Tampilkan postingan dengan label Syafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 September 2018

Sirah Nabawiyah: Alarm Sepanjang Hayat

Kredit Pribadi

Ini bukan buku biografi Rasulullah pertama yang saya baca. Waktu masih kuliah di Semarang, saya paksa-paksa diri saya untuk mulai membaca sirah nabawiyah karya Syafiyurrahman Al Mubarakfuri. Buku berisikan kisah lengkap hidup Rasulullah itu saya pilih untuk saya baca, tidak lain karena rekomendasi guru ngaji saya di tempat liqo’ sewaktu masih kuliah di Makassar. Baru sempat saya baca setelah lulus kuliah di Makassar dan pindah ke Semarang untuk kuliah lagi, dan di Semarang waktu itu, saya memang sedang lumayan lowong ditambah minat baca yang sedang menggelora.

Buku itu adalah buku yang benar-benar baik. Saya mengingat sempat membuat resensinya, dan setelahnya, saya selalu ingin lagi membaca sirah-sirah nabawiyah berikutnya. Saya membacanya pelan saja. Jika tidak salah ingat, sekali sehari beberapa lembar. Akan tetapi, saya meresapi betul lembar demi lembar kisah dalam buku itu. Sekali waktu saya menangis, di lain waktu saya malu ketika sedang membacanya.

Ada beberapa buku-buku kecil yang saya baca setelahnya, yang berkisah tentang hidup Rasulullah dan orang-orang di sekitar beliau. Sewaktu akhirnya selesai kuliah di Semarang dan kembali hidup di Makassar, saya bahkan memutuskan membaca buku sirah yang tebalnya beribu-ribu halaman, berkali-kali lipat dari yang pernah saya baca pertama kali itu. Sayangnya, belum sempat saya tamatkan karena akhirnya harus pindah hidup lagi di tempat sekarang, Groningen, dan membawa buku dengan ketebalan bagai kasur itu untuk ikut serta ke negara ini juga rasa-rasanya costly deh.

Saya bersyukur, di Groningen sini, saya dipertemukan dengan muslim-muslimah yang banyak memberi warna positif dalam hidup saya. Meskipun kebanyakan sibuk dengan kuliah yang tidak kalah mendesaknya menuntut untuk membaca jurnal-jurnal ilmiah, mereka tetap menyediakan dan menyempatkan diri membaca buku-buku lain. Buku sirah nabawiyah akhirnya saya temukan lagi saat iseng bertanya ke seorang teman yang punya lumayan banyak koleksi buku di rumahnya.

Sebenarnya, dorongan membaca buku ini lebih besar karena bulan lalu saya, suami, dan bayi kami berangkat ke tanah suci untuk menyempurnakan rukun Islam kami (Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah). Sebagai bekal, saya ingin membaca ulang kisah Rasulullah sebelum bertandang ke tanah kelahirannya, tanah yang paling Allah cintai dan juga dicintai Rasulullah. Sebelum menginjakkan kaki di dua kota suci nan agung, saya dahului dengan membaca kisah-kisah kehidupan seorang teladan yang pernah hidup di sana.

Tidak kurang dari sebulan, saya berhasil menuntaskan buku setebal 600 halaman ini, jauh lebih cepat dibanding buku Al Mubarakfuri. Buku ini memang lebih tipis jika dibanding buku Al Mubarakfuri  yang berjumlah 864 halaman, tapi tetap saja saya termasuk cepat membacanya jika mengingat saya membaca Al Mubarakfuri dalam waktu kurang lebih setahun. Selain faktor mendesak karena harus saya selesaikan sebelum berangkat ke tanah suci, faktor lain yang menyebabkan saya lebih cepat membacanya adalah karena buku ini menggunakan kalimat yang lebih ringan dan datanya tidak sekompleks milik Al Mubarakfuri. Hanya saja, kalau boleh memilih, saya tentu masih menjatuhkan pilihan pada karya Al Mubarakfuri yang lebih runut, teliti, dan meskipun kompleks, masih tergolong mudah dipahami.

Rasa haru dan syukur masih terselip ketika membaca buku sejenis ini, perasaan yang selalu hadir ketika membaca buku biografi Rasulullah. Perasaan campur aduk yang rasanya teramat jauh berbeda ketika membaca buku-buku lain. Entahlah!

Michael Hart memang benar ketika memutuskan menempatkan Muhammad sebagai nama pertama tokoh berpengaruh di dunia hingga saat ini. Berkunjung ke tanah suci, makin menambah keyakinan saya akan kuatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah. Saya membayangkan betapa sedikit pengikutnya kala pertama beliau mengenalkan Islam. Tidak hanya sembunyi-sembunyi untuk menyebarkannya, beliau bahkan diusir dari tanah kelahirannya karena keyakinan baru yang dibawa kala itu. Lalu sekarang, masya Allah, di tempat yang sama, kota itu telah dibanjiri berjuta-juta manusia dari penjuru negeri-negeri dengan membawa misi yang sama untuk menyempurkan rukun Islam mereka. Ya Allah, ketika menulis ini pun saya haru dan menangis mengenang lautan manusia di tanah haram. Betapa dahsyatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dari Allah, padahal jarak waktu antara kehidupannya membawa risalah dengan kehidupan sekarang amatlah jauh. Jauh sekali. Apalagi kalau mengingat orang-orang tua yang sudah bungkuk berjalan masih penuh semangat mengitari baitullah, tidak bisa saya bayangkan seberapa besar rasa cinta para orang tua itu pada agama Muhammad ini. Masya Allah, memangnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh cinta?

Kembali lagi ke buku ini, setelah membacanya, terutama di bagian detik-detik penguburan jenazah Rasulullah, saya menyetop membaca sebentar. Saya bergumam :
Laki-laki itu telah pergi, laki-laki yang menghabiskan seluruh sisa umurnya sejak dia diutus sebagai nabi-Nya, untuk berjuang menegakkan risalah Islam. Tidak ada waktunya terbuang selain perjuangan jua isinya.
Lalu saya loyo mengingat diri sendiri. Ya Allah, aku mah apa? Banyak bobo paginya pas nyusuin baby A, banyak menghabiskan waktu main pesbuk, banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak jelas manfaatnya, dan kadang sibuk dengan perbuatan sia-sia atau yang tidak mendatangkan kebaikan. Astagfirullah...

Belum lagi kadang masih khilaf dan bertanduk ala nenek-nenek sihir di hadapan baby A dan ayahnya, padahal impian pingin jadi istri shalihah dan ibu terbaik buat anak telah dikumandangkan waktu masih gadis. Bakti pada kedua orang tua belum ada apa-apanya yang bisa diandalkan, malah lebih banyak berdosa kepada kedua orang tua. Kadang juga suka malas belajar kalau lagi suntuk. Shalat tahajud susah ditegakkan. Sedekah kadang masih hitung-hitungan. Hafalan Quran maju-mundur. Hiks…

Akhirnya, teramat bersyukur bisa baca lagi catatan hidup nabi ini, bisa mengulang-ulang lagi hari-hari manusia agung itu. Satu kesyukuran juga, Allah masih beri ghirah untuk membaca kisah hidup manusia yang amat dicintai-Nya. Setidaknya, dengan membaca lembar demi lembar kisahnya, jadi alarm bagi diri sendiri untuk menilai dan menyadari fluktuasi kualitas iman dan akhlak saya saat ini, sudah sejauh apa saya melenceng dari akhlak yang diteladankan Rasulullah.


Eh satu lagi, poin tambahan dari buku ini adalah ada gambarnya loh! Mulai dari baju Fathimah hingga denah masjid nabawi ada di sana, lengkap dengan keteragan di mana barang-barang peninggalan nabi dan keluarga serta sahabatnya kini dimuseumkan.  Jadi pengin berkunjung ke museum yang dimaksud suatu waktu, entah kapan ya? Mohon doanya ya!
Kredit Pribadi

Sabtu, 29 Agustus 2015

Kitab yang Berjalan


Tak kurang dari setahun, buku setebal 583 halaman ini akhirnya keluar dari jadwal bacaan saya. Memasukkannya sebagai buku-yang-harus-dibaca-ulang dalam daftar bacaan adalah harapan yang entah kapan bisa terealisasi, mengingat beberapa bacaan prioritas yang masih menumpuk. Tapi buku ini layak dan pantas untuk dibaca ulang. Ulasan yang detail terkait nama-nama orang, tempat dan waktu cukup membuat pembaca mesti menajamkan ingatan saat menemukan nama yang sama, dalam jeda halaman yang panjang.

Adalah Muhammad, nama yang ditempatkan Michael Hart sebagai urutan pertama dalam bukunya yang memuat 100 daftar manusia yang paling berpengaruh dalam panggung sejarah dunia. Bahkan setelah buku tersebut direvisi berkali-kali sebab dianggap kontroversial, nama tersebut masih di tempat yang sama. Michael Hart, seorang ahli antropologi dan sejarah, tidak sungkan-sungkan mengakui kekagumannya terhadap kehidupan Muhammad.

Membaca Sirah Nabawiah adalah meretas kehidupannya, yang oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dimulai dengan mengenali kehidupan Muhammad, bahkan jauh hari sebelum ia dilahirkan. Di mulai dari posisi bangsa Arab dan kaumnya, lalu diikuti dengan penjabaran pembagian kelas oleh Kaum Quraisy sebelum kelahiran Muhammad.

Saya teringat salah satu sekuel film yang diedit oleh Joe Campana, Muhammad the Last Prophet. Film ini diawali dengan cerita kesenangan berbalut kepongahan Abu Al Hakam saat menjadi pemimpin di dataran Mekah. Bersama dengan pemimpin-pemimpin lainnya, ia menyambut para penduduk Mekah maupun dari luar Mekah untuk datang menyembah patung-patung yang dibuatnya dengan melemparkan koin-koin harta mereka di sekitar patung. Koin-koin itu kemudian akan dimiliki Al Hakam dan kawan-kawannya. Al Hakam dalam pelajaran agama semasa sekolah, kita kenal dengan nama Abu Jahal (dari bahasa Arab “jahil” yang berarti bodoh).

Guna mendatangkan para peziarah, para pemimpin ini menyuruh para budak membersihkan patung-patung, tanpa bayaran. Masih dalam film yang sama, para pemimpin dapat memiliki seorang budak dengan permainan-permainan yang sangat mengolok-olok kemanusiaan. Misalnya dengan cara melempar batang besi yang harus tepat sasaran. Jika tidak, seketika itu dia akan jadi budak. Atau dengan cara lain yang lebih ekonomis, membelinya dari pemilik sebelumnya. Nyawa dan harkat kemanusiaan diperjualbelikan tidak ubahnya barang.

Pada masa inilah, Muhammad datang. Menolak semua hal tersebut dengan membawa ajaran baru, yang kemudian tergambar dari kebahagiaan seorang budak bernama Bilal−dimerdekakan Abu Bakar As Shiddiq. “Tidak ada yang namanya kaya atau budak di mata Allah. Semua orang sama. Dan orang miskin tidak boleh direndahkan dan dibenci, melainkan diperhatikan.” Kalimat inilah yang disampaikan Muhammad pada awal penyebaran keyakinan yang dibawanya. Dan seperti yang kita tahu, mereka para pengikut awal, sebagian besar adalah mereka yang tertindas. Ini menjadi semacam peringatan keras, kepada kaum agamawan saat ini, betapa ajaran yang dibawa Muhammad sangat memperhatikan orang-orang miskin nan papa, tertindas dan tergilas oleh kuasa. Bukankah saat ini, kita rindu pada mereka yang menggunakan simbol-simbol agama dalam dirinya, baik berupa pakaian pun ucapan, turut dan terjun menyuarakan kemanusiaan? Melakukan perlawanan pada penguasa yang dzalim dan menolak segala bentuk kebijakan yang mengucilkan mereka yang tidak berdaya.

Aku berlindung kepada Tuhan dari kemiskinan dan kekufuran”, doa Muhammad. Doa ini sering dipelintir oleh sebagian kalangan yang mengokohkan kelas-kelas baru dalam masyarakat dengan asumsi :
-Muhammad membenci kemiskinan, karena itu kita tidak boleh miskin.
-Kita harus kaya dan itu hanya dengan kerja keras sendiri.
-Sementara mereka yang miskin, itu karena kemalasan mereka sendiri.
Aduh!

Padahal, seseorang pernah bertanya pada Aisyah, bagaimana dia dan Muhammad bisa bertahan hidup sebab selama ini tidak pernah dilihatnya adonan roti dan hidangan daging domba hingga Muhammad wafat. Hanya ada “dua hal, korma dan air”, kata Aisyah.

Muhammad membenci kemiskinan akibat penindasan, tapi ia menyayangi orang-orang miskin. Bahkan cara hidupnya sendiri sama seperti cara hidup kebanyakan umatnya yang ‘kecil’. Muhammad juga membenci perbudakan, tapi bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan pembebasan para budak. Maka segala arogansi kekuasaan, diskriminasi kulit, penumpukan kekayaan yang kesemuanya mengarah pada struktur ekonomi yang menindas, dilawannya dengan konsisten. Bahkan jika dengan itu, dia harus berhadap-hadapan dengan paman-pamannya sendiri, para pemimpin Quraisy.

Kita tahu, perbudakan adalah hal yang mengakar pada masa sebelum kelahiran Muhammad. Maka, menghilangkannya tidak bisa seketika saat Muhammad mengumumkan kerasulannya. Selama hidup, Muhammad pun masih memelihara budak, yang dalam penjelasan buku shirah pemenang lomba penulisan sejarah Islam ini, beberapa didapatkan melalui tawanan perang. Namun, Muhammad perlahan-lahan−tetapi konsisten−membuka jalan pembebasan atas manusia dari perbudakan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat itu. Kita bisa meraba hal ini dengan mengetahui bahwa sehari sebelum wafat, Muhammad memerdekakan seluruh pembantu laki-lakinya (hlm 557). Nama budak yang cukup dikenal, Zaid bin Haritsah, tidak hanya dimerdekakan, tapi bahkan dijadikan anak angkat semasa hidupnya. Sementara dua nama perempuan ini : Juwairiyah binti Al-Harits dan Shafiyah binti Huyai bin Akhthab, adalah dua tawanan perang yang tidak hanya dibebaskan, tapi diangkat derajatnya dengan menjadikan keduanya sebagai istrinya sendiri. Menganalisis lebih jauh, keduanya pun adalah anak perempuan kepala suku yang cukup berpengaruh pada masanya. Maka pernikahan itu, selain pembebasan, juga sebagai upaya politik taktis Muhammad memenangkan hati kepala suku yang memiliki pengikut dengan jumlah yang tidak sedikit. Di zaman Muhammad menyebarkan Islam, masyarakat sangat menjunjung tinggi sikap saling memuliakan sesama besan atau menantu. Maka dengan pernikahan itu, Muhammad membuka jalan menyebarkan Islam dengan cara yang lebih kekeluargaan. Pada kondisi ini, lagi-lagi, siapa pun lelaki yang mengaku hendak berpoligami dengan alasan sunnah tanpa memahami konteks Muhammad berpoligami, ada baiknya membuka kembali lembaran sejarah kehidupan Muhammad.

Dalam shirah ini, penulis cukup lengkap mengurut nama-nama istri nabi beserta beberapa penjelasan kehidupan Ummahatul Mukminin. Tentang topik ini, dapat dibuka di sepanjang bab yang berjudul ‘Rumah Tangga Nabawi’ (hlm 563-570).

Masih begitu banyak−dan tidak akan pernah ada habisnya kisah keteladanan itu hingga umat manusia masih melanjutkan keturunannya−untuk dikisahkan. Beberapa kisah itu, ada di dalam buku Al-Mubarakfuri. Membacanya adalah membaca perjalanan seorang manusia yang berakhlak kitab suci. Membacanya adalah usaha membuka pintu-pintu cahaya, sebab dia tiada lain adalah manusia yang terlahir dengan cahaya dari tubuh perempuan bernama Aminah, yang diturunkan oleh Yang Maha Cahaya.


Salam dan salawat semoga senantiasa tercurah kepada kekasih-Nya, Muhammad. Allahumma salli ‘ala Muhammad, wa ‘ala aaliy Muhammad.

Senin, 10 Agustus 2015

Perempuan Penyelimut Cahaya


“Ya Ilahi, begitu sedikit pengetahuanku untuk meniti jalan-Mu. Bahkan, dalam pengetahuan yang sedikit itu pun seringkali kuragu. Karena itu, semoga Engkau berkenan menunjuki jalan yang benar, dalam perjalanan menuju-Mu.”

Doa di atas adalah doa Khadijah al-Qubra binti Khuwalid saat mengunjungi Bait al-Atik−saat ini kita kenal dengan nama Ka’bah atau Baitullah. Khadijah datang ke sana setelah malam sebelumnya ia didatangi mimpi berupa cahaya yang melingkupi seluruh tubuhnya. Mimpi itu membawa perasaan berbeda dari mimpi-mimpi yang lain. Khadijah tak tahu mesti bercerita kepada siapa perihal mimpi yang membuatnya gusar itu. Tak mungkin diceritakannya pada masyarakat kala itu, sebab ia takut menerima cemooh sebagai janda muda yang aneh. Khadijah telah dua kali menikah dan keduanya tidak berumur panjang, suami pertama meninggal dan suami kedua dzalim, karena itu Khadijah meninggalkannya. Selain itu, keanehan yang dilakukan Khadijah pada masa itu sudah begitu sering, beberapa di antaranya adalah kebiasaan memerdekakan budak secara sukarela dan membagi-bagikan koin emas kepada para janda dan orang tua yang lemah. Hanya sedikit, untuk tidak menyatakan tidak ada, orang kaya dan merdeka yang senang melakukan hal-hal demikian di masa itu.

Esok paginya, setelah malam didatangi cahaya dalam mimpi, Khadijah berlari melewati al-Hayat menuju Bait al-Atik. Di sana ia memohon kepada Tuhan, agar kelak dipertemukan dengan seseorang yang mampu menenangkan hatinya, memahami perasaannya, dan menghapus kegusarannya.

Saat kejadian ini terjadi, seperti yang dituliskan Sibel Eraslan dalam novel biografi, ‘Khadijah: Ketika Rahasia Mim Tersingkap’, dari terjemahan ‘Çöl ve Deniz’, Mekah tengah dikepung oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abyad al-Kabir. Bersamaan dengan kedatangan pasukan gajah yang datang dari Yaman itu, kita tahu, terlahirlah seorang bayi di tengah-tengah keluarga terbaik yang ada di Mekah. Nama keluarga ini adalah Bani Hasyim. Berdasarkan catatan penelitian Sirah Nabawiyah Al Mubarakfuri (1997), bayi tersebut lahir tepat pada Senin pagi, 9 Rabi’ul-Awwal. Proses kelahirannya membawa kekaguman bagi sang Kakek, Abdul Muththalib, yang mendampingi ibunya pada saat melahirkan−ayahnya wafat sejak dalam kandungan. Pintu rumahnya dilingkupi cahaya, runtuh sepuluh balkon istana Kisra, padam api yang biasa disembah orang-orang Majusi, dan beberapa kejadian lain yang diyakini sebagai tanda kerasulan saat kelahirannya. Dipeluknya cucu yang bercahaya, lalu dibawanya ke dalam Bait al-Atik−tempat yang sama di mana Khadijah datang memohon kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan seseorang yang cahaya seperti dalam mimpinya.

Duhai, inikah cinta dari mereka yang bercahaya? Sebelum bertemu dalam proses mu’amalah mudharabah−Khadijah sebagai pemilik barang dagang dan Muhammad sebagai pedagangnya, jauh hari sebelumnya, keduanya telah dituntun dalam cahaya Ilahiah. Bertemu dalam doa dan harapan yang bertaut di Bait al-Atik. Di kemudian hari, saat bayi itu telah berumur 25 tahun, sementara Khadijah telah menua pada umur yang ke-40, keduanya saling menautkan hati. Beberapa buku sejarah menyatakan bahwa Khadijah adalah cinta sejati bagi lelaki cahaya tadi. Khadijah adalah perempuan yang dipinangnya dengan mahar tak tanggung-tanggung tingginya dari segi materi, terlebih dari segi cinta dan kesetiaan. Kita tahu, seumur hidup membersamai Khadijah, tak ada perempuan lain yang dinikahi lelaki itu. Khadijah adalah penyingkap rahasia mim−huruf awal dari seseorang bernama Muhammad.

Pada umurnya yang mencapai 40 tahun, sudah waktunya diturunkan wahyu Tuhan kepada Muhammad. Peristiwa tak terjangkau indera tersebut terjadi di Gua Hira. Setelah ditemui oleh malaikat yang diutus Tuhan, dengan tergopoh-gopoh Muhammad pulang ke rumah dari tempat persembunyiannya itu. Peristiwa ini kita sebut sebagai hari diturunkannya al-Quran, yang diyakini oleh banyak penulis sejarah nabi, terjadi pada malam-malam akhir di bulan Ramadhan. Al-Mubarakfuri salah satunya yang menulis secara jelas bahwa peristiwa tersebut terjadi di bulan Ramadhan pada tahun ketiga pengasingan Muhammad di Gua Hira. Beberapa pendapat lain menyatakan hari persisnya terjadi, yakni pada hari ke-17 Ramadhan.

Peristiwa itu membuat Muhammad merasa kedinginan dan berkeringat sekaligus. Khadijah menyelimutinya, memeluknya, menenangkan hatinya. “Jangan kau gusar kekasihku, tenangkan hatimu.”

Inilah yang terjadi. Setelah doa yang dipanjatkan Khadijah berpuluh-puluh tahun sebelumnya di Bait al-Atik, bukan Khadijah yang ditenangkan, tapi dialah yang menenangkan seseorang yang pernah dimintanya itu.

***

Suatu hari, kakak lelaki saya mengatakan, “jadilah seperti Aisyah, dia adalah perempuan yang cerdas”. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, kepadanya kukatakan, “jika ada perempuan yang kucita-citakan untuk menjadi seperti dirinya, itu adalah Khadijah.”

Jalan hidup yang dipilih perempuan bergelar Sayyidatu nisâ’il ‘âlamîn (pemuka wanita seluruh dunia) itu, kasih sayangnya kepada kaum yang lemah, perjuangannya merelakan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan suaminya, dan cintanya yang tidak ada sandingannya di mata Muhammad, adalah mata air inspirasi yang senantiasa mengalir dalam hidup banyak perempuan.


Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 10 Juli 2015)

Senin, 26 Januari 2015

Seekor Gagak Hitam yang Dilanda Cinta


 
Ia adalah burung gagak hitam, yang bagi bangsanya, adalah warna hina. Ia adalah burung gagak yang terlahir sebagai budak.

Tidak ada suara baginya. Budak tidak punya hak, juga tidak punya keinginan. Kebebasannya adalah kerinduan yang sebatas panggang yang jauh dari apinya. Ia terkurung di dalam sangkar tuannya. Ia, burung gagak hitam yang malang.

Tapi ia ber-Tuhan, sementara tuannya tidak. Sebab itu, keduanya berbeda, beda yang jauh sejauh timur dan barat. Tapi sebab itu pula, gagak hitam merasa merdeka dalam posisinya sebagai budak bagi tuannya.

Suatu kali, ia berdoa diam-diam kepada Tuhannya. Sialnya (atau untungnya?), dia kedapatan oleh tuannya. Tuan si gagak hitam marah besar. Gagak hitam tidak boleh berdoa kepada tuannya. Gagak hitam tidak boleh ber-Tuhan.

Gagak hitam dicambuk, dipertontonkan di depan seluruh gagak yang lain. Ditimpakan di atas sayapnya batu gunung, diinjak-injak badannya oleh sang tuan. “Ini hukuman bagi gagak yang berani melawan tuannya. Tidak boleh ada yang ber-Tuhan bagi budak seperti gagak hitam. Budak hanya tunduk kepada tuannya, bukan kepada Tuhan”, kata tuan gagak hitam.

Gagak hitam dirantai, ditarik mengelilingi kampung, diolok-olok. Tapi gagak hitam melihat semua olokan itu sebagai kebebasan. Gagak hitam bahagia dengan kekuatannya bertahan melawan intimidasi tuannya. Semua yang melihat tahu, gagak hitam lah yang akan menang.

Meski kematian yang telah diambang pintu, tapi ia tetap bertahan untuk menang melawan tuannya. Bertahan dengan cinta yang dicecap dari Tuhan gagak hitam. Ia benar-benar dilanda cinta kepada Tuhan yang disebut-sebutnya dalam doa yang diam-diam.

Di hari-hari berikutnya, gagak hitam ditidurkan di atas kerikil, lalu dicambuk. “Hai gagak hitam, siapa yang kau sembah?”

“Ahadu, Ahadu (Dia yang satu, Dia yang satu)”, jawab gagak hitam dengan suara yang nyaris putus dari kerongkongan.

Gagak hitam kehausan, juga kelaparan. Tapi tidak ada penderitaan bagi gagak hitam selama ia bersetia dengan cinta yang satu kepada Tuhannya. Dahaga dan lapar seolah hilang ditelan cinta yang meluap-luap kepada Tuhannya. “Ahadu, Ahadu...”, demikian selalu jawaban dari gagak hitam, hingga menjelang putus urat nadinya.

Tiba-tiba, datang bangsawan membeli gagak hitam. Ia dibeli seharga 40 karung emas dari tuannya. Maka, terbebaslah gagak hitam dari tuannya yang jahat, yang tak kurang jahat dari Fir’aun. Sang dermawan mengumumkan kebebasan gagak hitam. Kini ia bisa terbang bebas, mencari Tuhannya.

***

Cerita di atas, benar-benar pernah terjadi. Ialah Bilal, budak hitam yang dipanggil “Gagak Hitam” oleh tuannya. Setelah terbebas dari sangkarnya, Bilal kemudian harum namanya sebagai pemuda bersuara-merdu-tanpa-tandingan saat memanggil setiap jiwa menemui Tuhannya.

Cerita tentang Bilal, adalah cerita tentang manusia yang tak bernilai, yang kemudian dimuliakan dengan iman. Tak habis-habis cintanya kepada Tuhan. Tuhan yang dipeluk si gagak hitam bersama lengan-lengan orang-orang yang bersaudara tanpa memandang kabilah, suku, hingga warna kulit. Mereka pun dipimpin oleh seorang pemuda yang begitu egaliter.

Tentang Bilal, buku-buku shirah punya banyak cerita yang akan dibaginya jika Anda ingin tahu lebih banyak. Salah satu yang pernah saya baca adalah karangan Al-Mubarakfuri. Jika Anda punya referensi lain, sila berbagi di sini!