Tampilkan postingan dengan label Michael Hart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Michael Hart. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 September 2018

Sirah Nabawiyah: Alarm Sepanjang Hayat

Kredit Pribadi

Ini bukan buku biografi Rasulullah pertama yang saya baca. Waktu masih kuliah di Semarang, saya paksa-paksa diri saya untuk mulai membaca sirah nabawiyah karya Syafiyurrahman Al Mubarakfuri. Buku berisikan kisah lengkap hidup Rasulullah itu saya pilih untuk saya baca, tidak lain karena rekomendasi guru ngaji saya di tempat liqo’ sewaktu masih kuliah di Makassar. Baru sempat saya baca setelah lulus kuliah di Makassar dan pindah ke Semarang untuk kuliah lagi, dan di Semarang waktu itu, saya memang sedang lumayan lowong ditambah minat baca yang sedang menggelora.

Buku itu adalah buku yang benar-benar baik. Saya mengingat sempat membuat resensinya, dan setelahnya, saya selalu ingin lagi membaca sirah-sirah nabawiyah berikutnya. Saya membacanya pelan saja. Jika tidak salah ingat, sekali sehari beberapa lembar. Akan tetapi, saya meresapi betul lembar demi lembar kisah dalam buku itu. Sekali waktu saya menangis, di lain waktu saya malu ketika sedang membacanya.

Ada beberapa buku-buku kecil yang saya baca setelahnya, yang berkisah tentang hidup Rasulullah dan orang-orang di sekitar beliau. Sewaktu akhirnya selesai kuliah di Semarang dan kembali hidup di Makassar, saya bahkan memutuskan membaca buku sirah yang tebalnya beribu-ribu halaman, berkali-kali lipat dari yang pernah saya baca pertama kali itu. Sayangnya, belum sempat saya tamatkan karena akhirnya harus pindah hidup lagi di tempat sekarang, Groningen, dan membawa buku dengan ketebalan bagai kasur itu untuk ikut serta ke negara ini juga rasa-rasanya costly deh.

Saya bersyukur, di Groningen sini, saya dipertemukan dengan muslim-muslimah yang banyak memberi warna positif dalam hidup saya. Meskipun kebanyakan sibuk dengan kuliah yang tidak kalah mendesaknya menuntut untuk membaca jurnal-jurnal ilmiah, mereka tetap menyediakan dan menyempatkan diri membaca buku-buku lain. Buku sirah nabawiyah akhirnya saya temukan lagi saat iseng bertanya ke seorang teman yang punya lumayan banyak koleksi buku di rumahnya.

Sebenarnya, dorongan membaca buku ini lebih besar karena bulan lalu saya, suami, dan bayi kami berangkat ke tanah suci untuk menyempurnakan rukun Islam kami (Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah). Sebagai bekal, saya ingin membaca ulang kisah Rasulullah sebelum bertandang ke tanah kelahirannya, tanah yang paling Allah cintai dan juga dicintai Rasulullah. Sebelum menginjakkan kaki di dua kota suci nan agung, saya dahului dengan membaca kisah-kisah kehidupan seorang teladan yang pernah hidup di sana.

Tidak kurang dari sebulan, saya berhasil menuntaskan buku setebal 600 halaman ini, jauh lebih cepat dibanding buku Al Mubarakfuri. Buku ini memang lebih tipis jika dibanding buku Al Mubarakfuri  yang berjumlah 864 halaman, tapi tetap saja saya termasuk cepat membacanya jika mengingat saya membaca Al Mubarakfuri dalam waktu kurang lebih setahun. Selain faktor mendesak karena harus saya selesaikan sebelum berangkat ke tanah suci, faktor lain yang menyebabkan saya lebih cepat membacanya adalah karena buku ini menggunakan kalimat yang lebih ringan dan datanya tidak sekompleks milik Al Mubarakfuri. Hanya saja, kalau boleh memilih, saya tentu masih menjatuhkan pilihan pada karya Al Mubarakfuri yang lebih runut, teliti, dan meskipun kompleks, masih tergolong mudah dipahami.

Rasa haru dan syukur masih terselip ketika membaca buku sejenis ini, perasaan yang selalu hadir ketika membaca buku biografi Rasulullah. Perasaan campur aduk yang rasanya teramat jauh berbeda ketika membaca buku-buku lain. Entahlah!

Michael Hart memang benar ketika memutuskan menempatkan Muhammad sebagai nama pertama tokoh berpengaruh di dunia hingga saat ini. Berkunjung ke tanah suci, makin menambah keyakinan saya akan kuatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah. Saya membayangkan betapa sedikit pengikutnya kala pertama beliau mengenalkan Islam. Tidak hanya sembunyi-sembunyi untuk menyebarkannya, beliau bahkan diusir dari tanah kelahirannya karena keyakinan baru yang dibawa kala itu. Lalu sekarang, masya Allah, di tempat yang sama, kota itu telah dibanjiri berjuta-juta manusia dari penjuru negeri-negeri dengan membawa misi yang sama untuk menyempurkan rukun Islam mereka. Ya Allah, ketika menulis ini pun saya haru dan menangis mengenang lautan manusia di tanah haram. Betapa dahsyatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dari Allah, padahal jarak waktu antara kehidupannya membawa risalah dengan kehidupan sekarang amatlah jauh. Jauh sekali. Apalagi kalau mengingat orang-orang tua yang sudah bungkuk berjalan masih penuh semangat mengitari baitullah, tidak bisa saya bayangkan seberapa besar rasa cinta para orang tua itu pada agama Muhammad ini. Masya Allah, memangnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh cinta?

Kembali lagi ke buku ini, setelah membacanya, terutama di bagian detik-detik penguburan jenazah Rasulullah, saya menyetop membaca sebentar. Saya bergumam :
Laki-laki itu telah pergi, laki-laki yang menghabiskan seluruh sisa umurnya sejak dia diutus sebagai nabi-Nya, untuk berjuang menegakkan risalah Islam. Tidak ada waktunya terbuang selain perjuangan jua isinya.
Lalu saya loyo mengingat diri sendiri. Ya Allah, aku mah apa? Banyak bobo paginya pas nyusuin baby A, banyak menghabiskan waktu main pesbuk, banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak jelas manfaatnya, dan kadang sibuk dengan perbuatan sia-sia atau yang tidak mendatangkan kebaikan. Astagfirullah...

Belum lagi kadang masih khilaf dan bertanduk ala nenek-nenek sihir di hadapan baby A dan ayahnya, padahal impian pingin jadi istri shalihah dan ibu terbaik buat anak telah dikumandangkan waktu masih gadis. Bakti pada kedua orang tua belum ada apa-apanya yang bisa diandalkan, malah lebih banyak berdosa kepada kedua orang tua. Kadang juga suka malas belajar kalau lagi suntuk. Shalat tahajud susah ditegakkan. Sedekah kadang masih hitung-hitungan. Hafalan Quran maju-mundur. Hiks…

Akhirnya, teramat bersyukur bisa baca lagi catatan hidup nabi ini, bisa mengulang-ulang lagi hari-hari manusia agung itu. Satu kesyukuran juga, Allah masih beri ghirah untuk membaca kisah hidup manusia yang amat dicintai-Nya. Setidaknya, dengan membaca lembar demi lembar kisahnya, jadi alarm bagi diri sendiri untuk menilai dan menyadari fluktuasi kualitas iman dan akhlak saya saat ini, sudah sejauh apa saya melenceng dari akhlak yang diteladankan Rasulullah.


Eh satu lagi, poin tambahan dari buku ini adalah ada gambarnya loh! Mulai dari baju Fathimah hingga denah masjid nabawi ada di sana, lengkap dengan keteragan di mana barang-barang peninggalan nabi dan keluarga serta sahabatnya kini dimuseumkan.  Jadi pengin berkunjung ke museum yang dimaksud suatu waktu, entah kapan ya? Mohon doanya ya!
Kredit Pribadi

Sabtu, 29 Agustus 2015

Kitab yang Berjalan


Tak kurang dari setahun, buku setebal 583 halaman ini akhirnya keluar dari jadwal bacaan saya. Memasukkannya sebagai buku-yang-harus-dibaca-ulang dalam daftar bacaan adalah harapan yang entah kapan bisa terealisasi, mengingat beberapa bacaan prioritas yang masih menumpuk. Tapi buku ini layak dan pantas untuk dibaca ulang. Ulasan yang detail terkait nama-nama orang, tempat dan waktu cukup membuat pembaca mesti menajamkan ingatan saat menemukan nama yang sama, dalam jeda halaman yang panjang.

Adalah Muhammad, nama yang ditempatkan Michael Hart sebagai urutan pertama dalam bukunya yang memuat 100 daftar manusia yang paling berpengaruh dalam panggung sejarah dunia. Bahkan setelah buku tersebut direvisi berkali-kali sebab dianggap kontroversial, nama tersebut masih di tempat yang sama. Michael Hart, seorang ahli antropologi dan sejarah, tidak sungkan-sungkan mengakui kekagumannya terhadap kehidupan Muhammad.

Membaca Sirah Nabawiah adalah meretas kehidupannya, yang oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dimulai dengan mengenali kehidupan Muhammad, bahkan jauh hari sebelum ia dilahirkan. Di mulai dari posisi bangsa Arab dan kaumnya, lalu diikuti dengan penjabaran pembagian kelas oleh Kaum Quraisy sebelum kelahiran Muhammad.

Saya teringat salah satu sekuel film yang diedit oleh Joe Campana, Muhammad the Last Prophet. Film ini diawali dengan cerita kesenangan berbalut kepongahan Abu Al Hakam saat menjadi pemimpin di dataran Mekah. Bersama dengan pemimpin-pemimpin lainnya, ia menyambut para penduduk Mekah maupun dari luar Mekah untuk datang menyembah patung-patung yang dibuatnya dengan melemparkan koin-koin harta mereka di sekitar patung. Koin-koin itu kemudian akan dimiliki Al Hakam dan kawan-kawannya. Al Hakam dalam pelajaran agama semasa sekolah, kita kenal dengan nama Abu Jahal (dari bahasa Arab “jahil” yang berarti bodoh).

Guna mendatangkan para peziarah, para pemimpin ini menyuruh para budak membersihkan patung-patung, tanpa bayaran. Masih dalam film yang sama, para pemimpin dapat memiliki seorang budak dengan permainan-permainan yang sangat mengolok-olok kemanusiaan. Misalnya dengan cara melempar batang besi yang harus tepat sasaran. Jika tidak, seketika itu dia akan jadi budak. Atau dengan cara lain yang lebih ekonomis, membelinya dari pemilik sebelumnya. Nyawa dan harkat kemanusiaan diperjualbelikan tidak ubahnya barang.

Pada masa inilah, Muhammad datang. Menolak semua hal tersebut dengan membawa ajaran baru, yang kemudian tergambar dari kebahagiaan seorang budak bernama Bilal−dimerdekakan Abu Bakar As Shiddiq. “Tidak ada yang namanya kaya atau budak di mata Allah. Semua orang sama. Dan orang miskin tidak boleh direndahkan dan dibenci, melainkan diperhatikan.” Kalimat inilah yang disampaikan Muhammad pada awal penyebaran keyakinan yang dibawanya. Dan seperti yang kita tahu, mereka para pengikut awal, sebagian besar adalah mereka yang tertindas. Ini menjadi semacam peringatan keras, kepada kaum agamawan saat ini, betapa ajaran yang dibawa Muhammad sangat memperhatikan orang-orang miskin nan papa, tertindas dan tergilas oleh kuasa. Bukankah saat ini, kita rindu pada mereka yang menggunakan simbol-simbol agama dalam dirinya, baik berupa pakaian pun ucapan, turut dan terjun menyuarakan kemanusiaan? Melakukan perlawanan pada penguasa yang dzalim dan menolak segala bentuk kebijakan yang mengucilkan mereka yang tidak berdaya.

Aku berlindung kepada Tuhan dari kemiskinan dan kekufuran”, doa Muhammad. Doa ini sering dipelintir oleh sebagian kalangan yang mengokohkan kelas-kelas baru dalam masyarakat dengan asumsi :
-Muhammad membenci kemiskinan, karena itu kita tidak boleh miskin.
-Kita harus kaya dan itu hanya dengan kerja keras sendiri.
-Sementara mereka yang miskin, itu karena kemalasan mereka sendiri.
Aduh!

Padahal, seseorang pernah bertanya pada Aisyah, bagaimana dia dan Muhammad bisa bertahan hidup sebab selama ini tidak pernah dilihatnya adonan roti dan hidangan daging domba hingga Muhammad wafat. Hanya ada “dua hal, korma dan air”, kata Aisyah.

Muhammad membenci kemiskinan akibat penindasan, tapi ia menyayangi orang-orang miskin. Bahkan cara hidupnya sendiri sama seperti cara hidup kebanyakan umatnya yang ‘kecil’. Muhammad juga membenci perbudakan, tapi bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan pembebasan para budak. Maka segala arogansi kekuasaan, diskriminasi kulit, penumpukan kekayaan yang kesemuanya mengarah pada struktur ekonomi yang menindas, dilawannya dengan konsisten. Bahkan jika dengan itu, dia harus berhadap-hadapan dengan paman-pamannya sendiri, para pemimpin Quraisy.

Kita tahu, perbudakan adalah hal yang mengakar pada masa sebelum kelahiran Muhammad. Maka, menghilangkannya tidak bisa seketika saat Muhammad mengumumkan kerasulannya. Selama hidup, Muhammad pun masih memelihara budak, yang dalam penjelasan buku shirah pemenang lomba penulisan sejarah Islam ini, beberapa didapatkan melalui tawanan perang. Namun, Muhammad perlahan-lahan−tetapi konsisten−membuka jalan pembebasan atas manusia dari perbudakan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat itu. Kita bisa meraba hal ini dengan mengetahui bahwa sehari sebelum wafat, Muhammad memerdekakan seluruh pembantu laki-lakinya (hlm 557). Nama budak yang cukup dikenal, Zaid bin Haritsah, tidak hanya dimerdekakan, tapi bahkan dijadikan anak angkat semasa hidupnya. Sementara dua nama perempuan ini : Juwairiyah binti Al-Harits dan Shafiyah binti Huyai bin Akhthab, adalah dua tawanan perang yang tidak hanya dibebaskan, tapi diangkat derajatnya dengan menjadikan keduanya sebagai istrinya sendiri. Menganalisis lebih jauh, keduanya pun adalah anak perempuan kepala suku yang cukup berpengaruh pada masanya. Maka pernikahan itu, selain pembebasan, juga sebagai upaya politik taktis Muhammad memenangkan hati kepala suku yang memiliki pengikut dengan jumlah yang tidak sedikit. Di zaman Muhammad menyebarkan Islam, masyarakat sangat menjunjung tinggi sikap saling memuliakan sesama besan atau menantu. Maka dengan pernikahan itu, Muhammad membuka jalan menyebarkan Islam dengan cara yang lebih kekeluargaan. Pada kondisi ini, lagi-lagi, siapa pun lelaki yang mengaku hendak berpoligami dengan alasan sunnah tanpa memahami konteks Muhammad berpoligami, ada baiknya membuka kembali lembaran sejarah kehidupan Muhammad.

Dalam shirah ini, penulis cukup lengkap mengurut nama-nama istri nabi beserta beberapa penjelasan kehidupan Ummahatul Mukminin. Tentang topik ini, dapat dibuka di sepanjang bab yang berjudul ‘Rumah Tangga Nabawi’ (hlm 563-570).

Masih begitu banyak−dan tidak akan pernah ada habisnya kisah keteladanan itu hingga umat manusia masih melanjutkan keturunannya−untuk dikisahkan. Beberapa kisah itu, ada di dalam buku Al-Mubarakfuri. Membacanya adalah membaca perjalanan seorang manusia yang berakhlak kitab suci. Membacanya adalah usaha membuka pintu-pintu cahaya, sebab dia tiada lain adalah manusia yang terlahir dengan cahaya dari tubuh perempuan bernama Aminah, yang diturunkan oleh Yang Maha Cahaya.


Salam dan salawat semoga senantiasa tercurah kepada kekasih-Nya, Muhammad. Allahumma salli ‘ala Muhammad, wa ‘ala aaliy Muhammad.

Jumat, 26 Desember 2014

Ibu dan Anak


Membaca terjemahan cerpen ‘Love at the Time of Cholera’ milik Gabriel García Márquez, yang menyelipkan kisah perhatian seorang ibu kepada anak lelakinya, tidak bisa tidak membuat saya teringat pada ibu saya. Cerita pendek sastrawan peraih Nobel Sastra 1982 yang dikenal sebagai pengibar aliran realisme magis tersebut, sebenarnya bukan hendak berkisah tentang ibu dan anak. Lebih tentang perjalanan pemuda bernama Florentino Ariza di atas kapal. Di sepanjang cerita, Gabo mengisahkan bagaimana dampak perang terjadi di semua daerah yang disinggahi kapal tersebut.

Tapi toh kadang saat membaca cerita, entah nyata atau fiksi, saat kejadian-kejadian dalam cerita pernah atau bahkan hanya mirip dengan kisah yang kita alami, seringkali cerita tersebut tiba-tiba terasa begitu intim. Bahkan jika cerita yang dimaksud hanya menjadi awalan, akhiran, sisipan, atau kejadian yang tidak begitu penting bagi keseluruhan cerita. Begitulah yang saya rasakan saat membaca cerita yang diterjemahkan Anton Kurnia tersebut. Meski cerita antara ibu dan anak, bukan inti cerita.

Saya sering mengalami apa yang dialami Florentino pada awal cerita itu. Saat ia disuruh ibunya membawa petate−sebuah tempat tidur gantung lipat dengan bantal, selimut dan kelambu yang terkemas rapi. Ia ogah membawanya, sebab merasa tak membutuhkannya. Tetapi ternyata ia kemudian bersyukur atas firasat ibunya, sebab sejak malam pertama di kapal, seseorang dengan setelan rapi, yang ternyata adalah rombongan dari gubernur, menyalip haknya dengan menempati kamar yang sudah dia pesan lebih dulu−bukankah sering begitu, rakyat biasa harus meminggirkan dirinya setiap berhadapan dengan kepentingan kaum borjuasi dan atau penguasa?

Seringkali, setiap hendak berangkat bepergian, atau meninggalkan rumah kembali ketika mudik, ibu saya juga melakukan hal yang sama dengan ibu Florentino. Menyediakan ini-itu, yang menurut saya sungguh merepotkan untuk dibawa, tapi di akhir atau tengah perjalanan, saya kemudian sadar, entah bagaimana, saya benar-benar membutuhkan barang-barang yang saya anggap remeh nan tidak penting itu. Akhirnya, bagaimana firasat atau naluri keibuan, Tuhan titipkan dalam hati perempuan yang kita panggil ibu, sungguh sesuatu yang tak pernah luntur untuk saya kagumi.

Tentang firasat atau naluri tersebut, ingatan saya terpanggil menuju kisah seorang wanita agung bernama Aminah binti Wahab. Wanita yang berasal dari keturunan Bani Zuhrah di Mekah ini, pernah mengandalkan naluri keibuannya saat melepas putra satu-satunya untuk kembali ke ibu persusuan anaknya.

Halimah as-Sa’diyah, meminta kembali Muhammad yang baru berumur dua tahun. Aminah, meski untuk kedua kalinya, akhirnya melepaskan anaknya dengan berat. Dan kita tahu, atas kerelaan Aminah ini, pada masa pengasuhan kedua kali itulah Muhammad dibawa orang tak dikenal, dibaringkan lalu dibelah perutnya.

Meski beberapa kalangan mempertentangkan peristiwa apa sejatinya yang terjadi saat itu, tapi jamak diketahui bahwa peristiwa itu adalah proses penyucian diri seseorang yang dipersiapkan untuk menjadi penyuluh dan pemimpin besar suatu umat. Pemimpin yang oleh seorang ahli antropologi dan sejarawan, Michael Hart, ditempatkan pada urutan pertama dalam 100 daftar manusia yang paling berpengaruh di dunia. Dan firasat Aminah melepaskan Muhammadlah kala itu, yang menjadi pintu bagi terjadinya peristiwa kedatangan manusia berbaju putih tersebut.

Sebagaimana kita ketahui ‘surga berada ditelapak kaki ibu’, konon, suatu hari Muhammad pernah didatangi seorang sahabat. Ia berniat mewaqafkan dirinya untuk berjihad seumur hidup. Kemudian diketahui bahwa sahabat tadi ternyata meninggalkan ibunya untuk datang kepada Muhammad. Apa yang dikatakan Muhammad? “Celaka engkau! Beradalah di kakinya [ibu] selama-lamanya, di sanalah surgamu!”

Pada dewasa ini, simbol pemuliaan di kaki perempuan yang kita panggil ‘ibu’, memiliki hari khusus di salah satu tanggal dalam bulan akhir tahun. Kita menyaksikan, ucapan-ucapan berceceran, tak kurang diiringi doa-doa selamat.

Bagaimana hari tersebut kemudian bermetamorfosis untuk dirayakan seperti sekarang, mungkin bisa ditelusuri kembali. Sebab 22 Desember sebenarnya adalah Hari Kongres Perempuan Pertama (1928) di Yogyakarta, yang dijadikan sebagai momentum bagi perempuan untuk memperjuangkan nasib mereka mengaktualisasikan diri di masyarakat. Hari tersebut bersandar pada hari di mana para ibu menyuarakan diri untuk berserikat, berkumpul secara kolektif, setara dalam pendidikan, juga perjuangan bagi janda dan anak-anak perempuan yang kehilangan haknya. Jika ditelusuri lebih lanjut, hasil kongres ini kemudian mengantarkan kita pada nama sebuah gerakan perempuan. Ialah Gerwani, gerakan yang diintai para aparatur negara di tahun ’65.

Jadi peringatan hari ibu hari ini, sudahkah sesuai dengan sejarahnya?

Lepas dari itu, pun bagi sebagian anak, setiap hari adalah hari pemuliaan bagi ibu. Barangkali memang, atas setiap hal remeh-temeh yang dipedulikan ibu, seperti kisah Florentino Ariza dan ibunya dalam cerita Gabo. Juga atas firasat dan kerelaannya, seperti Aminah kepada Muhammad. Atas setiap doa-doanya untuk kebaikan anak-anak yang mungkin bahkan lalai menunaikan baktinya. Atas itu semua, maka setiap hari memang sepantasnya adalah harinya. Setidak-tidaknya, setiap hari, doa-doa kebaikan dipanjatkan baginya.

Semoga Tuhan senantiasa menjaga ibu kita, membalas setiap kebaikannya dengan setimpal...

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 26 Desember 2014)