Tampilkan postingan dengan label William Shakespeare. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label William Shakespeare. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2015

Akan Mengenang Kota Semarang dengan Cara Ini


Tiga hari dengan awal pagi yang sama, saya bergegas meninggalkan kosan. Di deretan lorong berikutnya, setelah beberapa puluh meter dari kosan, saya singgah di tempat Pak Dadang. Sarapan. Pagi ini, perpustakaan buka jam 8. Hari Senin-Jumat buka jam 7. Hari ini Sabtu, tutupnya pun lebih awal dari biasanyajam 6 sore.

Saya melewati dua orang lelaki paruh baya yang sedang mengobrol ringan di samping rumah Pak Dadang. Seorang di antaranya memegang rokok setengah batang yang belum terhisap. Seorang lagi, luput dari perhatian saya. Saya mengenali yang memegang rokok sebab beberapa hari sebelumnya, dia membantu saya mengukur badan. Dia sepertinya seorang penjahit, meski saya tidak begitu yakin karena tempat di mana dia mengukur badan saya lebih layak disebut ruang tamu. Tapi jelasnya, atas instruksi ibu-ibu yang saat itu sedang duduk di tempat yang sama kedua lelaki tadi mengobrol, saya bisa ke rumah lelaki tadi. Memintanya untuk menolong saya mendapatkan ukuran pakaian yang harus dikirim ke Makassar untuk suatu keperluan. Dia tidak memberi jawaban angka, saat saya tanyakan padanya berapa yang harus saya bayar atas jasanya mengukur ukuran pakaian saya. Tidak, jawabnya. Tidak usah.

Di sela-sela sendokan sarapan nasi rames, Pak Dadang membungkus beberapa gorengan dan bubur di samping saya. Agak berbisik, dia katakan, “untuk bapak tukang sampah”. Saya mengintip ke depan. Penglihatan saya menangkap sebuah gerobak sampah yang disampingnya berdiri sepasang kaki seorang lelaki. Pak Dadang menyerahkan bungkusannya. Tanpa menerima imbalan uang seharga makanan yang sudah dibungkus. Istrinya, sembari menggendong cucunya, terlihat biasa saja. Mungkin mereka terbiasa memberi dengan cara seperti itu, batin saya.
Gerobak Bubur Pak Dadang

Pada seruputan terakhir teh saya, datang dua lelaki muda. Hendak sarapan nasi juga, tapi nasi sudah habis terjual pagi itu. Pak Dadang masuk ke dalam rumah, setelah mengatakan kepada kedua pemuda itu, “tunggu sebentar, nasinya di piring saja ya. Ayo masuk!”. Dia tidak ingin mengecewakan pembelinya, barangkali. Nasi di dalam rumah, yang disiapkan untuk keluarga, dibawanya keluar. Dihidangkan kepada dua pembeli tadi. Saya juga pernah beberapa kali mendapatkan nasi di piring saat datang agak siangan. Kata Pak Dadang, nanti saya kelaparan di kampus. Saya harus sarapan dulu.
Teh Gratis dari Pak Dadang

Setelah membayar satu bungkus nasi rames dan sebuah gorengan−teh disediakan gratis−sejumlah tiga ribu rupiah, saya meninggalkan Pak Dadang yang masih sibuk menata gerobaknya untuk bersiap-siap keliling Pleburan. Saya kembali melewati dua lelaki tua yang sedang mengobrol tadi. Masih dengan cara yang sama, tersenyum dan sedikit membungkuk. Dibalasnya lelaki penjahit itu dengan cara yang sama pula dan mengatakan “monggo”, yang sedikit lebih keras dari yang saya ucapkan.

Saya tiba di perpustakaan didahului satu orang pengunjung yang sedang duduk di depan loker. Dia belum mengisi buku daftar pengunjung. Nama saya menempati urutan pertama lagi, setelah dua hari berturut-turut juga menempati kolom yang sama pada daftar pengunjung di ruang referensi. Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini, terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama terdapat beberapa bagian: ruang bermain dan belajar anak, tempat pengurusan kartu perpustakaan, beberapa bangku besi untuk duduk mengantri mengurus kartu, dua toilet, mushallah, ruang loker, tempat absen digital pengunjung, tempat pegawai dan administrasi umum, dan sebuah ruang referensi−yang menempati lokasi paling besar di lantai satu. Di dalam ruang referensi terdapat lantai mini untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kursi dan mejanya di susun membentuk format segi empat, yang kursinya saling berhadapan. Tiga hari ini saya menghabiskan waktu mengerjakan tesis, sejak perpus buka sampai tutup, di lantai mini itu. Pada hari-hari biasa, saya berada di lantai II. Di ruangan buku-buku fiksi, tempat di mana saya bisa menemukan buku Kawabata, Shakespeare, Sylvia Plath, dan penulis-penulis novel asing lain yang karyanya susah untuk saya dapatkan jika ingin membacanya. Kadang jika mengantuk di sana, saya beralih ke ruang berkala yang berada di tengah lantai II, tempat koran-koran dan majalah disuguhkan secara berkala. Atau jika tidak, saya ke ujung kanan lantai II, melewati ruang baca untuk anak-anak yang berisi buku bergambar dan cerita anak. Di sana, ruang bagi yang ingin membaca buku pengetahuan umum. Beribu-ribu buku berjejer rapi, dipisahkan sesuai disiplin keilmuan. Mulai dari sejarah hingga kesehatan.

Hari ini, saya harus meninggalkan perpustakaan lebih awal lagi. Seperti Sabtu biasanya, pukul 3 sore. Beberapa pekan ke depan, setelah melakukan ujian tutup studi saya (aamiin), saya akan meninggalkan tempat ini. Juga meninggalkan kebiasaan saya makan di tempat Pak Dadang sebelum ke surga kecil yang ada di Semarang ini.



Minggu, 22 Maret 2015

Hamlet dan Ketidakpastian Masa Depan


Baru saja membaca karya klasik Shakespeare yang diterjemahkan Anton Kurnia, setelah melalui gubahan Charles Lamb dan Mary Ann Lamb yang kemudian disederhanakan oleh S.E. Paces. Kabarnya, tidak mudah memang memahami langsung karya Shakespeare, apalagi masih dalam bentuk naskah drama.

Membaca dua dari tiga naskah drama yang tersaji dalam bentuk cerpen (Hamlet dan Raja Lear), membuat saya memasuki kembali cerita yang sendu. Sebelumnya memang, membaca karya-karya Kawabata juga menawarkan hal yang sama, tapi cara Shakespeare lebih kental nuansa kesedihannya. Dunia di mana cerita berakhir dengan kesedihan, kesendirian dan air mata. Hamlet misalnya, yang ayahnya di bunuh oleh adik sang ayah sendiri, dan dia ditugasi oleh arwah ayahnya untuk membalasakan dendam ayahnya. Dan yang terjadi pada akhir cerita, tidak hanya sang paman yang terbunuh, pun ibu, bahkan Hamlet sendiri meninggal. Hamlet menutup kisahnya dengan “yang tersisa hanyalah kesunyian”. Pada cerita ketiga tidak berbeda jauh. Raja Lear terbunuh setelah didurhakai oleh kedua putrinya, dan kedua putri durhaka itu pun pada akhirnya meninggal akibat ketidaksetiaan keduanya.

Setidak-tidaknya, membaca cerita seperti ini menyadarkan kita, bahwa “hallo! Kehidupan ini ya begini ini.” Tidak selalu happy ending, di mana si miskin berubah jadi kaya, atau si malang menjadi sukses, atau tuan putri menikah dengan sang pangeran. Bahwa selalu ada hal-hal yang terjadi di luar harapan yang indah-indah.

Seperti apa yang dinyatakan Anton Kurnia pada kata pengantarnya, bisa jadi yang terjadi di dalam dunia khayal Shakespeare sebenarnya juga terjadi di sekeliling kita. Meski terpisah jarak waktu dan tempat yang seribu tahun cahaya dengan penulis, bukankah sesungguhnya kita adalah satu dalam semesta kemanusiaan? Ya, kesedihan dan air mata, siapa pula yang bisa lolos dari dua hal ini semasa hidupnya?

Meski berakhir dengan memilukan, setidak-tidaknya hal yang paling mudah untuk kita pahami dari sini adalah, bahwa hidup ini tidak selalu lurus. Hari ini kita berbunga-bunga, besok kita tersayat-sayat. Hari ini kita berbahagia, siapa yang menjamin pada esok hari kita tak bersedih? Tapi justru, karena ketidakpastian itu, kita jadi memperjuangkan hal-hal yang kita yakini akan membuat kita bahagia atau setidaknya menjadi nyaman di esok hari. Mengikut apa yang pernah dikatakan oleh seorang ilmuwan (yang saya lupa namanya), kalau esok hari, kita sudah tahu apa yang akan terjadi, maka tidak akan ada lagi yang mau berjuang pada hari ini. Ketidaktahuan kita tentang masa depan membuat kita mau berupaya untuk memperbaiki diri, semampu kita. Dengan itu, dengan perjuangan atau apalah namanya, kita setidaknya telah mencukupkan keyakinan pada diri sendiri, bahwa usaha terbaik telah kita lakukan.


Sedangkan hari ini saja kita belajar, bekerja & berjuang, belum tentu besok kita menuai hasilnya, apatah lagi hanya berleha-leha dan bermalas-malasan? Sedangkan hari ini saja kita menanam benih di sawah, bisa jadi yang tumbuh malah rumput liar, apatah lagi tak menanam apa-apa? Jangan sekali-kali berharap memanen gabah deh.