Selasa, 13 November 2018

Yang Membedakan Kita Adalah Pengetahuan

Kredit Pribadi

Saya baru selesai membaca buku otobiografi ini setelah kurang lebih tiga hari menjadikannya selingan di antara kewajiban-kewajibam dan kegiatan-kegiatan saya yang lain. Awalnya saya niatkan untuk menyelesaikannya satu hari saja karena ukurannya yang tipis. Apalah daya, harapan yang tinggi tidak dibarengi dengan usaha maksimal. Itupun saya khatamkan saat menunggu jadwal antrian di Balai Pengobatan Gigi dan Mulut yang super lama dan bikin ngantuk. Saya sudah selesai baca, antrian saya masih panjang loh, saking panjangnya. Hehe...

Alhamdulillah, tadi sewaktu berangkat dari rumah masih sempat memasukkan buku ini di tas. Padahal, sempat muncul rasa malas buat memasukkan buku tadinya. Ini karena sebelum-sebelumnya ke puskesmas untuk periksa gigi kok tidak pernah sempat membaca buku karena antrian yang pendek. Baru duduk, tiba-tiba nomor antrian sudah dipanggil sama petugas registrasi. Bahkan kadang tidak sampai mengantri alias langsung saja daftar terus masuk ruang poli gigi.

Hal yang kurang saya sadari adalah kalau ke balai akan lama mengantri karena balainya merupakan balai pusat sekota Makassar, sementara tadi di puskesmas cuma sekelurahan. Ya elah, Andis mah gitu 
-_-

Ya, sekali lagi, tetap alhamdulillah, masih bawa buku. Isi bukunya, meskipun tipis, tapi amat bergizi. Ini seperti kamu ketemu orang berilmu dan bijak. Tidak banyak bicaranya, tapi kamu amat menanti sepatah-dua patah kata keluar dari mulutnya. Jika pun ada kalimat yang kamu dengar darinya, kebaikan jua isinya.

Nah begitu persis! Buku tulisan Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini tentang perjalanan hidupnya belajar di Mekah sampai menjadi khatib dan guru di Masjidil Haram. Masya Allah, al fatihah baginya.

Dia menuliskan kisah hidupnya pada masa remaja. Waktu itu bahkan Indonesia belum ada loh, masih Jawa/Melayu yang dijajah Belanda. Bayangkan deh, saking lamanya buku ini dan masih terus terjaga. Masya Allah, ngga salah yah kata Opa Pramoedya, menulis adalah kerja keabadian.

Dia ke Mekah, awalnya untuk haji bersama keluarga. Bisa ditebak dong, dia dari golongan keluarga Minangkabau yang kaya rayo. Sampai di Mekah, orang-orang tidak langsung melaksanakan ritual haji nih kayak sekarang. Namun, dimulai dengan beberapa bulan belajar Ilmu Nahwu (Bahasa Arab). Dari sini, dia terpikat untuk memperdalam ilmu agamanya.

Sekembali ke Indonesia, dia terus berharap bisa ke Mekah lagi menimba ilmu. Gayung bersambut, dia berhasil ke sana atas jasa seorang guru dari Arab yang kebetulan singgah berlayar di tanah Minangkabau.

Di Mekah, dia terus belajar. Berbagai kemudahan datang padanya. Hingga akhirnya menikah dan beranak di sana. Karirnya sebagai pengajar di Masjidil Haram amat tersohor, hingga terdengar kabar sampai di kampung halaman. Dia kemudian banyak menulis buku tentang ilmu agama Islam dan dikirim ke Indonesia, yang pada saat itu masih cukup awam dan banyak dijejali pemikiran-pemikiran dari orang Belanda.


Masya Allah, isinya banyak membahas tentang keutamaan menuntut ilmu. Betapa orang-orang yang mencintai ilmu amatlah beruntung. Mereka adalah pewaris para nabi, ketika mereka berkumpul dan belajar maka para malaikat merendahkan sayap bagi mereka, ikan-ikan di lautan mendoakan mereka, mulia diri para pencari ilmu dalam pandangan dunia, berwibawa mereka ketika dipandang, yang mencarinya adalah mujahid, yang mengajarkannya adalah para dermawan yang bersedekah. Barakallahufiykum, untuk semua para pecinta ilmu di mana pun berada, dan semoga semangat untuk terus belajar terus ada untuk kita semua ya. Doakan saya dan keluarga kecil saya bisa merawat semangat yang sama dengan yang dimiliki syaikh dari Minangkabau ini ya :)

Rabu, 10 Oktober 2018

Anak Ideologi Keempat



Beli Karena Butuh' adalah buku pertama saya yang diterbitkan lewat penerbit mayor dan menembus toko buku skala nasional. Alhamdulillahi 'ala qulliy hal.

Dia dibuat di sela-sela waktu bermain bersama bayi A, di jeda ketika dia tertidur sejenak. Dia dibuat di antara kebingungan saya tentang pertanyaan, "lalu saya berbuat apa dong untuk umat?". Dia lahir setelah tidak lebih dari sembilan bulan dengan mengasupinya referensi-referensi ilmiah dari jurnal, juga buku-buku yang dipesan dari 
bol.com atau dipinjam dari perpustakaan kampus pak suami.

Meski sederhana isinya, harapan agar ada kebaikan yang bisa lahir darinya besar adanya. Di antara empat buku saya, dia adalah buku yang berbeda karena saya tulis hampir-hampir 'bukan saya banget'. Gaya tulisnya bahkan boleh dibilang sedikit mencla-mencle, tapi substansinya, insya Allah, tetaplah pada nilai-nilai Islam yang saya yakini. Jika di buku-buku sebelumnya atau di koran-koran, gaya tulis saya lebih rapi, maka tidak apa saya sebut kali ini agak berantakan. Tapi semoga yang berantakan itu, membuat pembaca lebih santai ketika merapal kalimat demi kalimat yang ada di sana, sebagaimana tujuan awal dia sayasusun.

Dia sudah dapat ditemui di Gramedia per tanggal 8 Oktober 2018 untuk wilayah Jawa. Adapun di luar Jawa mulai terdistribusi merata dalam waktu dua-tiga hari setelahnya.

Terima kasih dan mohon doanya ya :)

*Jika ada yang ingin memiliki langsung dari saya, boleh melakukan pemesanan (selama persediaan masih ada) lewat WA ke +31682954712 dengan format :

Pesan buku 'Beli Karena Butuh'
Nama :
Alamat :
Kontak HP :
Jumlah pesanan :
Perlu/Tidak Perlu dibubuhi tanda tangan


Harga buku Rp. 60,500 (belum termasuk ongkir, pengiriman dari Makassar)

Sabtu, 15 September 2018

Sirah Nabawiyah: Alarm Sepanjang Hayat

Kredit Pribadi

Ini bukan buku biografi Rasulullah pertama yang saya baca. Waktu masih kuliah di Semarang, saya paksa-paksa diri saya untuk mulai membaca sirah nabawiyah karya Syafiyurrahman Al Mubarakfuri. Buku berisikan kisah lengkap hidup Rasulullah itu saya pilih untuk saya baca, tidak lain karena rekomendasi guru ngaji saya di tempat liqo’ sewaktu masih kuliah di Makassar. Baru sempat saya baca setelah lulus kuliah di Makassar dan pindah ke Semarang untuk kuliah lagi, dan di Semarang waktu itu, saya memang sedang lumayan lowong ditambah minat baca yang sedang menggelora.

Buku itu adalah buku yang benar-benar baik. Saya mengingat sempat membuat resensinya, dan setelahnya, saya selalu ingin lagi membaca sirah-sirah nabawiyah berikutnya. Saya membacanya pelan saja. Jika tidak salah ingat, sekali sehari beberapa lembar. Akan tetapi, saya meresapi betul lembar demi lembar kisah dalam buku itu. Sekali waktu saya menangis, di lain waktu saya malu ketika sedang membacanya.

Ada beberapa buku-buku kecil yang saya baca setelahnya, yang berkisah tentang hidup Rasulullah dan orang-orang di sekitar beliau. Sewaktu akhirnya selesai kuliah di Semarang dan kembali hidup di Makassar, saya bahkan memutuskan membaca buku sirah yang tebalnya beribu-ribu halaman, berkali-kali lipat dari yang pernah saya baca pertama kali itu. Sayangnya, belum sempat saya tamatkan karena akhirnya harus pindah hidup lagi di tempat sekarang, Groningen, dan membawa buku dengan ketebalan bagai kasur itu untuk ikut serta ke negara ini juga rasa-rasanya costly deh.

Saya bersyukur, di Groningen sini, saya dipertemukan dengan muslim-muslimah yang banyak memberi warna positif dalam hidup saya. Meskipun kebanyakan sibuk dengan kuliah yang tidak kalah mendesaknya menuntut untuk membaca jurnal-jurnal ilmiah, mereka tetap menyediakan dan menyempatkan diri membaca buku-buku lain. Buku sirah nabawiyah akhirnya saya temukan lagi saat iseng bertanya ke seorang teman yang punya lumayan banyak koleksi buku di rumahnya.

Sebenarnya, dorongan membaca buku ini lebih besar karena bulan lalu saya, suami, dan bayi kami berangkat ke tanah suci untuk menyempurnakan rukun Islam kami (Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah). Sebagai bekal, saya ingin membaca ulang kisah Rasulullah sebelum bertandang ke tanah kelahirannya, tanah yang paling Allah cintai dan juga dicintai Rasulullah. Sebelum menginjakkan kaki di dua kota suci nan agung, saya dahului dengan membaca kisah-kisah kehidupan seorang teladan yang pernah hidup di sana.

Tidak kurang dari sebulan, saya berhasil menuntaskan buku setebal 600 halaman ini, jauh lebih cepat dibanding buku Al Mubarakfuri. Buku ini memang lebih tipis jika dibanding buku Al Mubarakfuri  yang berjumlah 864 halaman, tapi tetap saja saya termasuk cepat membacanya jika mengingat saya membaca Al Mubarakfuri dalam waktu kurang lebih setahun. Selain faktor mendesak karena harus saya selesaikan sebelum berangkat ke tanah suci, faktor lain yang menyebabkan saya lebih cepat membacanya adalah karena buku ini menggunakan kalimat yang lebih ringan dan datanya tidak sekompleks milik Al Mubarakfuri. Hanya saja, kalau boleh memilih, saya tentu masih menjatuhkan pilihan pada karya Al Mubarakfuri yang lebih runut, teliti, dan meskipun kompleks, masih tergolong mudah dipahami.

Rasa haru dan syukur masih terselip ketika membaca buku sejenis ini, perasaan yang selalu hadir ketika membaca buku biografi Rasulullah. Perasaan campur aduk yang rasanya teramat jauh berbeda ketika membaca buku-buku lain. Entahlah!

Michael Hart memang benar ketika memutuskan menempatkan Muhammad sebagai nama pertama tokoh berpengaruh di dunia hingga saat ini. Berkunjung ke tanah suci, makin menambah keyakinan saya akan kuatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah. Saya membayangkan betapa sedikit pengikutnya kala pertama beliau mengenalkan Islam. Tidak hanya sembunyi-sembunyi untuk menyebarkannya, beliau bahkan diusir dari tanah kelahirannya karena keyakinan baru yang dibawa kala itu. Lalu sekarang, masya Allah, di tempat yang sama, kota itu telah dibanjiri berjuta-juta manusia dari penjuru negeri-negeri dengan membawa misi yang sama untuk menyempurkan rukun Islam mereka. Ya Allah, ketika menulis ini pun saya haru dan menangis mengenang lautan manusia di tanah haram. Betapa dahsyatnya pengaruh yang dibawa Rasulullah untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan dari Allah, padahal jarak waktu antara kehidupannya membawa risalah dengan kehidupan sekarang amatlah jauh. Jauh sekali. Apalagi kalau mengingat orang-orang tua yang sudah bungkuk berjalan masih penuh semangat mengitari baitullah, tidak bisa saya bayangkan seberapa besar rasa cinta para orang tua itu pada agama Muhammad ini. Masya Allah, memangnya apa yang tidak bisa dilakukan oleh cinta?

Kembali lagi ke buku ini, setelah membacanya, terutama di bagian detik-detik penguburan jenazah Rasulullah, saya menyetop membaca sebentar. Saya bergumam :
Laki-laki itu telah pergi, laki-laki yang menghabiskan seluruh sisa umurnya sejak dia diutus sebagai nabi-Nya, untuk berjuang menegakkan risalah Islam. Tidak ada waktunya terbuang selain perjuangan jua isinya.
Lalu saya loyo mengingat diri sendiri. Ya Allah, aku mah apa? Banyak bobo paginya pas nyusuin baby A, banyak menghabiskan waktu main pesbuk, banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak jelas manfaatnya, dan kadang sibuk dengan perbuatan sia-sia atau yang tidak mendatangkan kebaikan. Astagfirullah...

Belum lagi kadang masih khilaf dan bertanduk ala nenek-nenek sihir di hadapan baby A dan ayahnya, padahal impian pingin jadi istri shalihah dan ibu terbaik buat anak telah dikumandangkan waktu masih gadis. Bakti pada kedua orang tua belum ada apa-apanya yang bisa diandalkan, malah lebih banyak berdosa kepada kedua orang tua. Kadang juga suka malas belajar kalau lagi suntuk. Shalat tahajud susah ditegakkan. Sedekah kadang masih hitung-hitungan. Hafalan Quran maju-mundur. Hiks…

Akhirnya, teramat bersyukur bisa baca lagi catatan hidup nabi ini, bisa mengulang-ulang lagi hari-hari manusia agung itu. Satu kesyukuran juga, Allah masih beri ghirah untuk membaca kisah hidup manusia yang amat dicintai-Nya. Setidaknya, dengan membaca lembar demi lembar kisahnya, jadi alarm bagi diri sendiri untuk menilai dan menyadari fluktuasi kualitas iman dan akhlak saya saat ini, sudah sejauh apa saya melenceng dari akhlak yang diteladankan Rasulullah.


Eh satu lagi, poin tambahan dari buku ini adalah ada gambarnya loh! Mulai dari baju Fathimah hingga denah masjid nabawi ada di sana, lengkap dengan keteragan di mana barang-barang peninggalan nabi dan keluarga serta sahabatnya kini dimuseumkan.  Jadi pengin berkunjung ke museum yang dimaksud suatu waktu, entah kapan ya? Mohon doanya ya!
Kredit Pribadi

Kamis, 02 Agustus 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Mengenalkan Buku



Salah satu hal yang justru membuat saya dihinggapi perasaan bahagia jika mengingat bahwa saya sudah terhitung lambat melanjutkan sekolah lagi adalah anak saya sendiri. “Nggapapa deh, belum sekolah sekarang, mungkin memang ini justru yang Allah pilihkan sebagai jalan paling baik buat saya sebagai ibu”, begitu pikir saya. Mungkin justru kalau saya sekolah dengan kondisi suami juga sekolah, apalagi jika di luar negeri dengan pressure yang jauh lebih berat, saya akan lalai menunaikan tugas sebagai ibu. Meksipun sekarang juga, saya belum menjadi tipikal ibu yang ideal sih, tapi paling tidak, dua hal baik yang bisa saya berikan untuk anak saya adalah: waktu dan keberadaan. Dua hal yang mungkin akan sangat sulit saya bagi kepadanya jika saya sibuk dengan kewajiban-kewajiban sebagai mahasiswa.

Well, mungkin banyak ibu-ibu di luar sana yang bisa sembari sekolah dan tetap bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak mereka, atau mungkin justru lebih baik daripada yang bisa saya lakukan untuk anak saya. Sayangnya, saya bukan ibu yang bisa melakukan itu. Maksud saya, setelah belajar dari sekian pengalaman kursus singkat yang saya jalani di kampus, saya sadar tidak mampu menjalani dua peran yang meminta waktu yang tidak bisa disambi dalam rentang waktu bersamaan. Intinya, meskipun di awal-awal saya cukup bersedih hati karena belum bisa lanjut sekolah lagi sebagaimana orang-orang di sekeliling saya saat ini, sekarang perasaan sudah jauh lebih baik. Waktu memang adalah obat terbaik ya?

Bahkan, tidak jarang saya mengucap syukur justru karena Allah beri waktu untuk bisa mendampingi tumbuh kembang anak saya sepenuhnya. Hal yang mungkin jadi mahal bagi ibu-ibu lain di luar sana, dan justru luang bagi saya dan anak saya. Alhamdulillah, selalu ada hikmah dan hal baik yang dapat dipetik dari setiap kejadian, bahkan jika pun itu tidak sebagaimana yang kita inginkan kan?

Nah, salah satu hal positif yang langsung terasa dampaknya sejak saya mendampingi tumbuh kembang anak saya dari dia lahir hingga sekarang adalah melihatnya suka sekali dengan buku. Sekarang ini, kalau dia melihat buku-bukunya, dia akan mengambilnya lalu minta dibacakan. Karena masih satu tahun dan belum bisa bicara, dia meminta dengan cara menaruh buku di tangan salah satu dari kami, orang tuanya, lalu menunjuk-nunjuk buku dan berkata “uuuh uhhh…!”. Maksudnya barangkali, “bacakan itu, please!”. Hehe… Melihat tingkah polanya seperti itu, membuat kami tertawa bahagia, tentu saja.

Dulu, sebelum dia berusia setahun, saat bangun tidur, sering sekali terjadi dia bangun-bangun langsung tunjuk rak lemari buku yang berada tepat di samping tempat tidur kami. Maksud dia barangkali, “Itu Ibu, buku adek, tolong ambil dan bacakan!”. Lucunya, pas saja yang ditunjuk jemari mungilnya adalah jejeran buku-buku di mana saya sering meletakkan bukunya di sana. Dia baru berhenti menunjuk-nunjuk ketika kami mengambilkan dan membacakannya.

Saat saya menulis tulisan ini, usianya sudah menginjak 14 bulan kurang 3 hari. Sehari sebelumnya, dia menunjukkan kemampuan baru, yakni meminta dibacakan oleh orang lain selain orang tuanya. Kejadiannya kira-kira pada sore hari, ketika saya dapati dia masuk di kamar Bu Rini lalu menunjuk buku Mas Riffat (anak Bu Rini yang berusia 5 tahun). Bu Rini adalah ibu kos kami, dan beliau memang dekat dengan anak kami. Seisi rumah mengajarinya memanggil Bu Rini dengan sebutan “bude”. Karena itu, mungkin masih wajar jika setelah orang tuanya, beliaulah yang kemudian menjadi alternatif untuk jadi orang yang bisa diaminta agar dibacakan buku. Meskipun dekat dengan Bu Rini, bagi saya, kemampuan anak kami untuk secara otomatis meminta dibacakan buku selain dari dua orang tuanya, yang memang secara sengaja mendekatkannya dengan buku, adalah satu hal yang teramat membahagiakan. Kecil tapi membekas di ingatan saya sebagai ibu, insya Allah. Ini artinya dia sudah bisa berhubungan dengan orang lain untuk belajar bersama buku. Pengalamannya dibacakan buku-buku sudah mulai meluas, di luar lingakaran keluarga utama. Alhamdulillah.

Sejak usia satu tahunnya pula, saya sudah dua kali membawanya ke perpustakaan umum di dekat rumah, semata untuk mengenalkannya pada perpustakaan. Di lain waktu, saya ingin menulis tentang perpustakaan yang ada di negara Belanda ini (doakan ya semoga bisa benar-benar ditulis).

Sebenarnya, sebelum usia satu tahun pun, beberapa kali saya sudah membawanya ke perpustakaan secara tidak sengaja. Misalkan, saat saya mengikuti library tour dan ketika saya dan ayahnya mendaftarkan dia sebagai anggota perpustakaan. Di negara ini, sejak bayi sudah keluar dari perut ibunya, dia sudah boleh jadi anggota perpustakaan umum dengan fasilitas peminjaman 25 buku nyata dan 10 buku digital sekali pinjam yang durasinya selama empat pekan sekali peminjaman. Itu semua gratis sampai usia si anak 18 tahun.

Kredit Pribadi : salah satu sudut perpustakaan umum untuk anak-anak


Dua kali kunjungan ke perpustakaan, dua kali dia menikmati suasana yang penuh dengan buku-buku dengan aneka ragam bentuk dan tekstur yang disediakan untuk anak-anak. Dia senang dan sumringah. Gigi-gigi putihnya kelihatan melulu gara-gara bahagia sekali bisa ke sana. Hehe…

Kredit Pribadi : Bayi A pegang buku di perpustakaan


Alhamdulillah, bayi A juga sekarang sudah bisa mengenal benda-benda lewat buku-buku bergambarnya. Dia bisa menunjuk-nunjuk benda-benda yang saya atau ayahnya sebutkan. “Mana matahari, Nak? Mana singa, Nak? Kalau Knuffie si kelinci yang mana?”. Lalu dia akan menunjuk sambil bilang “Uuuuh, uuhhh”. “Oooooh, itu! Pintar anak ibu”, puji saya, membesarkan hatinya.

Kredit pribadi : Buku Bayi A yang berada di atas buku ibunya


Alhamdulillah, percakapan-percakapan seperti itu menjadi warna yang cerah di hari-hari saya. Mungkin bayi A tidak akan mengingat masa-masa ini, sebab masih terlalu kecil untuk dapat merekam pengalaman-pengalaman di memorinya. Jadi, apa yang saya lakukan sebenarnya untuk kebahagiaan diri saya sendiri sebagai seorang ibu, mencipta kenangan-kenangan manis bersama bayi A, anak saya.

Soal membaca, saya punya sedikit tips untuk dapat meningkatkan kemampuan verbal anak ketika orang tua membacakannya buku. Saya dapat dari artikel yang ditulis Anne C. Hargrave dan Monique Sénéchal (2000) yang dipublikasikan di jurnal, ‘Early Childhood Research Quarterly’. Menurut penelitian tersebut, anak-anak akan lebih cepat merekam kata-kata dan kemampuan verbalnya pun meningkat ketika dibacakan dengan cara membaca dialogis (dialogic reading) dibanding membaca seperti biasa (regular reading). Apa sih membaca dialogis itu?

Program membaca dialogis ini, pertama-tama dikembangkan oleh seorang peneliti bernama Whitehurst bersama para koleganya. Programnya punya tiga prinsip utama. Apa saja?

Pertama, mendorong anak untuk berpartisipasi. Orang tua harus kreatif mendorong anaknya untuk turut serta sebagai peserta belajar, bukan cuma penerima materi. Menjadi peserta artinya si anak juga turut aktif berperan ketika orang tuanya membacakan buku, bukannya jadi pasif. Hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mendorong anaknya adalah memberi pertanyaan sederhana seperti “mana buku, Nak?”. Untuk usia setahun, anak-anak sudah bisa menunjuk, dengan orang tua mencontohkan terlebih dahulu. Jangan langsung berharap anak tahu setelah sekali mencontohkan ya! Anak suka dengan pengulangan. Beriring kemampuan anak menerima dan mencerna bahan bacaan, orang tua sudah bisa meningkatkan pertanyaan dengan, “apa nama binatang ini, Nak?”, misalnya. Sampai nanti sudah bisa ditanya dengan pertanyaan yang butuh jawaban yang lebih panjang seperti: “kenapa ini kucingnya nangis, Nak?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lebih baik dibanding pertanyaan yang hanya butuh jawaban “yes-no” saja. Pertanyaan-pertanyaan aktif seperti itu juga akan meningkatkan kemampuan berbahasa anak, sebab dapat melatihnya berbicara lebih banyak ketika menjawab pertanyaan yang diajukan orang tuanya.

Kedua, berikan tanggapan (feedback). Tanggapan ini sebagai tanda bahwa kita, orang tua, memperhatikan dengan baik si anak. Tanggapannya bisa berupa memuji ketika dia bisa menjawab dengan benar, menambahkan informasi-informasi tambahan ketika dia menjawab secara singkat, atau mengoreksi kesalahannya.

Ketiga, menyesuaikan kemampuan anak membaca dari waktu ke waktu. Anak yang sudah mahir menunjuk-nunjuk benda, bisa diajarkan untuk menyebutkan sendiri benda-benda yang ditunjuk. Dengan ini, kemampuan anak akan bertambah seiring waktu.

Saya juga masih mempraktikkannya. Kadang juga, dalam sehari kelupaan membacakan anak kami buku. Tapi sepanjang kami mampu, kami mengusahakan anak kami dekat dengan buku. Sekarang, ketika kami keluar kota dengan perjalanan jauh, kami membekali bayi A dengan buku untuk dibaca di kereta atau saat sedang ikut pengajian.

Sebenarnya, usaha mendakatkan anak kami dengan buku sudah kami lakukan sejak awal-awal bulan kelahirannya. Dimulai dengan buku-buku yang bisa digigit dan diremas untuk merangsang motorik halusnya. Bahkan, sejak dalam kandungan, meski saya bukan mahasiswa yang wajib memegang buku, saya biasakan membaca sambil memegang perut atau mengeraskan suara agar dia mendengarnya di dalam janin. Usaha-usaha semacam ini terus kami lakukan sebagai orang tua, untuk memenuhi haknya sebagai seorang anak. Semoga kami bertiga bisa tumbuh bersama. Aamiin.

Senin, 02 Juli 2018

Pada Usia Satu Tahun Anak: Bermain Bersama Teman


Pada tahun 2018 bulan Juni kemarin, Abdullah, anak kami, sudah memasuki usia satu tahunnya. Pada usia ini, sudah terlihat tanda-tanda terhadap keinginan bersosialisai dengan teman-temannya, baik yang sebaya maupun yang lebih tua. Jika sebelumnya dia hanya bisa melihat dan mengamati anak-anak yang lebih tua bermain, pada usia ini dia sudah ikut bermain. Ketika anak-anak teman kami datang ke rumah bermain di dalam kamar, misalnya, dia akan menarik tangan saya atau tangan orang yang lebih tua untuk menemaninya masuk ke kamar untuk turut serta bermain dengan teman yang lebih besar.

Apa sih yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mendampingi perkembangan anak dengan keinginan sosialisasi yang mulai meningkat pada usia satu tahunnya?

Well, bermain bersama teman-temannya akan membuat anak belajar bersosialisai dengan orang lain. Secara langsung, si anak akan mulai belajar meminta dan memberi dengan orang lain. Dia juga akan mulai belajar tentang kepemilikan : ini punyaku, dan ini punyamu. Namun demikian, bermain dengan orang lain mungkin akan jadi sedikit ‘masalah’ bagi si anak pada usianya ini. Berbagi mainan adalah contoh kongkritnya. Kemauan untuk berbagi akan mulai bekerja ketika si anak memasuki usia dua tahun, tapi bukan jadi alasan untuk menghentikan kegiatan bermainnya dengan teman-temannya sebelum usia dua tahun. Meski masih dalam rentang usia satu tahunan, anak akan tetap menikmati bermain di sekitar teman-temannya, dan pada saat itulah dia mulai belajar bermain bersama.

Nah, saat bersosialisasi, kerap kali terjadi konflik dengan temannya. Karena anak belum bisa berekspresi dengan kata-kata ketika dia kecewa atau marah, maka biasanya anak akan mengekspresikannya dengan menendang, memukul, atau menangis. Tidak ada satu pun orang tua yang bahagia ketika anak melakukan hal-hal tersebut, baik dia dipukul atau pun yang memukul. Akan tetapi, bukan tindakan bijak ketika dia dipukul dan kita membiarkan atau bahkan menyuruhnya membalas dengan memukul kembali, meskipun tujuannya untuk memberi efek jera agar anak yang memukul merasakan bagaimana sakitnya dipukul. Karena dengan cara itu, anak akan mengambil kesimpulan bahwa tindakan-tindakan membalas seperti itu (memukul, menendang, menggigit, mencakar dan sebagainya) akan diperbolehkan jika dia sudah besar atau lebih kuat nanti.

Solusinya adalah lebih baik memberi pemahaman ke anak, bahkan jika dia masih satu tahun, bahwa melakukan tindakan kekerasan kepada teman atau keluarga, itu tidak boleh karena akan membuat sakit. Kalau saya sendiri, ketika anak saya dipukul oleh temannya yang lebih besar, saya lebih memilih untuk membawanya menyingkir sementara waktu dengan teman-temannya, lalu bermain bersama saya berdua saja. Setelah dia sudah tidak sedih lagi, saya akan membawanya kembali bermain bersama, dengan lebih hati-hati mendampinginya. Ini agar anak saya tidak merasa trauma bermain bersama teman-temannya.

Nah, ada juga kondisi ketika anak saya memukul temannya. Sebenarnya, maksudnya mungkin mau menyapa, tapi karena belum bisa berekspresi dengan baik, maka kadang dia mencakar temannya. Pada saat itu terjadi, saya juga akan memberi jarak pada anak saya dengan temannya. Dengan menjauhkannya sementara, saya bermaksud mengajarkan bahwa tindakan itu tidak dibolehkan.

Kemudian, sebagai orang tua, ketika anak sudah bermain dengan baik bersama teman-temannya, jangan lupa mengapresiasi usahanya. Memberikan pujian bahwa dia sudah pandai bermain, akan membuatnya bahagia dan menikmati permainannya di kali berikutnya.