Tampilkan postingan dengan label Eka Kurniawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eka Kurniawan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2016

Bertemu Eka Kurniawan di Bekas Gereja Belanda


Saya belum pernah ketemua Eka, bahkan jika dia sudah dua kali datang ke Makassar mengikuti Makassar International Writers Festival (MIWF). Kali pertama Eka berkunjung ke Makassar, saya sedang sekolah di Semarang. Kali kedua, saya sedang tergolek di kamar karena sakit. Tapi, mungkin juga kalau saya sehat, saya akan tetap memutuskan untuk tidak menemuinya. Maksud saya, kalau pun saya ke Fort Rotterdam, tempat MIWF digelar waktu itu, saya hanya akan melihatnya di kelas-kelas di mana dia jadi pembicara. Sungguh kikuk dan membingungkan buat saya menyapa orang lain yang saya yakin tidak mengenal saya, bahkan jika pun saya sendiri sudah mengikuti hampir semua tulisannya.

Tapi saya tidak kecewa juga melewatkan kelas Eka yang berharga itu di Makassar. Justru di negeri Belanda, saya berjumpa dengan Eka dengan cara yang bagi saya sebagai pembaca : menyenangkan.


Akhir pekan lalu, saya dan suami berkunjung ke Zwolle, kota yang tepat bersebelahan dengan tempat tinggal kami, Groningen. Hanya ada satu titik yang ingin kami kunjungi, Waanders In de Broeren. Itu adalah sebuah bangunan gereja tua yang sudah dialihfungsikan jadi toko buku.

Pintu Masuk Waanders in de Broeren (Kredit M.A.Bahar)

Awalnya, kami mengiranya sebagai perpustakaan. Menurut suami saya, barangkali perpustakaan itu dikonsep sebagai ruang untuk menyerap ilmu di tempat ibadah. Kan ilmu itu suci, jadi diambil dari tempat suci juga. Kesannya jadi kental buat ibadah kalau pengunjung sedang membaca. Baru membayangkan begitu saja, hati saya sudah buncah bahagia akan berkunjung ke sana.

Nanti sehari sebelum berangkat, setelah mencari-cari informasi lewat Google mengenai tempat itu, saya akhirnya tahu kalau itu bukan perpustakaan tapi toko buku. Tapi ini tidak begitu mengecewakan karena mengingat bahwa rupanya tempat itu adalah salah satu toko buku terunik di dunia. Bikin cemburunya, Zwolle malah dikenal sebagai kota industri yang aktif di negara ini. Salah seorang teman Indonesia yang sudah menetap di sana bercerita kalau pemerintah menyediakan toko buku sebagai salah satu fasilitas untuk para pekerja. Pengetahuan dianggap sebagai salah satu kebutuhan publik, yang tidak hanya milik pelajar saja.

Tampak Bagian Depan (Kredit M.A. Bahar)

Tampak Bagian Belakang (Kredit M.A. Bahar)

Tangga Menuju Lantai 4 (Kredit M.A. Bahar)

Di sanalah saya bertemu Eka Kurniawan. Pertama kali masuk, setelah mengambil beberapa foto, kami menuju rak buku khusus berbahasa Inggris. Adanya di sebelah kanan lantai 1.
 


Rak Khusus English Literature (Kredit M.A. Bahar)

Toko buku ini ada empat lantai, di sisi kiri, dan dua lantai di sisi kanan. Semuanya dijejali rak-rak buku. Selain toko buku, ada sedikit ruang untuk nongki-nongki cantik disertai penjual makanan kecil. Jadi setelah membeli buku, pengunjung bisa langsung membacanya di kantin tersebut.

Penampakan Rak Lantai 1 dan 2 Sebelah Kanan (Kredit M.A. Bahar)

Di jejeran buku berhasa Inggris bagian sastra, saya menemukan nama-nama raksasa sastra dunia dari zaman nenek moyang hingga zaman kekinian. Dari genre sastra kiri ke sastra kanan (kalau itu ada). Saya menemukan Ernest Hemingway dan Haruki Murakami, juga Marxim Gorky dan Paulo Coelho. Sayangnya saya tidak menemukan nama yang saya cari, Eka Kurniawan.

Setelah mencari di rak-rak yang ada di lantai dua, nama Eka masih tidak saya temukan. Waktu itu karena kebelet pipis, saya tidak menjajaki lantai tiga dan empat di bagian kiri gedung. Lagi pula di sana hanya ada buku dengan bahasa Belanda.

Tampak Lantai I-4 Kanan Bangunan; Semua Dipenuhi Rak Buku (Kredit M.A. Bahar)

Akhirnya saya memutuskan mencari di katalog elektornik yang tersedia. Nah kan! Ada Eka di gereja ini. Atau setidaknya, pernah ada nama Eka di sana. Saya selanjutnya masih ngotot mencari Eka di jejeran rak buku sastra, mana tahu terlewat sebelumnya, tetap saja tidak menemukannya.

Karya-karya Eka Kurniawan (Kredit M.A. Bahar)

Puas dengan hanya menemukan nama Eka di katalog, saya pindah ke nama lain yang juga tidak kurang familiarnya. Adalah Pramoedya Ananta Toer, yang jumlah bukunya tentu saja sudah jauh lebih banyak yang pernah mampir di toko buku tersebut.

***

Bahkan jika Eka tidak mengenal saya, pun mungkin tidak pernah tahu ada pembaca seperti saya yang hidup di belahan dunia ini, saya tetap bangga melihat namanya dan Pram ada di sana. Bukan hanya karena daya tarik toko buku tersebut, tapi karena negara tempat toko buku tersebut adalah negara yang tidak kurang tiga ratus tahun pernah mengangkangi Indonesia. Ketika negara yang pernah terjajah justru darinya berasal karya kebanggaan yang di pajang di negara yang pernah menjajahnya. Bolehlah saya, sebagai salah satu masyarakat Indonesia untuk sedikit mengangkat kepala, bahwa ada dua penulis kami yang tidak dapat diremehkan—meski keduanya lahir di negara yang tidak pernah mendukung atau bahkan pernah menyembunyikan (kita tidak pernah lupa pemusnahan karya-karya Pram) karya-karya keduanya.

Tentu saja, dengan kebanggaan tersebut saya sangat naïf. Saya bersembunyi di balik karya-karya penulis besar di negara saya, sementara saya sendiri belum melakukan apa-apa. Uh! Untuk sementara, mumpung masih Agustus, selamat ulang tahun kemerdekaan aja lah.

Sabtu, 11 Juni 2016

Untuk Apa Etnografi?


Membaca ‘Metode Etnografi’ milik James P. Spradley membuat saya gamang bertanya pada diri sendiri, “lantas untuk apa penelitian selama ini?”. Untuk alasan apa kita perlu bersusah payah mengumpulkan informasi kebudayaan tertentu? Untuk apa etnografi itu? Apakah kita ingin mempelajari kebudayaan orang miskin untuk membangun teori tentang kemiskinan? Tidak dapatkah kita melihat bahwa anak-anak mereka, pada waktu yang sama, tengah kelaparan?

Mengutip definisi Spradley,  salah satu cara untuk mensinkronkan kebutuhan mendesak masyarakat dengan tujuan etnografi adalah melakukan konsultasi dengan partisipan untuk menentukan topik penelitian yang penting. Jika demikian, kita harus berinteraksi terlebih dahulu dengan masyarakat untuk dapat mengetahui masalah apa yang ingin dan dapat dipecahkan. Jika mengikut syarat tersebut, seorang etnografer, tidak selayaknya membawa masalah penelitiannya, dan kemudian ke masyarakat untuk mencari komunitas yang mampu menyelesaikan masalah penelitiannya. Penelitian ada untuk kebutuhan masyarakat, bukan malah dibalik : masyarakat dicari untuk kepentingan penelitian kita.

Awalnya, Spradley pernah mencoba meneliti tentang kaum gelandangan. Spradley memulainya dari lokasi pusat penyembuhan alkoholisme. Salah satu partisipannya, seorang peminum kawakan yang menjalani kehidupan sebagai narapidana di penjara Kota Seattle, bertanya pada Spradley “Mengapa Anda tidak mempelajari hal-hal yang terjadi dalam penjara ini?”. Dari sana, Spradley ‘memutar’ arah penelitiannya. Lebih mendesak baginya untuk mempelajari budaya penjara, struktur sosial penghuni penjara, dan bagaimana para peminum yang ada di sana ditekan oleh sistem penjara.

Omong-omong soal budaya gelandangan, saya jadi ingat novel Orwell yang lebih mirip otobiografi, ‘Down and Out in Paris and London’. Kita tidak pernah tahu tentang hidup para gelandangan serta apa yang ada di dalam pikiran mereka sebelum kita menjadi atau setidaknya hidup bersama mereka, begitu menurut Orwell. Mengenal para gelandangan dan hidup dengan mereka, paling tidak, dapat membuat Orwell “merasa telah melihat kemiskinan lebih dari sekadar kulit luar”.

Yah, untuk kesekian kali, saya justru banyak memahami metode penelitian kualitatif dari cerita fiksi. Bukan dalam arti bahwa Orwell mendikte saya begini dan begitu cara meneliti etnografi yang benar. Tapi dari cerita yang dibangun Orwell, saya dipahamkan ontologi apa yang harus dimiliki oleh seorang etnografer.

Membaca novel, paling tidak bagi saya, selain  manfaat-manfaat lainnya yang banyak, juga meluaskan jangkauan pengetahuan saya tentang penelitian kualitatif. Sewaktu masih jadi mahasiswa, saya pernah meminjam cerpen Eka Kurniawan untuk menjadi pisau bagi penelitian saya.


Melalui kisah si ‘Aku’ dalam novel Orwell tadi, kita jadi paham penyebab seseorang menjadi gelandangan dan mengapa orang yang sama hampir tidak bisa terbebas dari lingkungan gelandangan tersebut. Melalui ‘Aku’ pula, pembaca akhirnya tahu siapa dan tindakan apa yang dapat membantu gelandangan tersebut keluar dari lingkaran setan kehidupannya. Seperti kata Spradley, etnografi dapat digunakan untuk menekan orang atau untuk membebaskan manusia. Pilih mana?

Rabu, 18 Mei 2016

Orwell Menguji Ketabahan Pembacanya


Dalam waktu yang berdekatan, setelah ketabahan saya dalam membaca diuji betul lewat novel Orhan Pamuk, tibalah saya pada 1984 milik George Orwell. Novel ini juga menguji ketabahan, tapi kali ini bukan pada proses membacanya, namun lebih pada kejiwaan saya menikmati intensitas karakter dan konflik yang diciptakan Orwell. Kemampuan Orwell menghidupkan karakter dari para tokohnya, juga konflik yang naik turun, ulala, bikin saya sering mengelus-elus dada.

Alkisah, seorang laki-laki yang hidup di negara yang pikirannya ditentukan oleh negara, bahkan untuk mencintai juga dilarang oleh pemerintah termasuk merasakan nikmatnya bersetubuh bagi pasangan suami istri. Jika negara mengizinkan untuk melakukan hubungan senggama, semata-mata itu hanya untuk menciptkan pasukan baru bagi pemerintah. Ruang seprivasi kamar suami-istri diatur oleh negara.

Mencintai, berempati, bersahabat, dan segala jenis perasaan adalah salah satu bagian dari kemanusiaan, dan para warga tidak boleh meresapi nilai-nilai kemanusiaannya. Kapan para warga melakukannya, ini akan berbahaya bagi pemerintah. Kondisi ketidakadilan dan kesemrawutan yang menginjak-injak nilai kemanusiaan tidak boleh disadari oleh warga, dengan begitu mereka tidak akan menuntut pemerintah.


Semakin ke sini, saya semakin merasa seupil-upil. Semakin sering gemes saat sementara baca buku. Semakin sering bertanya, “haduh, saya ke mana saja selama ini? Kok bacaan sekeren ini baru baca sekarang?”. Di sisi lain, bacaan yang saya ambil dari rak buku juga semakin pilih-pilih. Membaca tulisan Orwell mengajak saya untuk tidak pernah merasa besar sembari senantiasa meningkatkan kualitas diri sebagai pembaca. Saya kira saya butuh itu, dan akhirnya, saya harus lebih banyak membaca lagi. Tapi sebelum itu, beberapa urusan kesehatan yang akhir-akhir ini menyita waktu saya, perlu untuk diselesaikan. Kalau tidak salah, dalam wawancara terhadap Eka Kurniawan, dia mengutip nasehat Orwell : syarat utama menjadi penulis [dan otomatis juga pembaca] adalah kamu harus sehat.

Sabtu, 16 April 2016

Berhenti Sejenak Menulis Artikel Ilmiah Bahasa


Saya sedang di bandara Cengkareng menuju Semarang saat mulai menuliskan catatan ini. Dua hari lalu, saya mengikuti Temu Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia di Universitas Mercu Buana, Meruya Selatan, Jakarta. Ini perhelatan ketiga yang sama yang saya ikuti. Perhelatan pertama saya absen karena sementara ujian pada waktu yang sama. Perhelatan kedua diadakan di Makassar. Waktu itu, lebih banyak karena ingin pulang kampung saja maka saya mengikuti acara ini. Perhelatan ketiga di Bali. Saya mengikutkan artikel yang awalnya merupakan tugas kuliah dan tidak dinyana malah jadi best paper dan diterbitkan oleh penerbit jurnal yang bekerja sama dengan penyelenggara acara. Perhelatan kali ini saya ikut kembali dengan mengirimkan artikel dari thesis saya sewaktu kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Lagi, artikel tersebut mengantar saya sebagai pemakalah terbaik di perhelatan ini.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

Saya langsung mengirimkan bukti sertifikat kepada dua supervisor thesis saya itu untuk mengabari dan memberi ucapan selamat atas capaian kami. Tentu saja karena mereka punya banyak kontribusi untuk perampungan penelitian yang saya kerjakan tersebut.

Balasan dari supervisor kedua saya, membuat saya kegirangan. Dia menulis : “We are proud for your achievement and results of our productive cooperation. Hope every success in the future.” Setelah berpuas-puas diri tersenyum membaca surel tersebut, saya akhirnya semakin yakin memutuskan untuk berhenti menulis artikel ilmiah bahasa sementara ini.

Setelah dari Jakarta, tiga hari berikutnya saya akan ke Jember untuk mempresentasikan artikel pendidikan akuntansi kritis. Artikel itu adalah hasil dari apa yang saya kerjakan bersama para mahasiswa di kelas yang saya ampu enam bulan terakhir ini. Artikel itu boleh dibilang merupakan salah satu bukti kongkrit, yang kata orang ilmiah, hasil belajar bersama kami di dalam dan di luar kelas. Artikel itu sekaligus akan menjadi penanda sebagai artikel terakhir yang saya tulis dalam bahasa hingga waktu yang tidak dapat saya tentukan.

Alasan berhenti sejenak karena melihat jumlah artikel yang saya hasilkan di awal usaha belajar menulis artikel ilmiah sepertinya sudah lebih dari cukup. Kalau saya menulis lagi, kualitasnya saya rasa tidak akan jauh beda dengan empat artikel yang telah saya tulis sebelumnya. Bukankah orang yang sama dengan hari kemarin adalah orang yang rugi?

Hal yang saya butuhkan saat ini adalah membaca lebih banyak jurnal. Saya harus mengakui betapa sedikit jurnal-jurnal baik yang saya baca satu tahun terakhir ini. Sejak tidak lagi kuliah dan disibukkan dengan tugas kampus sebagai dosen, saya lebih banyak membaca novel sebagai ajang balas dendam karena sewaktu kuliah tidak sempat membacanya. Tentu saja saya tidak ingin berhenti membaca novel. Hanya saja barangkali saya harus menyisihkan lebih banyak waktu untuk duduk membaca.

Melirik Standar Akuntansi Keuangan revisi 2015 yang saya pinjam dari kampus ditambah jurnal-jurnal yang diunduhkan oleh kawan baik saya dari Semarang, membuat saya merasa ironi dengan diri sendiri. Betapa saya butuh lebih sering mengingatkan diri sendiri untuk membaca banyak hal penting ketimbang mengeluhkan banyak hal yang sedang terjadi di sekeliling saya. Mengutip Eka Kurniawan, ketimbang mengeluhkan hal yang tidak kamu sepakati, kamu lebih baik melakukan hal yang menurutmu baik. Itu lebih produktif kan?

Jumat, 05 Februari 2016

Saut Situmorang dan Buku Kritiknya


Sumber : Koleksi Pribadi

Barangkali setengah tahun, atau malah lebih, waktu yang saya butuhkan untuk membaca buku Saut Situmorang, ‘Politik Sastra’. Saat buku ini pertama kali sampai di kosan saya di Semarang tahun lalu, saya langsung membacanya. Semangat menggebu saat memiliki buku yang sudah lama saya incar dengan langsung membacanya, kerap kali saya alami. Namun sayangnya, semangat itu tidak berlangsung lama. Demikian halnya dengan buku Saut. Di tengah-tengah bacaan, saya mulai bosan dengan banyaknya kalimat kritik dan cacian yang dilontarkannya. Saya bahkan sempat berpikir, sepertinya Saut hidup hanya untuk mengurusi kebenciannya dengan sastrawan atau budayawan yang tergabung di Salihara dan Teater Utang Kayu.

Sampai kemudian saya menghadiri diskusi di Kafe Dialektika, Makassar (23/01/2016), yang mengusung tema ‘Solidaritas Makassar untuk Saut Situmorang’. Sepulang dari diskusi itu, saya mencari buku Saut di lemari. Dalam waktu tidak kurang sehari, sisa halaman yang belum saya tamatkan di waktu yang lalu, akhirnya tamat sudah. Ada yang berubah di pikiran saya setelah melanjutkan membacanya kembali.

Pada dasarnya, gaya menulis Saut, mengutip apa kata M. Aan Mansyur yang ditulis di Tempo (27/01/16)─Aan juga menjadi salah satu pembicara di diskusi yang diadakan di Kafe Dialektika itu, “Saut termasuk sastrawan yang gamblang dalam memaknai kata-kata”. Bagi orang-orang yang pernah membaca buku esai Saut yang baru saja saya tamatkan itu, saya pikir akan berpendapat tidak berbeda jauh dengan Aan. Lanjut Aan, “sejak kehadirannya [Saut] di jagat sastra Indonesia, telah membuat hati ketar-ketir banyak pihak, terutama mereka yang termasuk kategori sastrawan dan budayawan yang banyak melakukan perselingkuhan dengan kekuasaan. Apa yang dilakukan Saut selama ini tidak aman. Dia datang meruntuhkan hal yang sudah dianggap mapan. Ini yang membuat Saut menemui banyak masalah”.

Tindakan Saut untuk mengungkap perselingkuhan, bahkan sampai mengata-ngatai, beberapa  nama sastrawan yang dipuja-puji hingga kancah internasional, saya pikir sudah sampai tahap yang benar-benar berani─untuk tidak menyebutnya kelewat berani. Pandangan-pandangannya ‘liar’, dan tidak pakai ba-bi-bu. Saut langsung menjurus pada persoalan.

Apa yang ditulisnya, di beberapa halaman terakhir, juga membuktikan bahwa Saut tidak sedang dalam rangka membela kelompoknya, sastrawan yang tergabung di cybersastra, tapi Saut sedang membela kelompok sastrawan yang karyanya dianggap ‘remah-remah’ namun sebenarnya punya kualitas yang tidak kalah, bahkan jauh lebih baik dibanding karya mereka yang sudah terlanjur dianggap hebat. Salah satu pembelaannya, misalnya, kenapa pada umumnya penilaian suatu karya sastra di Indonesia yang dianggap artistik dan bermutu, selalu yang menyentuh sastrawangi? Kenapa yang disebut karya bermutu kebanyakan yang mengeksploitasi seks, yang ditulis oleh juga perempuan “cantik”, muda dan “buka-bukaan”? Bagaimana, misalnya, dengan fiksi para pengarang Forum Lingkar Pena yang berjilbab itu? Jadi apa sebenarnya yang jadi ukuran untuk menilai karya sastra? Siapa yang menentukan standar-standar ini?

Rentetan pertanyaan itu, dijawab Saut dalam bukunya. Tidak hanya soal politik sastra, Saut juga membahas tentang rendahnya kualitas kritik sastra di Indonesia, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh kritikus Belanda, A Teeuw. Kritik sastra yang ada di negeri ini, bagi Saut, tampak seperti tulisan resensi belaka.

Menurut Saut, selain persoalan isi, bentuk kalimat, dan hal-hal yang terkait dengan esetetika tulisan, ada yang lebih penting dibahas dalam sebuah karya fiksi oleh seorang kritikus. Saut, sepaham dengan Katrin Bandel─kritikus yang tidak lain adalah istri Saut sendiri, menganggap bahwa kritik sastra juga harus menyentuh wilayah kedalaman dari sebuah karya. Dalam bukunya, ‘Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas’, Katrin Bandel menulis bahwa karya sastra dapat berangkat dari cerita non-fiksi berupa ilmu sains, sejarah, kebudayaan, bahkan luruh dalam ideologi penulis karya itu sendiri. Wilayah-wilayah tersebutlah yang seharusnya juga ada dalam catatan kritis seseorang yang mendaku kritikus sastra.

Apa dan kenapa Eka Kurniawan, bisa menulis cerita tentang makhluk supranatural? Konteks negara di mana Eka tumbuh menjadi penulis, tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat akan adanya kekuatan-kekuatan supranatural seperti di novel ‘Lelaki Harimau’-nya itu. Pada masyarakat Bugis, misalnya, banyak orang percaya bahwa calon bayi yang berada di dalam rahim seorang perempuan, yang tiba-tiba saja menghilang sebelum dilahirkan, kelak akan lahir sebagai seekor buaya. Kejadian dan kepercayaan seperti ini, hidup dalam novel Eka Kurniawan. Seorang kritikus berusaha memahami hal-hal demikian. Mengapa sebuah karya sastra bisa hadir dengan jalan cerita dan tokoh-tokoh yang dipilihnya. Bacaan-bacaan apa yang dibaca penulis dan kekuasaan macam apa yang menentukan jenis bacaan yang mampu dijangkau penulis, pun bisa jadi bahan analisis bagi seorang kritikus sastra.

Kalau Saut Situmorang mampu menulis berbagai pandangan dan sikapnya tentang penulis-penulis dan tulisan-tulisan mereka yang tidak disenanginya, Eka Kurniawan, sependek pengetahuan saya, punya pandangan lain soal ini. Dalam jurnalnya, Eka menulis bahwa kebanyakan dari kita terlalu banyak berantemnya, dan itu kontraproduktif. “Sebenarnya begini, bagi saya simple aja. Kalau tidak suka dengan novel-novel yang kita tidak suka ya nggak usah dibaca. Kalau kita punya standar estetika sendiri, ya kita tawarkan. Misalnya saya sendiri banyak tidak suka dengan beberapa genre dalam sastra, misalnya novel-novel populer tidak terlalu menarik bagi saya. Tapi daripada saya berdebat dan kemudian kita ngomong novel seperti itu harus dilarang karena tidak mendidik dan sebagainya, itu malah kontraproduktif.”


Tentang keberanian bersuara, kita tidak dapat meremehkan apa yang dilakukan oleh Saut. Tidak banyak sastrawan yang barangkali mau menanggung keonsekuensi tindakan melawan komunitas sastra yang sudah ‘besar’ di negeri ini. Namun dalam banyak hal, saya selalu suka dan akhirnya bersepakat dengan Eka Kurniawan. Termasuk tindakannya, seperti apa yang dia tulis, “Bagi saya lebih [baik] kita cari novel yang kita suka dan kita menulis novel yang kita maui, itu malah produktif.” Tapi bisa jadi, menulis esai kritis tentang ‘Politik Sastra’, itu juga sudah jalan produktif bagi Saut.

Minggu, 13 Desember 2015

Sekelas dengan Eka Kurniawan


Dia duduk paling pojok, belakang bagian kiri, seperti saban hari sebelumnya. Saya duduk paling depan, tepat di depan nampan proyektor. Selalu begitu.

Dosen perempuan kami, sedikit judes, masuk. Kelas yang tadinya riuh tiba-tiba hening. Saya merapikan diri, duduk tegap menghadap ke depan. Teman-teman yang lain juga. Keliaran kami tiba-tiba takluk.

Kecuali satu orang. Dia yang duduk di pojok belakang itu. Masih dengan wajah tak acuh, tidak terpengaruh dengan kedatangan dosen. Namanya Eka Kurniawan.

Dia memang terbiasa demikian. Masuk ke dalam kelas seperti kehilangan semangat. Saya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diharapkannya dengan memasuki kelas kami. Semua tahu, dia sudah mengkhatamkan bahan-bahan bacaan, bahkan yang belum dijamah dosen sekali pun.

Saat sesi diskusi, jangan tanya lagi, dia bisa menjejalkan kami nama-nama penulis berserta judulnya, kalau perlu lengkap dengan tahun terbitnya, beserta penjelasan siapa-siapa saja penulis yang turut mewarnai penulis tersebut. Dia menyebutnya seperti menyebutkan nama-nama keluarganya saja.

Dalam beberapa kali diskusi, sebagaimana selalu menjadi masalah, kutemukan diriku terbagi antara dua peran yang saling bersaing. Tidak tahu apakah mesti menanggapi pernyataan dan pertanyaannya sebagai teman sekelas ataukah sebagai penulis yang kusukai.

Sejujurnya saya lebih tertarik dengan isi jurnal-jurnalnya termasuk esai-esainya di koran, tinimbang novel-novelnya. Padahal, dia dikenal lebih sebagai seorang novelis atau sastrawan, bukan esais. Bahkan, seperti yang sering dia katakan, dia menulis jurnal dan esai tentang bacaan-bacaannya dan perihal lain tentang novel kelas dunia, tidak lain adalah bagian dari dirinya sebagai seorang penulis novel. Dia mengikuti petuah Gabriel García Márquez, “para novelis membaca novel karya orang lain hanya untuk memahami bagaimana mereka menulis.”

Seseorang, yang saya lupa siapa, pernah menulis: membaca karya Eka Kurniawan seperti membaca karya-karya penulis dunia dalam satu cerita. Hah? Maka didorong rasa penasaran, akhirnya saya harus menelusur jauh ke belakang, mencari novel-novel klasik dari luar yang dibaca oleh Eka.

Saat ini, saya sudah mengumpulkan beberapa. Di antaranya ada Ernest Hermingway, George Orwell, Albert Camus, Rabindranath Tagore, hingga Yasunari Kawabata. Saya mendapatkan mereka dari ‘berburu’, baik di pesta buku, loakan, sampai toko buku daring. Ada juga lainnya beberapa saya nikmati dengan numpang baca di perpustakaan daerah.

Dengan rasa penasaran yang mungkin sedikit impulsif, saya bahkan pernah meminta tolong tetangga kos dengan menitip novel-novel Abdullah Harahap saat ia ke toko buku. Waktu itu saya sudah ke toko buku yang sama. Tapi tidak membelinya. Sewaktu membaca nama Abdullah Harahap di rak buku, saya merasa tidak asing dengan namanya. Tapi di mana saya menemukan namanya, saya meraba: mungkin di jurnal Eka.

Akhirnya, sepulang dari toko buku, saya membuka jurnal Eka. Dan benar! Di Jurnalnya. Eka menyukai karya-karya Abdullah Harahap, dan bukan semata karena cerita horor di dalamnya, tapi lebih karena Abdullah Harahap mampu memenuhi ekspektasi Eka tentang bagaimana sebaiknya tulisan fiksi itu disajikan: enak dibaca. Lalu percayalah saya dengan penilaian Eka (ada beberapa dasar yang saya gunakan ketika memilih buku yang akan saya miliki, ‘rekomendasi’ dari orang yang saya percaya bacaannya bagus, salah satunya). Maka dua novel Abdullah Harahap yang diterbitkan ulang, sudah saya miliki.

Ah, Anda tahu, sebenarnya, sesekali saya tidak menyukai tulisan Eka di novel-novelnya. Saya kadang berpikir, apakah orang ini bisa menulis novel tanpa ada adegan seks di dalamnya? Kenapa sih penulis keren seperti dia harus punya kebiasaan seperti itu? Sialnya, gaya menulisnya benar-benar menyenangkan.

Ingin rasanya, sekali waktu selepas kuliah selesai, saya menghampirinya dan bertanya : “hei, bisa tidak menulis novel yang adegannya tidak terlalu vulgar?” Saya mungkin tidak akan pernah bertanya padanya di luar kelas. Kami tidak akrab, bahkan tak pernah bertegur sapa. Dan lagi, jika pertanyaan itu benar-benar saya tanyakan, akan tampak basa-basi. Jenis pertanyaan apa lagi namanya jika kau sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu sendiri kalau bukan pertanyaan basa-basi?

Suatu kali dalam sebuah wawancara, dia katakan, “saya tidak pernah menulis dengan harapan semua orang menyukai karya saya. Saya memang tidak pernah mengespektasikan semua jenis pembaca suka dengan tulisan saya.” Nah, ini tamparan keras bagi penulis amatir seperti saya yang bermimpi tulisannya disukai oleh segala jenis pembaca.

***


Kejadian di atas sungguh tak pernah ada. Saya lulusan Akuntansi, dan Eka lulusan Filsafat. Dia juga lulusan jurusan yang berhubungan dengan desain (saya lupa nama jurusannya yang tepat, apa.). Jadi kelewat mustahil untuk kami bisa satu kelas. Kami pun terpaut usia yang cukup berjarak. Enam belas tahun. Namun, percayalah, apa yang saya katakan tentang Eka−pendapat saya dan juga tentangnya−adalah benar hasil dari penelusuran saya terhadap tulisan-tulisannya. Tabik.

Senin, 28 September 2015

Karena Buku Ajar Saja Tidak 'Cukup'


Untuk mencari asal-usul penggambaran keluarga nasional, selain membaca buku-buku pelajaran, saya juga menelusuri kembali sejarah nasional Indonesia.” Mengapa Saya Sasaki Shiraishi, seperti dalam kutipan tersebut, memilih menggunakan buku-buku pelajaran sekolah untuk melihat kondisi suatu bangsa?

Meminjam penafsiran Antonio Gramsci, buku-buku pelajaran yang terlembagakan dalam institusi pendidikan adalah salah satu dari berbagai alat hegemoni untuk menyebarkan suatu ideologi dan atau kekuasaan di suatu negara. Dengan demikian, sebagaimana di negara-negara lain, buku teks pelajaran sekolah dan buku yang diperuntukkan untuk anak-anak adalah sarana yang cocok, untuk tidak dibilang tepat, saat mempelajari landasan ideologi suatu rezim.

Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang tidak terlalu mengontrol apa yang dibacanya, baik karena pengetahuan awal mereka yang masih minim saat memilih buku atau pun karena hampir semua dari mereka, kalau pun membeli buku-buku pilihannya, bukan dengan uang saku sendiri, yang berarti bahwa mereka kemungkinan akan membeli buku sesuai persetujuan si pemberi uang saku. Anak-anak dalam hal ini, tidak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan bacaannya. Sementara apa yang dibacanya semasa kanak, berpotensi membentuk cara berpikirnya hingga dewasa kelak.

Perihal ketidakbebasan memilih bacaan, ini tidak berbeda jauh kondisinya dengan buku-buku yang disuguhkan di sekolah. Buku-buku telah disunting dari hal-hal yang dianggap mengganggu bentukan sejarah negara yang ingin dibangun penguasa. Nama-nama pahlawan yang banyak dikenalkan lewat buku teks pelajaran sejarah, misalnya.

Betapa saya masih ingat, di dalam buku pelajaran sekolah tingkat dasar, terjabarkan panjang lebar riwayat R. A. Kartini dan Cut Nyak Dien (yang keduanya adalah keturunan ningrat), dan sedikit sekali, atau bahkan tidak pernah menceritakan sosok Keumalahayati. Dan mari bayangkan apa yang akan terjadi dengan pikiran anak-anak SD kelas VI ketika mempelajari bab G/30S/PKI dengan sedikit diselipkan materi dari hasil penelitian John Rossa, “Dalih Pembunuhan Massal”, atau dari Ita Fatia Nadia dengan “Suara Perempuan Korban Tragedi ’65”-nya?

Untuk hal penghilangan beberapa sejarah dari bacaan anak-anak, saya bersepakat dengan apa yang pernah dikatakan seorang penerima Pulitzer (2007). Adalah Ray Douglas Bradbury, pernah menulis begini: Anda tidak perlu harus membakar buku untuk memusnahkan budaya suatu bangsa. Hanya dengan membuat mereka berhenti membaca tentang sejarah bangsanya saja.” Atau dengan sengaja menghilangkan sejarah yang ‘mengganggu’ mungkin?

***

Menelusuri bagaimana pembentukan sejarah bangsa dari buku pelajaran anak, kita bisa mundur beberapa puluh tahun ke belakang. Pelajaran sekolah sebagai suatu konsep, telah ada dan berkembang sejak lama dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kolonial yang diperkenalkan Belanda kepada masyarakat Hindia. Pelajaran sekolah beserta buku-buku sebagai penyokong pembelajaran adalah alat yang dibawa oleh Belanda pada awal abad ke-20 untuk menjinakkan kaum pibumi. Bacaan lebih lanjut tentang ini dapat ditemui secara utuh pada bab ‘Kanak-kanak Dalam Kelas’ di antara bab-bab yang terselip dalam buku Shiraisi, “Pahlawan-pahlawan Belia; Keluarga Indonesia dalam Politik”.

***

Buku-buku yang kita baca, seumpama orang tua, melakoni peran merawat dan mendidik pikiran. Menjadi pemantik & pendamping bertumbuhnya ide dan gagasan. Juga menjadi rumah pulang guna melakukan refleksi dan kontemplasi. Bukankah demikian?

Eka Kurniawan pernah menulis kurang lebih seperti ini: kita jelas tak mungkin memilih orang tua biologis, tapi kita bisa memilih orang tua bagi perjalanan intelektual kita. Nah, semisal kita bukan seorang penulis yang memiliki karya yang dapat diwariskan bagi anak-anak guna menjadi orang tua yang baik bagi pikiran-pikiran mereka, menawarkan mereka buku-buku terbaik adalah alternatif yang mungkin bisa ditempuh untuk itu. Dalam hal ini, kita telah percaya pada kapabilitas penulis dari buku-buku yang kita pilih itu, tentu. Dan dengan cara demikian lah, setidaknya kita bisa menjadi orang tua yang mampu memadukan dua peran sekaligus: menjadi orang tua biologis dan juga orang tua intelektual bagi anak-anak kita.

Seperti yang dipercaya Shiraishi, buku pelajaran adalah alat paling cocok untuk mengontrol pikiran masyarakat suatu bangsa, jadi kita tidak ingin menyerahkan anak-anak kita semata dikontrol oleh buku-buku pelajaran sekolah mereka kan? Atau kalau kita sudah percaya sepenuhnya pada buku-buku teks pelajaran sekolah untuk menjadi orang tua intelektual mereka, pendamping bagi pikiran anak-anak kita, itu mungkin soal beda lagi.

Tapi omong-omong, kalau pun kita ingin menawarkan anak-anak kita bacaan bagus, bagaimana caranya jika ternyata sebagai [calon] orang tua, kita sendiri malah malas membaca? Mungkin itu kontradiksi yang perlu dibereskan juga. Atau justru itu lah yang perlu dibereskan terlebih dahulu ya?


Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Sabtu, 26 September 2015)

Minggu, 24 Mei 2015

Kalau yang Lain Sibuk Berkomentar, Saya Akan Sibuk Belajar


Ada orang yang memilih keheningan untuk menemukan kebahagiaannya. Ada pula yang dengan menjadi ‘orang asing’, dia bisa lebih damai dan tenteram. Beberapa buku yang saya baca akhir-akhir ini adalah tentang orang seperti itu. “Aku” dalam ‘The Stranger’-nya Camus dan seperti sudah saya ulas sebelumnya, Esther dalam ‘The Bell Jar’-nya Sylvia Plath. Mereka adalah orang-orang yang terasing.

***

Sudah beberapa pekan saya menutup Twitter saya, setelah sebelumnya berhasil menutup BBM, line dan WA juga. Saya memutuskan, untuk waktu yang tidak ditentukan, tidak lagi menggunakan teknologi komunikasi jarak jauh selain FB, telepon, sms, dan surat elektronik. Jujur saja, apa yang dikatakan Eka Kurniawan, begitu menancap di otak saya. Seharusnya saya bisa membaca dan menulis lebih banyak, kalau saja saya tidak menghabiskan waktu luang saya yang melimpah untuk memelototi gadget dan laptop, mengkepoi aktivitas teman-teman di media sosial.

Kadang saya jengkel dengan teman media sosial yang mengomentari berita ini dan itu dengan logika yang cacat. Saya jengkel dengan pembelaan seseorang yang mengatasnamakan agama untuk menuduh suatu kelompok salah, dan pendapatnya yang paling benar. Kenapa sih orang-orang ini tidak mau belajar dan membaca buku lebih banyak? Saya jengkel dengan orang-orang yang meluapkan kemarahannya di dunia maya. Dan tololnya saya, kenapa juga sih saya harus jengkel dengan semua itu?

Akhirnya, saya benar-benar ingin berhenti dengan ketololan itu. Ketimbang menjalin hubungan silaturahim (yang menjadi alasan saya pernah mengaktifkan berbagai media sosial) yang artifisial dan simulakrum di media sosial, saya akan meluangkan waktu mengirimi pesan pendek kepada orang-orang terdekat saja, atau menelepon mereka. Ketimbang menuntut orang-orang untuk belajar, saya yang akan memilih untuk melakukannya. Saya pikir, tidak ada orang yang suka dituntut ini dan itu, maka saya hanya akan menuntut diri sendiri saja untuk belajar.


Kalau saya hidup di dunia orang-orang yang mudah berkomentar sana-sini maka saya akan menjauh dari dunia itu, dan memilih untuk hening. Mungkin dalam hening, saya bisa belajar lebih banyak.

Selasa, 19 Mei 2015

Sylvia Plath dan Hal-hal Menyenangkan yang Harus Dilakukan




Desember 2011, “The Bell Jarr” Sylvia Plath diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Pada masa itu, saya  belum tahu-menahu, oh jangankan Sylvia Plath, sastrawan di Indonesia saja belum begitu banyak yang saya tahu. Bacaan saya, meminjam istilah Eka Kurniawan, termasuk lambat bertumbuh.

Saya sering membaca nama Sylvia Plath di beberapa ulasan tentang penulis puisi yang difavoritkan. Sekitar sepekan lalu, saya membaca “Melihat Api Bekerja” milik M Aan Mansyur, dan kembali menemukan nama Sylvia Plath di sana. Penasaran, saya memutuskan memanfaatkan fasilitas Google untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Sylvia Plath dan karya-karyanya.

Rupanya, dia tidak hanya dikenal sebagai penulis puisi, tapi juga penulis novel. “The Bell Jar” adalah satu-satunya novel yang ditulisnya, dan pada awalnya diterbitkan dengan nama samaran, beberapa pekan sebelum ia memutuskan bunuh diri. Novel ini telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa, dan pada sampulnya Ahmad Tohari menyatakan novel ini pantas disebut sebagai salah satu novel terbaik yang pernah ditulis. Selain sebagai penulis, perempuan kelahiran Boston, 1932, ini kalau tidak salah juga pernah bekerja sebagai pustakawan (saya lupa membacanya di mana).


Meski termasuk telat membaca karya penulis yang wajahnya banyak dikagumi lelaki ini, sejujurnya saya tidak begitu menyesal. Pada masa seharusnya saya membaca novelnya, kalau boleh beralasan, saya sedang disibukkan dengan hal-hal menyenangkan yang lain. Salah satunya, menjadi teman di Komunitas Sekolah Rakyat KAMI. Lagi pula, di novel ini, Sylvia Plath memberi wejangan itu saya kira: kau harus melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia, itu terutama. Bagaimana bisa kau membagi kebahagiaan kepada yang lain, kalau kau sendiri tidak bahagia? Sayang sekali, Sylvia Plath pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri di usianya yang masih terbilang muda. Yah, soal wejangan, paling susah memang menasihati diri sendiri sih ya.

Jumat, 08 Mei 2015

Menduga-duga “Semusim, dan Semusim Lagi”





Dalam penempatan tokoh-tokohnya, dan belajar dari karakter-karakter yang dibentuknya, saya bisa secara semena-mena menyatakan bahwa penulis “Semusim, dan Semusim Lagi” sedikit banyak dipengaruhi oleh penulis Jepang yang dua tahun ini masuk dalam nominasi Nobel Sastra. Kalau mau lebih tepatnya lagi, novel besutan pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2012 ini mengingatkan saya pada karya Haruki Murakami, “Kafka on the Shore”.

Kita bisa meraba-raba kemungkinan itu dengan menyama-nyamakan penokohan yang muncul pada kedua novel tersebut. Seorang anak sulung yang hidup dengan orang tua tunggal, namun terasa seperti orang asing. Anak remaja itu kemudian meninggalkan rumah tanpa izin. Tujuan kaburnya untuk mencari orang tua tunggalnya yang lain, yang telah meninggalkannya sejak dia bahkan belum mampu melakukan proses mengingat dengan baik−untuk menyimpan kenangan dengan orang tuanya tersebut. Dalam proses pencarian anak itu, permainan konflik muncul dengan intens. Dan ya, jangan lupa, baik novel Haruki, pun novel ini, kucing muncul dalam cerita. Meski Andina lebih memilih ikan emas koki dibanding kucing sebagai “tokoh” yang menemani “aku” pada sebagian besar kisahnya.

Dugaan saya perihal pengaruh karya Haruki terhadap karya Andina Dwifatma menjadi lebih kuat setelah membaca pengumuman UWRF 2015 (saya membuka HP dan secara acak menemukan pengumuman ini saat jeda membaca novel Andina). Potongan isi surat Pertanggungjawaban Kuratorial UWRF yang disusun oleh Eka Kurniawan, M. Aan Mansyur, dan Ketut Yuliarsa itu berbunyi : “... kita bisa melihat beberapa di antara mereka [16 penulis terpilih UWRF 2015] dengan cekatan menulis cerita ala Haruki Murakami... ”. Dan, ‘beberapa’ yang dimaksud kemudian diperjelas dengan penjelasan, “[h]al ini terlihat misalnya dalam karya-karya ... [salah satunya] Andina Dwifatma ... ”.

Hal yang menarik dari penjelasan para kurator UWRF, bahwa meski dipengaruhi oleh penulis Jepang, mereka tetap mampu menceritakan hal yang berbeda dengan penulis Jepang tersebut. Untuk karya Andina, “Semusim, dan Semusim Lagi”, ‘hal berbeda’ yang dimaksud dengan sangat gamblang terjelaskan lewat judulnya. Pemilihan judul “Semusim, dan Semusim Lagi” dicomot dari puisi Sitor Situmorang, “Surat Kertas Hijau” (1953).

Andina memetik idenya dari puisi sastrawan Indonesia, dengan meminjam berbagai teknik menulis, salah satunya dari Haruki Murakami. Eka Kurniawan mengangkat cerita tentang kehidupan pada akhir masa kolonial pada novel “Cantik Itu Luka”-nya, dipengaruhi Gabriel García Márquez. Dan beberapa penulis keren, juga menempuh cara yang sama.

Mereka, para penulis yang baik itu, membaca karya-karya penulis yang dianggapnya keren, dan belajar dari sana. Dan ini lah pola yang saya pelajari dari membaca karya-karya mereka.


Kalau kita mau terus belajar, selalu ada hal-hal menyenangkan yang bisa dipelajari dari karya-karya yang baik. Pertanyaannya, bersediakah kita terus belajar ?

Sabtu, 21 Maret 2015

Memilih Asupan untuk Otak Kita


Peringatan! Tulisan ini bukan perihal asupan empat sehat lima sempurna. Terlebih bukan tentang piramida makanan bergizi. Sebab saya tidak memiliki kapasitas pula untuk menuliskan hal-hal semacam itu.

Ini tentang pikiran kita dan bagaimana ia diberi asupan oleh kita sendiri. Seperti halnya tubuh, pikiran pun butuh makanan bergizi. Ada banyak jenis “makanan” bergizi baik−yang dapat menjadi asupan otak kita. Membaca kitab suci salah satunya. Tapi, kali ini saya ingin membahas bacaan yang lain, selain kitab suci.

***

Buku-buku tentang bagaimana selayaknya menjadi pekerja-jenis-apa-saja-yang-penting-sukses, tak bisa dielak, kian laris manis seperti sedang lomba maraton dengan buku-buku panduan dan trik mengumpulkan uang dalam waktu singkat di toko-toko buku. Masuk saja ke salah satu toko buku besar di negeri ini. Palingkan pandangan ke rak best seller atau new arrival. Tidak sulit menemukan mereka terpasang manis di antara jejeran buku, seolah menggoda pembeli, meminta dibawa ke meja kasir dengan segera.

Ada dampak yang kemudian ditimbulkan (saya tidak tahu pastinya, apakah berdampak langsung atau tidak, tapi jelas ini terjadi). Begini, akibat terlalu banjirnya buku-buku yang saya maksud sebelumnya, sebagian dari kita yang malas membaca atau mencari informasi tentang buku, mungkin akan memilih buku-buku yang kurang, untuk tidak dikatakan tidak memiliki, gizi di dalamnya. Selanjutnya, ini akan semakin membuat kita jauh dari ‘kesehatan’ nalar dan daya pikir. Ad hominem, umpamanya. Bukankah pertumbuhan otak yang baik, sedikit-banyak ditentukan oleh jenis buku yang dibaca oleh pemiliknya?

Mengambil data yang dilansir Unesco, paparan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1 Desember 2014) menyatakan jumlah minat baca di Indonesia pada 2012 adalah 0,001. Artinya, hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang punya minat baca serius. Saya ulangi, 1 dari 1000! Tidak ada data lanjutan, berapa dari 0,001 tersebut yang serius menangani pertumbuhan bacaannya dengan menyantap bacaan yang bergizi. Tentu jika pun data tersebut ada, angka statistik pembaca yang kita temukan akan semakin kecil.

Manusia-manusia yang mencintai buku, tidak selalu bertumbuh daya pikirnya seiring dengan bertambahnya jumlah buku yang dibaca. Tidak ada jaminan, orang yang kutu buku akan menjadi lebih bijak, lebih cerdas, atau lebih kritis, dibanding yang malas membaca. Sebab, sekedar membaca, itu sama saja dengan aktivitas menonton televisi, atau aktivitas hiburan lainnya. Pembedanya adalah buku apa yang dibaca?

Adalah Jorge Luis Borges, penulis Argentina yang dianggap sebagai salah satu tokoh sastra terbesar abad 20, pernah mengatakan bahwa sesungguhnya kegiatan membaca adalah intelek, bahkan lebih intelek daripada menulis itu sendiri. Jika saya boleh merevisi kalimat Borges tersebut, saya ingin menulis begini: sesungguhnya kegiatan membaca bacaan yang baik, lebih intelek daripada menulis. Buku yang baik, kata teman saya, adalah buku yang membuat pembacanya semakin ingin membaca. Membaca lagi. Dan membaca lagi.

Pernahkah kita mencoba berhitung, berapa kali menemui bacaan yang berupa tempelan-tempelan? Atau mungkin kita pernah membeli buku dan merasa tidak terjadi penambahan apa-apa dalam otak, bahkan setelah selesai membacanya? Tiap orang memang punya alasan sendiri-sendiri memilih buku. Tapi membiarkan diri yang sudah berumur 23 tahun, dengan tetap membaca teenlit umpamanya, dengan intensitas tinggi pula, membuat kita harus bertanya, sudahkah kita memenuhi hak otak kita sendiri dengan memberikannya asupan yang bergizi?

Barangkali kita bisa menengok daftar bacaan selama ini. Lantas bertanya pada diri sendiri, “apa yang bertambah dari mengkhatamkan mereka semua?” atau bertanya “apa yang saya dapat dari mereka?” atau pertanyaan yang sedikit filosofis, “sudahkah saya menjadi lebih baik dengan mengecap pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalam buku-buku tersebut?”

***

Saya punya semacam cara, yang sudah saya lakukan, tentu. Mana tahu berguna. Sebelum membeli atau membaca satu buku, saya biasanya mengandalkan bacaan orang-orang yang kualitas bacaannya jauh lebih baik dari saya sendiri. Beberapa penulis atau sastrawan di Indonesia, syukurnya berbaik hati untuk hal ini. Di akun media sosial atau laman blog pribadi mereka, kadang terpajang ulasan tentang buku apa yang [se]baik[nya] dibaca. Untuk penulis baik hati seperti ini, saya merekomendasikan laman daring milik Eka Kurniawan.

Itu untuk bacaan sastra, untuk bacaan jurnal penelitian atau artikel ilmiah, saya melakukan hal yang mirip. Setiap membaca jurnal, saya melihat daftar pustakanya. Saat dua atau lebih jurnal merujuk pada jurnal yang sama, saya mencari jurnal yang dirujuk itu. Saya pikir, jurnal yang dirujuk secara berulang-ulang adalah salah satu tanda kalau jurnal itu penting untuk tema penelitian pada jurnal yang sama. Dari sana, saya melihat daftar pustakanya lagi, mengecek jurnal lain lagi yang sejenis, dan melihat lagi jurnal mana yang sering dirujuk. Begitu seterusnya.

***

Pada akhirnya, bacaan yang baik selalu akan mengantarkan kita ke bacaan-bacaan baik berikutnya. Bersepakat dengan Eka Kurniawan, penulis yang baik (juga) akan mengantarkan kita pada pertanyaan, “penulis ini baca buku apa ya?”


Rubrik Opini, Koran Fajar (Sabtu, 21 Maret 2015)

Minggu, 01 Maret 2015

Kamu: Cerita yang Main-main tapi Serius dan Serius tapi Main-main




“Emm... kalau kuberi tahu hal yang tidak kusukai dari dirimu, apa kau mau berubah?”
“Bisa ya, bisa juga nggak. Kalau kupikir perlu diubah, ya kuubah. Kalau kupikir nggak perlu, ya, buat apa?” (hlm. 213).

***

Jika zaman ini kita seharusnya menjadi acuh, suka melamun, tiduran, sesekali bolos sekolah dan segala kegiatan yang barangkali dirutuki oleh manusia kebanyakan, yang bercita-cita sukses di masa depan, saya membayangkan pasukan itu seharusnya dipimpin oleh Sabda Armandio. Saya rasa bos pasukan semacam itu−kalau memang harus ada dan sepertinya sih tak akan ada sampai Mario Teguh masih menyapa pemirsanya dengan salam supernya−memerlukan sejenis keberanian dan sekaligus sikap masa bodoh yang sedikit kelewatan. Dan bekal itu sudah dimiliki oleh Saya, Kamu, sekaligus penulis tokoh ini sendiri.

Dunia hari ini adalah dunia tentang mimpi-mimpi dan kesuksesan yang dibuat-buat standarnya. Kadangkala (atau selalu?) abstrak. Setidaknya begitu yang barangkali ingin Dio−begitu ia disapa−muntahkan lewat novel yang terbit Februari (2015), Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Lewat obrolan-obrolan tokoh Saya dan Kamu, Dio sedang meluapkan apa-apa saja yang tidak dia sepakati dengan hidup dan kehidupan ini. Bertutur renyah seperti wafer, Dio mengangkat masalah-masalah yang dilahirkan dunia modernitas lewat narasi yang agak konyol.

Saat setiap orang berlomba-lomba memenangkan popularitas, penghargaan, dan nama di jejeran terdepan, tokoh Saya menolak masuk di perlombaan itu. Ia memilih berada di belakang saja. Tidak ingin dikenal. Biar saja dilupakan. Tak mengapa tak diingat. Saya tak ingin jadi spesial, sebab sebenarnya menurutnya, keinginan untuk menjadi spesial ini lah penyebab kompetisi, persaingan, dan perang. Analogi sederhanya mungkin begini, sebab Belanda merasa spesial, dan Indonesia dianggap hanyalah remah-remah, negara yang dihuni oleh manusia-manusia yang layak jadi pengikut, pesuruh, dan pelayan, maka itu Belanda menjadi angkuh, merasa pantas menduduki Indonesia. Tapi kemudian Belanda tidak sendirian, Jepang juga merasa spesial, dan jadilah politik balas budi untuk merebut Indonesia dari Belanda. Benarlah Nurhady Sirimorok, pemujaan terhadap individualitas, dalam bentuk benda maupun citra, sesungguhnya dapat menjadi awal dari kehancuran kolektif.

Bersepakat dengan Nurhady Sirimorok, barangkali Dio ingin menanamkan bibit ide di kepala pembacanya: untuk apa kita perlu merasa spesial di mata dunia yang bahkan tidak ada harganya ini? Keinginan menjadi spesial, bahkan menyebabkan sisi kemanusiaan kita terdegradasi, mengacuhkan orang lain sebab selalu hanya diri kita yang lebih di antara yang lain.

Sependek pengetahuan saya, penulis yang banyak memasukkan ide bahkan menumpahkan perasaannya lewat tulisan, adalah penulis yang tidak banyak omong di dunianya yang nyata. Lebih tepatnya, tidak begitu senang terlibat dalam obrolan. Sejenis manusia yang kalau ikut rapat, hanya sekedar isi presensi. Kalau ikut komunitas, hanya terlihat dari kerja-kerjanya, bekas tempat duduk atau bekas ngopinya, bukan dari suara dan bualannya. Apakah Dio termasuk penulis seperti ini? Kalau melihat aktivitasnya sehari-hari di biodata penulis, besar kecurigaan saya, iya. Barangkali hanya laki-laki yang tidak banyak omong, yang betah bekerja di perusahaan periklanan digital−tempat bekerjanya saat ini. Saya [sok] tahu, karena pernah menggunakan jasa profesi ini. Suatu ketika, saya ditugasi dosen mengurus brosur kegiatan. Sejak memesan hingga kembali lagi mengambil pesanan brosur, laki-laki dan perempuan yang bertugas di tempat itu, memang penganut adigium diam lebih baik! Tapi, yah, kita tahu, diam mereka tidak benar-benar diam. Mereka melahirkan karya, kalau boleh brosur itu disebut karya. Dan karya mereka nyata, benar-benar ada, saya gunakan untuk publikasi acara.

Soal tidak banyak omong seperti itu, saya ingat wejangan Eka Kurniawan, sudah tiba saatnya para penulis, mundur ke belakang, tidak ikut dalam kebisingan, tapi diam dan melakukan aktivitas lain: membaca, berpikir secara matang, masuk ke ‘laboratorium’ dan sebagainya. Saat semua orang bisa berbicara, penulis harus menahan diri untuk tidak hanya sekedar ikut arus. Entah pernah membaca wejangan Eka itu atau tidak, sepertinya Dio telah dan tengah melakukannya. Lewat novel pertamanya ini, dia mengeluarkan hasil penelitian dari laboratoriumnya. Proses penelitian yang panjang, menulis dan menerjemahkan cerpen, dan membaca, tentu.

Sebagai saran, untuk keabsahan catatan ini. Sepertinya Dea Anugrah dan tim Moka Media, harus lebih bersabar dan tekun sebelum yakin untuk meloloskan karya ini kalau akan dicetak lagi. Saya menemukan beberapa kata yang salah ketik. Padahal, pemanasan untuk melahirkan novel ini cukup lama, dan saya menaruh harap lebih bahwa novel ini akan jauh dari kesalahan ketik dan semacamnya. Menurut penulisnya, pemanasan yang lama itu agar pembaca tidak kram. Ya tidak kram sih, hanya keseleo. Sayangnya, saya mengingat dan membawa rasa keseleo itu sepanjang membaca cerita di novel ini.

Saya tidak mencatat halamannya, tapi saya ingat betul kata “sebelah” yang malah tertulis “seblah”. Parahnya, karena kata “seblah” itu berdekatan (atau malah satu kalimat, saya lupa) dengan kalimat yang juga ada kata “sebelah” yang benar, jadi begitu mencolok kan? Atau penggunaan di- yang tertukar fungsi sebagai prefiks dan preposisi. Atau lagi, dua kata yang alpa diselipi spasi seperti pada kalimat pertama paragraf 3 halaman 130. Paling tidak, kalau novel ini cetak ulang (saya turut berharap), kesalahan teknis macam itu sudah tidak ditemukan lagi. Kecil tapi berdampak besar, apalagi untuk tipe pembaca yang menuntut banyak pada sebuah karya. Menyalin-tempel William Faulkner, tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikan sebuah tulisan, kecuali belajar dari kesalahan.

Sallluuuuut!