Tampilkan postingan dengan label Fatimah az Zahra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatimah az Zahra. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Februari 2016

Tentang Prioritas dan Pilihan-pilihan Orang Tua


Berbincang dengan seorang sahabat di kantin kampus hari ini, membawa saya pada perenungan yang panjang. Kami sedang berbincang-bincang tentang apa rencananya setelah beberapa pekan lalu menyelesaikan studi S1-nya. Apakah dia mau menikah dulu, kerja dulu, atau lanjut sekolah. Akhirnya, kami tiba pada perbincangan pilihan-pilihan selanjutnya yang akan diambil oleh seseorang saat setelah menikah.

Dia bercerita tentang adik sepupunya yang masih SD tapi kelakuannya sudah sangat dewasa. Setelah mengusut, dia menyadari bahwa memang si anak tumbuh dalam keluarga yang kedua orang tuanya sibuk. Ayahnya bekerja di luar kota dan ibunya bekerja dari Senin sampai Jumat (pagi hingga sore hari). Sementara si anak sendiri sekolah dari pagi hingga siang, yang artinya si anak akan bertemu ibunya setelah ibu pulang kerja pada sore hari, dan itu pun ibunya sudah dalam keadaan lelah. Bersamaan dengan itu, segala bentuk media menjadi asupan utama si anak. Tayangan televisi menjejali kepalanya dengan tingkah laku anak-anak berkelakukan dewasa seperti dalam sinteron-sinetron yang semakin marak hari-hari ini.

Duhai para (calon) orang tua, apa sebenarnya yang kita ingin cari?
Saya juga jadi ingat, beberapa hari sebelum itu, saya membaca kisah seorang perempuan yang sedang kuliah di salah satu negara di Eropa. Dia sedang melanjutkan studinya. Di tengah-tengah perjalanan studi, dia hamil, dan akhirnya anaknya berjumlah dua orang selama masa studinya. Dia pun memilih membawa kedua anaknya ke Indonesia, meninggalkan kedua anak itu bersama suaminya, demi untuk merampungkan sekolahnya. Di saat dia sedang sibuk dengan jurnal dan penelitiannya, anak bungsunya tiba-tiba sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Saya tidak tahu persis bagaimana perasaan si ibu akhirnya melihat foto anaknya dipasangi selang infus dengan hanya berbekal foto dan video yang disambungkan lewat dunia maya. Dia menulis betapa dia sangat sedih tidak berada di sana, dan akhirnya dia mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dia cari? Status? Pekerjaan? Karir? Uang? Pada saat itu, dia sudah terlambat menyadari. Dia begitu menyesal dan jika saja boleh memilih, dia hanya ingin berada di samping anaknya, menemani anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit.

Demikianlah kisah seorang ibu yang kehilangan, bukan hanya waktu, tapi apa-apa yang terjadi selama waktu itu berjalan. Orang-orang yang memilih pergi meninggalkan anaknya untuk alasan karir, pekerjaan dan pendidikan, yang pada dasarnya bisa dilakukan dengan tetap dekat dengan si anak, mungkin menggunakan alasan “ini kan hanya sebentar” atau “saya cuma pamit sebentar saja”. Tapi hai, berapa banyak tawa, kesedihan, sakit, dan momen yang hilang di waktu yang sebentar itu? Ada banyak hal yang terlewati, yang tidak bisa diganti hanya dengan bertukar kabar lewat dunia maya. Ada peran tidak tergantikan dengan foto-foto dan kalimat-kalimat yang saling ditukar. Dan kata teman saya yang sedang menemani saya makan di kantin siang itu, “memang sih sebentar, tapi efeknya jangka panjang”. Tentu saja saya menyepakatinya dengan mengingat banyak kasus anak yang jauh dari orang tuanya karena ditinggal pergi demi alasan sekolah. Waktu beberapa tahun, atau bahkan hanya beberapa bulan, berdampak jangka panjang antara hubungan orang tua dan anak. Seorang ibu yang akhirnya tidak dapat bercerita dengan terbuka kepada putrinya di masa-masa tuanya, karena di masa lalu si ibu lebih memilih prestise untuk sekolah ke luar negeri dibanding merawat cintanya untuk si putri. Seorang ayah yang akhirnya harus menunggu waktu yang lama untuk dekat kembali dengan putrinya yang padahal ‘hanya’ sembilan bulan pergi untuk kepentingan penelitian. Orang-orang itu, kejadian-kejadian menyedihkan itu, terjadi di depan mata saya sendiri.

Kita, para orang tua yang sudah merasa dewasa, mungkin akan punya lebih banyak pengetahuan untuk menimbang dan berusaha untuk bersikap dewasa dan karena itu boleh dikata punya banyak pertimbangan untuk tetap “legowo” dengan waktu yang hilang bersama pasangan kita. Tapi anak-anak? Anak-anak yang bahkan mungkin bicara pun belum bisa, tentu tidak dapat mengerti dengan masa depan, kehormatan, karir, dan sederet alasan-alasan yang jadi pembenaran untuk pergi. Jika orang tuanya tidak hadir pada masa tumbuh kembangnya, seorang anak belum dibekali kemampuan memahami ke mana dan untuk apa orang tuanya pergi. Hal yang mungkin anak-anak pahami, “apa yang membuat orang tuaku harus pergi meninggalkanku?”

Sungguh saya sedih, setiap kali menemukan anak yang kehilangan waktu dan hak untuk dididik dan disayangi akibat pilihan-pilihan sepihak yang dibuat orang tuanya. Kesedihan itu bukan saja karena saya menemukan anak yang ditinggal pergi, tapi beberapa orang yang saya kenal, toh ternyata bisa membawa anaknya ke kota tempat dia sedang sekolah, dengan banyak sekali hal yang perlu dikorbankannya, tentu saja.

Seorang teman, yang kini tengah menempuh pendidikan di UK, memboyong anak dan suaminya untuk tinggal bersama di sana. Dia menghabiskan tiga harinya di kampus, tiga harinya di rumah mengurus anak (lalu suami dibiarkan untuk belajar, membaca, menulis dan sebagainya pada saat dia di rumah), dan satu hari tersisa dinikmati untuk berkumpul bertiga. Lihatlah, kalau diupayakan toh tetap bisa kan? Saya percaya, tidak semudah dan sesederhana itu yang terjadi di banyak keluarga. Tapi di saat yang sama, saya juga percaya, kebersamaan bukan sesuatu yang harus dikorbankan jika kita benar-benar ingin mengusahakannya. Entah itu menunda waktu, kehilangan banyak tabungan, atau pengorbanan-pengorbanan lainnya. Ada jalan kalau kita mau mengusahakannya, insya Allah.


Pada dasarnya, tulisan ini hanya bentuk refleksi dari percakapan saya dengan sahabat saya tadi. Saya sedang tidak ingin mengubah siapa-siapa dan siapa pula saya ingin ikut campur dengan pilihan-pilihan para orang tua di luar sana. Hanya berharap pada diri sendiri, dengan belajar dari banyak kisah yang terjadi di depan mata, saya bisa tetap istiqomah menjaga niat untuk menjadi sebijak-bijak ibu bagi anak-anak saya kelak. Memberikan mereka hak-hak dari apa yang harus saya berikan, dan belajar lebih banyak untuk mendampingi tumbuh kembang mereka. Semoga selalu istiqomah, seistiqomah Khadijah yang tetap mendampingi Fathimah mengaji di tenda-tenda pengungsian, bahkan di saat para muslim diusir dan diboikot oleh kaum Quraisy dari tanah kelahirannya sendiri! Aamiin allahumma aamiin.

Jumat, 08 Januari 2016

Dia Bukan yang Pertama, tapi Dialah yang Menggenapkannya


Siapa pun yang pernah mengenyam pelajaran pendidikan agama Islam sewaktu sekolah dasar, kemungkinan besar tahu, bahwa manusia pertama yang percaya kepada agama baru yang dibawa oleh lelaki bernama Muhammad, adalah Khadijah. Kita tahu bahwa Khadijah adalah istri pertama Muhammad, dan disebut-sebut sebagai cinta sejatinya. Dia adalah perempuan yang tidak pernah diduakan Muhammad dalam mahligai pernikahannya. Muhammad baru melakukan praktik poligami setelah Khadijah meninggal, dan itu pun dilakukan Muhammad untuk kepentingan politik penyebaran dakwahnya. Selain keistimewaan itu, Khadijah juga adalah satu-satunya perempuan di sisi Muhammad yang mampu memberikan keturunan. Dari rahimnyalah kita mengenal pula syahidah tangguh bernama Fathimah az-Zahra, di samping Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum.

Beberapa hari di kampung halaman menjenguk keluarga sekaligus mengurusi surat keperluan pindah domisili untuk membuat kartu keluarga baru bersama suami, saya menggunakan sela-sela waktu senggang untuk membaca buku ‘Khadijah : Teladan Agung Wanita Mukminah’. Ini adalah buku kedua yang saya baca, yang isinya tentang hidup Khadijah. Buku pertama yang pernah saya baca ditulis oleh Sibel Eraslan, dikemas dalam bentuk novel. Kali ini, saya membaca karya Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal yang dikemas dalam bentuk non-fiksi.

Sebenarnya, sudah ada beberapa buku lain yang saya baca tentang Khadijah. Namun biasanya, kisah yang ada disandingkan dengan kisah suaminya, atau putri-putrinya, atau kisah Khadijah bersama istri-istri Muhammad yang lain sebagai Ummahatul Mukminin. Keunggulan membaca satu buku yang khusus membahas sisi hidup wanita mulia ini adalah penuturan kehidupan dan pribadi Khadijah yang lebih komprehensif, sehingga ada saja teladan dan inspirasi baru yang bisa dipetik.

Dari buku Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal ini, saya baru tahu kalau ternyata Khadijah bukan perempuan pertama yang dipinang Muhammad. Sebelumnya, Muhammad pernah memberanikan diri meminang anak pamannya, Abu Thalib, yang berarti saudara perempuan Ali bin Abu Thalib, dan berarti lagi sepupunya sendiri. Namanya Fakhitah. Usianya sedikit lebih muda dari Muhammad.

Abu Thalib hanya bisa diam mendengar keinginan Muhammad untuk meminang putrinya. Tidak lama setelah lamaran Muhammad, datang pemuda lain bernama Hubairah bin Abi Wahab bin Umar melamar Fakhitah. Lantas Abu Thalib menyetujuinya. Lalu bertanyalah Muhammad padanya, “pamanku, Anda nikahkan ia dengan Hubairah dan tidak mempedulikanku?”. Dengan bijak pamannya menjawab, “wahai anak saudaraku, kami telah menjalin perbesanan dengan keluarganya. Dan orang mulia sepertimu hanya pantas untuk orang mulia juga”.

Sekali lagi kata Abu Thalib, “... orang mulia sepertimu [Muhammad] hanya pantas untuk orang mulia juga”.  Karena itulah barangkali, Sibel Eraslan menulis syair indah ini : “Kehidupan diturunkan ke dunia dengan dititipkan kekasih-Nya kepada Khadijah, terus mengalir dari bumi ke langit”.

Abu Thalib tahu bahwa keponakannya tengah dan akan mengemban satu amanah besar, dan tugas itu hanya bisa dilaksanakan dengan didampingi oleh perempuan paling mulia saat itu di jazirah Arab. Dia tidak mengizinkan siapa pun, bahkan putrinya sendiri, untuk menggantikan posisi yang akan diisi oleh wanita mulia itu.

Allah memilihkan Khadijah bagi Muhammad, dan Muhammad bagi Khadijah. Dia bukan perempuan pertama yang dipinang pemimpin agung itu, tapi semua tahu, bahwa dialah satu-satunya yang menggenapkan. Dialah kekuatan sekaligus pelipur lara. Teman berjuang dalam dakwah berat dan panjangnya, teman hidup dalam rumahnya yang sederhana, dan penyejuk bagi hatinya sebagai seorang kekasih.

Sungguh, membaca kisah dan laku Khadijah dalam buku Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal, adalah membaca kisah-kisah yang sarat dengan keteladanan akan perjuangan. Diakah yang beruntung mendapatkan laki-laki terbaik itu, ataukah lelaki itu yang beruntung mendapatkan perempuan sepertinya, ataukah keduanya sama-sama beruntung saling memiliki satu sama lain?


Salam bagimu ya Ibunda, teladan sebaik-baik perempuan. Salam pula bagimu ya Muhammad, sebaik-baik jiwa yang menyambung kekerabatan, menolong yang lemah, dan ikut merasakan penderitaan rakyat yang dipimpinnya. Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad, wa ‘Ala aali Muhammad.