Tampilkan postingan dengan label Aminah binti Wahab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aminah binti Wahab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Agustus 2015

Kitab yang Berjalan


Tak kurang dari setahun, buku setebal 583 halaman ini akhirnya keluar dari jadwal bacaan saya. Memasukkannya sebagai buku-yang-harus-dibaca-ulang dalam daftar bacaan adalah harapan yang entah kapan bisa terealisasi, mengingat beberapa bacaan prioritas yang masih menumpuk. Tapi buku ini layak dan pantas untuk dibaca ulang. Ulasan yang detail terkait nama-nama orang, tempat dan waktu cukup membuat pembaca mesti menajamkan ingatan saat menemukan nama yang sama, dalam jeda halaman yang panjang.

Adalah Muhammad, nama yang ditempatkan Michael Hart sebagai urutan pertama dalam bukunya yang memuat 100 daftar manusia yang paling berpengaruh dalam panggung sejarah dunia. Bahkan setelah buku tersebut direvisi berkali-kali sebab dianggap kontroversial, nama tersebut masih di tempat yang sama. Michael Hart, seorang ahli antropologi dan sejarah, tidak sungkan-sungkan mengakui kekagumannya terhadap kehidupan Muhammad.

Membaca Sirah Nabawiah adalah meretas kehidupannya, yang oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri dimulai dengan mengenali kehidupan Muhammad, bahkan jauh hari sebelum ia dilahirkan. Di mulai dari posisi bangsa Arab dan kaumnya, lalu diikuti dengan penjabaran pembagian kelas oleh Kaum Quraisy sebelum kelahiran Muhammad.

Saya teringat salah satu sekuel film yang diedit oleh Joe Campana, Muhammad the Last Prophet. Film ini diawali dengan cerita kesenangan berbalut kepongahan Abu Al Hakam saat menjadi pemimpin di dataran Mekah. Bersama dengan pemimpin-pemimpin lainnya, ia menyambut para penduduk Mekah maupun dari luar Mekah untuk datang menyembah patung-patung yang dibuatnya dengan melemparkan koin-koin harta mereka di sekitar patung. Koin-koin itu kemudian akan dimiliki Al Hakam dan kawan-kawannya. Al Hakam dalam pelajaran agama semasa sekolah, kita kenal dengan nama Abu Jahal (dari bahasa Arab “jahil” yang berarti bodoh).

Guna mendatangkan para peziarah, para pemimpin ini menyuruh para budak membersihkan patung-patung, tanpa bayaran. Masih dalam film yang sama, para pemimpin dapat memiliki seorang budak dengan permainan-permainan yang sangat mengolok-olok kemanusiaan. Misalnya dengan cara melempar batang besi yang harus tepat sasaran. Jika tidak, seketika itu dia akan jadi budak. Atau dengan cara lain yang lebih ekonomis, membelinya dari pemilik sebelumnya. Nyawa dan harkat kemanusiaan diperjualbelikan tidak ubahnya barang.

Pada masa inilah, Muhammad datang. Menolak semua hal tersebut dengan membawa ajaran baru, yang kemudian tergambar dari kebahagiaan seorang budak bernama Bilal−dimerdekakan Abu Bakar As Shiddiq. “Tidak ada yang namanya kaya atau budak di mata Allah. Semua orang sama. Dan orang miskin tidak boleh direndahkan dan dibenci, melainkan diperhatikan.” Kalimat inilah yang disampaikan Muhammad pada awal penyebaran keyakinan yang dibawanya. Dan seperti yang kita tahu, mereka para pengikut awal, sebagian besar adalah mereka yang tertindas. Ini menjadi semacam peringatan keras, kepada kaum agamawan saat ini, betapa ajaran yang dibawa Muhammad sangat memperhatikan orang-orang miskin nan papa, tertindas dan tergilas oleh kuasa. Bukankah saat ini, kita rindu pada mereka yang menggunakan simbol-simbol agama dalam dirinya, baik berupa pakaian pun ucapan, turut dan terjun menyuarakan kemanusiaan? Melakukan perlawanan pada penguasa yang dzalim dan menolak segala bentuk kebijakan yang mengucilkan mereka yang tidak berdaya.

Aku berlindung kepada Tuhan dari kemiskinan dan kekufuran”, doa Muhammad. Doa ini sering dipelintir oleh sebagian kalangan yang mengokohkan kelas-kelas baru dalam masyarakat dengan asumsi :
-Muhammad membenci kemiskinan, karena itu kita tidak boleh miskin.
-Kita harus kaya dan itu hanya dengan kerja keras sendiri.
-Sementara mereka yang miskin, itu karena kemalasan mereka sendiri.
Aduh!

Padahal, seseorang pernah bertanya pada Aisyah, bagaimana dia dan Muhammad bisa bertahan hidup sebab selama ini tidak pernah dilihatnya adonan roti dan hidangan daging domba hingga Muhammad wafat. Hanya ada “dua hal, korma dan air”, kata Aisyah.

Muhammad membenci kemiskinan akibat penindasan, tapi ia menyayangi orang-orang miskin. Bahkan cara hidupnya sendiri sama seperti cara hidup kebanyakan umatnya yang ‘kecil’. Muhammad juga membenci perbudakan, tapi bersungguh-sungguh dalam memperjuangkan pembebasan para budak. Maka segala arogansi kekuasaan, diskriminasi kulit, penumpukan kekayaan yang kesemuanya mengarah pada struktur ekonomi yang menindas, dilawannya dengan konsisten. Bahkan jika dengan itu, dia harus berhadap-hadapan dengan paman-pamannya sendiri, para pemimpin Quraisy.

Kita tahu, perbudakan adalah hal yang mengakar pada masa sebelum kelahiran Muhammad. Maka, menghilangkannya tidak bisa seketika saat Muhammad mengumumkan kerasulannya. Selama hidup, Muhammad pun masih memelihara budak, yang dalam penjelasan buku shirah pemenang lomba penulisan sejarah Islam ini, beberapa didapatkan melalui tawanan perang. Namun, Muhammad perlahan-lahan−tetapi konsisten−membuka jalan pembebasan atas manusia dari perbudakan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat saat itu. Kita bisa meraba hal ini dengan mengetahui bahwa sehari sebelum wafat, Muhammad memerdekakan seluruh pembantu laki-lakinya (hlm 557). Nama budak yang cukup dikenal, Zaid bin Haritsah, tidak hanya dimerdekakan, tapi bahkan dijadikan anak angkat semasa hidupnya. Sementara dua nama perempuan ini : Juwairiyah binti Al-Harits dan Shafiyah binti Huyai bin Akhthab, adalah dua tawanan perang yang tidak hanya dibebaskan, tapi diangkat derajatnya dengan menjadikan keduanya sebagai istrinya sendiri. Menganalisis lebih jauh, keduanya pun adalah anak perempuan kepala suku yang cukup berpengaruh pada masanya. Maka pernikahan itu, selain pembebasan, juga sebagai upaya politik taktis Muhammad memenangkan hati kepala suku yang memiliki pengikut dengan jumlah yang tidak sedikit. Di zaman Muhammad menyebarkan Islam, masyarakat sangat menjunjung tinggi sikap saling memuliakan sesama besan atau menantu. Maka dengan pernikahan itu, Muhammad membuka jalan menyebarkan Islam dengan cara yang lebih kekeluargaan. Pada kondisi ini, lagi-lagi, siapa pun lelaki yang mengaku hendak berpoligami dengan alasan sunnah tanpa memahami konteks Muhammad berpoligami, ada baiknya membuka kembali lembaran sejarah kehidupan Muhammad.

Dalam shirah ini, penulis cukup lengkap mengurut nama-nama istri nabi beserta beberapa penjelasan kehidupan Ummahatul Mukminin. Tentang topik ini, dapat dibuka di sepanjang bab yang berjudul ‘Rumah Tangga Nabawi’ (hlm 563-570).

Masih begitu banyak−dan tidak akan pernah ada habisnya kisah keteladanan itu hingga umat manusia masih melanjutkan keturunannya−untuk dikisahkan. Beberapa kisah itu, ada di dalam buku Al-Mubarakfuri. Membacanya adalah membaca perjalanan seorang manusia yang berakhlak kitab suci. Membacanya adalah usaha membuka pintu-pintu cahaya, sebab dia tiada lain adalah manusia yang terlahir dengan cahaya dari tubuh perempuan bernama Aminah, yang diturunkan oleh Yang Maha Cahaya.


Salam dan salawat semoga senantiasa tercurah kepada kekasih-Nya, Muhammad. Allahumma salli ‘ala Muhammad, wa ‘ala aaliy Muhammad.

Jumat, 26 Desember 2014

Ibu dan Anak


Membaca terjemahan cerpen ‘Love at the Time of Cholera’ milik Gabriel García Márquez, yang menyelipkan kisah perhatian seorang ibu kepada anak lelakinya, tidak bisa tidak membuat saya teringat pada ibu saya. Cerita pendek sastrawan peraih Nobel Sastra 1982 yang dikenal sebagai pengibar aliran realisme magis tersebut, sebenarnya bukan hendak berkisah tentang ibu dan anak. Lebih tentang perjalanan pemuda bernama Florentino Ariza di atas kapal. Di sepanjang cerita, Gabo mengisahkan bagaimana dampak perang terjadi di semua daerah yang disinggahi kapal tersebut.

Tapi toh kadang saat membaca cerita, entah nyata atau fiksi, saat kejadian-kejadian dalam cerita pernah atau bahkan hanya mirip dengan kisah yang kita alami, seringkali cerita tersebut tiba-tiba terasa begitu intim. Bahkan jika cerita yang dimaksud hanya menjadi awalan, akhiran, sisipan, atau kejadian yang tidak begitu penting bagi keseluruhan cerita. Begitulah yang saya rasakan saat membaca cerita yang diterjemahkan Anton Kurnia tersebut. Meski cerita antara ibu dan anak, bukan inti cerita.

Saya sering mengalami apa yang dialami Florentino pada awal cerita itu. Saat ia disuruh ibunya membawa petate−sebuah tempat tidur gantung lipat dengan bantal, selimut dan kelambu yang terkemas rapi. Ia ogah membawanya, sebab merasa tak membutuhkannya. Tetapi ternyata ia kemudian bersyukur atas firasat ibunya, sebab sejak malam pertama di kapal, seseorang dengan setelan rapi, yang ternyata adalah rombongan dari gubernur, menyalip haknya dengan menempati kamar yang sudah dia pesan lebih dulu−bukankah sering begitu, rakyat biasa harus meminggirkan dirinya setiap berhadapan dengan kepentingan kaum borjuasi dan atau penguasa?

Seringkali, setiap hendak berangkat bepergian, atau meninggalkan rumah kembali ketika mudik, ibu saya juga melakukan hal yang sama dengan ibu Florentino. Menyediakan ini-itu, yang menurut saya sungguh merepotkan untuk dibawa, tapi di akhir atau tengah perjalanan, saya kemudian sadar, entah bagaimana, saya benar-benar membutuhkan barang-barang yang saya anggap remeh nan tidak penting itu. Akhirnya, bagaimana firasat atau naluri keibuan, Tuhan titipkan dalam hati perempuan yang kita panggil ibu, sungguh sesuatu yang tak pernah luntur untuk saya kagumi.

Tentang firasat atau naluri tersebut, ingatan saya terpanggil menuju kisah seorang wanita agung bernama Aminah binti Wahab. Wanita yang berasal dari keturunan Bani Zuhrah di Mekah ini, pernah mengandalkan naluri keibuannya saat melepas putra satu-satunya untuk kembali ke ibu persusuan anaknya.

Halimah as-Sa’diyah, meminta kembali Muhammad yang baru berumur dua tahun. Aminah, meski untuk kedua kalinya, akhirnya melepaskan anaknya dengan berat. Dan kita tahu, atas kerelaan Aminah ini, pada masa pengasuhan kedua kali itulah Muhammad dibawa orang tak dikenal, dibaringkan lalu dibelah perutnya.

Meski beberapa kalangan mempertentangkan peristiwa apa sejatinya yang terjadi saat itu, tapi jamak diketahui bahwa peristiwa itu adalah proses penyucian diri seseorang yang dipersiapkan untuk menjadi penyuluh dan pemimpin besar suatu umat. Pemimpin yang oleh seorang ahli antropologi dan sejarawan, Michael Hart, ditempatkan pada urutan pertama dalam 100 daftar manusia yang paling berpengaruh di dunia. Dan firasat Aminah melepaskan Muhammadlah kala itu, yang menjadi pintu bagi terjadinya peristiwa kedatangan manusia berbaju putih tersebut.

Sebagaimana kita ketahui ‘surga berada ditelapak kaki ibu’, konon, suatu hari Muhammad pernah didatangi seorang sahabat. Ia berniat mewaqafkan dirinya untuk berjihad seumur hidup. Kemudian diketahui bahwa sahabat tadi ternyata meninggalkan ibunya untuk datang kepada Muhammad. Apa yang dikatakan Muhammad? “Celaka engkau! Beradalah di kakinya [ibu] selama-lamanya, di sanalah surgamu!”

Pada dewasa ini, simbol pemuliaan di kaki perempuan yang kita panggil ‘ibu’, memiliki hari khusus di salah satu tanggal dalam bulan akhir tahun. Kita menyaksikan, ucapan-ucapan berceceran, tak kurang diiringi doa-doa selamat.

Bagaimana hari tersebut kemudian bermetamorfosis untuk dirayakan seperti sekarang, mungkin bisa ditelusuri kembali. Sebab 22 Desember sebenarnya adalah Hari Kongres Perempuan Pertama (1928) di Yogyakarta, yang dijadikan sebagai momentum bagi perempuan untuk memperjuangkan nasib mereka mengaktualisasikan diri di masyarakat. Hari tersebut bersandar pada hari di mana para ibu menyuarakan diri untuk berserikat, berkumpul secara kolektif, setara dalam pendidikan, juga perjuangan bagi janda dan anak-anak perempuan yang kehilangan haknya. Jika ditelusuri lebih lanjut, hasil kongres ini kemudian mengantarkan kita pada nama sebuah gerakan perempuan. Ialah Gerwani, gerakan yang diintai para aparatur negara di tahun ’65.

Jadi peringatan hari ibu hari ini, sudahkah sesuai dengan sejarahnya?

Lepas dari itu, pun bagi sebagian anak, setiap hari adalah hari pemuliaan bagi ibu. Barangkali memang, atas setiap hal remeh-temeh yang dipedulikan ibu, seperti kisah Florentino Ariza dan ibunya dalam cerita Gabo. Juga atas firasat dan kerelaannya, seperti Aminah kepada Muhammad. Atas setiap doa-doanya untuk kebaikan anak-anak yang mungkin bahkan lalai menunaikan baktinya. Atas itu semua, maka setiap hari memang sepantasnya adalah harinya. Setidak-tidaknya, setiap hari, doa-doa kebaikan dipanjatkan baginya.

Semoga Tuhan senantiasa menjaga ibu kita, membalas setiap kebaikannya dengan setimpal...

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 26 Desember 2014)