Kamis, 27 Desember 2018

Yang Tidak Ayah Wariskan pada Anaknya


Ini bukan iman, sebagaimana dendangan nasyid Rayhan, bahwa ia tidak dapat diwariskan dari seorang ayah kepada anaknya yang meskipun dia adalah seorang anak yang berbakti. Iman adalah pilihan dan tanggung jawab masing-masing individu kepada penciptanya.

Ini soal lain. Ini perihal sulitnya sang buah hati makan. Ini juga bukan warisan orang tua kepada anaknya. Akan tetapi, yang kedua ini adalah tanggung jawab orang tua sepenuhnya kepada si anak untuk mengasupinya makanan halal dan baik.


Sumber : Kredit Pribadi (Seminar dr. Apin)
Hari Ahad, 23 Desember 2018, dr Apin, seorang dokter spesialis anak menjawab keraguan saya soal apakah pola makan anak saya yang saya anggap susah adalah warisan dari ayahnya. Menurut ibu mertua, ayahnya semasa kecil lebih susah lagi makannya dan saya jadi bertanya-tanya, mungkinkah memang itu adalah bagian dari interaksi genetika? Tapi tidak, tegas dokter Apin. Tidak ada satu pun penelitian yang membuktikannya. Yang ada, kalau ayahnya yang sekarang sudah jadi bapak, ogah-ogahan makan di depan anaknya, nah bisa jadi itu jadi contoh bagi si anak sehingga si anak pun juga jadi ogah makan.

Itu berarti, segala yang terjadi pada anak bayi kita, baik buruknya asupannya, adalah lebih banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya dalam pemberian makan. Maka keluhan saya tentang sulitnya bayi kami makan, sempurna adalah keluhan yang datang dan untuk diri saya sendiri sebagai orang tuanya. Lempar batu untuk diri sendiri.

Hal menarik dari paparan dokter Apin, menanggapi pertanyaan saya soal anak yang susah makan adalah pertanyaan baliknya kepada saya, apakah benar anaknya susah makan atau hanya tidak mau makan nasi? Jangan sampai, lanjutnya, anak kita sebenarnya doyan kentang tapi kita paksa makan nasi sehingga kita cap dia susah makan.

Jleb, jleb, jleb!

Tiga bulan ini, makanan bayi kami memang lebih banyak disuguhkan dengan menu nasi sebagai sumber karbohidratnya, dan faktanya dia memang bosanan anaknya. Kalau hari ini makan nasi, tiga hari lagi harus diganti dengan kentang, dan selanjutnya ganti lagi dengan makaroni dan seterusnya. Tapi seringnya saya malah malas keluar mencari sumber karbohidrat lain untuknya. Akhirnya, saya menawarkan seadanya, apa saja yang tersedia di meja makan kami.

Waktu di Belanda, makanan bayi kami lebih variatif dan hanya ada saya dan ayahnya sebagai penjaga gawang asupan gizi anak kami. Meskipun memang tidak selahap sebayanya, tapi bayi kami tetap makan. Kondisi tubuhnya pun sehat dan berdasarkan pemeriksaan dokter, pertumbuhannya baik-baik saja, alhamdulillah.

Tiga bulan tinggal di Indonesia, kepala saya pusing juga dinyanyikan hampir setiap hari oleh keluarga besar kami bahwa anak saya susah makan. Padahal saya tahu, anak yang kelihatannya susah makan pun, tidak boleh diucapkan kepadanya bahwa dia susah makan. Harusnya tetap diucapkan kalimat-kalimat positif agar si anak mau makan. Lah gimana, semua bilang “dia susah makan”. Haruskah kuganti paspor jadi warga negara Belanda?

Hidup di Indonesia, kata dokter Apin, memang harus banyak sabar dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Sabar pada dua hal: sabar terhadap anak dan sabar terhadap orang-orang sekitar. Misalnya, si mama sudah tahu MSG itu tidak baik, tapi sama tante/om/kakek/nenek/tetangga malah ditawari krupuk ber-MSG tanpa sepengetahuan mama. Saat ditegur, malah mama dimarahi, “untung anakmu mau makan ini, kalau tidak, dia mau makan apalagi”. Haduh pyusing pala mama. Ini kisah nyata loh. Curhat seorang mama di seminar dokter Apin yang duduk tepat di sebelah saya.

Nah, kembali lagi, karena anak sepenuhnya tanggung jawab kedua orang tuanya, maka upaya maksimal seharusnya dikerahkan untuk proses tumbuh kembangnya. Dan yang saya suka dari penjelasan dokter Apin soal proses memberi makan anak adalah kebijaksanaannya untuk tidak memaksakan ‘yang ideal’. Misalnya, kita tahu kalau anak harusnya duduk di kursi makannya bersama orang tua ketika jam makan tiba, tapi realitanya, anak malah lari keliling rumah sambil ibunya keringatan demi menyuapinya satu dua suap nasi. Tidak apa-apa, kata si dokter. Sepanjang si ibu masih kuat berlari, silakan saja disuap sambil lari-lari. Jika kita belum mampu melakukan ‘yang ideal’, tidak apa-apa kita melakukan semampu kita sepanjang anak dapat terjamin bahwa asupannya terpenuhi. Pelan-pelan, nanti anak akan belajar untuk makan di kursi. Mungkin bukan sekarang. Mungkin nanti ketika dia sudah lebih besar.

Alhamdulillah, saya kala itu langsung merasa dapat tim hore. Setiap kali menyuapi bayi kami makan sambil kejar-kejaran, saya selalu dihantui perasaan bersalah, apakah saya gagal mendampingi anak saya dalam proses makannya? Mengingat, di Belanda, orang-orang sangat patuh pada budaya makan di meja bersama. Saya ingat sekali, dokter di sana mewanti-wanti saya agar anak tidak makan sambil lari-lari. Anak harus makan dengan rapi bersama orang tuanya.

Well, tapi bukan berarti semua jadi dilonggarkan. Contohnya nih, memberi makan anak dengan hadiah, itu amat tidak boleh. Kenapa? Kata dokter Apin, anak tidak akan belajar mengenali rasa laparnya jika dia makan karena paksaan atau ada sesuatu yang diinginkannya setelah makan. Ini bisa jadi masalah untuk pertumbuhannya.

Setelah mengikuti seminar ini, tiga hari setelahnya saya langsung ke puskesmas dekat rumah, meminta Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) untuk bayi kami. Sebenarnya ada aplikasi PrimaKU yang bisa dipasang di HP pintar, sebagai pengganti buku KIA, tapi untuk sementara, saya lebih memilih yang buku KIA sekalian bisa ke puskesmas mengecek rutin pertumbuhan bayi kami. Saya pun lega setelah menimbang dan mengukur tinggi dan lingkar kepala anak kami, bahwa dia, alhamdulillah, tumbuh normal dan sehat.

Sumber : Kredit Pribadi (Isi KIA)
Mengikuti seminar dokter Apin membuka mata saya akan banyaknya barisan ibu-ibu yang sudah melek literasi kesehatan bagi anaknya. Hebatnya lagi, bapak-bapak juga banyak yang ikutan. Sungguh menjadi ibu dan ayah adalah proses belajar yang panjang.

Saya juga merasa surprise, panitia menyediakan ruang khusus untuk anak lengkap dengan penjaganya sehingga para orang tua dapat mengikuti seminar dengan nyaman tanpa gelisah meninggalkan anaknya di rumah. Saya jadi ingat, di Belanda, kalau mengikuti kursus santai bahasa Inggris, saya diperbolehkan membawa anak, dan kami berkumpul di tempat yang selalu ada pojok bermain untuk anak-anak. Maka saya beri lima bintang untuk para panitia yang sudah bekerja keras demi terlaksananya seminar ini. Barakallahu fiykum.

Sabtu, 22 Desember 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Memahami dan Menghargai Keinginannya


“Dia sudah banyak maunya. Sudah bisa pilih-pilih mainan sendiri. Dia juga sudah bisa menolak hal yang tidak disukainya dan mengerti bahwa kata no! yang kerap diucapkanya adalah kata untuk sebuah penolakan.” Demikianlah kira-kira balasan pesan singkat melalui media WA ketika seorang teman di Groningen bertanya tentang kabar anak saya, bayi A.

“Oh bagus, itu artinya dia tambah pintar. Dengan adanya keinginan, itu menandakan bahwa dia sudah jadi manusia seutuhnya”, jawab si teman. Lalu saya pun luluh dan terharu.

Kenapa ya, saya tidak berpikir positif begitu? Saya malah cenderung merasa ribet ketika anak saya telah bertumbuh diiringi dengan keinginan dan hajat yang kian meningkat. Sudah terbayang kerempongan di sana-sini untuk meladeni keinginannya. Padahal benar kata si teman tadi, yang adalah lulusan sarjana psikologi, bahwa munculnya kemauan-kemauan sang anak adalah proses dari tumbuh kembangnya. Seharusnya disyukuri dan didukung ke arah-arah yang positif. Iya kan?

Pendidikan di dalam rumah, bukankah harusnya menempatkan sang anak juga sebagai subjek? Yang dengan itu, kita sebagai orang tua menghargai keinginan-keinginannya dan bukannya malah memaksakan keinginan-keinginan kita saja kepadanya. Pendidikan yang berakar dari lingkugan keluarga, bukankah harusnya menanamkan nilai egaliter sejak dini? Yang dengan itu, menghitung dan menganggap keinginan sang anak, bukannya malah menyepelekannya dengan dalih “kan dia masih kecil”.

Rasulullah sendiri, amat menghargai anak-anak. Suatu ketika beliau sedang shalat mengimami para jamaah. Ketika sujud, para sahabat merasa heran karena beliau tidak juga memberi aba-aba untuk duduk di antara dua sujud. Lalu, seorang sahabat bernama Ubay memutuskan bangkit dari sujudnya, kemudian mendapati seorang bocah di pundak Rasulullah dan akhirnya sang sahabat sujud kembali. Setelah rampung shalat jamaah itu, ditanyalah Rasulullah, “Engkau telah memanjangkan sujudmu, ya Rasul Allah. Kami mengira telah terjadi sesuatu padamu ataukah telah turun wahyu kepadamu saat itu.”

“Tidak benar semua itu. Cucuku (Hasan dan Husain) naik di atas punggungku. Karenanya, aku tidak ingin segera (menurunkannya) sampai dia menyelesaikan hajatnya”, jawab Rasul agung itu.

Nah kan. See? Hiks… Rasulullah saja, seorang yang hidupnya amat sibuk dengan perjuangan menyebarkan kebaikan, tidak keberatan memanjangkan sujudnya ketika ada anak kecil yang ingin bermain-main di punggungnya, bahkan ketika saat itu dia tengah shalat. Lalu kenapa sih saya ini, mamak yang nongkrong di rumah, suka ribet sendiri meladeni anak semata wayangnya. Hiksss…

Malam ini, ketika saya menulis tulisan ini, bayi A sedang tidur lelap. Sebelum tidur, sempat terjadi drama yang membuat bayi A menangis sedih. Pasalnya, si mamak mengambil paksa sikat gigi bayi A ketika dia masih ingin menyikat giginya dan si mamak merasa benar sendiri dengan berdalih sudah waktunya tidur dan waktu sikat gigi sudah habis. Padahal tidak ada susahnya memberi waktu bayi A sedikit lagi dan membiarkan dia menyelesaikan hajatnya. Padahal apa salahnya bersabar menunggu sebentar si bayi A yang sedang bahagia menyikat giginya. #MamakMenyesal

Karena kepikiran sama kejadian itu dan merasa bersalah, sehabis menidurkan bayi A, langsung ambil buku “Cara Nabi Menyiapkan Generasi” karya Syaikh Jamal Abdurrahman (terima kasih pak suami sudah belikan buku ini). Langsung tertohok-tohok baca isinya, terutama ketika baca kisah nabi yang pas sujud lama tadi, demi menunaikan hajat sang cucu. Ada juga kisah ketika beliau memimpin shalat jamaah, lalu mempercepat shalatnya ketika mendengar ada bayi yang menangis.

Sumber : Kredit Pribadi

Teringat peristiwa dua hari lalu, ketika bayi A menangis ingin menyusu dan saya buru-buru mau shalat lalu ditegur sama mama dan tante di rumah. “Susui dulu anakmu, baru shalat. Tidak sah shalatmu jika kamu membiarkan anakmu menangis begitu.” Ternyata memang benar, bahkan nabi pun menyegerakan untuk menyelesaikan shalatnya ketika ada bayi menangis karena khawatir di antara jamaahnya ada ibu sang bayi yang sedang menangis. Masya Allah, allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad. Sungguh engkau mulia dan paling pantas menjadi panutan kami dalam setiap tindak-tanduk, ya Rasul kami, Muhammad bin Abdullah.


Well, saya mungkin belum mampu dikenang sebagai ibu penyabar yang mampu mengerti dan memahami keinginan anak bayinya sebagaimana akhlak Rasul pada cucu-cucunya. Setidak-tidaknya, ketika suatu waktu bayi A membaca tulisan ini, dia tahu bahwa saya selalu berusaha untuk memantaskan diri menjadi ibu terbaik baginya, dengan terus berusaha dan belajar untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan. Ibu sayang kamu, Nak! Maaf ya...

Selasa, 13 November 2018

Yang Membedakan Kita Adalah Pengetahuan

Kredit Pribadi

Saya baru selesai membaca buku otobiografi ini setelah kurang lebih tiga hari menjadikannya selingan di antara kewajiban-kewajibam dan kegiatan-kegiatan saya yang lain. Awalnya saya niatkan untuk menyelesaikannya satu hari saja karena ukurannya yang tipis. Apalah daya, harapan yang tinggi tidak dibarengi dengan usaha maksimal. Itupun saya khatamkan saat menunggu jadwal antrian di Balai Pengobatan Gigi dan Mulut yang super lama dan bikin ngantuk. Saya sudah selesai baca, antrian saya masih panjang loh, saking panjangnya. Hehe...

Alhamdulillah, tadi sewaktu berangkat dari rumah masih sempat memasukkan buku ini di tas. Padahal, sempat muncul rasa malas buat memasukkan buku tadinya. Ini karena sebelum-sebelumnya ke puskesmas untuk periksa gigi kok tidak pernah sempat membaca buku karena antrian yang pendek. Baru duduk, tiba-tiba nomor antrian sudah dipanggil sama petugas registrasi. Bahkan kadang tidak sampai mengantri alias langsung saja daftar terus masuk ruang poli gigi.

Hal yang kurang saya sadari adalah kalau ke balai akan lama mengantri karena balainya merupakan balai pusat sekota Makassar, sementara tadi di puskesmas cuma sekelurahan. Ya elah, Andis mah gitu 
-_-

Ya, sekali lagi, tetap alhamdulillah, masih bawa buku. Isi bukunya, meskipun tipis, tapi amat bergizi. Ini seperti kamu ketemu orang berilmu dan bijak. Tidak banyak bicaranya, tapi kamu amat menanti sepatah-dua patah kata keluar dari mulutnya. Jika pun ada kalimat yang kamu dengar darinya, kebaikan jua isinya.

Nah begitu persis! Buku tulisan Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini tentang perjalanan hidupnya belajar di Mekah sampai menjadi khatib dan guru di Masjidil Haram. Masya Allah, al fatihah baginya.

Dia menuliskan kisah hidupnya pada masa remaja. Waktu itu bahkan Indonesia belum ada loh, masih Jawa/Melayu yang dijajah Belanda. Bayangkan deh, saking lamanya buku ini dan masih terus terjaga. Masya Allah, ngga salah yah kata Opa Pramoedya, menulis adalah kerja keabadian.

Dia ke Mekah, awalnya untuk haji bersama keluarga. Bisa ditebak dong, dia dari golongan keluarga Minangkabau yang kaya rayo. Sampai di Mekah, orang-orang tidak langsung melaksanakan ritual haji nih kayak sekarang. Namun, dimulai dengan beberapa bulan belajar Ilmu Nahwu (Bahasa Arab). Dari sini, dia terpikat untuk memperdalam ilmu agamanya.

Sekembali ke Indonesia, dia terus berharap bisa ke Mekah lagi menimba ilmu. Gayung bersambut, dia berhasil ke sana atas jasa seorang guru dari Arab yang kebetulan singgah berlayar di tanah Minangkabau.

Di Mekah, dia terus belajar. Berbagai kemudahan datang padanya. Hingga akhirnya menikah dan beranak di sana. Karirnya sebagai pengajar di Masjidil Haram amat tersohor, hingga terdengar kabar sampai di kampung halaman. Dia kemudian banyak menulis buku tentang ilmu agama Islam dan dikirim ke Indonesia, yang pada saat itu masih cukup awam dan banyak dijejali pemikiran-pemikiran dari orang Belanda.


Masya Allah, isinya banyak membahas tentang keutamaan menuntut ilmu. Betapa orang-orang yang mencintai ilmu amatlah beruntung. Mereka adalah pewaris para nabi, ketika mereka berkumpul dan belajar maka para malaikat merendahkan sayap bagi mereka, ikan-ikan di lautan mendoakan mereka, mulia diri para pencari ilmu dalam pandangan dunia, berwibawa mereka ketika dipandang, yang mencarinya adalah mujahid, yang mengajarkannya adalah para dermawan yang bersedekah. Barakallahufiykum, untuk semua para pecinta ilmu di mana pun berada, dan semoga semangat untuk terus belajar terus ada untuk kita semua ya. Doakan saya dan keluarga kecil saya bisa merawat semangat yang sama dengan yang dimiliki syaikh dari Minangkabau ini ya :)

Rabu, 10 Oktober 2018

Anak Ideologi Keempat



Beli Karena Butuh' adalah buku pertama saya yang diterbitkan lewat penerbit mayor dan menembus toko buku skala nasional. Alhamdulillahi 'ala qulliy hal.

Dia dibuat di sela-sela waktu bermain bersama bayi A, di jeda ketika dia tertidur sejenak. Dia dibuat di antara kebingungan saya tentang pertanyaan, "lalu saya berbuat apa dong untuk umat?". Dia lahir setelah tidak lebih dari sembilan bulan dengan mengasupinya referensi-referensi ilmiah dari jurnal, juga buku-buku yang dipesan dari 
bol.com atau dipinjam dari perpustakaan kampus pak suami.

Meski sederhana isinya, harapan agar ada kebaikan yang bisa lahir darinya besar adanya. Di antara empat buku saya, dia adalah buku yang berbeda karena saya tulis hampir-hampir 'bukan saya banget'. Gaya tulisnya bahkan boleh dibilang sedikit mencla-mencle, tapi substansinya, insya Allah, tetaplah pada nilai-nilai Islam yang saya yakini. Jika di buku-buku sebelumnya atau di koran-koran, gaya tulis saya lebih rapi, maka tidak apa saya sebut kali ini agak berantakan. Tapi semoga yang berantakan itu, membuat pembaca lebih santai ketika merapal kalimat demi kalimat yang ada di sana, sebagaimana tujuan awal dia sayasusun.

Dia sudah dapat ditemui di Gramedia per tanggal 8 Oktober 2018 untuk wilayah Jawa. Adapun di luar Jawa mulai terdistribusi merata dalam waktu dua-tiga hari setelahnya.

Terima kasih dan mohon doanya ya :)

*Jika ada yang ingin memiliki langsung dari saya, boleh melakukan pemesanan (selama persediaan masih ada) lewat WA ke +31682954712 dengan format :

Pesan buku 'Beli Karena Butuh'
Nama :
Alamat :
Kontak HP :
Jumlah pesanan :
Perlu/Tidak Perlu dibubuhi tanda tangan


Harga buku Rp. 60,500 (belum termasuk ongkir, pengiriman dari Makassar)

Sabtu, 15 September 2018

Sirah Nabawiyah: Alarm Sepanjang Hayat

Kredit Pribadi

Ini bukan buku biografi Rasulullah pertama yang saya baca. Waktu masih kuliah di Semarang, saya paksa-paksa diri saya untuk mulai membaca sirah nabawiyah karya Syafiyurrahman Al Mubarakfuri. Buku berisikan kisah lengkap hidup Rasulullah itu saya pilih untuk saya baca, tidak lain karena rekomendasi guru ngaji saya di tempat liqo’ sewaktu masih kuliah di Makassar. Baru sempat saya baca setelah lulus kuliah di Makassar dan pindah ke Semarang untuk kuliah lagi, dan di Semarang waktu itu, saya memang sedang lumayan lowong ditambah minat baca yang sedang menggelora.

Buku itu adalah buku yang benar-benar baik. Saya mengingat sempat membuat resensinya, dan setelahnya, saya selalu ingin lagi membaca sirah-sirah nabawiyah berikutnya. Saya membacanya pelan saja. Jika tidak salah ingat, sekali sehari beberapa lembar. Akan tetapi, saya meresapi betul lembar demi lembar kisah dalam buku itu. Sekali waktu saya menangis, di lain waktu saya malu ketika sedang membacanya.

Ada beberapa buku-buku kecil yang saya baca setelahnya, yang berkisah tentang hidup Rasulullah dan orang-orang di sekitar beliau. Sewaktu akhirnya selesai kuliah di Semarang dan kembali hidup di Makassar, saya bahkan memutuskan membaca buku sirah yang tebalnya beribu-ribu halaman, berkali-kali lipat dari yang pernah saya baca pertama kali itu. Sayangnya, belum sempat saya tamatkan karena akhirnya harus pindah hidup lagi di tempat sekarang, Groningen, dan membawa buku dengan ketebalan bagai kasur itu untuk ikut serta ke negara ini juga rasa-rasanya costly deh.

Saya bersyukur, di Groningen sini, saya dipertemukan dengan muslim-muslimah yang banyak memberi warna positif dalam hidup saya. Meskipun kebanyakan sibuk dengan kuliah yang tidak kalah mendesaknya menuntut untuk membaca jurnal-jurnal ilmiah, mereka tetap menyediakan dan menyempatkan diri membaca buku-buku lain. Buku sirah nabawiyah akhirnya saya temukan lagi saat iseng bertanya ke seorang teman yang punya lumayan banyak koleksi buku di rumahnya.

Sebenarnya, dorongan membaca buku ini lebih besar karena bulan lalu saya, suami, dan bayi kami berangkat ke tanah suci untuk menyempurnakan rukun Islam kami (Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah). Sebagai bekal, saya ingin membaca ulang kisah Rasulullah sebelum bertandang ke tanah kelahirannya, tanah yang paling Allah cintai dan juga dicintai Rasulullah. Sebelum menginjakkan kaki di dua kota suci nan agung, saya dahului dengan membaca kisah-kisah kehidupan seorang teladan yang pernah hidup di sana.

Tidak kurang dari sebulan, saya berhasil menuntaskan buku setebal 600 halaman ini, jauh lebih cepat dibanding buku Al Mubarakfuri. Buku ini memang lebih tipis jika dibanding buku Al Mubarakfuri  yang berjumlah 864 halaman, tapi tetap saja saya termasuk cepat membacanya jika mengingat saya membaca Al Mubarakfuri dalam waktu kurang lebih setahun. Selain faktor mendesak karena harus saya selesaikan sebelum berangkat ke tanah suci, faktor lain yang menyebabkan saya lebih cepat membacanya adalah karena buku ini menggunakan kalimat yang lebih ringan dan datanya tidak sekompleks milik Al Mubarakfuri. Hanya saja, kalau boleh memilih, saya tentu masih menjatuhkan pilihan pada karya Al Mubarakfuri yang lebih runut, teliti, dan meskipun kompleks, masih tergolong mudah dipahami.

Rasa haru dan syukur masih terselip ketika membaca buku sejenis ini, perasaan yang selalu hadir ketika membaca buku biografi Rasulullah. Perasaan campur aduk yang rasanya teramat jauh berbeda ketika membaca buku-buku lain. Entahlah!

Michael Hart memang benar ketika memutuskan menempatkan Muhammad sebagai nama pertama tokoh berpengaruh di dunia hingga saat ini. Berkunjung ke tanah suci, makin menambah keyakinan saya akan kuatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah. Saya membayangkan betapa sedikit pengikutnya kala pertama beliau mengenalkan Islam. Tidak hanya sembunyi-sembunyi untuk menyebarkannya, beliau bahkan diusir dari tanah kelahirannya karena keyakinan baru yang dibawa kala itu. Lalu sekarang, masya Allah, di tempat yang sama, kota itu telah dibanjiri berjuta-juta manusia dari penjuru negeri-negeri dengan membawa misi yang sama untuk menyempurkan rukun Islam mereka. Ya Allah, ketika menulis ini pun saya haru dan menangis mengenang lautan manusia di tanah haram. Betapa dahsyatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dari Allah, padahal jarak waktu antara kehidupannya membawa risalah dengan kehidupan sekarang amatlah jauh. Jauh sekali. Apalagi kalau mengingat orang-orang tua yang sudah bungkuk berjalan masih penuh semangat mengitari baitullah, tidak bisa saya bayangkan seberapa besar rasa cinta para orang tua itu pada agama Muhammad ini. Masya Allah, memangnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh cinta?

Kembali lagi ke buku ini, setelah membacanya, terutama di bagian detik-detik penguburan jenazah Rasulullah, saya menyetop membaca sebentar. Saya bergumam :
Laki-laki itu telah pergi, laki-laki yang menghabiskan seluruh sisa umurnya sejak dia diutus sebagai nabi-Nya, untuk berjuang menegakkan risalah Islam. Tidak ada waktunya terbuang selain perjuangan jua isinya.
Lalu saya loyo mengingat diri sendiri. Ya Allah, aku mah apa? Banyak bobo paginya pas nyusuin baby A, banyak menghabiskan waktu main pesbuk, banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak jelas manfaatnya, dan kadang sibuk dengan perbuatan sia-sia atau yang tidak mendatangkan kebaikan. Astagfirullah...

Belum lagi kadang masih khilaf dan bertanduk ala nenek-nenek sihir di hadapan baby A dan ayahnya, padahal impian pingin jadi istri shalihah dan ibu terbaik buat anak telah dikumandangkan waktu masih gadis. Bakti pada kedua orang tua belum ada apa-apanya yang bisa diandalkan, malah lebih banyak berdosa kepada kedua orang tua. Kadang juga suka malas belajar kalau lagi suntuk. Shalat tahajud susah ditegakkan. Sedekah kadang masih hitung-hitungan. Hafalan Quran maju-mundur. Hiks…

Akhirnya, teramat bersyukur bisa baca lagi catatan hidup nabi ini, bisa mengulang-ulang lagi hari-hari manusia agung itu. Satu kesyukuran juga, Allah masih beri ghirah untuk membaca kisah hidup manusia yang amat dicintai-Nya. Setidaknya, dengan membaca lembar demi lembar kisahnya, jadi alarm bagi diri sendiri untuk menilai dan menyadari fluktuasi kualitas iman dan akhlak saya saat ini, sudah sejauh apa saya melenceng dari akhlak yang diteladankan Rasulullah.


Eh satu lagi, poin tambahan dari buku ini adalah ada gambarnya loh! Mulai dari baju Fathimah hingga denah masjid nabawi ada di sana, lengkap dengan keteragan di mana barang-barang peninggalan nabi dan keluarga serta sahabatnya kini dimuseumkan.  Jadi pengin berkunjung ke museum yang dimaksud suatu waktu, entah kapan ya? Mohon doanya ya!
Kredit Pribadi