Tampilkan postingan dengan label Kakak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kakak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

Ingatkah Ketika Kita Berdoa Untuk Sesuatu yang Terwujud Hari Ini?


“Kadang-kadang, hal yang terwujud hari ini, [t]nampak sebagai hal yang biasa saja sehingga kita lupa untuk bersyukur.” (Kalis Mardiasih)

Saya mengingat-ingat apa yang saya rasakan dulu saat duduk di bangku kuliah, mendengarkan dosen memberikan ceramah kuliahnya. Kerap kali, dosen menjelaskan sesuatu yang menurut saya “duh, ini ‘kan ajaran Keynesian”, atau “ya ampun, positivistik dan materialistis an sih banget doktrinnya”. Dalam lingkar pengetahuan dan disiplin akuntansi konvensional, sebagai bagian dari pengetahuan ekonomi konvensional, doktrin yang bersumber dari kapitalisme dan disokong oleh pandangan hidup yang materialistis, begitu kental adanya. Pada materi tentang obligasi atau utang jangka panjang lainnya, misalnya. Kita akan diajarkan di pelajaran yang ada di mata kuliah (biasanya) Akuntansi Madya atau lebih dikenal dengan Intermediate Accounting itu, bagaimana cara menghitung nilai utang masa kini dan masa depan. Ya tidak bisa tidak, kita akan berhadapan dengan yang namanya bunga. Pendapatan dari nilai atas uang. Uang sebagai komoditas, bukan lagi sebagai alat tukar. Saat itu, kita bisa saja lupa, bahwa yang benarnya adalah penghasilan selalu merupakan hasil dari kerja. Tidak ada penghasilan tanpa kerja. Tapi buku-buku teks tidak membahas itu. Buku teks akan memandu kita untuk menghitung “jadi berapa keuntungan dari mengeluarkan surat utang ini dan itu dengan menggunakan nilai nominal sekian dan sekian?”

Itu baru satu contoh. Di mata kuliah lain yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan hitung-hitungan, doktrin materialisme tetap saja berkibar-kibar lewat buku-buku kuliah para mahasiswa. Mata kuliah ‘Corporate Governance’, misalnya. Di permukaan sih iya, tata kelola yang baik akan mensejahterahkan semua pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Tapi kalau dikaji lebih dalam lagi, ujung-ujungnya, yang mendapatkan keuntungan terbesar dari adanya tata kelola perusahaan yang baik adalah para pemegang saham. Segelintir manusia bermodal besar yang tinggal ongkang-ongkang kaki dan sekali buka gadget bisa lihat pendapatan deviden mereka dari kerja-kerja buruh yang memeras keringat nun jauh di pabrik sana.

Kalau sudah begitu, saya diam-diam berdoa, sambil menatap dosen, “Ya Allah, beri saya kesempatan biar besok-besok bisa mengajarkan sesuatu yang benar, yang tidak menindas, yang bermanfaat untuk orang-orang papa di sekitar.” Atau paling sederhana, “Ya Allah, semoga saya jadi dosen yang mencerahkan.” Kalau dipikir-pikir, ada sedikit keangkuhan di sana. Merasa lebih baik daripada dosen yang sedang mengajar pada waktu itu. Tapi, semata-mata doa itu ada untuk sesuatu yang diyakini benar. Jangan sampai, secara tidak sadar, jadi dosen yang mendukung doktrin kapitalisme dan materialisme nantinya. Walya’udzubillah.

Baru berbilang dua tahun setelah doa itu dipanjatkan, Tuhan dengan Maha Baik-Nya, memberi kesempatan untuk berdiri di depan para mahasiswa mengenalkan akuntansi dari sisi yang berbeda. Kini, saya sangat bahagia bisa melakukan hal-hal yang pernah saya minta kepada Tuhan secara diam-diam itu. Tapi ada yang mengganggu saya untuk pertanyaan yang senada. Apakah dalam semua hal yang sudah jadi nyata hari ini, saya sudah benar-benar bersyukur?

Apakah saya sudah bersyukur atas laki-laki yang Tuhan datangkan jadi teman hidup?
Apakah saya sudah bersyukur untuk penjagaan yang saya pinta lewat ikatan suci pernikahan?

Setengah tahun sudah. Semoga tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.
Selamat tanggal 3,


Yours

Kamis, 14 Januari 2016

Pantang Menyerah Urus KTP Baru


Selama empat tahun, saya pernah tinggal menetap di Tamalanrea, Makassar. Untuk mengurus hal-hal yang sifatnya administratif di kampus dulu, misalnya mengurus beasiswa, saya harus punya KTP Makassar. Maka saya membuat KTP Makassar, dengan domisili kecamatan Tamalanrea.

Saat sekarang, saya tengah membutuhkan kartu keluarga baru bersama suami, saya pun harus mengurus surat pindah domisili. Sebenarnya, saya punya dua KTP. KTP pertama berdomisili di Tamalanrea, Makassar, dan KTP kedua berdomislili di Baranti, Sidrap. Tapi saya lebih memilih mengurus surat pindah di Tamalanrea, Makassar, karena aktivitas saya saat ini di Makassar. Saya sebenarnya sudah menjadwalkan membesuk kedua orang tua di Sidrap, sekali dua pekan. Namun itu biasanya di akhir pekan, Sabtu-Ahad. Ini berarti, kantor pemerintahan tutup, dan saya tidak bisa mengurus surat kepindahan dari Sidrap jika pun saya pulang ke Sidrap. Maka pilihannya memang mengurus di Makassar saja.

Rampung mengurus surat keterangan pindah di kelurahan Tamalanrea Indah, saya melanjutkan pengurusan di kecamatan Tamalanrea. Masalah dimulai, sistem input data di kecamatan sedang tidak dalam jaringan. Saya diharuskan menunggu dengan sabar sampai sistem berhasil diperbaiki. Tiga kali bolak-balik ke kantor kecamatan dalam waktu tiga pekan, belum juga sistemnya baik. Sampai akhirnya, saya mendapat sms dari pegawai kecamatan yang menyatakan bahwa ternyata Nomor Induk Kependudukan saya sudah tidak aktif.

Saya menjemput surat keterangan yang sudah saya serahkan sebelumnya di kecamatan, dan menyerahkannya pada ayah untuk diurus di capil. Syukurlah, di tengah kebingungan, Allah anugerahkan seorang laki-laki yang mau berbagi beban untuk mengurus surat-menyurat ini. Ayah akhirnya ke kantor capil Makassar. Hasil usaha ayah belum mengharuskan saya berhenti berusaha, rupanya. Ternyata Nomor Induk Kependudukan saya terdekteksi aktif di Sidrap. Saya harus kembali ke Sidrap untuk mengurus surat itu.

Tidak mudah menyesuaikan waktu kerja dengan waktu untuk pulang ke Sidrap guna mengurus surat kepindahan saya itu. Saya harus menyempat-nyempatkan diri, mencari waktu kantor untuk pulang. Setelah melihat ada kesempatan di saat mahasiswa sedang ujian tengah semester, saya akhirnya pulang ke Sidrap. Di Sidrap, pengurusan awalnya lancar-lancar saja, meski ada oknum yang meminta biaya administrasi di kecamatan padahal seharusnya semua gratis.

Setelah mengusahakan, surat-surat yang diperlukan di kelurahan dan kecamatan akhirnya sudah di tangan. Lanjut ke kantor capil Sidrap, kantor terakhir yang harus didatangi.

Namun pengurusan harus terhenti karena dompet saya ketinggalan di Makassar, dan di dalam dompet itu ada KTP asli saya. Untuk mengurus surat kepindahan di capil, salah satu syaratnya adalah membawa KTP asli. Lagi-lagi saya harus bersyukur, adik saya yang sedang kuliah di Makassar berencana pulang ke Sidrap pada hari Kamis sore (saya mulai mengurus berkas di kelurahan pada hari Rabu), yang artinya, saya bisa melanjutkan pengurusan di capil pada hari Jumat.

Kamis sore adik saya tiba membawa dompet berisikan KTP asli yang saya butuhkan itu. Jumat pagi, pukul 7, saya berangkat ke kantor capil. Saya memilih berangkat satu jam sebelum kantor dibuka, karena perjalanan dari rumah ke kantor capil memakan waktu satu jam lamanya. Saya tiba di kantor capil dan mengambil nomor antrian pelayanan. Ternyata syarat pengajuan berkas yang saya bawa masih ada yang kurang, saya tidak membawa Kartu Keluarga asli.

Pikir saya, Kartu Keluarga yang difotocopy sudah cukup. Ternyata KK asli dibutuhkan karena nama saya akan dihapuskan dari KK tersebut. Jadi, mau tidak mau, KK asli itu harus ada. Nah, masalahnya bukan karena saya harus bolak-balik ke rumah untuk mengambil KK asli itu. Tapi masalahnya adalah KK asli itu ada di Makassar. Mama pernah membawanya ke Semarang bersama akta kelahiran saya. Waktu itu, saya sedang mengurus penerjemahan akta kelahiran yang harus dikirim ke Jakarta. Sepulang dari Semarang, berkas-berkas saya, termasuk KK asli itu, saya simpan di Makassar. Wah, jadi harus balik ke Makassar lagi?

Sebenarnya, saya bisa meminta tolong agar KK itu dikirim saja. Namun, hari Senin nanti saya harus masuk mengajar, dan waktu itu sudah hari Jumat, yang artinya kantor baru buka hari Senin lagi. Jadi pilihan untuk tetap di Sidrap tidak memungkinkan, saya harus kembali ke Makassar. Sebenarnya, ada pilihan lain. Saya  bisa mengirim berkas tersebut setelah di Makassar, dan menerima tawaran mama, dia yang akan mengantarnya ke capil. Tapi pilihan ini sungguh berat, mengingat mama masih dalam keadaan lemah setelah penyakitnya kambuh.

Tidak ada pilihan lain, saya harus ke Makassar, dan hari Selasa kembali lagi ke Sidrap untuk melanjutkan pengurusan surat pindah domisili saya. Surat kepindahan domisli itu, harus saya miliki untuk mendapatkan berkas-berkas lanjutan yang saya butuhkan, seperti KTP baru dan paspor baru.

Wah, kalau dipikir-pikir, rasanya kok berat ya? Iya, berat, apalagi kalau bawa-bawa perasaan, sedang ditinggal suami. Mesti berjuang sendirian mengurus ini itu demi bisa ke sana mendampingi dia. Semakin berat jika kepikiran kalau sebenarnya ini karena pilihan dia yang mau sekolah jauh. Kalau dihinggapi perasaan seperti ini, yakinlah, semua tidak akan jadi. Saya pasti sudah menyerah.

Namun, hidup ini pilihan. Kita ini sedang tidak di surga, maka wajarlah kalau masalah itu datang silih berganti. Selama masih hidup, kita tidak akan terbebas dari yang namanya masalah. Tinggal diri kita saja, mau menjadikan masalah itu sebagai ladang perjuangan atau lari darinya. Kita yang memilih, melihat masalah dengan cara pandang positif atau negatif.

Allah telah restui dia sebagai pasangan hidup saya. Karena itu, tentulah Allah telah lebih dulu menakar kemampuan saya untuk berjuang bersamanya. Untuk semua yang harus diusahakan dan diperjuangkan, Allah tahu, saya mampu. Maka tiap kali lelah datang, cukuplah keyakinan bahwa Allah yang akan beri kekuatan bagi hamba-Nya yang memohon.

Bahwa pada akhirnya juga, setiap jerih perjuangan ini tidak lain menjadi bukti cinta kepada-Nya. Tersebab Tuhan perintahkan untuk muliakan suami, maka kebahagiaan suami, selama tidak menindas dan menyakiti diri, haruslah senantiasa diusahakan.

Puja-puji Ilahi, yang melapangkan setiap dada yang berserah. Dia yang menguatkan setiap langkah, menggenapkan setiap yang kurang.

Alhamdulillah, meski pun mesti pulang-balik Makassar sampai berkasnya sempat dihilangkan pihak pegawai kelurahan, akhirnya KTP baru sudah jadi. Selain alamat baru, pekerjaannya juga baru, dan paling penting.... statusnya sudah KAWIN.

Sekarang sudah bisa urus penggantian paspor yang dicuri dua tahun silam. Tapi, meski pun tidak dicuri ya tetap harus ganti juga. Masa berlakunya memang sudah habis kok. Hehe.

“Don’t quit! Suffer now and live the rest of your life as a champion” (Muhammad Ali)


*Ditulis setelah kelelahan dari kantor Bupati Sidrap & sesaat sebelum melakukan pembayaran biaya paspor ke BNI.
Sidrap-Makassar
Nopember 2015-Januari 2016

Rabu, 13 Januari 2016

Catatan Cinta Seorang Menantu


Pernah suatu ketika, seorang sahabat yang tidak kurang sebagai saudara, mengomentari tulisan di kertas-kertas origami yang tertempel di dinding kamar. Origami itu bertuliskan harapan-harapan di masa depan. “wah, indah sekali ya harapannya”, komentarnya. Iya, indah. Namanya juga harapan.

Menjadi pembelajar yang tiada henti, sebaik-baik putri bagi orang tua, wanita yang mencukupkan bagi suami, ibu yang cerdas bagi putra-putri, dan manusia yang bermanfaat bagi semesta. Itulah harapan-harapan saya di masa itu.

Tapi harapan hanyalah harapan. Diri yang sering lemah, kadang ingin berhenti mengejar harapan-harapan itu, dan menjalani semuanya seperti air yang mengalir saja. Tapi kemudian, bacaan-bacaan silih berganti dibuka. Pedoman-pedoman tidak lelah-lelah dipelajari. Ruang belajar tiada henti didatangi. Hingga akhirnya membuat diri paham bahwa berat dan banyaknya perjuangan, selalu beriring dengan indahnya jiwa yang akan dihasilkan. Bersamaan dengan itu, manisnya iman mungkin akan semakin menguatkan. Sebab “berlelah-lelahlah, indahnya hidup lelah setelah berjuang” (Imam Syafi’ie).

Kali ini, tulisan ini adalah tentang harapan untuk menjadi sebaik-baik putri yang sedang dijalani dan diusahakan. Naik turun semangat untuk mencapainya. Kadang mencapai titik terlemahnya, kadang menggebu di titik tertingginya.

Pengalaman hidup sendiri hampir tujuh tahun, selama mengenyam bangku kuliah, membuat diri telah merasa nyaman dengan kesendirian. Bisa keluar kapan saja, pulang kapan saja, menginap di mana saja, istirahat tanpa harus memikirkan siapa saja, memilih waktu belajar dengan bebas. Hingga akhirnya, pernikahan membawa diri untuk hidup di rumah yang baru, bersama keluarga suami.

Awalnya terasa sulit menyesuaikan pola hidup dengan keluarga baru di rumah. Sempat terbit niat mencari rumah sendiri saat suami pergi sekolah. Bisa hidup bebas lagi. Tapi untunglah kesadaran itu kembali mengetuk diri. Bahwa kesempatan untuk hidup bersama orang tua suami, saat dia sedang menuntut ilmu di negeri nan jauh, adalah juga rezeki dari Tuhan. Rezeki karena diberi kesempatan berkhidmat kepada orang tua. Membuatkan keduanya makanan kesukaan, rupanya juga adalah sumber kebahagiaan, yang di hari-hari ini terasa nikmat dijalani. Puja puji Ilahi yang masih memberi kesempatan untuk kembali menemukan kebahagiaan dari hidup berbagi dan bertumbuh bersama mereka yang paling dekat.

Pernah suatu ketika, sewaktu masih sangat baru di rumah mertua, sepasang mertua, saya dan suami sedang berkumpul di ruang makan. Setelah makan, ibu mertua menuju tempat mencuci dan memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci. Saya sendiri pergi ke kamar. Waktu itu mau menghubungi teman yang akan saya dan suami kunjungi pada hari yang sama.

Tidak berapa lama, suami menyusul saya. “Bikin apa?”, tanyanya. “Lagi cari kontak teman. Mau konfirmasi, kalau kita jadi ke rumahnya”, jawab saya. Tidak ada balasan jawaban dari suami. Saya menggeser pandangan dari telepon genggam menuju wajahnya. Dia termenung dengan wajah yang-yah-begitulah. Ada yang salah detected!

“Ada apa? Sedang pikir apa?”, tanya saya. Alhamdulillah, sudah bisa membaca raut muka suami kalau lagi ada yang tidak disepakatinya. “Kita’ [kamu] tinggalkan Ibu yang lagi mencuci”, jawabnya.

Haduh, padahal tidak ada maksud seperti itu. Cuma memang mau mengerjakan yang lain. Akhirnya, saya tinggalkan suami saya setelah menaruh telepon genggam. Saya menuju tempat mencuci dan meminta ibu berhenti mencuci lalu menggantikannya.

Setelah itu, saya jadi belajar untuk selalu mendahulukan pengkhidmatan kepada orang tua dibanding yang lain. Bekerja di kampus dan di tempat bergiat, apalagi sejak ditinggal suami sekolah, kerap kali membuat saya kewalahan juga mengusahakan semuanya bisa tetap saya penuhi. Tapi ya tapi, justru di sana saya malah banyak belajar.

Saya jadi belajar mengerjakan tugas dengan metode sambil-ini-sambil-itu, biar semua kewajiban bisa dilakukan. Maksudnya, kadang kalau mencuci, saya bawa buku. Sembari mesin cuci berkerja, saya membaca. Kalau waktunya membuka tutup mesin biar air sisa kotoran pakaian mengalir, saya tinggalkan buku sejenak. Setelah air di penampungan mesin penuh lagi, saya kembali lagi membaca. Begitu berulang sampai cucian siap dijemur. Kadang-kadang, sembari menjemur, saya putar radio, dengar-dengar berita biar tetap bertambah informasi kekinian yang saya punya. Setelah pakaian kering, tiba waktunya melipat dan menyeterika sembari putar percakapan bahasa Inggris untuk belajar listening. Kadang juga sembari mengobrol dengan suami lewat internet.

Sejak hidup di rumah mertua juga, saya benar-benar jadi ‘ibu-ibu-dapur’. Sehabis shalat malam saya memanfaatkan waktu mengobrol dengan suami atau mengaji, setelah itu lanjut Subuhan dan eit-no-no! tidak ada istilah tidur lagi. Saya harus turun ke dapur dengan sigap, biar tidak telat ke kantor. Di dapur, dengan kekuatan maksimal, saya mengerjakan apa saja. Kalau sudah tidak ada yang perlu diiris atau di campur bahannya, sembari menunggu masakan matang, saya kadang membaca rubrik Literasi Koran Tempo Makassar─tempat saya rajin mempublikasikan tulisan tahun-tahun belakangan ini.

Pernah juga, ibu minta ditemani jenguk keluarga beberapa hari di luar kota. Waktu itu saya masih ada beberapa kewajiban tugas memasukkan nilai akhir mahasiswa yang juga sudah mendesak. Jalannya, saya tetap temani ibu dengan membawa berkas-berkas untuk menginput nilai itu. Dan ya, ternyata saya masih ada banyak waktu senggang di sana. Setelah selesai menngakumulasi nilai, saya masih bisa membaca buku dan menulis catatan pula. Nilai tambahnya lagi, saya jadi ada kesempatan bersilaturahim ke rumah keluarga suami─mumpung masih bisa diusahakan.

Lihatlah ibu-ibu, ternyata kita memang hanya butuh bersungguh-sungguh. Dengan keyakinan semuanya insya Allah bisa dikerjakan, Allah selalu kuatkan diri-diri yang mengusahakan kebaikan.

Ridhallah, fi ridhalwalidayn. Keridaan Tuhan ada pada keridaan orang tua.

Namun ya namun, tetap saja, tidak sempurna diri ini. Meski pun sudah mengusahakan sebaik-baik yang dimampu, tidak jarang juga masih bikin orang tua khawatir. Sesekali pulang malam karena harus mengerjakan yang lain, menambah-nambah beban pikiran mereka. Apatah lagi, di usia yang semakin menua, mereka masih kerap mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena anak perempuannya ini di waktu yang sama sedang di luar rumah mengerjakan yang lain.

Saat-saat seperti itu, tersadar bahwa betapa baiknya Tuhan menganugerahkan mertua, yang memandang hubugan ini bukan sebatas menantu-mertua, tapi orang tua-anak. Sebagaimana Ibu selalu mengingatkan, “menantu itu cuma merek, kamu adalah anak Ibu”.

Di saat sedang banyak yang harus diperjuangkan, bantuan Tuhan hadir lewat keduanya, mempermudah setiap usaha yang dilalui dengan doa-doa dari mereka. Sungguh benar kalimat-Nya, bahwa “di setiap kesulitan ada kemudahan”. Kelapangan Tuhan, hadir tidak terbendung di setiap lini kehidupan, namun kerap kali terlewatkan.

Semoga Allah ridhai kesehatan dan kebahagiaan senantiasa melingkupi orang tua kita. Aamiin.


A daughter [in law], 
Makassar, di sela-sela waktu membaca.

Selasa, 05 Januari 2016

2015


Tahun 2015 berlalu. Kepada mereka yang merenda asa sembari mengukir jejak langkah perjuangannya, setahun bisa jadi berlalu tidak terasa. Hingga bulir-bulir keletihan itu mengalir tanpa keluh lagi. Hingga tarikan napas yang berat karena perjuangan terhembuskan tanpa beban lagi. Sebab keyakinan bahwa tidak ada proses yang sia-sia, dan setiap kebaikan akan kembali kepada diri sendiri pula.

Tahun 2015 bagi diri saya sendiri adalah tahun yang mencatatkan pelbagai perpindahan ruang gerak baru. Tidak hanya status yang berubah, tempat tinggal untuk berjuang pun berubah.

Masih teringat jelas, medio 2013, setelah baru saja merampungkan studi di S1 Akuntansi Unhas, saya memutuskan melanjutkan kuliah di jenjang berikutnya. Bukan tanpa risiko, sebab pihak keluarga, utamanya mama, begitu menginginkan anaknya yang mencapai gelar sarjana pertama di antara saudara-saudaranya ini memiliki pekerjaan yang baik. Mama saya, seperti banyak mama yang pernah hidup di masa orde baru, dengan banyak pengalaman dan pelajaran yang negara ini masukkan dalam hidupnya, menitipkan rasa aman terhadap masa depan anaknya pada pekerjaan kantoran berpenghasilan tinggi. Dengan keinginan besar untuk melihat anaknya berpenghasilan sendiri dan berangkat ke kantor setiap pagi berbaju dinas, tentulah suatu keputusan berat untuk membiarkan saya berangkat sekolah lagi. Tidak sebentar masa yang dibutuhkan untuk meluluhkan hati beliau, bahwa apa yang saya pilih adalah yang terbaik untuk saat itu.

Selain dari keluarga, hal lain yang membuat saya berat kala itu adalah meninggalkan komunitas tempat saya bergiat. Pada masa-masa itu, hampir semua volunteer tiba-tiba memutuskan untuk melanjutkan hidup, meninggalkan komunitas kami. Mencoba menguatkan diri, bahwa pilihan yang akan dijalani juga sebagai ladang untuk memantaskan diri dan menambah amunisi untuk kelak kembali bergiat di komunitas yang sama. Belajar sebanyak-banyaknya untuk kembali menebar manfaat sebanyak-banyaknya pula.

Dengan segala konsekuensinya, setelah menerima pengumuman kelulusan dari pihak Pascasarjana Undip, berangkatlah saya ke Semarang. Tapi bukan tanpa rintangan lagi saya harus memulai studi S2 saya di Undip, sebab pengumuman kelulusan beasiswa yang saya ambil belum keluar.

Tidak kurang tiga bulan lamanya, dengan menerima telepon dari mama hampir setiap hari yang merasa sedih saya tinggalkan, dan dengan menahan-nahan segala macam keinginan untuk makan enak karena malu meminta biaya hidup pada orang tua, hari-hari menguatkan tekad dan keyakinan akan pilihan menambah kualitas diri dengan pengetahuan, akhirnya terlewati juga. Pengumuman beasiswa pun keluar, dan nama saya ada dalam salah satu daftarnya. Puja-puji Ilahi atas Maha Luas karunia-Nya.

Satu semester terlewati dengan kebiasaan membawa bekal ke kampus demi mengirit uang beasiswa. Pilihan membeli buku-buku jauh lebih menarik ketimbang membelanjakannya untuk hal-hal lain. Menghabiskan waktu di kamar dengan buku-buku atau melewati waktu di sela-sela kuliah di perpustakaan adalah aktivitas yang jadi hobbi. Seringkali teman bertanya, “kenapa sih harus segitunya?”. Singkat jawabnya, “saya ke sini (Semarang) untuk belajar, bukan untuk yang lain.”

Satu hal, selama masa kuliah, saya memiliki teman berjuang yang luar biasa keren. Namanya Arinal Muna. Berteman dengannya, membuat saya percaya diri melakukan apa saja. Dia selalu yakin saya bisa mengerjakan yang saya sendiri meragukannya.

Hingga tibalah program Pendidikan Profesi Akuntan (PPAk) kembali terbuka di kampus yang sama saya menempuh S2. Keputusan untuk mendaftar telah bulat. Dengan menabung sisa-sisa uang hidup bulanan dari beasiswa S2, biaya kuliah PPAk dapat dibayarkan. Mumpung di Semarang, sekalian saja ambil program profesinya. Pokoknya, saya harus belajar sebanyak-banyaknya, semampu saya. Begitulah jiddiyah itu tertanam di dalam hati.

Diawali pada bulan Januari 2015, secara resmi saya menutup status mahasiswa saya sebagai mahasiswa PPAk di hadapan para pejabat kampus, teman-teman wisudawan, dan mama saya yang saat itu hadir pada upacara wisuda saya. Tidak ada target apa-apa waktu kuliah dan memang secara pribadi sudah selesai dengan yang namanya target-menarget. Saya percaya, usaha terbaik harus dilakukan, urusan hasil itu belakangan. Tuhan tidak pernah salah membalas setiap jerih. Kalau pun pada akhirnya hasil tidak sesuai dengan usaha, barangkali itulah yang terbaik. Manisnya usaha ada pada proses yang dijalani, bukan dari hasil yang dinanti.

Sumber Gambar : Arinal Muna

Di masa-masa kuliah, yang saya tahu, saya hanya harus belajar dan mendapatkan banyak pengetahuan. Tidak hanya dari dosen dan teman-teman, tapi dari referensi-referensi yang tersedia di kampus, yang pastinya tidak bisa saya dapatkan semudah itu di Makassar nanti. Ada satu hal yang selalu tertanamkan dalam diri, bahwa sesusah apa pun ujian yang diberikan dosen pada masa akhir kuliah, sesedikit apa pun pengetahuan yang saya miliki memasuki ruangan ujian, saya tidak akan pernah melakukannya dengan cara yang curang. Katakan tidak untuk menyontek! Bagaimana mungkin saya bisa mengajarkan mahasiswa-mahasiswa saya kelak untuk tidak menyontek kalau waktu kuliah saya sendiri menyontek? Ilmu, yang sejatinya suci sebab bersumber dari Tuhan yang Maha Berilmu, haruslah didapatkan dari cara-cara yang baik dan benar. Dengan jalan-jalan itu, Tuhan izinkan saya bersama dua kawan lain meraih IPK tertinggi pada saat wisuda PPAk. Sekali lagi, tidak pernah ada target seperti itu, tidak pernah ada keinginan mengalahkan yang lain, dan jauh dari niat untuk berkompetisi dengan kawan-kawan. Hanya mengusahakan yang terbaik dari diri sendiri, urusan hasil, biarkan Tuhan bekerja.

Berselang tujuh bulan setelah itu, tepat di tanggal 03 Agustus, seorang laki-laki yang saya percayakan sisa usia saya terlewati berdua dengannya, menjadikan saya sebagai sayapnya untuk terbang menyapa Tuhan. Saya resmi mengubah status sebagai seorang istri bagi laki-laki saya itu. Bersamanya, saya menaruh harapan pada jalan panjang mengukir kebaikan dalam hidup.

Dua pekan setelah menikah, saya kembali ke Semarang merampungkan studi untuk mengikuti ujian thesis. Pernikahan tidak boleh jadi alasan untuk tidak menyelesaikan kewajiban-kewajiban yang harus diselesaikan. Tiga pekan di Semarang, saya merampungkan ujian thesis saya dengan penelitian yang sampai hari ini tidak saya sangka bisa selesai juga. Sebenarnya, saya merencanakan untuk menyelesaikan thesis tersebut di bulan Maret. Namun apa daya, mundur lima bulan dari waktu yang saya rencanakan karena berbagai hal. Penelitian yang menuntut saya harus membaca lebih banyak, dan sempat sakit selama dua bulan lamanya sehingga harus istirahat total di tempat tidur.

Tapi lagi-lagi Tuhan memberikan kejutannya di akhir perjuangan itu. Selama satu bulan setelah ujian thesis, saya kembali ke Makassar untuk menemani suami di hari-hari terakhirnya di Makassar sebelum berangkat melanjutkan studi doktoralnya. Setelah suami berangkat, kira-kira sepekan, saya kembali lagi ke Semarang untuk mengikuti upacara wisuda. Didampingi mama, saya memasang toga lagi dan menerima ijazah sebagai lulusan terbaik program magister di jurusan saya. Sekali lagi, tidak pernah menargetkan dan tidak pernah ingin mengalahkan siapa-siapa. Betapa Tuhan Maha Asyik dengan rencana-rencana-Nya.

Sumber Gambar : Arinal Muna

Tibalah kembali ke Makassar untuk berjuang. Setelah memantapkan hati untuk tidak menerima tawaran tidak kurang dari tujuh perguruan tinggi guna bergabung sebagai dosen, Tuhan izinkan diri untuk menetap di Makassar dengan menjadi salah satu tenaga pengajar di kampus kota ini. Akhir 2015, secara resmi saya bergabung di kampus tersebut. Kampus yang mempertemukan saya dengan banyak mahasiswa hebat, yang dari mereka saya justru belajar banyak.

Di kota inilah gerak itu kembali dimulai. Kembali tidak hanya membawa diri, tapi keinginan-keinginan untuk berarti bagi yang lain. Kembali bergiat di tempat yang pernah saya tinggalkan. Kembali kepada orang tua, yang alhamdulillah, Tuhan masih beri kesempatan untuk berkhidmat kepada mereka. Kembali ingin menjejak kebaikan di tanah pulang.

Sungguh tidak ada yang patut disombongkan sebab memang bukan apa-apa tanpa Tuhan yang menguatkan langkah sejauh ini. Sejatinya diri hanyalah raga yang berjalan dan akan berujung sebagai mangsa cacing-cacing di tanah jika tanpa mengisi jiwa dan ruh dengan kebaikan-kebaikan. Demikianlah 2015 terlewati. Kepadamu yang sedang meniti langkah untuk berjuang, semoga Tuhan menguatkanmu. Kepadamu yang sedang meniti hari-hari untuk tidak berputus asa memperbaiki diri, sungguh kau tidak pernah sendiri.


Hidup yang tidak pernah direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dijalani, demikianlah Socrates mengingatkan. Semoga tulisan ini menjadi refleksi bagi diri, dan untung baik jika ada yang mereguk hikmah darinya. Salam. 

Kamis, 03 Desember 2015

Empat Bulan Belajar Meleburkan Ego Bersamamu


Tanggal tiga kala itu, setelah kita terikat lewat akad yang sah, kamu melangkah menuju ruangan tempatku duduk diam dengan perasaan, yang andai kamu tahu, tidak mampu terlukis sempurna dengan kata-kata apa pun itu. Terdengar lirih suaramu mengucap salam dari arah pintu ruangan tempatku ‘disimpan’ saat prosesi akad, saya pun tertunduk penuh khusyuk. Dadaku gemuruh. Bibirku bisu. Menyadari bahwa kau melangkah mendekatiku di tanggal itu, sebagai seorang lelaki yang kini statusnya sempurna berubah bagiku, membuat perasaan dan pikiranku semakin tak karuan.

Masih terekam jelas di ingatan, untuk pertama kalinya, kamu duduk di hadapanku sebagai seorang laki-laki yang telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Di dalam rumah Tuhan, ditemani kakak lelaki ibumu, kita dinikahbatinkan setelah prosesi akad. Kata pamanmu, agar di mana pun kita berada, kita akan tetap menjadi sepasang suami istri lahir batin. Meski pilihan-pilihan hidup membawa raga kita dalam kondisi yang terpisah, hati kita akan selalu merasakan dan meresapi diri sebagai sepasang kekasih. Seolah tahu bahwa kita akan menghadapi hari-hari yang panjang tanpa hidup berdampingan. Ataukah memang nikah batin itu disiapkan pamanmu untuk melewati hari-hari panjang seperti sekarang ini?

Dipandu pamanmu, jemarimu menyentuh ubun-ubunku, mataku, hidungku, bibirku, leherku, dan terakhir dadaku. Sebelum pernikahan, beberapa kali saya sempat bertanya pada orang-orang tentang apa makna di balik sentuhan laki-laki pada bagian tertentu tubuh perempuan saat setelah akad seperti yang kamu lakukan saat itu. Jawaban yang saya dapat adalah sentuhan-sentuhan itu punya makna filosofis bagi sepasang pengantin yang akan hidup bersama. Sentuhan di ubun-ubun agar pikiran kita selalu sejalan dalam melewati jalan panjang kehidupan rumah tangga kita, mata agar mataku selalu indah melihat dirimu dan sebaliknya, hidung agar saya peka mencium aroma tubuhmu dan sebaliknya, bibir agar saya selalu mengeluarkan kata-kata yang baik sebagai seorang istri dan kamu mampu menjaga dan membantuku untuk itu dan demikian pun sebaliknya, leher agar segala asupan yang melewatinya adalah yang halal lagi baik, dan dada agar hati kita senantiasa tertaut.

Setelah ritual nikah batin itu, tidak pernah kubayangkan, kamu, di hadapan orang-orang, menyerahkan mahar dengan kalimat-kalimat yang makin membuatku tidak karuan saja. Seperangkat perhiasan, sebagai lambang dari keindahan, kamu serahkan beriring kalimat, “kuserahkan mahar ini kepadamu, seperti apa yang kamu inginkan, sebagai tanda rasa kasih dan sayangku kepadamu karena Allah”. Bagaimana bisa kugambarkan diri dan perasaanku saat itu? Saya yang mengaku mencintai buku-buku ini, mencintai kegiatan tulis-menulis, jangankan mampu mengeluarkan kalimat indah untuk membalas kalimatmu, bahkan saya kehilangan daya untuk sekedar mengatakan terima kasih. Semua orang diam menunggu jawabanku, tapi tidak kunjung juga pita suaraku bekerja. Habis kataku dibuatmu, dan itu berlanjut hingga sekarang (tiap kali kamu merajuk dan atau memuji, seringkali saya hanya diam di depanmu, saya sebenarnya terlebih sering kehabisan kata saat berhadapan denganmu). Karena tidak kunjung bersuara, pamanmu akhirnya memecah keheningan dengan menyuruhmu meletakkan mahar dengan wadah berbentuk hati merah itu di tanganku. Kuterima, dan kamu membukanya. Kamu mengambil cincin yang tertanam di dalamnya. Setelah memasangkan cincin itu di jari manisku, masih dipandu pamanmu, kamu mengecupku─kecupan pertamamu sebagai seorang suami. Tiba-tiba seorang perempuan, yang di kemudian hari kutahu sebagai seseorang yang kamu hormati di tempatmu bekerja, mengambil ibu jariku dan ibu jarimu, lantas mempertemukannya. Kuat dan erat, ibu jari kita dipertemukan dan digenggamnya. Sebuah ritual yang bermakna agar pernikahan kita terjalin dalam ikatan yang satu dan kokoh. Lepas itu, selesailah prosesi sakral yang terekam dengan jelas itu. Tidak ada satu prosesi pun yang terlupa olehku yang sebenarnya pelupa akut ini.

Kemudian ingatan membawaku pada saat kita akhirnya tiba di pelaminan. Duduk bersandingan bersama kakakku dan istrinya, kita menerima tamu-tamu yang turut berbahagia dan berdoa untuk kebahagiaan kita. Sungguh saya kaku dan kikuk bahkan setelah prosesi sakral itu telah usai. Di tengah-tengah salam dan senyuman saat menjabat para tamu undangan, kamu berbisik, “uhibbukifillah” (saya mencintaimu karena Allah). Dengan suara pelan yang semoga kamu mendengarnya, kujawab kamu dengan “wa aydhan” (dan saya juga).

***

Empat bulan sudah setelah dirimu berbalas ijab qabul dengan ayahku. Pada akhirnya, kita bertemu dengan hal-hal yang kurang menyenangkan dari diri masing-masing.

Ada masa saat saya merasa kamu tidak memahamiku. Pula barangkali, ada masa saat kamu berpikir bahwa saya hanya hidup dengan cara pandang sendiri.

Ada masa saat saya merasa seharusnya kita tidak boleh menulis selembar pun catatan pernikahan kita dengan perpisahan dan lantas saya menyalahkanmu atas perpisahan kita, padahal saya tahu bahwa saya telah memilih dan menerimamu secara sadar, beserta pilihan-pilihan hidupmu. Pula barangkali, ada masa ketika kamu merasa saya tidak hadir sebagai pendukungmu di saat kamu justru membutuhkan dukungan.

Ada masa ketika saya merasa hanya remah-remah di matamu. Pula barangkali, ada masa ketika kamu merasa saya terlalu banyak menuntutmu.

Ada masa ketika saya mengetahui cerita tentang suami teman saya yang dengan rela hati mencuci piringnya sendiri dan menyediakan teh hangat untuk istrinya pada pagi hari tanpa diminta, dan saya cemburu. Pula barangkali, ada masa ketika kamu melihat istri temanmu yang pandai dan cekatan di dapur, dan kamu menemukanku terbata-bata belajar menemukan cara memasak yang baik di rumah, lantas kamu pun cemburu.

Ada masa, yang kita tahu, hanya dalam masa empat bulan saja, cacat-cacat diri kita mulai bermunculan. Tanpa kita inginkan sekali pun.

Tapi beriring dengan itu pula, ada masa ketika kamu terlelap dan saya, seperti biasa, bangun di penghujung malam untuk berdoa pada Tuhan setelah penuh haru terbangun sebagai seorang perempuan beruntung bersuamikan dirimu. Pula ada masa saat di suatu sore saya menunggumu sambil ketiduran di mushallah tempatku mengajar, agak lama karena kamu masih ada kerjaan di tempatmu mengajar, lalu di sore yang gerah itu, kamu tiba-tiba berkata, “saya beruntung memilikimu”.

Ada masa ketika saya melihat seorang teman lelaki yang kurang peka dan kurang baik dalam memuliakan teman-temannya yang lain, lantas saya begitu bersyukur bersuamikan lelaki yang selalu ingin berkata “iya” saat temannya butuh bantuan dan peka dengan hal-hal yang kadang tidak terpikirkan oleh lelaki pada umumnya. Pula ada masa saat kita berbelanja di sebuah mini market dan kamu berkata, “saya harus rajin mengingatkan diri sendiri agar tidak lapar mata. Sepertinya saya yang harus menjaga diri saat berbelanja, bukan malah istriku”.

Ada masa ketika saya begitu merasa beruntung hidup dengan seseorang yang mau membaca apa saja dan belajar dari siapa saja. Pula barangkali, ada masa ketika kamu berbahagia tidak perlu membeli buku semacam tetralogi buruh Pramoedya Ananta Toer, karena istrimu ini, jauh hari sebelum kamu ingin menghadiakannya kepadaku, sudah mengoleksinya terlebih dahulu.

Ada masa ketika saya merasa beruntung bersuamikan seseorang yang perutnya tidak pilih-pilih soal makanan, dan mau menyantap apa saja yang disediakan di meja makan. Pula barangkali, ada masa ketika kamu sedikit bahagia, saat tahu bahwa ada perempuan yang merapikan barang-barangmu yang berantakan di lemari hingga kudengar kalimatmu, “begini ya kalau sudah punya istri, barang-barang jadi rapi”.

Ada masa ketika saya terpesona saat suatu ketika kita shalat bersama, lalu kamu berbalik menghadapku, dan kamu mengajakku berdoa bersama, yang isinya tentang harapan agar pernikahan kita menjadi berkah bagi semesta. Betapa harunya saya mendengar kalimat-kalimat doamu. Pula barangkali, ada kebahagiaan di balik senyummu saat di suatu Jumat pagi kuminta kamu membaca Al Kahfi berganti-gantian denganku, kamu selembar pertama, saya lembar berikutnya, dan seterusnya.

Ada masa-masa ketika kita berdua saling bersyukur memiliki satu sama lain. Merasa istimewa dan beruntung sebab saling dipilih dan memilih, dipertemukan oleh Tuhan dalam ikatan suci pernikahan.

Tapi terkadang, kesedihan, kemarahan, kejengkelan, ketidaksyukuran, membuat kita lupa pada keberuntungan-keberuntungan yang membahagiakan itu. Kita ini memang masih begitu kurang bersyukurnya. Padahal Tuhan telah banyak memberi kebahagiaan lewat dirimu dalam hidupku, dan semoga kamu pun merasa demikian.

Kadang-kadang masalah sepele menjadi begitu besar karena ketidaksabaranku. Kadang-kadang juga kamu lupa untuk lebih berhati-hati menjaga perasaanku.

Memang, sebagaimana layaknya manusia, kita bukan pasangan yang sempurna. Kita hanya dua manusia yang mencoba tetap bergandengan untuk bisa saling mendukung menjadi insan yang paripurna di antara ketidaksempurnaan kita. Kita hanya dua manusia yang keinginannya menikah bukan sekedar untuk berbahagia sebagai pasangan kekasih, tetapi untuk kembali kepada Tuhan sebagai hamba yang telah selesai dengan amanah-amanahnya, dengan saling mendukung dalam mahligai pernikahan.

Mari mengintrospeksi diri. Semoga perasaanmu kepadaku, dan perasaanku kepadamu, senantiasa melimpah hingga esok dan esoknya lagi. Hingga tidak jera-jera diri kita untuk mau kembali memperbaiki diri.

Selamat merayakan cinta kembali.

*Pada satu bulan pertama di tanggal tiga, saya sedang berada di luar kota untuk merampungkan studi. Saya menuliskan catatan sederhana untuk merayakan kebahagiaan dan mengabadikan kenangan di bulan pertama itu. Pada bulan berikutnya, tepat di tanggal tiga, saya dan kamu sudah tidak terpisah jarak lagi. Kita berboncengan dari kota kelahiranmu menuju kota kelahiranku selama tidak kurang empat jam. Saya tidak menulis apa-apa, tapi saya mengingat dan menginsyafi tanggal tiga itu, tentu. Berada di sampingmu kala itu, lebih dari cukup untuk merayakan kebahagiaan. Sudah dua kali tanggal tiga ini, kamu berada di luar negeri untuk memulai studimu. Kutulis catatan ini untukmu. Jika pun di tanggal-tanggal tiga mendatang saya lupa menulis catatan, semoga kamu selalu ingat dan yakin bahwa aku mencintaimu─mencintai ketabahanmu mencintaiku.


Yours.

Selasa, 03 November 2015

Usaha Kecil untuk Hidup Lebih Dekat Bersama Keluarga



Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan setengah hari di Perpustakaan Daerah Semarang untuk menamatkan cerita Leo Tolstoy. Novel pendek pengarang Rusia itu diterjemahkan oleh sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer. Dalam keadaan kurang sehat, saya membaca tulisan Tolstoy seperti obat. Menyembuhkan. Ya, tulisan yang baik─yang diterjemahkan dengan cara yang juga baik, terbukti membawa dampak yang baik untuk pembacanya. Setidaknya begitulah yang saya rasakan, meski setelah membacanya saya harus diingatkan kembali dengan perut yang agak bermasalah.

Novel itu bercerita tentang Katie, seorang perempuan yang menikah dengan laki-laki yang usianya jauh lebih tua darinya. Masa-masa awal pernikahan mereka, seperti banyak cerita yang kita tahu tentang pengantin baru, adalah semata tentang cinta yang sedang berbunga-bunga. Setelah dua bulan menikah, Katie sudah merasa bosan dengan aktvitas yang sama setiap hari di rumah. Bangun, memasak untuk suami, menunggu suami pulang kerja, lalu tidur. Kepada suaminya dia sampaikan, dia ingin bergerak. Lalu suaminya yang pengertian ini, mengajak Katie berlibur ke kota. Di kota itu, Katie merasa lebih berarti. Kehidupan dan pergaulannya di kota membuat Katie merasa lebih dihargai, bukan lagi sebagai seorang perempuan yang berlindung di balik suaminya. Tapi permasalahan terjadi. Suaminya merasa tidak dihargai dengan kelakuan Katie. Maka sang suami memutuskan meninggalkan Katie yang tetap ngotot tinggal di kota.

Singkat cerita, Katie menyesali perbuatannya. Dia kembali ke rumah suaminya. Tapi keadaan sudah berbeda. Cinta keduanya tidak lagi sama. Katie akhirnya harus hidup bersesal diri karena menyia-nyiakan kebahagiaannya yang hakiki. Kebahagiaan sebagai seorang istri.

Apa yang dialami Katie tersebut, mengingatkan saya dengan seorang perempuan bernama Hasri Ainun Besari. Ya, dia adalah istri Habibie. Ainun adalah warna kontras dari Katie. Dia adalah perempuan yang menemukan kebahagiaannya di balik kebahagiaan suaminya. Dia adalah perempuan yang menemukan arti gerak dari cinta kasih yang dia berikan kepada Habibie.

***

Izinkan saya bercerita, yang mungkin akan panjang, tentang peristiwa yang terjadi dua hari sebelum saya membaca cerita Tolstoy itu. Malam itu, malam tasyakuran wisudawan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip. Saya mewakili teman-teman wisudawan ditunjuk membacakan sambutan wisudawan. Seperti yang sudah saya bayangkan, saya menangis haru karena membaca naskah sambutan yang saya buat tiga jam sebelum acara itu dimulai. Air mata saya tumpah karena mengingat dua orang laki-laki yang tidak hadir pada wisuda saya. Laki-laki pertama adalah bapak saya. Saya akan mengutip isi naskah pidato itu di sini :
Kepada laki-laki yang tidak sempat hadir di ruangan ini untuk menyaksikan wisuda saya karena beliau terkena strok ringan, dia adalah Bapak saya. Saya memanggilnya Etta. Seorang petani yang selalu setia menunggu saya di rumah untuk pulang. Dia adalah orang yang selalu mendukung setiap keputusan saya.


Setelah penyerahan piagam, acara selanjutnya adalah sambutan dari dekan. Saya sebenarnya malu dan sedikit menyesal sudah membacakan naskah sambutan yang sifatnya agak pribadi. Harusnya saya tidak perlu bercerita tentang kondisi orang tua saya. Dampaknya, dekan membahas isi sambutan saya. “Saat pertama kali masuk di kelas Mb Andis, Pak Anis sudah pesan. Ada yang namanya Andis di sana, diajak aja gabung di Undip… Undip gitu loh. Lima besar kampus top di Indonesia, kok ditolak. Akhirnya kita tahu dari sambutannya tadi, beliau ingin dekat dengan orang tuanya”.

Mendengar itu, saya hanya tersenyum simpul. Sesungguhnya saya juga ingin dekat dengan laki-laki kedua yang tidak hadir di wisuda saya.

***

Sehari setelah wisuda, bapak saya menelepon. “Bagaimana urusanmu? Kata mama kamu diminta tinggal di sana ya? Kalau saya, terserah kamu saja. Tapi bagaimana dengan suamimu?”

“Di Makassar saja. Di Makassar saya masih bisa berbuat banyak.”, jawab saya. “Ya, di Makassar saja kalau itu menurut kamu yang terbaik”, tutup bapak saya di telepon.



Saya jadi ingat peristiwa saat pertama kali, Pak Anis menawarkan saya untuk bergabung di Undip. Sehari setelah penawaran itu diberikan kepada saya, terpisah jarak yang jauh dari Semarang, di rumah saya sedang persiapan menyambut rombongan tamu besar. Setelah mendengar tawaran Pak Anis, saya menelepon mama saya di rumah. Saya menceritakan tawaran itu. “Jauh ya. Tapi terserah kamu”, kata mama saya. “Lalu bagaimana dengan laki-laki yang keluarganya akan datang ke rumah besok, Ma?”, tanya saya. “Tapi bukankah dia akan meninggalkanmu di tahun pertama pernikahanmu? Terima saja dulu. Nanti kan bisa pindah”, kata mama saya. “Tapi tidak selalu sesederhana itu, Ma”, jawab saya.


Saya menghubungi laki-laki itu. Meminta pendapatnya. Di ujung telepon, dia menyerahkan keputusan kepada saya. “Ya sudah, tidak usah diterima.”, saya memutuskan. “Kenapa?”, tanyanya memburu. “Biar kita bisa dekat”, tutup saya.

Demikianlah akhirnya, saya memilih tidak menerima tawaran yang membuat saya dihubungi oleh beberapa orang untuk memikirkan lagi keputusan saya itu. Keputusan yang membuat orang akan melihat saya dengan tatapan aneh seolah mau berkata “sayang ya, sudah ditawarkan kok ditolak”. Saya pernah menerima surel dari seorang dosen yang menyuruh saya shalat istikharah karena tidak menerima tawaran itu.

Sejujurnya, saya merasa tidak ada apa-apanya untuk tawaran itu. Kualitas saya, duh, jauh di antara dosen-dosen Undip. Pak Anis, dosen yang tidak kurang sebagai orang tua ideologi saya di kampus, entah bagaimana bisa, melihat saya dengan ekspektasi yang menurut saya berlebih. Tuhan benar-benar menutupi aib dan kelemahan saya di mata Pak Anis.
***
Memilih memutuskan untuk kembali menetap di Makassar, adalah perkara kompleks. Ada banyak alasan untuk memutuskan meninggalkan tawaran yang menjanjikan di Semarang, dan kembali ke Makassar dengan kesempatan mengabdi (sebagai dosen) yang masih samar. Seperti yang saya selalu pegang, memilih dengan sadar berarti bersiap dengan segala konsekuensi pilihan yang kita ambil. Dan dengan itulah saya tidak ingin dan semoga tidak pernah menyesal dengan keputusan saya. Mengutip sebuah pesan dari seorang guru: orang yang dewasa adalah orang yang tahu mana pilihan yang paling baik untuk dirinya. Bertanggung jawab atas pilihannya itu.

Memutuskan menetap di Makassar, di kota suami saya menetap, tentulah tidak juga lantas menjadikan saya sehebat Ainun. Butuh proses yang panjang dan usaha tiada henti untuk menjadi sebaik-baik perempuan di mata suami. Hanya Tuhan dan suami saya yang tahu, betapa banyak keburukan dalam diri saya sebagai seorang istri. Tapi setidak-tidaknya, keputusan hidup bersama dengannya di kota yang sama, setelah dia menyelesaikan studinya kelak, adalah usaha kecil untuk menjadikannya istimewa. Usaha kecil untuk tumbuh dan hidup bersama.

Hidup dalam rumah yang sama, bagi pasangan suami istri, meski tidak selalu penuh bahagia, adalah jalan untuk mengusahakan kehidupan yang baik. Begitulah pesan yang ingin disampaikan Tolstoy lewat tokoh Katie dan suaminya barangkali. Seperti kalimat terakhir dalam novel tersebut : “Kebahagiaan suami istri hanya terdapat dalam rumah tangga dan keluarganya sendiri yang beres, teratur dan baik”.

Kepada laki-laki kedua yang tidak hadir di wisuda saya, saya ingin mengutip tulisan saya di ucapan terima kasih tesis saya: “Kepada Muh. Akbar Bahar, laki-laki yang telah, tengah dan akan menjadi teman berjuang dalam hidup. Saya kehabisan kata mendeskripsikanmu, kecuali “aku mencintaimu−mencintai ketabahanmu mencintaiku.”

*Catatan ini saya buat untuk merayakan cinta. Tiga bulan lalu, cinta kami lahir dalam rumah Tuhan. Tidak selalu mudah jalan panjang ini, tapi semoga segala yang tidak mudah itu membuat segalanya lebih indah dan layak untuk diperjuangkan.

Yours,
Semarang, 03 Nopember 2015