Tampilkan postingan dengan label George Orwell. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label George Orwell. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2016

Untuk Apa Etnografi?


Membaca ‘Metode Etnografi’ milik James P. Spradley membuat saya gamang bertanya pada diri sendiri, “lantas untuk apa penelitian selama ini?”. Untuk alasan apa kita perlu bersusah payah mengumpulkan informasi kebudayaan tertentu? Untuk apa etnografi itu? Apakah kita ingin mempelajari kebudayaan orang miskin untuk membangun teori tentang kemiskinan? Tidak dapatkah kita melihat bahwa anak-anak mereka, pada waktu yang sama, tengah kelaparan?

Mengutip definisi Spradley,  salah satu cara untuk mensinkronkan kebutuhan mendesak masyarakat dengan tujuan etnografi adalah melakukan konsultasi dengan partisipan untuk menentukan topik penelitian yang penting. Jika demikian, kita harus berinteraksi terlebih dahulu dengan masyarakat untuk dapat mengetahui masalah apa yang ingin dan dapat dipecahkan. Jika mengikut syarat tersebut, seorang etnografer, tidak selayaknya membawa masalah penelitiannya, dan kemudian ke masyarakat untuk mencari komunitas yang mampu menyelesaikan masalah penelitiannya. Penelitian ada untuk kebutuhan masyarakat, bukan malah dibalik : masyarakat dicari untuk kepentingan penelitian kita.

Awalnya, Spradley pernah mencoba meneliti tentang kaum gelandangan. Spradley memulainya dari lokasi pusat penyembuhan alkoholisme. Salah satu partisipannya, seorang peminum kawakan yang menjalani kehidupan sebagai narapidana di penjara Kota Seattle, bertanya pada Spradley “Mengapa Anda tidak mempelajari hal-hal yang terjadi dalam penjara ini?”. Dari sana, Spradley ‘memutar’ arah penelitiannya. Lebih mendesak baginya untuk mempelajari budaya penjara, struktur sosial penghuni penjara, dan bagaimana para peminum yang ada di sana ditekan oleh sistem penjara.

Omong-omong soal budaya gelandangan, saya jadi ingat novel Orwell yang lebih mirip otobiografi, ‘Down and Out in Paris and London’. Kita tidak pernah tahu tentang hidup para gelandangan serta apa yang ada di dalam pikiran mereka sebelum kita menjadi atau setidaknya hidup bersama mereka, begitu menurut Orwell. Mengenal para gelandangan dan hidup dengan mereka, paling tidak, dapat membuat Orwell “merasa telah melihat kemiskinan lebih dari sekadar kulit luar”.

Yah, untuk kesekian kali, saya justru banyak memahami metode penelitian kualitatif dari cerita fiksi. Bukan dalam arti bahwa Orwell mendikte saya begini dan begitu cara meneliti etnografi yang benar. Tapi dari cerita yang dibangun Orwell, saya dipahamkan ontologi apa yang harus dimiliki oleh seorang etnografer.

Membaca novel, paling tidak bagi saya, selain  manfaat-manfaat lainnya yang banyak, juga meluaskan jangkauan pengetahuan saya tentang penelitian kualitatif. Sewaktu masih jadi mahasiswa, saya pernah meminjam cerpen Eka Kurniawan untuk menjadi pisau bagi penelitian saya.


Melalui kisah si ‘Aku’ dalam novel Orwell tadi, kita jadi paham penyebab seseorang menjadi gelandangan dan mengapa orang yang sama hampir tidak bisa terbebas dari lingkungan gelandangan tersebut. Melalui ‘Aku’ pula, pembaca akhirnya tahu siapa dan tindakan apa yang dapat membantu gelandangan tersebut keluar dari lingkaran setan kehidupannya. Seperti kata Spradley, etnografi dapat digunakan untuk menekan orang atau untuk membebaskan manusia. Pilih mana?

Rabu, 18 Mei 2016

Orwell Menguji Ketabahan Pembacanya


Dalam waktu yang berdekatan, setelah ketabahan saya dalam membaca diuji betul lewat novel Orhan Pamuk, tibalah saya pada 1984 milik George Orwell. Novel ini juga menguji ketabahan, tapi kali ini bukan pada proses membacanya, namun lebih pada kejiwaan saya menikmati intensitas karakter dan konflik yang diciptakan Orwell. Kemampuan Orwell menghidupkan karakter dari para tokohnya, juga konflik yang naik turun, ulala, bikin saya sering mengelus-elus dada.

Alkisah, seorang laki-laki yang hidup di negara yang pikirannya ditentukan oleh negara, bahkan untuk mencintai juga dilarang oleh pemerintah termasuk merasakan nikmatnya bersetubuh bagi pasangan suami istri. Jika negara mengizinkan untuk melakukan hubungan senggama, semata-mata itu hanya untuk menciptkan pasukan baru bagi pemerintah. Ruang seprivasi kamar suami-istri diatur oleh negara.

Mencintai, berempati, bersahabat, dan segala jenis perasaan adalah salah satu bagian dari kemanusiaan, dan para warga tidak boleh meresapi nilai-nilai kemanusiaannya. Kapan para warga melakukannya, ini akan berbahaya bagi pemerintah. Kondisi ketidakadilan dan kesemrawutan yang menginjak-injak nilai kemanusiaan tidak boleh disadari oleh warga, dengan begitu mereka tidak akan menuntut pemerintah.


Semakin ke sini, saya semakin merasa seupil-upil. Semakin sering gemes saat sementara baca buku. Semakin sering bertanya, “haduh, saya ke mana saja selama ini? Kok bacaan sekeren ini baru baca sekarang?”. Di sisi lain, bacaan yang saya ambil dari rak buku juga semakin pilih-pilih. Membaca tulisan Orwell mengajak saya untuk tidak pernah merasa besar sembari senantiasa meningkatkan kualitas diri sebagai pembaca. Saya kira saya butuh itu, dan akhirnya, saya harus lebih banyak membaca lagi. Tapi sebelum itu, beberapa urusan kesehatan yang akhir-akhir ini menyita waktu saya, perlu untuk diselesaikan. Kalau tidak salah, dalam wawancara terhadap Eka Kurniawan, dia mengutip nasehat Orwell : syarat utama menjadi penulis [dan otomatis juga pembaca] adalah kamu harus sehat.

Minggu, 13 Desember 2015

Sekelas dengan Eka Kurniawan


Dia duduk paling pojok, belakang bagian kiri, seperti saban hari sebelumnya. Saya duduk paling depan, tepat di depan nampan proyektor. Selalu begitu.

Dosen perempuan kami, sedikit judes, masuk. Kelas yang tadinya riuh tiba-tiba hening. Saya merapikan diri, duduk tegap menghadap ke depan. Teman-teman yang lain juga. Keliaran kami tiba-tiba takluk.

Kecuali satu orang. Dia yang duduk di pojok belakang itu. Masih dengan wajah tak acuh, tidak terpengaruh dengan kedatangan dosen. Namanya Eka Kurniawan.

Dia memang terbiasa demikian. Masuk ke dalam kelas seperti kehilangan semangat. Saya sering bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diharapkannya dengan memasuki kelas kami. Semua tahu, dia sudah mengkhatamkan bahan-bahan bacaan, bahkan yang belum dijamah dosen sekali pun.

Saat sesi diskusi, jangan tanya lagi, dia bisa menjejalkan kami nama-nama penulis berserta judulnya, kalau perlu lengkap dengan tahun terbitnya, beserta penjelasan siapa-siapa saja penulis yang turut mewarnai penulis tersebut. Dia menyebutnya seperti menyebutkan nama-nama keluarganya saja.

Dalam beberapa kali diskusi, sebagaimana selalu menjadi masalah, kutemukan diriku terbagi antara dua peran yang saling bersaing. Tidak tahu apakah mesti menanggapi pernyataan dan pertanyaannya sebagai teman sekelas ataukah sebagai penulis yang kusukai.

Sejujurnya saya lebih tertarik dengan isi jurnal-jurnalnya termasuk esai-esainya di koran, tinimbang novel-novelnya. Padahal, dia dikenal lebih sebagai seorang novelis atau sastrawan, bukan esais. Bahkan, seperti yang sering dia katakan, dia menulis jurnal dan esai tentang bacaan-bacaannya dan perihal lain tentang novel kelas dunia, tidak lain adalah bagian dari dirinya sebagai seorang penulis novel. Dia mengikuti petuah Gabriel García Márquez, “para novelis membaca novel karya orang lain hanya untuk memahami bagaimana mereka menulis.”

Seseorang, yang saya lupa siapa, pernah menulis: membaca karya Eka Kurniawan seperti membaca karya-karya penulis dunia dalam satu cerita. Hah? Maka didorong rasa penasaran, akhirnya saya harus menelusur jauh ke belakang, mencari novel-novel klasik dari luar yang dibaca oleh Eka.

Saat ini, saya sudah mengumpulkan beberapa. Di antaranya ada Ernest Hermingway, George Orwell, Albert Camus, Rabindranath Tagore, hingga Yasunari Kawabata. Saya mendapatkan mereka dari ‘berburu’, baik di pesta buku, loakan, sampai toko buku daring. Ada juga lainnya beberapa saya nikmati dengan numpang baca di perpustakaan daerah.

Dengan rasa penasaran yang mungkin sedikit impulsif, saya bahkan pernah meminta tolong tetangga kos dengan menitip novel-novel Abdullah Harahap saat ia ke toko buku. Waktu itu saya sudah ke toko buku yang sama. Tapi tidak membelinya. Sewaktu membaca nama Abdullah Harahap di rak buku, saya merasa tidak asing dengan namanya. Tapi di mana saya menemukan namanya, saya meraba: mungkin di jurnal Eka.

Akhirnya, sepulang dari toko buku, saya membuka jurnal Eka. Dan benar! Di Jurnalnya. Eka menyukai karya-karya Abdullah Harahap, dan bukan semata karena cerita horor di dalamnya, tapi lebih karena Abdullah Harahap mampu memenuhi ekspektasi Eka tentang bagaimana sebaiknya tulisan fiksi itu disajikan: enak dibaca. Lalu percayalah saya dengan penilaian Eka (ada beberapa dasar yang saya gunakan ketika memilih buku yang akan saya miliki, ‘rekomendasi’ dari orang yang saya percaya bacaannya bagus, salah satunya). Maka dua novel Abdullah Harahap yang diterbitkan ulang, sudah saya miliki.

Ah, Anda tahu, sebenarnya, sesekali saya tidak menyukai tulisan Eka di novel-novelnya. Saya kadang berpikir, apakah orang ini bisa menulis novel tanpa ada adegan seks di dalamnya? Kenapa sih penulis keren seperti dia harus punya kebiasaan seperti itu? Sialnya, gaya menulisnya benar-benar menyenangkan.

Ingin rasanya, sekali waktu selepas kuliah selesai, saya menghampirinya dan bertanya : “hei, bisa tidak menulis novel yang adegannya tidak terlalu vulgar?” Saya mungkin tidak akan pernah bertanya padanya di luar kelas. Kami tidak akrab, bahkan tak pernah bertegur sapa. Dan lagi, jika pertanyaan itu benar-benar saya tanyakan, akan tampak basa-basi. Jenis pertanyaan apa lagi namanya jika kau sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu sendiri kalau bukan pertanyaan basa-basi?

Suatu kali dalam sebuah wawancara, dia katakan, “saya tidak pernah menulis dengan harapan semua orang menyukai karya saya. Saya memang tidak pernah mengespektasikan semua jenis pembaca suka dengan tulisan saya.” Nah, ini tamparan keras bagi penulis amatir seperti saya yang bermimpi tulisannya disukai oleh segala jenis pembaca.

***


Kejadian di atas sungguh tak pernah ada. Saya lulusan Akuntansi, dan Eka lulusan Filsafat. Dia juga lulusan jurusan yang berhubungan dengan desain (saya lupa nama jurusannya yang tepat, apa.). Jadi kelewat mustahil untuk kami bisa satu kelas. Kami pun terpaut usia yang cukup berjarak. Enam belas tahun. Namun, percayalah, apa yang saya katakan tentang Eka−pendapat saya dan juga tentangnya−adalah benar hasil dari penelusuran saya terhadap tulisan-tulisannya. Tabik.

Sabtu, 14 Maret 2015

Memilih Kaca Mata Penerjemah saat Membaca Orwell


Sudah berbulan-bulan setelah saya membeli novel Animal Farm, George Orwell, dan saya belum juga membacanya (waktu itu saya membelinya lewat daring). Sampai tepat 10 hari lalu, saya ke toko buku, niatnya menemani teman, malah saya ikut membeli buku (adalah hal yang sulit bagi saya menahan keinginan berbelanja saat ke toko buku, kecuali kalau di dompet memang tidak ada uang yang cukup untuk itu). Di sana, saya menemukan lagi novel Orwell yang terbit pertama kali tahun 1945 itu, tapi dengan penerjemah dan penerbit yang berbeda. Kali ini, tampilannya lebih lembut, untuk tidak mengatakan tampak seperti buku cerita anak. Pegawai yang bertugas menyampul buku di sana bahkan bertanya, “buku seri anak-anaknya juga mau disampul Mba?”. Barangkali tidak ada salahnya juga kalau ada orang tua yang menyodorkan bacaan ini kepada anaknya. Isinya seperti kisah fabel yang sering ditujukan untuk anak-anak. Mudah dimengerti. Dan lagian, novel kedua Orwell ini tidak tanggung-tanggung menggelontorkan nilai-nilai dasar kehidupan: kesetaraan, keadilan dan kesetiaan. Bukankah nila-nilai seperti ini yang seharusnya ditanamkan di kepala manusia sejak masih kanak? Untuk hal ini, saya mengagumi kemampuan Orwell mengangkat persoalan manusia dewasa menjadi sebuah alegori yang tampak seperti cerita anak.

Sebelum memutuskan membeli Animal Farm versi terjemahan baru itu, saya semacam dihantui perasaan bersalah, tidak kah saya berlaku boros dengan membeli buku yang sama, terlebih mengingat buku yang satunya saja belum terbaca? Setelah menimbang, dengan berbagai dalih dan pembenaran, pada akhirnya saya memutuskan untuk membelinya, tentu dengan janji, saya harus membacanya pada hari itu juga.

Tiba pada halaman pertama masing-masing buku terjemahan versi 1 dan 2, keputusan saya untuk membaca jatuh pada terjemahan versi 1−terbitan Titah Surga yang saya beli daring itu. Alasan pertama, Titah Surga menyodorkan beberapa informasi yang tidak disediakan buku terjemahan versi 2, informasi tersebut ada pada bagian Pengantar Penulis, yang di dalamnya ada alasan kenapa Orwell menulis alegori semacam ini ke dalam novel. Keputusan Orwell untuk menulis cerita pemberontakan binatang atas tirani manusia bermula saat suatu ketika dia melihat seorang anak laki-laki menunggangi dan mencambuk bokong binatang piaraannya. Anak tadi menyuruh binatangnya berjalan, membawanya berkeliling di sekitar perumahan, tapi binatang tersebut tampak tidak ingin melakukannya. Pemandangan itu, bagi Orwell, mengingatkannya pada penindasan yang dilakukan kaum borjuasi terhadap kaum proletar. Bukankah kelakuan anak lelaki tadi, menguasai hingga memperturutkan keinginannya kepada binatangnya, seperti kelakuan para pemodal yang menguasai dan menguras kerja buruh? Orwell berkesimpulan, beberapa manusia ternyata memperlakukan manusia lainnya tak ubahnya binatang piaraan. Begitulah sebagian informasi yang saya dapatkan pada kata pengantar Orwell. Alasan kedua memilih terjemahan terbitan Titah Surga adalah, dari pembacaan awal pada masing-masing halaman pertama tadi, saya merasa cocok menggunakan kaca mata penerjemah Titah Surga dibanding versi terjemahan 2. Cara menerjemahkannya lebih sesuai dengan selera saya. Menggunakan jasa penerjemah sama dengan meminjam kaca mata mereka (saya pernah menulis esai Meminjam Kaca Mata Penerjemah di sini).


Setelah menyelesaikan hingga halaman 150 sebagai halaman akhir, hasilnya cukup memuaskan. Untuk sementara, standar ukuran kaca mata tim penerjemah Titah Surga cocok saya gunakan. Saya tidak tahu apakah standar itu akan berubah setelah membaca terjemahan versi 2 nanti, atau tidak. Jelasnya, saya masih ingin membaca karya satire milik Orwell ini−yang berikutnya, saya mungkin akan meminjam kaca mata penerjemah versi 2.

Sampul berwarna putih kekuning-kuningan adalah terbitan Titah Surga