ujian Akhir Semester, bisa dibilang membuat saya sedikit harus memaksa diri melakukan tugas monoton dan super teliti seperti ini. Saya meng-copy tugas mahasiswa kemudian mem-paste-nya di salah satu aplikasi internet, dan yah ada beberapa yang ketahuan sama persis di internet. Itu saya lakukan pada hampir satu demi satu tugas mahasiswa. Hal ini karena saya ingin memeriksa hasil akhir mereka seadil dan seobjektif mungkin. Tidak adil dong, ada mahasiswa yang berusaha dengan jerih payah sendiri, dinilai sama dengan yang memberi contekan atau yang tinggal menyontek punya temannya? Dengan usaha seperti itu, saat saya mengirim nilai totalnya kepada mahasiswa sebelum saya kirim ke petugas admisi (agar mereka bisa melihat lebih dulu nilai masing-masing), masih banyak juga yang komplain dan tidak terima. Tentu saja berupa-rupa isi komplain tersebut. Ada yang legowo karena merasa bersalah memberi contekan. Ada pula yang aneh dan membingungkan: tidak pernah terdengar suaranya di kelas, kedapatan menyontek saat ujian dan meng-copypaste tugas akhir lalu protes kok dapat E. Saya hanya bisa mengurut dada. Mahasiswa ini, duh!


Serunya berhadapan dengan mahasiswa adalah sekali waktu berhadapan dengan mahasiswa yang masih kurang introspeksi diri, di waktu yang lain berhadapan dengan mahasiswa yang (menurut saya) tetap berusaha menanggapi dengan baik bahkan jika yang bersangkutan dapat E. Selain merasa bersalah, si mahasiswa juga sempat-sempatnya berdoa untuk kebaikan saya. Dengan demikian, saya dengan senang hati membalas surelnya, dan menyampaikan kekurangannya agar tidak terulang kembali di semester berikutnya.



Rampung membalas surel-surel mahasiswa yang berhak menngkomplain (beberapa saya ubah nilainya karena kesalahan terjadi pada saya dan beberapa yang lain tidak), saya mengerjakan tahap terakhir. Memeriksa tugas-tugas kebaikan mereka. Lima kelas dengan mahasiswa berjumlah tiga puluh setiap kelas, saya harus membaca satu-satu kisah-kisah yang mereka tuturkan saat berbuat kebaikan setiap pekan selama satu semester berlangsung. Ada yang mengerjakan hanya satu tugas kebaikan dan ada juga yang semangat mengerjakan tugas kebaikan setiap pekan.


Omong-omong, apa sih itu tugas kebaikan? Jadi, saya menyebutnya semacam tugas sunnah. Jika dikerjakan mendapat poin tambahan, jika tidak ya tidak mengapa. Setiap pekan, para mahasiswa bertugas melakukan menimal satu tugas kebaikan. Kemudian tugas tersebut diketik dan dikirim ke alamat surel saya. Diketik bisa di aplikasi word, bisa juga langsung di badan surel kalau mahasiswa pakai HP pintar, misalnya. Saya membebaskan mereka menggunakan aplikasi apa saja, tidak ada aturan pengetikan atau aturan penulisan. Saya mempersilakan mereka menulis kejadian saat mereka melakukan kebaikan dan apa yang mereka rasakan setelah melakukannya dengan bahasa sederhana yang mereka mampu.

Awalnya, banyak yang protes. “Kok kebaikan ditulis sih Bu?” atau “kebaikan kan harusnya si pelakunya saja yang tahu Bu”. Tapi bukankah hal-hal baik harus selalu diusahakan dan dibiasakan? Kira-kira begitu ajaran seorang dosen yang pernah saya ikuti kelasnya waktu kuliah di Universitas Hasanuddin dan juga memberi tugas kebaikan seperti yang saya lakukan sekarang. Ini tidak dalam rangka riya’ atau ujub diri. Tugas kebaikan hanya sedikit upaya mengaktualisasikan tugas pendidik untuk menemani mahasiswa berproses menjadi manusia, menyebar kebaikan kepada semesta. Kalau kata Pram, “tugas mendidik adalah tugas kemanusiaan”.

Tentu pula, di antara tugas-tugas kebaikan yang saya baca, ada yang tampak hanya sekadar formalitas belaka. Namun yang begitu membahagiakan adalah ada yang konsisten menulis tugas kebaikannya panjang lebar. Ada yang melakukan kebaikan yang sepele tapi sangat berarti. Mengembalikan dompet seseorang yang ketinggalan di gereja saat si mahasiswa sedang ibadah, misalnya. Ada juga yang bahkan barangkali saya sendiri tidak bisa lakukan. Meminjamkan teman uang untuk pembayaran SPP semester berjalan yang merupakan tabungannya untuk pembayaran semester depan. Oh, they are the lovely student, aren’t they?

Kredit : Alya Natami

Kredit : Windi Islamaetia

Akhirnya, dengan kebaikan-kebaikan yang konsisten itu, ada yang bisa lebih baik nilainya. Dari yang tadinya E berubah jadi D. Atau dari yang tadinya C+ berubah jadi B-. Lumayan kan?

Kamis, 21 Januari 2016

Semangat dari Mereka yang Tidak Berhenti Melawan


Sumber : Koleksi Pribadi

Sembari mengantri untuk pengambilan foto paspor; di sela-sela mengerjakan tugas administrasi kampus yang belum selesai; saat jeda istirahat mengajar; di waktu-waktu itulah buku ‘Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan : Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia” akhirnya bisa saya tamatkan. Berbeda saat aktif kuliah─saat hampir seluruh waktu, tenaga, dan pikiran saya fokuskan untuk belajar, mudah saja membaca satu buku dalam waktu satu atau dua hari. Saat-saat sekarang rasanya butuh upaya lebih untuk bisa membaca satu buku, bahkan dalam waktu sepekan saja. Tapi tentu saja, segala macam pekerjaan tidak dapat menjadi pembenaran untuk tidak membaca bukan?

Dengan risiko tidak fokus karena tidak adanya waktu khusus untuk membaca, buku yang diterjemahkan oleh Roem Topatimasang ini benar-benar menolong saya. Teknik naratif yang sebetulnya sederhana, tapi justru karena kesederhanaannya itu saya benar-benar terbantu. Terjemahannya yang ringan, tanpa mengurangi kedalaman isinya, membuat saya sebagai pembaca tetap nyaman membacanya sampai habis. Seperti halnya cara menerjemahkannya yang saya maksud itu, analoginya hampir mirip dengan tindakan-tindakan orang-orang yang diceritakan di dalam buku ini. Dengan tindakan-tindakan sederhana, untuk suatu tujuan yang besar, orang-orang yang diceritakan oleh Steve Crawshaw dan John Jackson melawan berbagai macam ketidakadilan yang masing-masing mereka hadapi di tempat-tempat yang berbeda.

Di Indonesia, gerakan seperti ini tentu telah ada. Kita tidak bisa menafikan perlawanan Pramoedya Ananta Toer lewat berbagai tulisannya yang dianggap sebagai makar oleh penguasa pada masa orde baru. Untuk konteks kekinian, gerakan kecil perlawanan tersebut pernah saya temukan dalam tulisan Nilam Indahsari pada buku kumpulan esai ‘Oposisi Maya : Menilik Alternatif Gerakan Sosial Baru’. Nilam membahas gerakan perlawanan para pengguna Facebook dengan membuat grup-grup di media sosial. Tulisan-tulisan yang telah dibuat, kemudian disebarluaskan di grup-grup. Akhirnya, kasus-kasus pendampingan yang dilakukan tersebar, merambah di dunia maya dengan satu kali ‘klik’.

Untuk kasus tertentu, sebagai pembaca yang tidak terlepas dari nilai-nilai yang saya anut, ada kasus yang justru bertentangan dengan keyakinan saya. Misalnya saja kasus pembelaan yang dilakukan oleh masyarakat homoseksual. Namun tenang saja, itu hanya satu dari sekian banyak cerita yang justru sarat akan keteladanan. Keteladanan perjuangan orang-orang terpinggirkan.


Ada banyak perubahan besar di dunia ini, dilahirkan dari tindakan-tindakan kecil dengan semangat besar. Barangkali terlihat sepele. Meski demikian, mengutip kalimat pada kesimpulan buku ini, “merekalah orang-orang yang telah membuat mungkin terjadinya perubahan luar biasa di masa lalu”.

Selasa, 03 November 2015

Usaha Kecil untuk Hidup Lebih Dekat Bersama Keluarga



Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan setengah hari di Perpustakaan Daerah Semarang untuk menamatkan cerita Leo Tolstoy. Novel pendek pengarang Rusia itu diterjemahkan oleh sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer. Dalam keadaan kurang sehat, saya membaca tulisan Tolstoy seperti obat. Menyembuhkan. Ya, tulisan yang baik─yang diterjemahkan dengan cara yang juga baik, terbukti membawa dampak yang baik untuk pembacanya. Setidaknya begitulah yang saya rasakan, meski setelah membacanya saya harus diingatkan kembali dengan perut yang agak bermasalah.

Novel itu bercerita tentang Katie, seorang perempuan yang menikah dengan laki-laki yang usianya jauh lebih tua darinya. Masa-masa awal pernikahan mereka, seperti banyak cerita yang kita tahu tentang pengantin baru, adalah semata tentang cinta yang sedang berbunga-bunga. Setelah dua bulan menikah, Katie sudah merasa bosan dengan aktvitas yang sama setiap hari di rumah. Bangun, memasak untuk suami, menunggu suami pulang kerja, lalu tidur. Kepada suaminya dia sampaikan, dia ingin bergerak. Lalu suaminya yang pengertian ini, mengajak Katie berlibur ke kota. Di kota itu, Katie merasa lebih berarti. Kehidupan dan pergaulannya di kota membuat Katie merasa lebih dihargai, bukan lagi sebagai seorang perempuan yang berlindung di balik suaminya. Tapi permasalahan terjadi. Suaminya merasa tidak dihargai dengan kelakuan Katie. Maka sang suami memutuskan meninggalkan Katie yang tetap ngotot tinggal di kota.

Singkat cerita, Katie menyesali perbuatannya. Dia kembali ke rumah suaminya. Tapi keadaan sudah berbeda. Cinta keduanya tidak lagi sama. Katie akhirnya harus hidup bersesal diri karena menyia-nyiakan kebahagiaannya yang hakiki. Kebahagiaan sebagai seorang istri.

Apa yang dialami Katie tersebut, mengingatkan saya dengan seorang perempuan bernama Hasri Ainun Besari. Ya, dia adalah istri Habibie. Ainun adalah warna kontras dari Katie. Dia adalah perempuan yang menemukan kebahagiaannya di balik kebahagiaan suaminya. Dia adalah perempuan yang menemukan arti gerak dari cinta kasih yang dia berikan kepada Habibie.

***

Izinkan saya bercerita, yang mungkin akan panjang, tentang peristiwa yang terjadi dua hari sebelum saya membaca cerita Tolstoy itu. Malam itu, malam tasyakuran wisudawan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip. Saya mewakili teman-teman wisudawan ditunjuk membacakan sambutan wisudawan. Seperti yang sudah saya bayangkan, saya menangis haru karena membaca naskah sambutan yang saya buat tiga jam sebelum acara itu dimulai. Air mata saya tumpah karena mengingat dua orang laki-laki yang tidak hadir pada wisuda saya. Laki-laki pertama adalah bapak saya. Saya akan mengutip isi naskah pidato itu di sini :
Kepada laki-laki yang tidak sempat hadir di ruangan ini untuk menyaksikan wisuda saya karena beliau terkena strok ringan, dia adalah Bapak saya. Saya memanggilnya Etta. Seorang petani yang selalu setia menunggu saya di rumah untuk pulang. Dia adalah orang yang selalu mendukung setiap keputusan saya.


Setelah penyerahan piagam, acara selanjutnya adalah sambutan dari dekan. Saya sebenarnya malu dan sedikit menyesal sudah membacakan naskah sambutan yang sifatnya agak pribadi. Harusnya saya tidak perlu bercerita tentang kondisi orang tua saya. Dampaknya, dekan membahas isi sambutan saya. “Saat pertama kali masuk di kelas Mb Andis, Pak Anis sudah pesan. Ada yang namanya Andis di sana, diajak aja gabung di Undip… Undip gitu loh. Lima besar kampus top di Indonesia, kok ditolak. Akhirnya kita tahu dari sambutannya tadi, beliau ingin dekat dengan orang tuanya”.

Mendengar itu, saya hanya tersenyum simpul. Sesungguhnya saya juga ingin dekat dengan laki-laki kedua yang tidak hadir di wisuda saya.

***

Sehari setelah wisuda, bapak saya menelepon. “Bagaimana urusanmu? Kata mama kamu diminta tinggal di sana ya? Kalau saya, terserah kamu saja. Tapi bagaimana dengan suamimu?”

“Di Makassar saja. Di Makassar saya masih bisa berbuat banyak.”, jawab saya. “Ya, di Makassar saja kalau itu menurut kamu yang terbaik”, tutup bapak saya di telepon.



Saya jadi ingat peristiwa saat pertama kali, Pak Anis menawarkan saya untuk bergabung di Undip. Sehari setelah penawaran itu diberikan kepada saya, terpisah jarak yang jauh dari Semarang, di rumah saya sedang persiapan menyambut rombongan tamu besar. Setelah mendengar tawaran Pak Anis, saya menelepon mama saya di rumah. Saya menceritakan tawaran itu. “Jauh ya. Tapi terserah kamu”, kata mama saya. “Lalu bagaimana dengan laki-laki yang keluarganya akan datang ke rumah besok, Ma?”, tanya saya. “Tapi bukankah dia akan meninggalkanmu di tahun pertama pernikahanmu? Terima saja dulu. Nanti kan bisa pindah”, kata mama saya. “Tapi tidak selalu sesederhana itu, Ma”, jawab saya.


Saya menghubungi laki-laki itu. Meminta pendapatnya. Di ujung telepon, dia menyerahkan keputusan kepada saya. “Ya sudah, tidak usah diterima.”, saya memutuskan. “Kenapa?”, tanyanya memburu. “Biar kita bisa dekat”, tutup saya.

Demikianlah akhirnya, saya memilih tidak menerima tawaran yang membuat saya dihubungi oleh beberapa orang untuk memikirkan lagi keputusan saya itu. Keputusan yang membuat orang akan melihat saya dengan tatapan aneh seolah mau berkata “sayang ya, sudah ditawarkan kok ditolak”. Saya pernah menerima surel dari seorang dosen yang menyuruh saya shalat istikharah karena tidak menerima tawaran itu.

Sejujurnya, saya merasa tidak ada apa-apanya untuk tawaran itu. Kualitas saya, duh, jauh di antara dosen-dosen Undip. Pak Anis, dosen yang tidak kurang sebagai orang tua ideologi saya di kampus, entah bagaimana bisa, melihat saya dengan ekspektasi yang menurut saya berlebih. Tuhan benar-benar menutupi aib dan kelemahan saya di mata Pak Anis.
***
Memilih memutuskan untuk kembali menetap di Makassar, adalah perkara kompleks. Ada banyak alasan untuk memutuskan meninggalkan tawaran yang menjanjikan di Semarang, dan kembali ke Makassar dengan kesempatan mengabdi (sebagai dosen) yang masih samar. Seperti yang saya selalu pegang, memilih dengan sadar berarti bersiap dengan segala konsekuensi pilihan yang kita ambil. Dan dengan itulah saya tidak ingin dan semoga tidak pernah menyesal dengan keputusan saya. Mengutip sebuah pesan dari seorang guru: orang yang dewasa adalah orang yang tahu mana pilihan yang paling baik untuk dirinya. Bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Memutuskan menetap di Makassar, di kota suami saya menetap, tentulah tidak juga lantas menjadikan saya sehebat Ainun. Butuh proses yang panjang dan usaha tiada henti untuk menjadi sebaik-baik perempuan di mata suami. Hanya Tuhan dan suami saya yang tahu, betapa banyak keburukan dalam diri saya sebagai seorang istri. Tapi setidak-tidaknya, keputusan hidup bersama dengannya di kota yang sama, setelah dia menyelesaikan studinya kelak, adalah usaha kecil untuk menjadikannya istimewa. Usaha kecil untuk tumbuh dan hidup bersama.

Hidup dalam rumah yang sama, bagi pasangan suami istri, meski tidak selalu penuh bahagia, adalah jalan untuk mengusahakan kehidupan yang baik. Begitulah pesan yang ingin disampaikan Tolstoy lewat tokoh Katie dan suaminya barangkali. Seperti kalimat terakhir dalam novel tersebut : “Kebahagiaan suami istri hanya terdapat dalam rumah tangga dan keluarganya sendiri yang beres, teratur dan baik”.

Kepada laki-laki kedua yang tidak hadir di wisuda saya, saya ingin mengutip tulisan saya di ucapan terima kasih tesis saya: “Kepada Muh. Akbar Bahar, laki-laki yang telah, tengah dan akan menjadi teman berjuang dalam hidup. Saya kehabisan kata mendeskripsikanmu, kecuali “aku mencintaimu−mencintai ketabahanmu mencintaiku.”

*Catatan ini saya buat untuk merayakan cinta. Tiga bulan lalu, cinta kami lahir dalam rumah Tuhan. Tidak selalu mudah jalan panjang ini, tapi semoga segala yang tidak mudah itu membuat segalanya lebih indah dan layak untuk diperjuangkan.

Yours,
Semarang, 03 Nopember 2015