Kamis, 08 Januari 2015

Ada Perang di Kepala Kita


‘He will win who knows when to fight and when not to fight.’



Nasihat tersebut konon dari Sun Tzu, dalam buku, ‘The Art of War’. Ya, kemenangan atas suatu perang tidak semata ditentukan oleh kekuatan yang lebih besar dibanding musuh. Seseorang harus tahu kapan waktu yang tepat untuk berperang. Waktu yang tepat itu, mempertimbangkan banyak hal. Tidak sekedar kekuatan & kelemahan musuh, pun terutama mengenali diri sendiri. Dan tak kalah penting, punya strategi yang tidak diketahui dan atau ditiru musuh.


Beberapa dari kita bisa saja tak asing dengan cara berpikir ala perang tersebut. Kita terlanjur menyimpan konsep menang-kalah di kepala. Membiarkannya tumbuh subur malah.

Sayangnya, kerap kali cara berpikir yang sama menjalar ke sistem yang lebih besar. Terbawa-bawa dalam berperilaku. Dan ironisnya, sering tanpa disadari.

Contoh kecil dapat kita tengok di bangku sekolah dasar. Anak-anak yang dilatih berperang dengan sesama temannya di kelas. Hanya satu dari mereka yang dapat menyabet rangking satu.

Hari ini, kita juga disuguhi banjir tulisan motivasi, atau tayangan sejenis yang sedang menjamur tentang bagaimana meraih sukses. Mereka datang, sebagian dengan menggunakan taktik yang mirip dengan strategi perang. Jadilah lebih baik dari yang lain, meski itu teman atau saudara sendiri. Saling sikut dan berhadap-hadapan dengan lawan. Harusnya, ada yang menang dan yang lain kalah.

Tak pelak, ini juga berlaku saat tes masuk kerja. Agar dapat lolos, singkirkan peserta lain. Kadang apa pun caranya, tak masalah. Konsekuensinya, menyontek dan dikirimi jawaban−yang kadang dibayar hingga jutaan rupiah−menjadi hal yang wajar, paradoks doxa. Seculas apa pun strategi, tak begitu masalah. Asal bisa lolos tes. Jadi pemenang.

Memang, ada seorang pemikir dan ahli matematika bernama Hobbes pernah menyatakan bahwa secara alamiah manusia hidup dengan peperangan. Sebab sumber daya alam terbatas, sehingga seseorang harus bersaing dengan yang lainnya untuk bertahan hidup. Manusia menginginkan hal yang sama, dan olehnya persaingan adalah hal yang niscaya.

Tapi kemudian, dalam karyanya di Leviathan, Hobbes menyatakan kembali, untuk tidak disebut meralat, bahwa hal yang bisa mengeluarkan manusia dari kondisi alamiah tersebut adalah akal budi (bukankah akal budilah pembeda manusia dengan binatang?). Kata Hobbes, perselisihan adalah hal yang akan kita pinggirkan ketika akal budi mulai berperan. Sebenanrnya, menyerahkan hak kita adalah mendapatkan kegembiraan yang lain, membudayakan suatu kepentingan bersama. Golden rule!

Hobbes mengajari kita, betapa buruknya terus-terusan hidup bernapaskan aroma perang. Hasrat yang penuh dengan imajinasi kemenangan mengalahkan orang lain. Tapi, sebagaimana adagium “selalu ada hal positif yang bisa kita pelajari atas suatu hal”, perspektif yang lain tentang perang bisa kita munculkan sebagai tandingan di kepala. Maksud saya, perang yang bekerja di kepala mungkin ada manfaatnya, atau justru kita butuhkan, tapi dengan cara pandang yang berbeda.

Mari beralih sejenak ke perang Badr, perang pertama yang terjadi setelah Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah. Konon, kaum Quraisy datang, menyerbu pertama kali−ajaran dalam Islam memang tidak pernah mengajarkan kekerasan kan? Ya, kecuali jika hak kita dirampas dan atau lawan yang menyerbu duluan, melawan dan angkat pedang tak lebih sebagai upaya bertahan. Tentu.

Singkat cerita, perbandingan pasukan Quraisy dan muslim adalah 1000 : 319 (berdasarkan sumber Muslim, Syarh An-Nawawi). Bersama pasukan Quraisy, terdapat pula dua ratus ekor kuda, digiring di samping unta-unta. Sementara Muhammad dan pasukan hanya membawa dua ekor kuda dan tujuh puluh ekor unta. Itu pun ditunggangi secara berganti-gantian. Hebatnya, pasukan Muhammad lah yang justru memenangkan peperangan.

Saya mengingat salah satu sekuel film animasi ‘Muhammad the Last Prophet’ yang dipimpin-produksi Richard Rich. Pada saat perang Badr, seorang pimpinan Quraisy berteriak, ‘mereka bertarung seperti singa’. Kegigihan, semangat juang, dan tatktik kaum muslim menyatu menjadi kekuatan. Tak kalah penting: mereka berhasil menyelesaikan strategi perang yang sudah direncanakan sedari awal.

Hal terbalik terjadi pada perang Uhud. Kaum muslim justru tumbang. Saat jumlah mereka lebih banyak. Bahkan sempat ada yang mengira Muhammad telah mati di tengah peperangan. Beberapa buku sejarah kehidupan Muhammad mencatat, sumber masalahnya ada pada pasukan pemanah yang bertugas menjaga posisi bertahan belakang. Mereka tak patuh pada strategi yang sudah disepakati.

Konon, pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka akibat tergoda ghanimah (harta rampasan perang). Jadi tidak salah jika Muhammad menempatkan harta sebagai godaan yang menempati urutan pertama setelah tahta. Berbahaya, bahkan untuk seorang pejuang sekali pun.

Berkaca pada perang Badr dan Uhud, memilih berperang berarti menyanggupi untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dan inilah yang saya maksud manfaat menyimpan perang ‘lain’ di kepala. Berperang melawan hal-hal negatif dalam diri sendiri seperti kemalasan dan prokrastinasi.

Ada perbedaan jelas, membaikkan diri dengan berperang melawan orang lain, dengan berperang melawan diri sendiri. Kalau kata kakak saya, musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.

Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar (Jumat, 09 Januari 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar