Tampilkan postingan dengan label Edward W. Said. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edward W. Said. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juni 2017

Menghitung Tingkat Kepuasan Ritus Ramadan


Setiap tubuh butuh makanan untuk terus bertahan hidup. Sebagai umat beragama, pemeluknya meyakini bahwa bukan hanya badan dan otak yang memerlukan makanan untuk terus bertumbuh dan bertahan dengan hidup. Roh juga.

Konsumsi roh jelas berbeda dengan fisik. Jiwa manusia, sebagaimana sifatnya yang non-materi, juga memerlukan asupan yang tidak berbentuk fisik. Salah satu penumbuhnya adalah ritus ibadah yang dilakukan dengan penuh makna, yang pada akhirnya makna akan memuaskan batin pemiliknya.

Dalam penanggalan agama Islam, bulan ke-9 hijriah diyakini sebagai bulan dihimpunnya setiap kebaikan dengan nilai berlipat-lipat di sisi Ilahi. Berangkat dari motivasi inilah, mayoritas muslim menyambutnya dengan gegap gempita. Keriangan yang mendalam atau sekadar meramaikan pesta simulakra iklan-iklan produk Ramadan di televisi, tiap penyambut memilih caranya.

Tapi kemudian kita tahu dan belajar dari tahun ke tahun, bahwa semangat beribadah itu kebanyakan hanya menyeruak di awal kedatangannya saja. Setidaknya begitu kesimpulan sederhana yang tidak terelak secara kasat mata.

Mengamati kecenderungan ini membuat ingatan saya terpanggil menuju abad awal kemunculan ilmu ekonomi. Adalah marginal utility, yang dalam padanan bahasa dikenal dengan konsep batas kepuasan. Margin yang berarti batas dan utility yang merujuk pada kepuasan konsumen.

Ide tentang bagaimana manusia mengukur tingkat kepuasannya terhadap suatu produk ini pertama kali saya jumpai lewat buku wajib Mata Pelajaran Ekonomi saat berada di bangku tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Konsep marginal utility adalah salah satu yang paling melekat dalam ingatan saya hingga kini, saat tanpa terasa delapan tahun sudah saya melepas seragam SMA. Namun, dulu saya mengenalnya sebagai ide autentik yang dipelopori oleh seorang ekonom berkebangsaan Inggris, Alfred Marshal (1842-1924). Pengenalan saya tentang konsep kepuasan manusia terhadap barang dan jasa tersebut akhirnya sedikit berubah, meski tidak mendasar. Perubahan ini terjadi setelah membaca buku asyik tulisan akademisi dari London School of Economics, The United of Kingdom, Niall Kishtainy.

Buku yang baru saja terbit awal tahun 2017 tersebut membahas sejarah perkembangan ilmu ekonomi hingga kini—meskipun sejauh yang saya baca, meminjam istilah Edward Said, buku ini berkiblat dari sejarah ‘barat’ dan memandang timur sebagai yang pinggir. Kishtainy, sebagai pengajar di bidang sejarah ekonomi, menerangjelaskan bahwa sebenarnya konsep marginal utility dibangun oleh ekonom Inggris yang lain. Namanya William Jevons (1835-1882). Marshall hanya orang berikutnya yang turut membangun konsep marginal utility setelah kematian Jevon, begitu tulis Kishtainy.

Tapi bagaimana pun sejarah dan politik pencatatan membentuk kedua nama tersebut, baik Jevon maupun Marshall sama-sama berdiri pada kesepakatan bahwa marginal utility setiap manusia sebagai manusia ekonomi (homo-economicus) bersifat tidak tetap. Pada suatu titik bahkan akan mengalami penurunan.

Sesuka apa pun saya pada cokelat merek A, misalnya, jika dalam satu waktu saya mengkonsumsinya terus-menerus, akhirnya tingkat kepuasan saya akan berkurang, atau malah bosan. Pertama-tama, tingkat kepuasan saya mengemil cokelat bisa saja delapan (tingkat 1-10). Pada bungkusan cokelat kedua, lidah saya mengenalinya dan makin merasakan enaknya, maka kepuasan saya bertambah menjadi sembilan. Sampai akhirnya di bungkusan selanjutnya titik kepuasan saya mulai menurun. Jika saya belum juga berhenti meski sudah tidak merasakan kenikmatan dalam gigitan cokelat tersebut, pada titik itulah kepuasan terhadap konsumsi saya berada di bawah ambang batas normal. Atau dalam gambar kurva marginal utility-nya, nilai kepuasan itu telah berada di titik-titik bagian kanan bawah kurva. Minus.

Pertanyaannya sekarang, apakah konsep yang sama dapat terjadi pada cara manusia mengasupi roh? Terutama jika kita kembali mengamati bagaimana muslim beribadah sepanjang bulan Ramadan? Apakah kecenderungan euforia awal yang selanjutnya semakin menurun pada pertengahan bulan bahkan cenderung kehilangan makna sebagai bulan spesial di akhir Ramadan, dengan sendirinya membenarkan bahwa konsep marginal utility juga berlaku dalam cara kita ‘bertransaksi’ dengan Ilahi?

Ketika disandarkan dengan doa yang dinukilkan dalam Hadits Riwayat Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302 dan al-Hakim 1/525 dalam Shohih Sunan Tirmidzi III (2792) yang mengangkat doa “yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘ala diinik” (Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu), maka dengan sederhana dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan manusia dalam mengkonsumsi ritus ibadah untuk rohnya sangat bisa naik. Juga turun. Mudah terbolak-balik. Dengan demikian, apakah Jevons dan Marshall sedikit keliru bahwa ternyata ide tentang marginal utility tidak hanya sejalan dengan konsep manusia sebagai manusia ekonomi namun juga sebagai manusia beragama?

Tunggu dulu! Hal ini masih bisa didiskusikan kembali tersebab dua hal. Pertama, doa meminta ditetapkan hati pada kecondongan beragama tersebut belandaskan kepasrahan manusia sebagai hamba. Doa tersebut berdiri di atas keyakinan bahwa hanya dan hanya Tuhan saja yang pada akhirnya menentukan pergerakan hati manusia.

Namun demikian, kepasrahan akan kuasa Tuhan tentulah dengan syarat telah didahului akumulasi usaha yang sungguh-sungguh. Maka sejauh mana usaha menjaga konsistensi ibadah Ramadan, juga ikut andil dalam menggerakkan garis marginal utility manusia yang bersangkutan. Sebagaimana dalam Al-Quran: tidak akan berubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengusahakan perubahan yang ada pada diri mereka (Al Quran Surah Ar-Ra’d: 11).

Kedua, meminjam istilah Prof. Quraish Shihab, sebaik-baik transaksi adalah dengan Tuhan. Adam Smith, David Ricardo dan para pengikutnya percaya bahwa penjual dan pembeli senantiasa digerakkan oleh kepentingan pribadinya. Dan kita tahu, Dia tidak pernah butuh penghambaan untuk menjadi sempurna.


Jika ibadah Ramadan adalah bentuk transaksi untuk mengambil hati Tuhan, meminta perhatian-Nya sembari mengasupi roh sendiri, maka tingkat kepuasan itu mungkinkah dapat berkurang? Bukankah Dia yang ketika manusia mendekati-Nya dengan berjalan maka Dia datang dengan berlari?

Rubrik Opini, Koran Fajar (Sabtu, 09 Juni 2017)

Jumat, 11 Maret 2016

Mabbeda’ Pica


Perempuan, katanya, adalah lambang dari keindahan yang hakiki. Umumnya di setiap zaman, perempuan senantiasa memberikan tindakan preventif pada tiap bagian tubuh mereka. Mulai dari tindakan merawat hingga mengantisipasi hal-hal yang dapat mengganggu keindahan ujung kaki hingga ujung rambutnya.

Tindakan merawat tubuh oleh perempuan, pun senantiasa bergerak dalam putaran masa, beriring kebutuhan-kebutuhan perempuan itu sendiri. Yang sulit dihindari, kebutuhan-kebutuhan yang ada kerap kali tergantikan oleh keinginan-keinginan belaka. Hal ini berujung pada asimilasi diri perempuan dari lingkungan tempatnya hidup dan berasal.

Mabbedda’ pica, satu contoh kegiatan merawat dan mempercantik diri yang dilakukan oleh banyak orang tua perempuan kita di mayoritas daerah di Sulawesi Selatan. Mabbedda’ pica adalah kegiatan mengoleskan bedak tradisional yang disebut bedda’ pica pada bagian-bagian tubuh yang diinginkan. Bedda’ pica berasal dari hasil tumbukan kunyit dan beras, dua bahan utama yang didapatkan dengan menanam sendiri bakal kunyit dan beras, masing-masing di tanah pekarangan dan di sawah si empunya. Komposisinya dapat ditambah dengan daun-daunan yang jenisnya berbeda-beda, menyesuaikan tanaman khas masing-masing daerah. Teman saya yang berasal dari Barru, menambahkan Daun Mangkokan dalam gabungan dua komposisi utama bedda’ pica untuk membuat kulit yang diolesi semakin lembut.

Di Sidrap, tempat kelahiran sekaligus tempat saya bertumbuh hingga remaja, saya mengingat aktivitas mabbedda’ pica kerap ditempuh oleh perempuan-perempuan yang masih lajang untuk menjaga tubuh mereka dari sentuhan langsung sinar matahari yang mengandung sinar ultra violet. Tebaran berbagai literatur di bidang Biologi menyatakan bahwa Curcumae Domesticae, nama latin dari kunyit, yang dikandung bedda’ pica, merupakan bahan alami untuk menolak bakteri (anti bacterial), dan karena itu dapat digunakan untuk meminimalisir gangguan di wajah seperti jerawat.

Selain fungsi keindahan, mabbedda’ pica diinisiasi oleh para orang tua, barangkali berangkat dari kebutuhan masyarakat itu sendiri. Penemuan bedak tradisional serupa bedda’ pica di masa lalu, boleh jadi karena mengingat letak geografis kebanyakan daerah di Sulawesi Selatan bercuaca panas. Mabbedda’ pica dapat menghasilkan perasaan sejuk di tubuh orang yang memakainya.

Oleh perempuan bersuamikan petani─profesi utama kebanyakan masyarakat di daerah yang bersangkutan, sebelum berangkat ke sawah mengantar bekal untuk sang suami atau sekadar ikut menemani bekerja, bedda’ pica tidak luput digunakan sebagai pelindung wajah menghadapi hamparan padi yang membentang dan matahari yang menantang. Saya tahu, karena orang tua perempuan saya melakukannya saat menemani orang tua laki-laki saya ke sawah. Banyak pula perempuan di daerah, pada siang hari di waktu senggang, berkumpul dan duduk-duduk di bawah rumah panggung mereka untuk sekadar mabbedda’ pica bersama para tetangga atau kerabat, sembari mendiskusikan hasil panen suami mereka atau harga ikan yang semakin mahal di pasar. Mabbedda’ pica rupanya, tidak terpisahkan dari kebutuhan dan aktivitas masyarakat pemakainya, pun lahir dari jantung kebudayaan masyarakat itu sendiri.

Namun sayangnya, kegiatan itu kian tenggelam dihantam gempuran berbagai produk kecantikan yang dilahirkan dari rahim penelitian-penelitian─yang katanya modern. Kejadian seperti inilah barangkali yang merupakan salah satu sebab mengapa Aime Cesaire ngotot mendefenisikan kebudayaan sebagai wujud dari hasil cipta suatu ras dengan menolak tipu muslihat yang dilancarkan para kapitalis dari Barat untuk menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru. Kebutuhan-kebutuhan yang berasal dari luar disuguhkan dan diiklankan dalam berbagai bentuk. Ditanamkan dan dipaksakan untuk dimiliki oleh masyarakat yang pada kenyataannya memiliki hasil produksi sendiri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Lebih jauh, wacana sejenis ini dengan komprehensif telah ditulis Edward W. Said dalam ‘Orientalisme’, buku yang menurut banyak pihak disebut sebagai buku babon dalam menjelaskan bagaimana Barat mengunggulkan dirinya sendiri dan menanamkan kebudayaannya pada masyarakat non-barat seperti para pemakai bedda’ pica.

Komoditas bedda’ pica yang merupakan hasil menumbuk, yang bahan dan prosesnya dihasilkan dari keringat dan jerih payah sendiri, digantikan dengan produk ala pabrikan, dan kita tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak menjadi konsumen-konsumennya. Sementara itu, para kapitalis yang berada di balik layar perusahaan-perusahaan produk kecantikan dengan gagasan modernismenya, tengah tertawa atas kesuksesan mereka menggantikan bedda’ pica dengan bedak-bedak baru di atas meja rias kita. Kita perempuan, dalam berbagai cara meminta persamaan hak dan derajat, tapi dengan rela menjadikan tubuh-tubuh kita sebagai objek utama dari lakunya produk-produk para kapitalis.


Perempuan, katanya, adalah lambang dari keindahan yang hakiki. Barangkali saya sedang ngawur saja. Huh!

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 11 Maret 2016)