Tampilkan postingan dengan label Sylvia Plath. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sylvia Plath. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2015

Akan Mengenang Kota Semarang dengan Cara Ini


Tiga hari dengan awal pagi yang sama, saya bergegas meninggalkan kosan. Di deretan lorong berikutnya, setelah beberapa puluh meter dari kosan, saya singgah di tempat Pak Dadang. Sarapan. Pagi ini, perpustakaan buka jam 8. Hari Senin-Jumat buka jam 7. Hari ini Sabtu, tutupnya pun lebih awal dari biasanyajam 6 sore.

Saya melewati dua orang lelaki paruh baya yang sedang mengobrol ringan di samping rumah Pak Dadang. Seorang di antaranya memegang rokok setengah batang yang belum terhisap. Seorang lagi, luput dari perhatian saya. Saya mengenali yang memegang rokok sebab beberapa hari sebelumnya, dia membantu saya mengukur badan. Dia sepertinya seorang penjahit, meski saya tidak begitu yakin karena tempat di mana dia mengukur badan saya lebih layak disebut ruang tamu. Tapi jelasnya, atas instruksi ibu-ibu yang saat itu sedang duduk di tempat yang sama kedua lelaki tadi mengobrol, saya bisa ke rumah lelaki tadi. Memintanya untuk menolong saya mendapatkan ukuran pakaian yang harus dikirim ke Makassar untuk suatu keperluan. Dia tidak memberi jawaban angka, saat saya tanyakan padanya berapa yang harus saya bayar atas jasanya mengukur ukuran pakaian saya. Tidak, jawabnya. Tidak usah.

Di sela-sela sendokan sarapan nasi rames, Pak Dadang membungkus beberapa gorengan dan bubur di samping saya. Agak berbisik, dia katakan, “untuk bapak tukang sampah”. Saya mengintip ke depan. Penglihatan saya menangkap sebuah gerobak sampah yang disampingnya berdiri sepasang kaki seorang lelaki. Pak Dadang menyerahkan bungkusannya. Tanpa menerima imbalan uang seharga makanan yang sudah dibungkus. Istrinya, sembari menggendong cucunya, terlihat biasa saja. Mungkin mereka terbiasa memberi dengan cara seperti itu, batin saya.
Gerobak Bubur Pak Dadang

Pada seruputan terakhir teh saya, datang dua lelaki muda. Hendak sarapan nasi juga, tapi nasi sudah habis terjual pagi itu. Pak Dadang masuk ke dalam rumah, setelah mengatakan kepada kedua pemuda itu, “tunggu sebentar, nasinya di piring saja ya. Ayo masuk!”. Dia tidak ingin mengecewakan pembelinya, barangkali. Nasi di dalam rumah, yang disiapkan untuk keluarga, dibawanya keluar. Dihidangkan kepada dua pembeli tadi. Saya juga pernah beberapa kali mendapatkan nasi di piring saat datang agak siangan. Kata Pak Dadang, nanti saya kelaparan di kampus. Saya harus sarapan dulu.
Teh Gratis dari Pak Dadang

Setelah membayar satu bungkus nasi rames dan sebuah gorengan−teh disediakan gratis−sejumlah tiga ribu rupiah, saya meninggalkan Pak Dadang yang masih sibuk menata gerobaknya untuk bersiap-siap keliling Pleburan. Saya kembali melewati dua lelaki tua yang sedang mengobrol tadi. Masih dengan cara yang sama, tersenyum dan sedikit membungkuk. Dibalasnya lelaki penjahit itu dengan cara yang sama pula dan mengatakan “monggo”, yang sedikit lebih keras dari yang saya ucapkan.

Saya tiba di perpustakaan didahului satu orang pengunjung yang sedang duduk di depan loker. Dia belum mengisi buku daftar pengunjung. Nama saya menempati urutan pertama lagi, setelah dua hari berturut-turut juga menempati kolom yang sama pada daftar pengunjung di ruang referensi. Perpustakaan Daerah Jawa Tengah ini, terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama terdapat beberapa bagian: ruang bermain dan belajar anak, tempat pengurusan kartu perpustakaan, beberapa bangku besi untuk duduk mengantri mengurus kartu, dua toilet, mushallah, ruang loker, tempat absen digital pengunjung, tempat pegawai dan administrasi umum, dan sebuah ruang referensi−yang menempati lokasi paling besar di lantai satu. Di dalam ruang referensi terdapat lantai mini untuk belajar atau mengerjakan tugas. Kursi dan mejanya di susun membentuk format segi empat, yang kursinya saling berhadapan. Tiga hari ini saya menghabiskan waktu mengerjakan tesis, sejak perpus buka sampai tutup, di lantai mini itu. Pada hari-hari biasa, saya berada di lantai II. Di ruangan buku-buku fiksi, tempat di mana saya bisa menemukan buku Kawabata, Shakespeare, Sylvia Plath, dan penulis-penulis novel asing lain yang karyanya susah untuk saya dapatkan jika ingin membacanya. Kadang jika mengantuk di sana, saya beralih ke ruang berkala yang berada di tengah lantai II, tempat koran-koran dan majalah disuguhkan secara berkala. Atau jika tidak, saya ke ujung kanan lantai II, melewati ruang baca untuk anak-anak yang berisi buku bergambar dan cerita anak. Di sana, ruang bagi yang ingin membaca buku pengetahuan umum. Beribu-ribu buku berjejer rapi, dipisahkan sesuai disiplin keilmuan. Mulai dari sejarah hingga kesehatan.

Hari ini, saya harus meninggalkan perpustakaan lebih awal lagi. Seperti Sabtu biasanya, pukul 3 sore. Beberapa pekan ke depan, setelah melakukan ujian tutup studi saya (aamiin), saya akan meninggalkan tempat ini. Juga meninggalkan kebiasaan saya makan di tempat Pak Dadang sebelum ke surga kecil yang ada di Semarang ini.



Minggu, 24 Mei 2015

Kalau yang Lain Sibuk Berkomentar, Saya Akan Sibuk Belajar


Ada orang yang memilih keheningan untuk menemukan kebahagiaannya. Ada pula yang dengan menjadi ‘orang asing’, dia bisa lebih damai dan tenteram. Beberapa buku yang saya baca akhir-akhir ini adalah tentang orang seperti itu. “Aku” dalam ‘The Stranger’-nya Camus dan seperti sudah saya ulas sebelumnya, Esther dalam ‘The Bell Jar’-nya Sylvia Plath. Mereka adalah orang-orang yang terasing.

***

Sudah beberapa pekan saya menutup Twitter saya, setelah sebelumnya berhasil menutup BBM, line dan WA juga. Saya memutuskan, untuk waktu yang tidak ditentukan, tidak lagi menggunakan teknologi komunikasi jarak jauh selain FB, telepon, sms, dan surat elektronik. Jujur saja, apa yang dikatakan Eka Kurniawan, begitu menancap di otak saya. Seharusnya saya bisa membaca dan menulis lebih banyak, kalau saja saya tidak menghabiskan waktu luang saya yang melimpah untuk memelototi gadget dan laptop, mengkepoi aktivitas teman-teman di media sosial.

Kadang saya jengkel dengan teman media sosial yang mengomentari berita ini dan itu dengan logika yang cacat. Saya jengkel dengan pembelaan seseorang yang mengatasnamakan agama untuk menuduh suatu kelompok salah, dan pendapatnya yang paling benar. Kenapa sih orang-orang ini tidak mau belajar dan membaca buku lebih banyak? Saya jengkel dengan orang-orang yang meluapkan kemarahannya di dunia maya. Dan tololnya saya, kenapa juga sih saya harus jengkel dengan semua itu?

Akhirnya, saya benar-benar ingin berhenti dengan ketololan itu. Ketimbang menjalin hubungan silaturahim (yang menjadi alasan saya pernah mengaktifkan berbagai media sosial) yang artifisial dan simulakrum di media sosial, saya akan meluangkan waktu mengirimi pesan pendek kepada orang-orang terdekat saja, atau menelepon mereka. Ketimbang menuntut orang-orang untuk belajar, saya yang akan memilih untuk melakukannya. Saya pikir, tidak ada orang yang suka dituntut ini dan itu, maka saya hanya akan menuntut diri sendiri saja untuk belajar.


Kalau saya hidup di dunia orang-orang yang mudah berkomentar sana-sini maka saya akan menjauh dari dunia itu, dan memilih untuk hening. Mungkin dalam hening, saya bisa belajar lebih banyak.

Selasa, 19 Mei 2015

Sylvia Plath dan Hal-hal Menyenangkan yang Harus Dilakukan




Desember 2011, “The Bell Jarr” Sylvia Plath diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Pada masa itu, saya  belum tahu-menahu, oh jangankan Sylvia Plath, sastrawan di Indonesia saja belum begitu banyak yang saya tahu. Bacaan saya, meminjam istilah Eka Kurniawan, termasuk lambat bertumbuh.

Saya sering membaca nama Sylvia Plath di beberapa ulasan tentang penulis puisi yang difavoritkan. Sekitar sepekan lalu, saya membaca “Melihat Api Bekerja” milik M Aan Mansyur, dan kembali menemukan nama Sylvia Plath di sana. Penasaran, saya memutuskan memanfaatkan fasilitas Google untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Sylvia Plath dan karya-karyanya.

Rupanya, dia tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tapi juga penulis novel. “The Bell Jar” adalah satu-satunya novel yang ditulisnya, dan pada awalnya diterbitkan dengan nama samaran, beberapa pekan sebelum ia memutuskan bunuh diri. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa, dan pada sampulnya Ahmad Tohari menyatakan novel ini pantas disebut sebagai salah satu novel terbaik yang pernah ditulis. Selain sebagai penulis, perempuan kelahiran Boston, 1932, ini kalau tidak salah juga pernah bekerja sebagai pustakawan (saya lupa membacanya di mana).


Meski termasuk telat membaca karya penulis yang wajahnya banyak dikagumi lelaki ini, sejujurnya saya tidak begitu menyesal. Pada masa seharusnya saya membaca novelnya, kalau boleh beralasan, saya sedang disibukkan dengan hal-hal menyenangkan yang lain. Salah satunya, menjadi teman di Komunitas Sekolah Rakyat KAMI. Lagi pula, di novel ini, Sylvia Plath memberi wejangan itu saya kira: kau harus melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia, itu terutama. Bagaimana bisa kau membagi kebahagiaan kepada yang lain, kalau kau sendiri tidak bahagia? Sayang sekali, Sylvia Plath pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri di usianya yang masih terbilang muda. Yah, soal wejangan, paling susah memang menasihati diri sendiri sih ya.